Tulislah
lima fakta tentang dirimu yang berlawanan dengan opini orang lain. Wah, tema
kali ini asyik! Saya cukup bersemangat dengan tema ini. Karena saya telah
mendengar banyak ekspektasi orang lain tentang diri saya yang cukup berlawanan
dengan diri saya sesungguhnya. Hanya karena melihat dari sesuatu yang terlihat
saja.
1. Sungguh,
saya pernah pacaran, HTS, dan punya gebetan.
Mungkin karena saya
kalem, tidak pernah terlihat mojok di sekolah dengan laki-laki, tidak pernah
terlihat nonton bioskop atau makan dengan seorang laki-laki, maka mereka
menganggap saya murni tidak pernah pacaran. Apalagi saat saya masuk ke
lingkungan baru. Mereka tanpa menanyakan latar belakang kehidupan cinta saya,
sudah beranggapan seperti itu lebih dulu. Di lingkungan baru kemarin, semua
orang menganggap saya tidak pernah pacaran selama hidup. Satu-dua yang penasaran
bertanya pada saya dengan sedikit sungkan. Saya mengalami hal semacam ini
sangat sering. Mungkin saja, di mata mereka saya terlalu kalem untuk pacaran.
Padahal pacaran kan tentang hati bukan tentang kalem. #eh.
2. Saya
suka laki-laki “biasa”.
Entah dari mana akarnya
mereka bisa berpikir bahwa saya hanya “mau” dengan laki-laki macam ustadz.
Sungguh, ini dusta! Haha! Bahkan belum pernah terlintas di pikiran untuk menyukai
seorang ustadz. Mereka bahkan berpikir saya ini anti pacaran, kemudian maunya
taaruf diajak nikah. Tolong jangan berpikir seperti ini hanya gara-gara saya
memakai jilbab yang menutup dada dan sering mengajak kalian shalat. Pertama,
saya memakai pakaian seperti ini karena saya nyaman memakainya. Kedua, saya
mengajak shalat karena sudah adzan. Ini dua hal yang biasa saja. Tapi, bisa
membuat kalian berpikir seperti itu. Percayalah, saya menyukai seorang
laki-laki bukan karena “profesinya”. Orang baik juga banyak yang tidak jadi
ustadz.
3. Saya
tak sepintar itu.
Mungkin sudah rejeki
kalau murid les saya terus bertambah tiap naik semester. Mereka berpikir saya
sangat jago fisika. Padahal tidak. Saya hanya menyayangi mereka dan akan
berusaha memberikan yang terbaik pada mereka. Dari apa yang saya punya hingga
apa yang mereka butuhkan. Jika mereka butuh sesuatu yang belum saya kuasai,
maka saya akan belajar. Karena saya tahu, mereka membutuhkan saya untuk
membimbing mereka. Saya juga tidak sempurna dan pernah melakukan kesalahan.
Dari sana saya belajar. Saya tidak pintar, tetapi saya mau belajar.
4. Saya
tak sekeren itu.
Saya memang senang
menuliskan beberapa cerita atau kalimat-kalimat yang menjadi penyalur
kegelisahan. Sering saya memasangnya di akun-akun media sosial. Teman-teman
yang membaca sering kagum dengan kalimat itu. Kemudian memuji saya berlebihan.
Atau mengklaim saya sebagai “penulis”. Padahal, saya belum pernah menerbitkan
sebuah buku. Tulisan saya belum pernah dimuat di media. Teman-teman yang
berpikir saya keren, mungkin saja memiliki minta berbeda dengan saya. Hingga
mereka mengatai saya keren karena melakukan apa yang mereka tidak lakukan.
Percayalah, saya tidak sekeren itu.
5. Saya
tidak seratus persen “alim”.
Kalian cukup tahu saja, saya pernah
pulang ke kost tengah malam. Pernah juga naik motor berdua—waktu itu dengan
Farrah—dari Solo ke Jogja jam satu dini hari. Saat itu, kita sedang kembali
dari sebuah acara. Saya pernah membaca karya Lisa Kleypas, Christian Simamora
dan trilogi Fifty Shades of Grey. Jangan hanya melihat bahwa saya pernah
membaca Ayat-Ayat Cinta atau karya Asma Nadia. Sebenarnya, saya juga tidak
paham apa definisi alim yang mereka lekatkan. Tapi, saya rasa mereka perlu
berpikir ulang saat membaca tulisan ini. Jika yaang mereka maksudkan alim
adalah tidak pernah melakukan hal-hal semacam itu.
Ya,
inilah saya yang sesungguhnya. Saya bukan bidadari tanpa sayap. Saya hanya perempuan
yang memakai payung saat hujan.
Mungkin
mereka tidak benar-benar mengenal saya ketika beropini yang sebaliknya.


0 komentar:
Posting Komentar