Jumat, 27 Juli 2018

Dan Kesepian





Dan, jujur saja, hidup sendirian membuatku semakin sinting—bicara pada diri sendiri , membaca buku keras-keras di dalam kamar mandi, dan memutar film tanpa menontonnya hanya agar ruangan nggak terasa  sunyi. (Ziggy, Jakarta Sebelum Pagi).

Saya sedang kesepian dan sepertinya akan berteman dengan kesepian untuk beberapa waktu ke depan. Sama seperti apa yang ditulis Ziggy, saya mulai merasa sinting. Bicara pada diri sendiri, ingin tertawa sekeras mungkin saat sendirian, dan memutar film tanpa menontonnya. Saya memang tak membaca buku keras-keras di kamar mandi seperti Ziggy, karena saya tinggal di mess bersama orang lain. Jika tak ada orang, mungkin saya juga akan melakukannya! Hahaha!

Hari ini, tak seperti biasanya. Menjelang jam delapan, biasanya saya menunggu Mbak Rani pulang. Mbak Rani itu teman sekamar saya di mess. Kita baru semingguan kenal, tapi sudah cocok. Saat Mbak Rani pulang, kita selalu ngobrol panjang-lebar. Kadang saya yang lebih banyak bercerita sambil menemani Mbak Rani makan. Lalu, kita ngobrol apa pun, sampai larut malam. Saat Mbak Rani pulang ke Magelang seperti sekarang, saya merasa hampa. Tak punya teman bicara, dunia saya seolah berhenti berputar.

Saya berpikir bahwa mungkin saya belum bisa beradaptasi dengan “kesepian”. Biasanya saya di rumah, nonton TV dengan bapak, ngobrol dengan emak atau main dengan Syifa—anak empat tahun yang lagi lucu-lucunya. Saya terbiasa dengan kehangatan rumah, dengan kebersamaan dan komunikasi. Saya terbiasa dengan suara-suara, canda-tawa dan interaksi. Lalu, sekarang saya dihadapkan dengan sepi. Mungkin, saya hanya kaget.




Tapi, ini bukan kali pertama saya merantau. Waktu kuliah, saya merantau ke Semarang. Satu tahun tinggal di asrama khusus untuk penerima beasiswa, tiga tahun tinggal di kost. Saya merasa baik-baik saja, sama sekali tak kesepian. Suasana di Semarang dulu, jauh berbeda dengan sekarang. Di asrama khusus beasiswa, satu kamar ditempati empat orang. Kita saling menemani, membuat jadwal pulang kampung secara bergantian. Hubungan dengan tetangga kamar dalam satu deret pun sangat hangat. Rasa sepi tak pernah muncul di pikiran saya saat itu.

Saat pindah ke kost, saya juga merasakan hal sama. Kost saya adalah sebuah rumah dengan beberapa kamar di dalamnya. Ada sebuah ruang TV yang menjadi “penyatu” kita. Makan bersama, nonton TV, atau sekadar ngemil dan ngobrol. Dua belas orang yang tinggal di rumah itu saling menemani satu sama lain. Saya pun tak pernah terpikir dengan kata kesepian.

Sekarang rasanya berbeda. Saya telah pindah ke kota yang lebih besar, di mana rasa individualisme sangat kental. Saya merasa kesepian di sini. Lalu, saya mulai memikirkan bahwa mungkin saya memang harus membiasakan diri dengan rasa sepi. Toh, inilah kehidupan yang sesungguhnya. Saya tak bisa menuntut orang-orang mengelilingi diri saya dengan kehangatan. Saya tak bisa menuntut keluarga akan selalu menemani saya ke mana pun pergi. Karena terkadang, untuk urusan sebuah impian dan kepentingan lain, saya perlu pergi jauh dari keluarga.

Saya belajar banyak tentang kesepian di sini. Belajar menerima rasa sepi yang memang akan selalu ada dalam hidup. Tapi, kalau saya disuruh memilih, saya lebih memilih untuk berada di tempat yang "hangat". Di tempat yang orang-orangnya berkumpul hanya untuk saling bercanda. Orang-orang yang saling menemani satu sama lain. Saya juga belajar untuk menciptakan kehangatan dalam keluarga saya nantinya. Tak akan membiarkan keluarga saya merasa kesepian. Karena saya sudah pernah merasakannya. Dan, kesepian rasanya sangat menyesakkan dada. :')


Putri
Jogja, 27 Juli 2018 

*catatan: di tengah agak ke bawah feelnya agak berubah. nggak sekuat di atas. soalnya pas lagi ngalir banget malah ada yang ngajak ngomong. heuheu.

Rabu, 25 Juli 2018

Pengalaman Baru: Satu 'Atap' dengan Lelaki




Hidup, memang nggak ada yang tahu!
Akhir-akhir ini saya sedang memercayai ungkapan itu. Berawal dari keputusan saya untuk resign dari kerjaan lama. Lalu, beberapa waktu kemudian, dalam jangka waktu yang singkat, saya pindah ke Jogja. Saya nggak pernah memikirkan dua hal itu akan terjadi. Tapi, ternyata hidup membawa saya untuk melaluinya. Tiba-tiba saja ada sesuatu yang mendorong saya untuk resign. Dan juga, tiba-tiba saja saya diterima kerja di Jogja. Lalu, secara tiba-tiba lagi orang tua saya merestui rencana pindah ke Jogja. Padahal sebelumnya orang tua saya sangat 'overprotective' jika mendengar gagasan saya akan merantau. Tapi ya, seperti yang saya bilang diawal: hidup memang nggak ada yang tahu. Saya tak pernah tahu jika ternyata malam ini, saya sedang menulis blog di kantor Prosus Inten Yogjakarta. Heuheu.
Saya juga tak pernah menyangka akan hidup satu atap bersama laki-laki. Sejak kuliah, melihat tulisan 'kost campur' saja saya enggan. Karena yang terlintas di pikiran saya saat itu hanyalah hal-hal negative. Takut terjadi ini-itulah atau apalah. Jadi, saya benar-benar menyingkirkan 'kost campur' dalam pikiran. Sama sekali tak mau dekat-dekat dengan kata itu.
Tapi, hidup memang tak ada yang tahu. Karena sekarang saya justru terjebak dalam lingkungan yang demikian. Saya hidup satu atap dengan para lelaki. Awalnya, batin saya menolak karena saya merasa ini bukan diri saya. Saya merasa ingin berlari. Tapi, saya tak tahu harus lari ke mana, dan keadaan menempatkan saya di sini. Perlahan, saya mulai menerima apa yang keadaan tempatkan untuk diri saya. Dan, saya menemukan beberapa hal yang dulunya tak pernah terlintas di pikiran.
Ternyata, semuanya tak seburuk apa yang pernah saya pikirkan. Saya tak bilang ini hal baik, tapi tak sepenuhnya buruk.
Pertama, tentang menjaga diri sendiri. Kenapa kita terlalu takut dengan terjadinya sesuatu yang negative, jika kita bisa menjaga diri sendiri dengan baik? Hal pertama memang berawal dari diri sendiri. 
Kedua, tentang menghormati privasi orang lain. Ada beberapa hal milik orang lain yang kita tak perlu tahu dan tak usah tahu. Menghormati privasi orang lain dengan sebaik-baiknya adalah kunci untuk hidup bersama tanpa melakukan pelanggaran.
Ketiga, tentang mengetahui hidup lawan jenis. Ini bisa jadi pengetahuan bagi kaum awam, tentang hidup lawan jenis yang sesungguhnya. Tentang bagaimana 'kotor dan berantakannya' hidup para laki-laki. Hahahah!
Sekali lagi, ini bukan berarti saya setuju dengan gagasan tinggal seatap para lawan jenis. Hanya memberi sudut pandang lain, agar semuanya tak melulu negative yang masuk ke pikiran kita.



Putri. Yogjakarta, 25 Juli 2018.

*sumber gambar: google