Minggu, 08 Oktober 2017

Makanan Favorit dan Rindu di Baliknya



Saya suka makan. Dan saya susah move on. Jika kedua dipadukan, maka akan menghasilkan orang macam saya; orang yang susah move on dari suatu makanan beserta pembuatnya kalau sudah menemukan kelezatan. Hahaha.
Waktu SMP, saya pernah disuguhi roti tawar yang disiram kuah santan setengah kental oleh teman saat berkunjung ke rumahnya. Neneknya yang memasak roti itu. Sedap, lezat, manis, semua menyatu dalam lidah. Saya kemudian menobatkannya sebagai roti tawar siram santan terbaik dalam hidup. Sekali pun di rumah beberapa kali coba membuatnya, tapi rasanya tak bisa selezat buatan nenek teman saya. Sampai sekarang, saya kadang merasa rindu memakannya lagi. Sayangnya nenek teman saya sudah tiada.
Saat kuliah, lidah saya terpikat dengan pecel buatan Bu Galon (dipanggil Bu Galon karena selain jualan nasi, beliau juga jualan galon). Saya menobatkannya sebagai pecel terlezat. Tak bisa digantikan dengan pecel lain. Saat saya rindu makan pecel, saya rela menyempatkan waktu ke luar kota, ke tempat Bu Galon. Ada lagi, makanan lezat saat kuliah yang selalu membuat saya rindu, karena belum menemukan tandingannya, yaitu Sambal Lamongan Gang Rambutan, Rames dan Garang Asem Pak Kembar, Tempe Goreng Stick di King Puyuh, Sambal Ijo di Patemon, Nasi Padang mas-mas ramah, Batagor dekat FIK, Gongso Gang Cempaka Sari, Kremes tempe dan ayam Cempaka Sari, Bubur Kacang Ijo bu sexy, dan masih banyak lagi. Hahaha. #ketahuansukamakanbanget.
Setelah empat tahun merantau, saya kembali ke Kudus. Dan kuliner Kudus berkembang pesat dibanding saat saya masih SMA. Bersama teman kerja dan murid les, saya mulai menjelajahi kuliner-kuliner baru di Kudus. Pun sama, saya banyak menemukan makanan lezat yang tak bisa tergantikan dengan buatan orang lain. Saya suka Ramen di IKKI Resto, ramennya sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia, tidak Jepang banget. Itu yang membuat saya menyukainya. Siomay Mandiri yang porsinya besar dan lezat, Geprek Keju, Chicken Steak di Kokako, Nasi Goreng Seafood di Chinese Food, Nasi Rawut di Depan Perumahan Megawon, Nasi Bakar di Angkringan Cekli, Kwetiau Goreng di WBB, Arem-arem di Hikmah, Galentin di Waroeng Kafe 27, dan lain-lain. Hahaha.
Lama-lama, saya sadar bahwa makanan bukan hanya perkara lidah. Tapi juga perkara rasa dan rindu yang ada di baliknya. Ini merepotkan bagi saya yang susah move on sekaligus sering rindu dengan makanan-makanan lezat yang pernah mampir di lidah. Kan repot, kalau saya kepalang rindu dan ingin mencicipinya kembali, padahal temptanya sangat jauh. Hihihi.

*ditulis untuk 1minggu1cerita

sumber gambar: google.


Minggu, 01 Oktober 2017

#Renungan24: Perihal Memandang Hidup dan Menyikapi Perbedaan

Semakin banyak mengenal orang lain, maka semakin banyak pula pandangan hidup yang saya dapatkan dari mereka. Perbedaan pandangan hidup yang berbeda terlalu jauh, kadang membuat saya mengernyitkan dahi dan merenunginya. Tak sampai ‘memusuhi’ pandangan hidupnya yang menurut saya kurang tepat. Tapi, kadang saya mendapatkan perlakuan yang kurang mengenakkan dari orang lain ketika dia memandang prinsip hidup saya keliru.
Teman saya pernah bilang, kalau belanja di departemen store yang mahal sekali itu, sebaiknya mengajak pacar. Biar baju yang harga satuannya hampir setengah juta bisa terbeli tanpa menguras tabungan sendiri. Ingat, statusnya harus pacar karena pacar akan memberikanmu apa pun. Kalau sudah jadi suami, itu takkan terjadi. Saya hanya tersenyum mendengarnya. Sejujurnya, ini berlawanan dengan diri saya. Sedari dulu, saya berpandangan bahwa pacar bukanlah orang yang harus kita korek dompetnya, atau orang yang harus kita manfaatkan. Karena perkara hati tidak bisa disandingkan dengan benda-benda. Saya lebih senang berada di sebuah taman dengan pacar untuk membicarakan buku, tumbuhan, bumi dan kehidupan daripada menggandenganya ke mall. Dan tentang belanja atau benda-benda yang perlu dibeli, saya lebih nyaman jika membelinya dengan hasil keringat sendiri.
Saat bersama dengan orang-orang yang tak berpikiran sama, kadang saya menerima perlakuan kurang enak. Mulai dari mereka menggap saya polos, terlalu naif, lugu atau tidak mengerti dengan yang namanya memperlakukan pacar. Padahal saya tidak pernah menganggap mereka ‘cetek’.