Sebenarnya
ada lebih dari seribu! Tapi, ini hanya lima dan dipilih secara acak.
- Iman.
Aku
sangat bersyukur ketika Tuhan memberikanku sebuah iman. Sesuatu yang bisa
membuatku tenang dan nyaman ketika memikirkan Tuhan dan berdoa kepada
Tuhan—begitu aku mengartikannya. Segala sesuatu yang kupikirkan dan kuresahkan,
akan melayang entah kemana ketika aku meluangkan waktu untuk berdoa kepada
Tuhan. Atau ketika aku membaca ayat-ayat suci di kitabku. Hati rasanya sangat
tenteram.
- Terlahir
di keluarga ini.
Keluarga
sederhana tapi kaya makna. Begitulah aku menyebutnya. Orang tua yang luar biasa
dalam menjalani hidup. Semua yang dilakukan mereka adalah contoh terbaik untuk
diriku.
- Bertemu
murid-murid yang sudah seperti keluarga sendiri.
Sudah
hampir dua tahun, aku mengajar di sebuah bimbingan belajar. Rasanya, antara aku
dengan mereka ada sebuah ikatan yang lebih. Mereka sudah seperti keluarga. Aku
merasa, mereka (yang jumlahnya lebih dari 50 itu) baik semua. Tulus semua. Sungguh
aku sangat bersyukur dan bahagia bisa bertemu mereka.
- Memutuskan
untuk jomblo saat itu.
Yah,
kalau waktu itu aku tidak memutuskan untuk jomblo, mungkin aku sudah terjebak
dalam hubungan penuh drama sekarang. Dan mungkin saja, aku akan menjalani
masa-masa pacaranku dengan “alay”. Hahaha. Waktu itu, aku memang memutuskan
untuk memberi jeda pada diriku sendiri. Aku ingin berhenti sejenak (eh, malah
keterusan sampai 4 tahun begini!). Untuk berpikir dan membiarkan pikiranku tumbuh
lebih dewasa. Membiarkan diriku menemukan dirinya sendiri.
- Bertemu
dengan teman yang baik dan mau menerima diriku.
Aku
sangat bersyukur ketika dipertemukan dengan teman-teman yang baik dan tulus. Mereka
adalah keluarga kedua bagiku. Mau menerima diriku apa adanya. Sebagian besar
dari mereka kutemukan dalam #KampusFiksi. Khususnya Kampus Fiksi angkatan 12.


0 komentar:
Posting Komentar