Kamis, 19 Januari 2017

30DWC #Day11: Something You Always Think “What if...” About


Kalau disuruh berandai-andai tentang masa lalu, rasanya aku malas.
Dalam hidup, tidak mungkin aku hanya mengambil keputusan benar saja. Pasti aku akan mengalami keputusan yang salah juga. Tapi, seberapa buruk kesalahan itu, aku sendiri yang menentukannya.
Aku mempercayai itu. Jadi, walau aku punya banyak rasa sesal, aku akan memilih untuk belajar darinya. Bukan untuk kembali, kemudian menghindari hal yang membuatku menyesal. Kecuali, untuk beberapa hal tertentu yang belum bisa kurelakan. Belum bisa ya, bukan tidak bisa. Karena aku masih butuh proses belajar untuk merelakan hal itu.
Aku percaya, bahwa rasa sesal itu ada untuk belajar. Tidak mungkin aku menjadi diriku yang sekarang, tanpa belajar dari rasa sesal di masa lalu. Dan aku, mensyukuri diriku yang sekarang—dengan kelemahan dan kekuranganku tentunya. Di tantangan kemarin, aku menulis bahwa ada banyak target yang meleset karena kemalasanku. Aku menyesali itu. Maka, di tahun ini, aku akan belajar untuk mengurangi rasa malas. Karena aku tidak suka perasaan menyesal saat banyak targetku meleset. Sudah, begitu saja. Tidak lantas aku berandai-andi ingin kembali ke hari itu untuk menjadi rajin, dan bisa menulis tiga novel dalam setahun! Hha!
Tapi, jika disuruh membuat kalimat dengan kata seandainya, aku akan membuat satu saja, “Seandainya aku bisa kembali pada suatu sore di bulan Desember 2012 dan memperbaiki sesuatu”.
Justru, pengandaian yang sering kulakukan dari kecil adalah seandainya aku jadi orang lain. Waktu kecil, aku suka sekali posisi dekat jendela ketika naik bus. Aku akan melihat setiap apa yang terlewat oleh bus dari jendela itu. Kemudian berandai-andai, bagaimana kalau aku jadi dia.
Saat aku melihat dua anak kecil berboncengan sepeda, aku akan berpikir, seandainya aku jadi dia, kehidupan seperti apa yang akan kualami. Apa aku juga sekolah seperti sekarang ini. Apa aku juga punya banyak teman. Dan apa yang sedang kupikirkan saat membonceng sepeda seperti itu.
Saat aku melihat seorang perempuan setengah baya melamun di teras rumah, aku akan berpikir, seandainya aku sudah setua itu, apa aku juga akan sering melamun di teras. Apa yang aku pikirkan begitu dalam ketika aku tua nanti.
Ini benar-benar muncul di benakku. Bahkan, tak jarang aku akan berandai-andai (lebih tepatnya berkhayal) tentang kehidupan seseorang yang kulihat itu lebih jauh lagi.



0 komentar:

Posting Komentar