Kalau disuruh berandai-andai tentang masa
lalu, rasanya aku malas.
Dalam hidup, tidak mungkin aku hanya mengambil
keputusan benar saja. Pasti aku akan mengalami keputusan yang salah juga. Tapi, seberapa buruk kesalahan itu, aku sendiri yang
menentukannya.
Aku mempercayai itu. Jadi, walau aku punya banyak rasa
sesal, aku akan memilih untuk belajar darinya. Bukan untuk kembali, kemudian
menghindari hal yang membuatku menyesal. Kecuali, untuk beberapa hal tertentu
yang belum bisa kurelakan. Belum bisa ya, bukan tidak bisa. Karena aku masih
butuh proses belajar
untuk merelakan hal itu.
Aku percaya, bahwa rasa sesal itu ada untuk belajar. Tidak mungkin
aku menjadi diriku yang sekarang, tanpa belajar dari rasa sesal di masa lalu. Dan
aku, mensyukuri diriku yang sekarang—dengan kelemahan dan kekuranganku
tentunya. Di
tantangan kemarin, aku menulis bahwa ada banyak target yang meleset karena
kemalasanku. Aku menyesali itu. Maka, di tahun ini, aku akan belajar untuk
mengurangi rasa malas. Karena aku tidak suka perasaan menyesal saat banyak
targetku meleset. Sudah, begitu saja. Tidak lantas aku
berandai-andi ingin kembali ke hari itu untuk menjadi rajin, dan bisa menulis
tiga novel dalam setahun! Hha!
Tapi, jika disuruh membuat kalimat
dengan kata seandainya, aku akan membuat satu saja, “Seandainya aku bisa
kembali pada suatu sore di bulan Desember 2012 dan memperbaiki sesuatu”.
Justru, pengandaian yang sering
kulakukan dari kecil adalah seandainya aku jadi orang lain. Waktu kecil, aku
suka sekali posisi dekat jendela ketika naik bus. Aku akan melihat setiap apa
yang terlewat oleh bus dari jendela itu. Kemudian berandai-andai, bagaimana kalau
aku jadi dia.
Saat aku melihat dua anak kecil
berboncengan sepeda, aku akan berpikir, seandainya aku jadi dia, kehidupan
seperti apa yang akan kualami. Apa aku juga sekolah seperti sekarang ini. Apa
aku juga punya banyak teman. Dan apa yang sedang kupikirkan saat membonceng
sepeda seperti itu.
Saat aku melihat seorang perempuan
setengah baya melamun di teras rumah, aku akan berpikir, seandainya aku sudah
setua itu, apa aku juga akan sering melamun di teras. Apa yang aku pikirkan
begitu dalam ketika aku tua nanti.
Ini benar-benar muncul di benakku.
Bahkan, tak jarang aku akan berandai-andai (lebih tepatnya berkhayal) tentang
kehidupan seseorang yang kulihat itu lebih jauh lagi.


0 komentar:
Posting Komentar