Kurasa, emakku adalah orang yang paling menginspirasi
untukku. Kesabaran, perjuangan dan penerimaannya akan hidup sungguh luar biasa.
Waktu kecil, aku sering sakit-sakitan. Masalahnya ada
di bagian jantung. Saat kelas 1 dan kelas 2 SD, aku jarang sekolah full satu hari. Karena sering merasakan
sakit di bagian jantung. Biasanya, aku diantar pulang saat merasa sakit. Sejak
saat itu, emakku mengantar dan menungguiku di sekolah. Emak enggak mau aku
menahan sakit sendirian. Dulu, kita jalan kaki ke sekolah. Saat dadaku sudah terasa sakit, aku tidak kuat,
emakku menggendongku sampai rumah. Padahal badannya kurus dan kecil. Beliau
sangat sabar merawatku. Menerima kekuranganku dan menerima cobaan yang Tuhan berikan—lewat aku—padanya.
Selama dua tahun itu, aku tidak pernah ikut mata pelajaran
olahraga. Emakku sudah meminta ijin pada sekolah. Tapi, di kelas dua, aku dapat
seorang guru olahraga yang killer.
Kalau aku tidak ikut olahraga, ya berarti aku tidak punya nilai rapot untuk
mata pelajaran olahraga. Emakku menerima dan menyuruhku tidak memaksakan diri.
Akhirnya aku dapat nilai 5 (atau 6, aku agak lupa) di rapot untuk pelajaran
itu. Rangkingku merosot jauh, dari yang tahun kemarin aku rangking satu. Emakku
tidak memarahi dan mempermasalahkannya.
Dari emak, aku belajar sabar, menerima dan tidak
menyerah dengan hidup ini. Tidak ada yang mengajariku semua itu, sebaik ibuku
yang mengajari.


0 komentar:
Posting Komentar