Di
tahun yang susah diperkirakan dengan pasti oleh siapapun, seseorang sedang
merasakan pijatan konsisten dari logam berbentuk tangan. Itu alat pemijat baru
yang kemarin sore dibeli dari seorang relasi. Menggantikan alat pijat yang
sebelumnya hanya bisa bergetar teratur. Padahal, laki-laki itu baru membeli
alat pijat getar sebulan lalu. Entahlah, semuanya begitu cepat bergerak dan
bergeser. Begitu cepat muncul baru dan menggantikan.
Jangan
harap kau temukan android atau blackberry di apartemen lantai 30 milik
laki-laki itu. Android dan blackberry hanya milik pengemis di depan pintu
otomatis apartemennya.
“Enak
Pa, alat pijat yang baru? Lebih enak mana Pa, yang baru atau lama?”
Lebih enak pijatan istri, itu kata
Bapak dulu. Gumamnya lirih. Namun dia hanya bisa menelan
mentah. Istri yang memijat suami dengan balsem itu sudah kuno!
“Lumayan,”
jawabnya malas.
Istrinya
kembali sibuk memilih potongan rambut dengan sebuah aplikasi. Hanya memadukan
foto dan model yang diinginkan. Dalam waktu sekejap, akan terlihat hasilnya.
Kalau tak suka, tinggal ganti model rambut saja. Masa depan seperti mudah
dibaca bukan?!
“Pa,
ini apa?”
Suara
lembut Riesta memecah keasyikan papa-mamanya. Tubuh mungilnya terhuyung
menyeret sebuah album foto. Album itu berukuran hampir sama dengan tubuh anak perempuan
berusia empat tahun itu. Patah-patah kakinya menghampiri papa yang sedang
dipijat.
“Itu
hanya album foto kuno sayang,” laki-laki itu menjawab santai.
Riesta
terduduk di atas karpet. Konsentrasinya penuh memandangi setiap lembar foto
ukuran 4R. Matanya seakan terhipnotis. Diapun bangkit dan berjalan cepat menuju
kaca yang menyekat apartemen. Muka mungilnya ditempelkan pada kaca. Sedikit matanya
mengerjap. Memandang keluar.
Sekian
detik berlalu. Riesta kembali pada album foto yang masih membentangkan sebuah
potret. Dahinya mengernyit.
Dia
berlari cepat menuju kaca penyekat. Kali ini lebih lama dari yang pertama. Dahinya
mengernyit.
“Pa..
. pa. . .”
Riesta
berlari menuju papa-nya. Lima jari mungil itu mencengkeram lengan papa.
Papa
menekan tombol off. Menghentikan aktivitas pijat tangan-tangan logam itu. Tarikan
tangan Riesta terasa berat untuk diabaikan. Sekalipun pap belum mengerti apa
artinya.
Pada
kaca penyekat itu mereka bermuara. Kedunya sama memandang keluar gedung tanpa bersuara.
Hening. Berada dalam pikiran masing-masing. Pikiran yang berbeda, namun
isyaratnya sama. Isyarat pembuktian ramalan kuno Jayabaya yang disadari papa
dan dipertanyakan Riesta.
Laki-laki
itu mengelus rambut putrinya pelan.
“Pa,
kenapa berbeda?” tanya Riesta sambil menunjuk sebuah foto.
Laki-laki
itu menggendong putrinya. Perempuan yang mereka panggil mama pun ikut mengambil
posisi. Dia berdiri tepat disamping papa yang menggendong Riesta. Tangan mama
memegang erat lengan papa.
Papa
dan mama mendongak. Beberapa detik kemudian mata mereka nanar. Bahkan mama tak
sanggup menahan setetes air yang bersumber dari mata. Tetesan itu kemudian
menggores make-up cerahnya.
Malam
itu, hati papa dan mama teriris untuk kesekian kalinya. Sementara hati Riesta
terus bertanya.
***
Mulut
Riesta terbuka lebar. Gigi-gigi sebiji timun diperlihatkan sepanjang
perjalanan. Ini senyum kemenangannya!
Mama
tertunduk. Matanya sendu.
“Kita
akan ke tempat yang semalam ada di foto kan Pa?” Riesta bertanya mantap.
Papa
dan mama berpandangan sekilas.
“Iya
sayang,” sahut mama pelan.
Setelah
melewati beberapa kilometer, mobil berhenti. Ini tempat tujuan mereka.
Mata
Riesta mengerjap-ngerjap. Membelalak. Sejenak dia hanya memandangi apa yang
ada.
“Ma,
ini apa Ma? Aku mau tugu yang tinggi kayak di foto,” rengeknya sambil
mencengkeram ujung baju mama.
Hening.
Lautan
di depan terasa asing untuk Riesta. Ini jauh sekali dari yang ada di foto. Bahkan
tak terlihat apapun. Hanya ada air.
“Pa,
ini apa? Aku mau ke tugu yang kemarin!” Riesta mulai marah.
Papa
menghela napas panjang. Selaput bening mulai melapisi bola matanya.
Entah
apa yang harus dijelaskan pada Riesta. Dia tak akan mengerti, bahkan terlalu
sulit untuk mengerti.
Semalam,
saat dia melihat foto papa di bawah hamparan gemintang langit, dia hanya bisa
tercenung. Menelan kecewa. Karena di balik jendela, hanya ada gedung-gedung
bertingkat yang sama. Gedung-gedung yang saling berhadapan dan berteman untuk
memijaki bumi ini.
Ada
banyak cahaya terang dari gedung-gedung itu. Namun tak seindah benda yang
tampak kecil dan bersinar dalam foto. Benda yang mama dan papa masih sanggup
menyebutnya bintang. Masih nyata terlihat saat mereka melongok keluar jendela
kaca rumah dulu.
Konsep
bintangpun menjadi sulit dijelaskan untuk riesta. Karena setiap hari dia hanya
menatap bintang semu yang semakin menjamur dan mengalahkan bintang sejati.
Dan
sekarang, tepat di tengah hamparan air itu, ada sebuah tugu yang sangat ingin
dilihat oleh Riesta. Sebuah tugu yang pernah menjadi identitas Ibu Kota negeri
ini. Tugu dengan ujung emas, yang kandas ditelan air.
Mama
dan papa menatap hamparan air dengan luka tersayat.
Entah
berapa meter kubik lagi negeri ini akan tersapu oleh air. Entah berapa banyak
lagi kerlip dunia mengalahkan kerlip bintang. Entah seberapa canggih lagi
teknologi yang akan muncul esok, lusa, bulan depan atau tahun depan. Kepastian akan
rasa rindu itu selalu ada. Kerinduan pada hal-hal yang tak akan pernah kembali.
Begitu muncul baru, maka yang lama akan tergantikan. Begitu prinsipnya Nak
Riesta!
“Tugunya
sudah hilang sayang. Papa dan teman-teman papa yang menghilangkannya,” jelas
papa.
Riesta menangis
sejadinya.Terinspirasi dari puisi "Kembalikan Indonesia Padaku (Taufik Ismail)"
