Senin, 23 Maret 2015

Rindu pada yang Tak Kembali

Di tahun yang susah diperkirakan dengan pasti oleh siapapun, seseorang sedang merasakan pijatan konsisten dari logam berbentuk tangan. Itu alat pemijat baru yang kemarin sore dibeli dari seorang relasi. Menggantikan alat pijat yang sebelumnya hanya bisa bergetar teratur. Padahal, laki-laki itu baru membeli alat pijat getar sebulan lalu. Entahlah, semuanya begitu cepat bergerak dan bergeser. Begitu cepat muncul baru dan menggantikan.
Jangan harap kau temukan android atau blackberry di apartemen lantai 30 milik laki-laki itu. Android dan blackberry hanya milik pengemis di depan pintu otomatis apartemennya.
“Enak Pa, alat pijat yang baru? Lebih enak mana Pa, yang baru atau lama?”
Lebih enak pijatan istri, itu kata Bapak dulu. Gumamnya lirih. Namun dia hanya bisa menelan mentah. Istri yang memijat suami dengan balsem itu sudah kuno!
“Lumayan,” jawabnya malas.
Istrinya kembali sibuk memilih potongan rambut dengan sebuah aplikasi. Hanya memadukan foto dan model yang diinginkan. Dalam waktu sekejap, akan terlihat hasilnya. Kalau tak suka, tinggal ganti model rambut saja. Masa depan seperti mudah dibaca bukan?!
“Pa, ini apa?”
Suara lembut Riesta memecah keasyikan papa-mamanya. Tubuh mungilnya terhuyung menyeret sebuah album foto. Album itu berukuran hampir sama dengan tubuh anak perempuan berusia empat tahun itu. Patah-patah kakinya menghampiri papa yang sedang dipijat.
“Itu hanya album foto kuno sayang,” laki-laki itu menjawab santai.
Riesta terduduk di atas karpet. Konsentrasinya penuh memandangi setiap lembar foto ukuran 4R. Matanya seakan terhipnotis. Diapun bangkit dan berjalan cepat menuju kaca yang menyekat apartemen. Muka mungilnya ditempelkan pada kaca. Sedikit matanya mengerjap. Memandang keluar.
Sekian detik berlalu. Riesta kembali pada album foto yang masih membentangkan sebuah potret. Dahinya mengernyit.
Dia berlari cepat menuju kaca penyekat. Kali ini lebih lama dari yang pertama. Dahinya mengernyit.
“Pa.. . pa. . .”
Riesta berlari menuju papa-nya. Lima jari mungil itu mencengkeram lengan papa.
Papa menekan tombol off. Menghentikan aktivitas pijat tangan-tangan logam itu. Tarikan tangan Riesta terasa berat untuk diabaikan. Sekalipun pap belum mengerti apa artinya.
Pada kaca penyekat itu mereka bermuara. Kedunya sama memandang keluar gedung tanpa bersuara. Hening. Berada dalam pikiran masing-masing. Pikiran yang berbeda, namun isyaratnya sama. Isyarat pembuktian ramalan kuno Jayabaya yang disadari papa dan dipertanyakan Riesta.
Laki-laki itu mengelus rambut putrinya pelan.
“Pa, kenapa berbeda?” tanya Riesta sambil menunjuk sebuah foto.
Laki-laki itu menggendong putrinya. Perempuan yang mereka panggil mama pun ikut mengambil posisi. Dia berdiri tepat disamping papa yang menggendong Riesta. Tangan mama memegang erat lengan papa.
Papa dan mama mendongak. Beberapa detik kemudian mata mereka nanar. Bahkan mama tak sanggup menahan setetes air yang bersumber dari mata. Tetesan itu kemudian menggores make-up cerahnya.
Malam itu, hati papa dan mama teriris untuk kesekian kalinya. Sementara hati Riesta terus bertanya.
***
Mulut Riesta terbuka lebar. Gigi-gigi sebiji timun diperlihatkan sepanjang perjalanan. Ini senyum kemenangannya!
Mama tertunduk. Matanya sendu.
“Kita akan ke tempat yang semalam ada di foto kan Pa?” Riesta bertanya mantap.
Papa dan mama berpandangan sekilas.
“Iya sayang,” sahut mama pelan.
Setelah melewati beberapa kilometer, mobil berhenti. Ini tempat tujuan mereka.
Mata Riesta mengerjap-ngerjap. Membelalak. Sejenak dia hanya memandangi apa yang ada.
“Ma, ini apa Ma? Aku mau tugu yang tinggi kayak di foto,” rengeknya sambil mencengkeram ujung baju mama.
Hening.
Lautan di depan terasa asing untuk Riesta. Ini jauh sekali dari yang ada di foto. Bahkan tak terlihat apapun. Hanya ada air.
“Pa, ini apa? Aku mau ke tugu yang kemarin!” Riesta mulai marah.
Papa menghela napas panjang. Selaput bening mulai melapisi bola matanya.
Entah apa yang harus dijelaskan pada Riesta. Dia tak akan mengerti, bahkan terlalu sulit untuk mengerti.
Semalam, saat dia melihat foto papa di bawah hamparan gemintang langit, dia hanya bisa tercenung. Menelan kecewa. Karena di balik jendela, hanya ada gedung-gedung bertingkat yang sama. Gedung-gedung yang saling berhadapan dan berteman untuk memijaki bumi ini.
Ada banyak cahaya terang dari gedung-gedung itu. Namun tak seindah benda yang tampak kecil dan bersinar dalam foto. Benda yang mama dan papa masih sanggup menyebutnya bintang. Masih nyata terlihat saat mereka melongok keluar jendela kaca rumah dulu.
Konsep bintangpun menjadi sulit dijelaskan untuk riesta. Karena setiap hari dia hanya menatap bintang semu yang semakin menjamur dan mengalahkan bintang sejati.
Dan sekarang, tepat di tengah hamparan air itu, ada sebuah tugu yang sangat ingin dilihat oleh Riesta. Sebuah tugu yang pernah menjadi identitas Ibu Kota negeri ini. Tugu dengan ujung emas, yang kandas ditelan air.
Mama dan papa menatap hamparan air dengan luka tersayat.
Entah berapa meter kubik lagi negeri ini akan tersapu oleh air. Entah berapa banyak lagi kerlip dunia mengalahkan kerlip bintang. Entah seberapa canggih lagi teknologi yang akan muncul esok, lusa, bulan depan atau tahun depan. Kepastian akan rasa rindu itu selalu ada. Kerinduan pada hal-hal yang tak akan pernah kembali. Begitu muncul baru, maka yang lama akan tergantikan. Begitu prinsipnya Nak Riesta!
“Tugunya sudah hilang sayang. Papa dan teman-teman papa yang menghilangkannya,” jelas papa.
Riesta menangis sejadinya.

Terinspirasi dari puisi "Kembalikan Indonesia Padaku (Taufik Ismail)"

Minggu, 15 Maret 2015

Di Atas Udara Perasaan Itu Menguap

Aku sedang menebak-nebak, kira-kira prosesi apa yang tengah kamu siapkan. Kamu selalu tergila-gila berprosesi. Segala sesuatu harus dihantarkan dengan sempurna dan terencana.[1]
Hatiku memprasangkai sambil memandangi tengguk laki-laki yang berjalan tepat di depan. Dia menggandeng tanganku dan membimbing langkah ini. Katanya ada hal yang harus dilakukan.
Kita sampai di sebuah tanah lapang sangat luas. Seukuran lapangan sepak bola atau mungkin lebih. Aku berdiri terpekur dan terpana.
Semua sudah dipersiapkan apik. Tanpa cela. Sudahlah, ini memang kehebatannya. Dan perasaanku semakin dibuat sungkan.
Sepertinya awan hanya sejengkalan dari kepala. Mudah saja diraih dengan uluran tangan. Perjalanan ini menyenangkan, tapi tetap menggelisahkan. Jari-jariku tak berhenti beradu. Bak memainkan ketukan nada pada partitur lagu. Sementara detak organ di dalam tubuhku semakin kencang berpacu.
“Apa kau senang dek?”
Mas bintang bertanya seraya menatap hamparan udara.
Hatiku menggigit keras katupnya. Melarangnya bersuara sedikitpun. Haruskah rahasia itu terungkap sekarang? Saat dia sedang mewujudkan harapanku.
“Iya,” jawabku lemah.
Onggokan perasakan ganjil turut menyertai.
Ada keanehan yang menyembul keluar dan kini menguasai pikiranku, yang membuat aku berjarak dengnan diriku sendiri dan memunculkan satu tanya: mengapa kulakukan ini?[2]
Harusnya aku menolak saja saat dia mengatakan akan menunjukkan sesuatu. Atau aku langsung saja menuju goal yang kuinginkan, sebelum sampai di sini.
Keanehan lain menyusul, yakni jawaban muncul dengan sendirinya tanpa proses berpikir: memang ini jalannya.[2]
Memang harus dikatakan di sini!
Mas Bintang mulai memperlihatkan skillnya. Menambahkan gas panas agar kita mencapai ketinggian yang sempurna. Aku melongokkan kepala melewati batas keranjang. Kata Mas Bintang keranjang yang kita naiki ini disebut basket. Dia memberi tahu saat kita hendak mengudara. Envelope dan burner juga dua bagian penting dalam perjalanan kita. Envelope berupa kantong balon penampung gas hidrogen. Burner yang sekarang Mas Bintang kendalikan, tentu saja untuk mengatur tekanan udara di dalam envelope. Sekaligus mengatur ketinggian yang diinginkan.
Tiga hal itu yang paling kuingat sebelum kita memasuki basket. Saat perasaan antusias meluap-luap. Melihat kibaran balon besar begitu menantang. Harapanku akan terwujud!
Mas Bintang mempersiapkan semuanya dengan apik. Senyumnya sangat puas melihat kilatan bahagia di mataku. Kemudian perasaanku tergugu. Bersama basket yang perlahan naik. Membawa aku dan dia jauh dari tapak gravitasi.  
“Segini, kamu nggak takut kan?” tanyanya sambil membelai rambutku pelan.
Hatiku gemetar. Haruskah dia tahu kalau perasaanku sudah menguap? Bahkan sebelum kita membumbung naik.
“Harusnya aku belajar lebih cepat untuk mengemudikan balon udara ini. Agar lebih cepat membawamu melihat bumi dari atas. Sebenarnya prinsip kerja balon udara sangat sederhana. Hanya memanaskan udara di dalam balon agar lebih panas dari udara di luar. Begitu kata seorang ilmuwan bernama Howstuff. Sayangnya aku seorang seniman yang membenci fisika saat sekolah dulu. Susah sekali mengerti ini-itu yang menurut mereka mudah.
Fluida, Hukum Archimedes, Gaya apung, entahlah, susah sekali dimengerti. Apalagi balon udara melintas teori gaya apung dari zat cair ke zat gas. Kemudian digunakan sebagai prinsip dasar kerja balon udara. Hah, aku memang bodoh. Butuh waktu lama untuk mengerti itu.
Dan akupun harus belajar menerbangkannya. Agar harapanmu terpenuhi. Belajar mengisi balon dengan hidrogen untuk menambah gaya apungnya. Balon secara perlahan-lahan naik saat gaya apung lebih besar dari berat balon. Itu bisa dilakukan dengan memanaskannya.”
Senyap. Aku dan udara hampa mendengarkannya hikmat. Pedih. Aku paham benar bagaimana dia membenci mata pelajaran fisika. Nilainya tak pernah bisa mencapai 6 di kelas.
Aku menengok ke bawah lagi. Kikuk.
“Kau tenang saja, sekarang kita berada di keadaan setimbang. Tidak akan jatuh. Hhaa, betapa ilmuwan-ilmuwan itu sangat cerdas. Tinggal menunggu arah angin membawa kita ke mana saja di ketinggian ini. Mereka hebat bukan, memperhitungkan semua ini?
Tapi. . . kau lebih hebat dek. Sudah menciptakan harapan dan membuatku jungkir-balik untuk mewujudkannya.”
Dia selalu mempersiapkan semuanya dengan sempurna. Aku mengagumi kelebihannya sekarang. Kelebihan yang sekaligus membuat hatiku menderu kencang. Merasa bersalah.
“Kamu nggak pa-pa dek?”
“Eh, he’em. Nggak pa-pa mas. Aku cuma. . .”
“Cuma seneng karena harapanmu terwujud?” tanyanya antusias.
Raut wajah Mas Bintang berseri. Benderang. Lebih benderang daripada langit yang terasa semakin dekat.
“Dulu kau selalu bilang ingin naik balon udara. Bahkan waktu kecil pernah merengek diberi hadiah balon udara saat ulang tahun ke sepuluh. Gara-gara lihat penyanyi cilik idolamu naik balon udara di video klip lagunya.”
Aku tercengang. Dia mengingat harapan konyol anak sepuluh tahun. Setitik embun di pelupuk mataku mulai tumbuh di sore ini. Hatiku mulai mendesak. Jangan bungkam lagi!
“Itu kan sudah lama sekali,” kataku sedikit datar.
Mas Bintang menoleh. Memperhatikan wajahku dari samping. Aku enggan menatap matanya. Udara kosong di depan terasa tak lebih menyakitkan.
“Apa ada harapan yang kau inginkan lagi? Hanya dua minggu kita nggak bertemu. Kau sudah main rahasia saja denganku,” godanya sambil menyenggol bahuku.
Hatiku semakin mantap untuk mengatakannya. Semua sudah menguap. Hambar. Yang ada hanya kosong dan hampa udara.
“Tidak. Tapi ada yang ingin kukatakan,” kataku terbata.
“Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu.”
Angin berhembus pelan melewati keheningan kita.
“Mas, aku. . . aku sudah menantimu sejak lama. Kita berteman sejak kecil. Beranjak remaja dan dewasa bersama. Bahkan aku sempat berpikir untuk beranjak tua pula bersamamu.
Saat aku berusia 15 tahun dan kau 17 tahun, kita memutuskan untuk memulai hubungan ini. Hubungan spesial yang membuat kita belajar komitmen dan. . . membuatku belajar berkhianat.
Aku benar-benar minta maaf. Aku sudah 24 tahun. Dan aku sudah menantimu sejak tiga tahun yang lalu. Menanti kepastian darimu, kemanakah kita akan bermuara? Kemanakah hubungan 9 tahun itu akan berakhir?!
Dua bulan terakhir aku mulai membuat keputusan. Kuputuskan untuk berkhianat. Pada laki-laki yang berani memberi janji masa depan. Dua minggu yang lalu, tepat saat kau menghilang, aku sudah memastikan masa tuaku dengannya.”
Air mengalir menganak sungai dari mataku. Dagu ini hanya muara tetesan yang begitu basah.
“Apa kau melupakan laki-laki yang selalu berusaha mewujudkan harapanmu?”
Isakanku mengaung lembut di atas langit.
Hampir lima menit kita saling diam. Mas Bintang masih menatap udara di depan.
“Sayang sekali ya. aku terlambat dua minggu. Hanya untuk mempersiapkan ini semua,” katanya pelan diikuti senyum pahit.
Tangannya merogoh saku celana. Mengeluarkan sebuah cincin.
“Bahkan aku sudah membeli ini sebelum dua minggu yang lalu,” katanya sambil melepaskan cincin dari genggamannnya.
Cincin itu terbawa graviratasi. Jatuh tanpa ampun. Aku menangis sejadinya. Mungkin sekarang perasannya sudah menguap habis. Bahkan uapnya mengalahkan uap perasaanku yang kukira telah menguap tanpa sisa.

Catatan kaki:
[1] cuplikan cerpen Selamat Ulang Tahun karangan Dewi Lestari dalam novel Rectoverso, diterbitkan oleh Bentang Pustaka, hlm 26.
[2] cuplikan cerpen Peluk karangan Dewi Lestari dalam novel Rectoverso, diterbitkan oleh Bentang Pustaka, hlm 58.

Jumat, 06 Maret 2015

Patah Kemudian Jatuh

Satu hal yang paling kusepakati soal cinta. Patah kemudian jatuh. Itu rumus paten buatku. Seperti Tuhan yang memaksa mentari tenggelam kemudian terbit.
“Ada apa?”
Aku mengulangi pertanyaan agar rasa kikuk ini tak begitu kentara. Sepuluh menit dia hanya terdiam dan menatapku lamat. Bagaimana aku bisa menghadapi keadaan canggung ini? Melihat wajahnya saja aku tak pernah sempat. Bahkan aku baru tahu kalau dia punya tanda lahir tepat di bagian bawah dagu. Padahal sudah lima tahun mengenalnya.
“Tidak ada. Aku hanya ingin bertemu denganmu,” ujarnya diikuti senyum.
Mataku berpaling pada beberapa pengunjung kedai kopi warna-warni ini. Sebatas melayangkan pandang saja agar tak semakin dihimpit tatapannya. Melempar pandang pada warna biru pastel, kuning dan orange yang memenuhi interior kedai kopi. Mirip dengan kedai kopi di Polandia. Anna Kobylka dan Olga Sietnicka dari Bloogarden yang merancang kedai kopi di sana. Sementara kedai kopi ini, entah siapa yang merancang, tak begitu penting bagiku. Hanya saja, tempat ini selalu saja penting ketika aku datang bersamanya.
Dia mulai ikut menjalari tatapanku. Pada tamu-tamu yang seolah masa bodoh dengan sekitar. Di meja seberang, sepasang kekasih beradu dengan tatapannya. Tangan saling menggenggam di atas meja. Mesra. Tanpa peduli ada mata yang mengintip. Di sisi meja lain beberapa orang sedang berkumpul dan bermain kartu. Seru sekali. Beda drastis dengan apa yang kualami sekarang. Canggung!
***
Tiga bulan yang lalu. Di kedai kopi warna-warni ini.
Atmosfer kedai kopi ini terasa lebih hangat. Bibir kita tak henti tersenyum. Bahagia. Pertemuan ini bisa dibilang perayaan. Merayakan lamarannya yang kuterima. Jari manis ini tak lagi polos.
Busa susu steam latte yang kupesan bahkan sudah tampak membosankan. Tapi aku belum ingin menyesapnya. Cincin di jari manis masih begitu menggoda untuk dipandang.
Hatiku warna-warni. Bagaikan kedai kopi yang selalu menjadi tempat istimewa kita. Aku dan Raka pecandu kopi tingkat rendah. Langganan cappuccino atau latte, turunan espresso. Hampir seminggu sekali kita ke sana. Sempat tak sempat harus sempat!
“Apa yang membuatmu begitu senang hingga kau melupakan latte favoritmu?”
Raka tersenyum lebar. Menyelidik mata bahagia milikku. Ah, tentu saja dia tahu betul. Aku bahagia karena lamarannya. Tanganku meraih gagang cangkir. Mengadukan bibir dengan busa susu steam. Seteguk. Dua teguk.
“Raka, bukankah ini sangat menyenangkan?”
Aku tersenyum. Merayapkan semua rasa di hati. Tak peduli angin berhembus lembut menerpa jilbab, memberi efek berkelebat. Hubungan ini, entah benar atau tidak, tapi aku menyukainya. Seluruh dunia mungkin bertanya. Bagaimana aku bisa menerima lamaran orang ini? Seseorang yang bahkan sekalipun tak pernah mengajakku berpacaran.
Tapi ini bukan lelucon. Aku benar- benar menerima lamarannya kemarin. Lima tahun mengenalnya, sudah cukup bukan? Bahkan umur relationship anak muda sekarang tak selama itu. Dan lima tahun itu benar-benar berarti. Pertemanan yang benar menakjubkan. Sungguh klise kalau aku bilang dia laki-laki baik dan sempurna. Toh dia selalu lupa dimana meletakkan kunci mobil. Tapi dia melengkapi. Melengkapi hatiku yang selama ini terasa rumpang.
Sekali dalam hidupku menemukan teman seperti Raka. Laki-laki berkaki panjang itu memperlakukanku dengan baik. Dia atasan yang berhak memutuskan ini-itu. Keputusan di kantor mungkin masih bisa dilobi asal ada argumen kuat, masuk akal dan tentu saja secangkir latte atau cappuccino. Tapi keputusannya yang satu ini sangat saklek. Aku berhak menolak ikut nongkrong sepulang kerja di hari Jumat. Sekalipun besok weekend dan itu tradisi sebulan sekali, aku tetap berhak menolaknya. Aku hanya wajib mengikuti perkumpulan sore di kedai kopi ini. Rutinitas Sabtu sore, dua minggu sekali di divisiku. Dari sanalah kita saling tahu. Kita cocok! Klop! Untuk minuman bercafein ini.
Begitulah sepanjang lima tahun, Raka selalu membawa kebahagiaan. Membuat bunga-bunga di hatiku mekar seketika. Entah memang sudah musim semi atau masih musim dingin. Bunga-bunga di hatiku bermekaran begitu subur tanpa terkendali.
“Apa yang membuatmu menerima lamaranku?”
Mungkin ini juga pertanyaan seluruh makhluk yang tahu kisah kita. Aku menghela napas panjang. Membuat napasnya berhenti dan menunggu jawabanku. Air mukanya tampak serius. Seperti saat memeriksa laporan akhir bulan.
“Harga diri.”
Dahinya mulai mengernyit. Mengkerut. Beberapa lipatan memberi efek wajah lebih tua.
“Bagiku cinta adalah harga diri. Siapa yang memberikan penghargaan dan penghormatan pada diriku, dialah yang paling mencintaiku. Dan. . .,” aku menghela napas membuatnya semakin penasaran, “apa yang telah kau lakukan lima tahun ini sudah lengkap.”
Raka tersenyum simpul. Sejenak dia mulai menyelami sinar mata ini. Aku melempar pandangan pada seberang jalan. Kaca yang menggantikan tembok kedai kopi ini membuatku leluasa memandang keluar. Untung saja dia tak lupa memesan tempat favorit ini. Tanpa memesannya terlebih dahulu pasti sudah dipakai. Tempat ini memang paling eksklusif. Apapun yang sedang berada di jalanan bisa dinikmati dari dalam kedai. Anak kecil yang berlarian di trotoar, seniman jalanan yang terus bersenandung dan orang berlalu-lalang. Duduk di bangku retro sambil menikmati latte akan semakin indah.
“Bagaimana jika aku punya masa lalu, Dea?” Raka menatapku tajam.
Aku menoleh, kembali menatapnya lamat. Rasanya ada yang berbeda hari ini. Ini bukan Raka yang biasanya.
“Setiap orang punya masa lalu Raka,” jawabku kemudian tersenyum.
Lagi, dia menatap tajam. Menghunus tepat di bola mataku.
“Dea, kau tampak mempesona dengan keanggunan dan harga dirimu. Hatimu cantik bagikan bunga yang selalu dirawat tanpa boleh dipetik. Aku beda denganmu.”
Intonasi suaranya melemah di akhir. Tatapanku semakin lamat. Mencoba menyelami apa yang mata itu akan katakan.
“Aku punya masa lalu Dea. Kau harus tahu, sebelum semuanya terlanjur jauh.”
Raka meletakkan sebuah buku. Katanya itu buku masa lalu. Aku harus membacanya, sebelum semua berjalan lebih jauh. Setidaknya itu yang dia katakan sebelum meninggalkanku terpekur di kedai kopi.
***
Canggung!
Tak mungkin aku bertanya ada apa lagi. Jarum jam terus bergerak tanpa memperdulikan kita yang stagnan.
“Kau sudah membacanya?”
Terbata dia bertanya. Aku yakin, dia sudah mengumpulkan beribu keberanian untuk menanyakannya. Sementara hatiku jadi getir. Pahit! Bagaimana mungkin aku lupa membaca buku penting itu? Buku yang membuatku terpekur dua hari di dalam kamar. Memikirkan banyak hal. Aku, dia dan. . . kita?!
“Iya.”
Tiga bulan aku memilih bungkam. Menelan semuanya bersama udara yang kian terasa hambar. Masa lalunya. . . Ah, andai saja masa lalu tak pernah ada. Pasti pertemuan sekarang membicarakan tanggal pernikahan. Bukan bermain pada luka hati yang sebenarnya tak pernah ada. Karena masa lalunya yang melukaiku.
“Apa kau tak ingin mengatakan sesuatu lagi Dea?” tanyanya mulai pesimis.
Aku tertegun. Menunduk. Kembali memikirkan hal yang sudah tiga bulan memenuhi otakku. Masa lalunya! Empat belas bukanlah angka yang sedikit. Apalagi itu adalah jumlah hati perempuan yang pernah bersamanya. Empat belas hati, empat belas kisah cinta dan empat belas patah hati. Mungkin juga empat belas lukas yang pernah dia torehkan. Apa aku masih bisa menerimanya?
“Raka, setiap orang pasti punya masa lalu. tak hanya kau. Hanya saja, sepertinya kau sedang tak beruntung. Kau punya masa lalu yang buruk. Bahkan sangat buruk,” ujarku sambil tersenyum simpul. Mencairkan suasana.
“Raka, satu hal yang paling kusepakati soal cinta. Patah kemudian jatuh. Itu yang kudapat dari cerita masa lalumu.”
Raka menatapku penuh tanya. Hikmat mendengarkan. Udara mengisi kekosongan ini. Aku kembali menenggak latte. Mengurangi intesitas serius pembicaraan.
“Iya, patah kemudian jatuh. Tak sadarkah kau, patah hati adalah pertanda bahwa kau akan jatuh cinta. Sayangnya, selama ini kau sama sekali tak tahu itu. Kau hanya tahu patah hati menyakitkan. Padahal ada kabar gembira dibalik patah. Kabar bahwa kau akan jatuh cinta suatu saat nanti,” lanjutku.
“Raka, apa kau pernah menyadari satu hal? Apa yang membuat matahari terbit?”
Air mukanya berubah seketika. Mungkin terkejut dengan pertanyaanku. Seharusnya kita saling berbicara tentang perasaan dan masa depan. Kenapa justru membahas matahari yang selalu terlihat bulat dari bumi.
“Rotasi bumi???” tanyanya sambil mengangkat bahu.
Aku terkekeh,“sejak kapan kau jadi ilmiah begini?”
Raka ikut terkekeh. Otot-otot dimukanya terlihat tak mengkerut lagi. Lebih rileks.
“Matahari tak mungkin terbit kalau tak tenggelam terlebih dahulu. Sama halnya dengan patah kemudian jatuh. Tak akan ada jatuh cinta jika tak patah patah hati terlebih dahulu. Itu kesalahan terbesarmu di masa lalu. Kau tak pernah menyadarinya. Hingga kau patah dan jatuh berkali-kali tanpa ampun. Tanpa pernah sadar, setelah patah akan ada saatnya jatuh suatu hari nanti. Bukan lekas memaksa jatuh cinta untuk mengurangi rasa sakit patah hati. Akan ada saatnya patah, dan akan ada saatnya jatuh yang tepat.”
Mungkin laki-laki di hadapanku terkesan. Wajahnya terlihat tercekat. Memandangiku agak lama.
Hening.
“Apa kau bisa memaafkan kebodohanku di masa lalu itu?”
Mantap dia bertanya. Matanya menatapku lamat. Semburat cahaya lampu kedai kopi yang menggantung terpantul dari bola matanya. Bersinar. Bening. Menghangatkan. Ah, andai saja kau tak patah dan jatuh sebanyak itu di masa lalu, Raka. . .
Pedih. Rasanya ada yang tersayat di dalam tubuhku. Segumpal daging yang bisa merusakkan seluruh tubuh. Hati. Leherku berputar sembilan puluh derajat. Menatap jalanan lengan atau apapun yang ada di hadapan. Semuanya tersapu oleh mata yang menghindar darinya.
Lima menit. Kita sama diamnya. Membiarkan angin lewat begitu saja. Mengacuhkan seluruh isi kedai yang terus bergerak.
“Apa kau bisa memaafkan kebodohanku di masa lalu, Dea?”
Aku kembali menatapnya. Menghela napas panjang. Mengarahkan sorot mata hanya padanya.
“Aku telah patah. Patah hati dengan diriku sendiri. Merasa kurang lengkap hingga akhirnya merasa membutuhkan seseorang. Kemudian aku jatuh. Jatuh padamu, Raka,” ujarku sambil tersenyum.
Senyum lebarnya terpasang lepas. Mungkin dia merasa lega mendengar itu. Pun aku yang merasa lega bisa memaafkan masa lalunya. Hanya karena masa lalu yang buruk, seseorang tak perlu dihukum berat di masa depan. Asal ada penyesalan dan perubahan, rasanya itu sudah cukup.

Minggu, 01 Maret 2015

Calon Pengusir Kutukan

Dila memeras otaknya sampai kering. Berkali-kali memikirkan siapa dan siapa yang bisa membantu. Hanya ini satu-satunya cara. Namun tak semudah yang dibayangkan. Ini sich bak mencari jarum ditumpukan jerami! Urusan jodoh memang kerap seperti ini.
Sebagian orang memang menemukan jodohnya dengan mudah. Bahkan sangat mudah. Jalan-jalan ke luar negeri, tersesat, bertemu seseorang, berkenalan hingga akhirnya berjodoh. Hanya jalan-jalan ke luar negeri saja langsung ketiban durian runtuh. Ada juga alur jodoh yang mirip sinetron, film, dan lain-lain.
Dan sebagian yang lain harus bersabar lebih untuk menemukan jodoh. Dila memang bukan bagian orang-orang yang perlu bersabar. Laki-laki pilihan Tuhan sudah siap menikahinya. Tepat di usia 24 tahun. Rasanya usia ini sudah pas bagi Dila. Sayangnya keadaan tak selamanya bisa selaras. Keadaan Mbak Nuri yang belum menikah di usia 30++.
Ibu melarang keras pernikahan Dila tahun depan. Jiwa kejawennya angkat bicara untuk urusan ini. Ibu percaya dengan kutukan itu. Kutukan untuk anak perempuan yang belum menikah dan dilangkahi saudaranya.
“Kalau kamu melangkahi Mbak Nuri, dia akan semakin susah dapat jodoh. Ibu nggak bakal ngijinin sebelum Mbak Nuri nikah!” tegas ibu saat Dila meminta ijin.
Dua minggu Dila mencoba perang dingin dengan ibu. Harapannya hati ibu akan luluh dan memberi ijin. Sayangnya kutukan itu terlalu menakutkan. Ibu lebih khawatir kalau Mbak Nuri semakin susah menikah daripada Dila urung menikah tahun ini. Beruntung Dimas mau mengerti. Hingga mengambil keputusan terekstrem. Menunggu Dila diijinkan menikah. Entah berapa lama lagi, tiada kepastian sama sekali.
Sebulan. Dua bulan. Semuanya berjalan lancar. Di bulan ketiga, sebuah kabar datang mengacaukan pikiran Dila dan Dimas. Orang tua Dimas memberikan deadline untuk menikah. Tahun ini Dimas harus melangkah ke pelaminan. Kalau bukan dengan Dila, mereka bisa mencarikan calon lain.
“Apa bisa dengan cara ini?” Dila bertanya dengan tatapan kosong.
Hening. Dimas tampak berpikir lebih dalam. Hendak meyakinkan kekasihnya namun tak sanggup. Keyakinan apa pula yang mau ditawarkan jika memang semuanya masih serba meragukan.
“Ah sial! Kenapa ibu begitu percaya dengan kutukan itu?!” Dila mengumpat sambil menepuk jidatnya.
“Sudahlah Dil. Kita nggak bisa nyalahin ibu kamu. Yang harus kita lakukan sekarang hanyalah. . .”
Belum sempat Dimas melanjutkan, Dila sudah memotong, “mencarikan jodoh buat Mbak Nuri?!”
Wajah Dila berubah masam. Kecut. Sudah dua minggu mereka menjalankan misi ini. Misi mencari seseorang yang akan mematahkan kutukan. Misi mencari sesuatu yang entah siapa dan di mana. Pelik!
“Kita usahakan saja Dil. Walaupun sampai sekarang belum terlihat hasilnya. Sabar ya sayang,” kata Dimas sambil mengelus tangan dila.
Bersamaan mereka menegak jus yang sedari tadi diacuhkan. Dinginnya jus lumayan bisa menyiram otak yang panas. Dimas melempar pandangan pada pintu restaurant. Mata Dila menangkapnya kemudian ikut merayapi pandangan itu.
“Sudahlah, mungkin orangnya nggak dateng,” kata Dila lesu.
Hampir satu jam mereka menunggu. Menunggu laki-laki yang berniat daftar jadi calon Mbak Nuri.
“Kita tunggu setengah jam lagi ya,” bujuk Dimas lembut.
***
Rumah ini bagai gubug derita bagi Dila. Efek perang dingin masih berlanjut. Biasanya suasana makan malam lebih hangat. Ketiga perempuan penghuni rumah akan saling bercerita satu sama lain. Tapi sudah seminggu Dila dan ibu saling bungkam lagi. Hanya Mbak Nuri yang mau bercerita.
“Em . . . Dila kapan mau nikah sama Dimas?” pertanyaan itu tiba-tiba terlontar dari Mbak Nuri.
Dia seolah bisa membaca apa yang terjadi. Ibu dan Dila jelas menyimpan masalah ini rapat. Takut Mbak Nuri tersinggung.
“E. . . e . . .,” Dila agak tergagap.
“Eh, jangan-jangan Dimas udah ngajakin Dila nikah? Udah Dil, terima aja,” kata Mbak Nuri sambil tersenyum.
“Dila belum ingin menikah,” jawab ibu.
Mata ibu melotot tepat ke pusat mata Dila. Membidik.
“Lho, emang kenapa bu? Dimas kan udah mapan, usianya juga udah cukup. Harusnya Dila tahun ini menikah saja. Iya nggak dek?”
Mbak Nuri megedipkan sedikit matanya. Menggoda. Entah tahu atau tidak apa yang terjadi dibelakangnya. Di meja makan ini, dia terus membicarakan pernikahan. Dila dan ibu bungkam.
“Kutukan itu nggak akan terjadi. Tenang saja,” ujar Mbak Nuri disela keheningan.
Kalimatnya begitu menusuk. Dila dan ibu terperanjat. Terkejut.
“Dil, menikahlah. Kamu nggak bisa nyuruh Dimas nunggu lagi. dan kamu juga nggak bisa nunggu mbak yang jodohnya belum terlihat.”
Dila menunduk. Air mata mulai mengalir menganak sungai di pipinya.
***
Langkah Dila dipercepat. Kebahagiaan di hati membuncah tanpa bisa ditampung. Semalam, tak hanya dia yang punya kabar bahagia untuk Dimas. Dimaspun membawa sebuah kabar yang mengejutkan. Laki-laki yang kemarin tak datang, semalam menelepon Dimas. Meminta maaf atas ketidakhadirannya dan menjadwalkan ulang pertemuan.
Wajah Dila semakin berseri saat melihat laki-laki itu. Laki-laki yang akan mematahkan kutukan kuno. Mereka bertiga membicarakan Mbak Nuri. Dila yang paling semangat bercerita. Tak satupun kebaikan Mbak Nuri yang luput dari ceritanya.
Sebuah perkenalanpun berjalan bersamaa persiapan pernikahan. Kekhawatiran di hati ibu tak lagi ada. Mbak Nuri dan Mas Andra memutuskan akan menikah tahun depan. Hingga hari itupun datang. Hari pernikahan Dila.
“Adekku cantik banget,” ujar Mbak Nuri sambil tersenyum.
Mata Mbak Nuri tak henti menatap Dila yang anggun mengenakan kebaya putih.
“Tahun depan mbak pasti lebih cantik lagi.”
Kedua saudara itu saling tatap. Bahagia. hingga telephone Mbak Nuri berdering nyaring. Membuyarkan tatapan dalam mereka. Satu menit, dua menit Mbak Nuri berbicara dengan seseorang di ruang kehidupan lain. Air mukanya berubah. Tubuh Mbak Nuri ambruk, terduduk lemas di lantai.
Cepat Dila mengahmpiri, “mbak kenapa mbak? ada apa?”
“Mas Andra kecelakaan dan meninggal,” ujarnya diikuti tangis yang pecah.
Entah ini pertanda apa. Apa kutukan itu benar-benar terjadi sekarang? Apa memang seharusnya anak perempuan tak boleh dilangkahi adiknya? Hari yang membahagiakan itu berubah suram seketika. Hanya karena sebuah kutukan kuno.