1. Amir
Khan
Beberapa
kali nonton film Amir Khan seperti Mann, sayu justru mulai menyukainya saat
bermain di 3 Idiot. Aktingnya bagus. Karakter yang dimainkan juga menarik. Kemudian,
saya tahu bahwa Amir Khan tidak pernah mau datang ke festival film atau
penghargaan. Seingat saya alasannya mulia. Tapi, saya lupa tepatnya. Semakinlah
saya menyukainya.
2. Simon
Cowell
Saya
lebih mengenalnya sebagai juri di acara pencarian bakat. Dia ini bertangan
dingin. Seolah punya kemampuan melihat bakat di dalam diri seseorang. Simon
juga sering sekali kontra pendapat dengan teman-temannya. Dan, saya merasa satu
selera dengannya. Pembawaan sifatnya yang dingin, baik hati dan humor-humor cerdasnya
sangat memikat hati saya.
Pernah
suatu kali seorang juri perempuan America’s
Got Talent menolak seorang gadis kecil yang sedang bernyanyi. Perempuan itu
mengatakan bahwa dia tidak menyukainya. Juri lain dan penonton menilai juri
perempuan itu sedikit jahat pada si gadis gadis cilik. Simon saja tidak
berkomentar pedas seperti biasanya, karena tahu yang dihadapinya seorang gadis
cilik—ini sangat memesona!. Ketika para juri berjalan memasuki koridor ruang make-up. Juri perempuan tadi tertawa
karena sesuatu hal lucu. Simon melucu ke kamera dengan mengatakan “Itulah tawa
seorang iblis yang baru saja menghancurkan mimpi gadis cilik”. Hahaha!
Ketika
ada seorang juri laki-laki baru di season
lain yang agaknya akan kontra dengan Simon, humor Simon juga keluar. Di ruang
tunggu, Simon duduk berjauhan dengan juri baru itu. Mereka sama-sama terdiam. Ketika
ditanya, Simon menjawab bahwa dia sedang melakukan bonding dengan juri baru. Hahaha. Ah, saya jadi merindukannya.
3. Dian
Sastro
Saya
kira sebagian besar gadis di Indonesia menginginkan bisa seperti Dian Sastro
yang membaca puisi kemudian bernyanyi di film AADC. Dia juga menari di kamar
dan menyanyikan puisinya sendiri. Kakak perempuan saya sampai membeli sebuah
gitar saat itu. Kakak saya juga menciptakan sebuah tarian untuk lagu
kesukaannya. Hha!
Saya
sendiri, menyukai Dian Sasto di film itu. Tapi, lebih suka lagi ketika
menontonnya di sebuah acara talkshow.
Dian menceritakan kehidupan pribadinya. Tentang dirinya yang vakum dari dunia
film. Dian Sastro merasa bahwa film Indonesia tidak ada yang sesuai dengan
idelismenya. Jadi, dia memilih untuk berhenti dulu.
Dia
juga bercerita tentang kehidupan karirnya yang benar-benar dimulai dari bawah.
Dengan ijasah sarjana filsafat yang dianggap sebagian besar orang sebagai
ijasah tidak laku, dia mencari kerja. Memasukkan lamaran ke mana saja. Tanpa
campur tangan orang tuanya, yang mungkin saat itu bisa membantunya masuk ke
perusahaan dengan mudah. Ini mengagumkan! Di saat orang-orang mengandalkan
kekuatan “orang dalam”, dia justru menolak itu. Diceritakan juga bahwa dia
benar-benar merintis dari posisi bawah, hingga bisa naik ke posisi tinggi di
perusahaan yang menerimanya.


0 komentar:
Posting Komentar