Kalau
diingat, dulu aku mata keranjang sekali. Waktu SD, aku naksir dengan cowok
paling ganteng satu kelas. Tapi, tidak hanya ganteng saja. Dia juga pintar dan baik.
Aku tidak tahu sejak kapan mulai menyukainya. Mungkin sejak kita selalu
disandingkan bersama.
Aku
sering mendapat rangking satu, dan dia peringkat kedua. Sering sekali seperti
itu. Wali kelas kita di kelas 3, kemudian menyandingkan kita dalam satu bangku.
Jadi, di sekolahku dulu, untuk kelas satu sampai lima bangkunya panjang untuk
dua orang. Bahkan muat untuk tiga sampai empat orang. Karena dulu siswa di
sekolahku membludak, maka bangkunya dibuat panjang seperti itu. Kalau sekarang,
hanya diduduki dua orang saja.
Kita
satu bangku selama dua tahun. Karena wali kelas 4 juga memiliki ide yang sama
dengan sebelumnya. Dari situlah, kita semakin dekat. Kita saling mengenal lebih
jauh. Dia anak cowok paling baik dan popular di kelas. Dia rajin mengerjakan
PR, piket dan pandai bergaul. Seingatku, cuma dia anak cowok yang mau berangkat
lebih pagi kemudian menyapu saat piket. Anak cowok lainnya lebih senang
menyerahkan tugas piket pada anak perempuan. Hanya dia juga yang rajin
mengerjakan PR. Lainnya lebih sering datang lebih pagi kemudian menyalin
jawaban teman. Sementara aku dan dia sudah siap dengan PR kita, kemudian saling
mencocokkan jawaban. Ngomong-ngomong, kita sering sekali mencocokkan jawaban. Kita
sering berdiskusi jika jawabannya berbeda. Dan, dia pandai bergaul. Dia punya banyak
teman, tidak sepertiku. Sifatnya itu yang membuat popular, di kalangan anak perempuan
di kelas dan lain kelas.
Aku
rasa, semua anak perempuan di kelas menyukainya. Tapi, mereka tidak punya
kesempatan untuk dekat dengannya seperti aku. Selain sebangku, kita juga sering
dikirim untuk lomba cerdas-cermat maupun olimpiade tingkat kecamatan. Kita juga
disatukan dalam satu kelompok belajar dan kelompok tugas-tugas.
Dulu,
kita sama sekali tidak pernah tahu perasaan masing-masing. Kita hanya sering
bersama dan cocok. Satu kelas melihat kita sebagai “pasangan”. Tapi, kita
selalu mengelaknya. Apa lagi setelah tahu, bahwa ternyata kita saudara jauh.
Hahaha! Ini lucu!
Jadi,
aku dan dia punya silsilah dari nenek yang entah bagaimana intinya kita masih
saudara. Saat masih kecil, ternyata kedua orang tua kita sering membawa kita
untuk main bersama. Mungkin saat usia satu sampai tiga tahun. Karena aku dan
dia sama-sama tidak ingat. Hahaha!


0 komentar:
Posting Komentar