Minggu, 31 Desember 2017

2017: Terlalu Banyak Berhenti


Di akhir tahun ini, saya ingin mengatakan pada diri sendiri, “kamu terlalu banyak berhenti!”
Tahun lalu, saya sudah mengeluhkan hal serupa. Bahwa saya tak tahu harus berjalan ke mana. Rasanya semua jalan buntu, tak saya sukai. Akhirnya saya hanya berhenti, menjalani semua ini setiap hari, hingga sekarang penyesalan terdalam datang.
Tadi, saya melihat postingan foto seorang teman. Dia sedang berlibur dengan keluarganya. Dia tampak sangat bahagia—ya, itu sudah pasti. Setahu saya, pekerjaannya sekarang bukanlah pekerjaan impiannya. Tapi, dari pekerjaan itu dia bisa menghasilkan banyak uang dan membantu perekonomian keluarganya. Itu membuat dia sangat bahagia. Kemudian, saya melihat pada diri sendiri. Saya pun bekerja yang tak sepenuhnya saya cintai. Bedanya saya tak menghasilkan banyak uang dan tak bisa membantu perekonomian keluarga. Dan, saya tetap bertahan di sana. Tahun ini, saya tak berusaha cukup keras untuk berlari.
Saya melihat teman-teman melamar banyak pekerjaan, mencobanya, kemudian mengundurkan diri ketika tak cocok. Bahkan ada seorang teman yang dalam waktu dua tahun telah berganti lebih dari lima pekerjaan. Itu menyadarkan saya bahwa keputusan saya selama ini mungkin keliru. Hingga menyisakan penyesalan di akhir tahun lalu dan akhir tahun ini.
Ada banyak hal, yang saya sesali tahun ini. Karena saya terlalu banyak berhenti. Lebih baik salah jalan daripada berhenti. Jalan yang salah akan membuatmu menemukan jalan yang tepat suatu saat nanti. Kalau berhenti, maka saya tidak akan menemukan yang tepat. Saya telah melewatkan satu tahun ini hanya untuk berhenti.
Maka, yang ingin saya katakan untuk diri sendiri di akhir tahun adalah, “mulailah beranjak, jangan banyak berhenti lagi!”
*ditulis sambil kepo SBS Drama Awards 2017


Jumat, 22 Desember 2017

Film My Love My Bride: Menikah; Belajar Cinta yang Sebenarnya

Sutradara: Im Chan-sang
Produser: Byun Bong-hyun
Penulis: Kim Ji-hye
Pemeran: Jo Jung-suk, Shin Min-ah
Tanggal rilis: 8 Oktober 2014
Durasi: 111 menit
Negara: Korea Selatan

“Apa seseorang tahu arti cinta ketika membicarakannya? Butuh berapa banyak cinta untuk mendefinisikan arti cinta?”

Film ini dibuka dengan adegan yang menarik dan dikemas jenaka. Tokoh utama laki-laki, Young-min (Jo Jung-suk) sedang menunggu pacarnya dengan sebuah cincin, sembari chatting di grup pertemanannya. Young-min membuka obrolan di grup dengan kalimat ‘aku pikir... aku akan menikah’. Seorang teman yang masih lajang memberinya selamat. Di tempat lain, teman-temannya yang sudah menikah digambarkan sedang repot mengurus anak. Membaca pesan dari Young Min, semua temannya yang sudah menikah bersikeras melarangnya, dengan alasan berdasarkan pengalaman. Katanya, ‘jangan menikah. kau akan tetap kesepian setelah menikah. pulanglah, bodoh. aku serius’.
Kemudian, film bergerak pada pernikahan Young-min dan Mi-young (Shin Min-ah). Seperti orang-orang yang menikah pada umumnya, mereka sangat bahagia. Saat itu, bayangan menikah di kepala mereka adalah kehidupan penuh kebahagiaan selamanya. Mereka mengucapkan kalimat-kalimat manis semacam ‘aku akan membahagiakanmu selamanya’ dan ‘aku mencintaimu selamanya’. Tapi, kenyataan berkata lain. Pertengkaran datang menghampiri kehidupan rumah tangga mereka setiap hari, walaupun baru di awal pernikahan. Mulai dari kebiasaan keduanya sehari-hari yang mengganggu satu sama lain, kecemburuan, hingga salah paham yang berujung pada pertengkaran besar. Mi-young merasa lelah dengan semua pertengkaran, dan ingin memikirkan ulang tentang pernikahan mereka. Min-young hampir saja ingin bercerai. Lalu, salah paham di antara mereka mulai terurai. Mereka saling meminta maaf dan berbaikan.


“Kau bertengkar dengan suamimu?”
“Itu sudah rutinitas kami. Setiap hari kami bertengkar. Dia mungkin sudah bosan denganku. Aku mungkin tidak penting dalam hidupnya.”

Konflik rumah tangga yang diangkat dalam film ini dibagi dalam beberapa tema. Dan, semua tema yang diambil terasa dekat dengan kehidupan nyata. Diawali dengan tema rumah baru yang menggambarkan kehidupan awal mereka sebagai pengantin, bergerak halus ke tema omelan yang berarti dimulainya percecokan mereka, kemudian godaan orang ketiga dari kedua belah pihak, dan berakhir pada belajar mencintai dalam pernikahan. Semua tema itu bersatu menjalin sebuah cerita utuh, yang seolah menggambarkan grafik konflik umum dari awal hingga puncak pernikahan. Setiap tema digarap dengan sederhana tapi tetap apik dan realistik. Seolah tidak ada yang dibuat-buat, dan penonton percaya bahwa sebagian besar rumah tangga mengalaminya. Misalnya saja, permasalahan kecil seperti sang suami selalu sembarangan meletakkan barang, jorok menggunakan kamar mandi, berbohong saat pulang larut, sementara istri selalu mengomel dan sering marah. Saya yang belum menikah jadi terbayang kalau nanti mungkin akan seperti itu. Karena biasanya perempuan memang lebih rapi daripada laki-laki, perempuan juga suka ngomel-ngomel—ada juga yang enggak, sih hhee. Ketika sifat dasar itu bertemu dalam sebuah rumah, maka apa yang ada dalam film ini akan terjadi.




Tidak hanya masalah rumah tangga berdua saja yang diangkat, tetapi juga konflik individu saat dihadapkan dengan keadaan yang sekarang sudah tak sendiri. Impian yang dulu rasanya ingin sekali diraih dan diusahakan begitu keras, mulai terpinggirkan perlahan. Young-min yang suka menulis puisi waktunya lebih banyak tersita untuk bekerja. Sementara Mi-young mengesampingkan keinginanya melukis. Mi-young mengajar melukis di sebuah lembaga pendidikan, tak sempat menggores kanvasnya sendiri karena sibuk bekerja dan mengurus rumah. Sesuai dengan realita, sebagian orang yang sudah menikah akan dihadapkan pada konflik batin yang demikian. Antara melanjutkan mimpi atau mengesampingkannya demi kepentingan lain. Saya pun sempat bertanya dalam hati, apakah sebuah impian pantas ditukar dengan pernikahan? Lalu, seiring berjalannya waktu film ini menjawab dengan keduanya yang melanjutkan mimpinya.

“Aku berpikir diriku terus melukis. Kuanggap diriku sedang melukis saat sedang memerika lukisan murid-murid dengan pensil di tanganku.”

Sayangnya, seperti sebuah film drama-romantis pada umumnya, semuanya berakhir manis dan mulus. Impian yang tertunda bisa dilanjutkan, penyelesaian konflik di akhir pun tergolong mudah. Padahal dalam kehidupan nyata, banyak sekali yang merasakan pahit terpaksa melepas impiannya. Kemudian, ada juga yang perlu melalui jalan terjal untuk berbaikan. Tapi, di luar semua itu film ini tetap dapat dinikmati dengan baik.

Menikah; Belajar Cinta yang Sebenarnya

Kata cinta yang sering diagungkan muda-mudi saat kasmaran rasanya menjadi kerdil setelah saya nonton film ini. Arti cinta yang dipahami ketika belum menikah, seolah tak ada apa-apanya. Dua hal dasar yang terlihat kentara pada film ini adalah saling memahami dan membunuh ego. Setiap pertengkaran yang mereka alami, selalu berawal dari ego masing-masing yang tak mau kalah. Semuanya akan kembali baik-baik saja ketika mereka mau saling memahami dan mengesampingkan egonya. Dan, dua hal itu tak mungkin dilakukan tanpa perasaan mencintai pasangan. Di satu waktu mereka bertengkar kecil hingga hebat, tapi di waktu lain mereka menyadari bahwa semua pertengkaran itu tidak ada artinya dibandingkan perasaan mencintai satu sama lain. Walaupun mereka sudah sadar akan itu, mereka tetap sering bertengkar dan akan selalu berbaikan. Begitu seterusnya, sebuah pernikahan berjalan diiringi pertengkaran kemudian kembali pada perasaan cinta yang menyatukan. Pernikahan menjadi ladang yang tepat untuk belajar arti cinta yang sebenarnya.
Saya menobatkan film ini sebagai film yang harus ditonton bagi yang belum/akan menikah. Karena ada banyak hal tentang pernikahan yang bisa diambil. Pun makna cinta dari perspektif orang yang sudah menikah. Apalagi di jaman sekarang, ketika perasaan cinta dengan mudah ‘dipamerkan’ ke semua orang saat sedang bersemi, tetapi begitu mudah luntur saat diterpa badai. Bayangan pernikahan yang sangat membahagiakan seperti yang sering kita lihat di media sosial akan berubah setelah nonton film ini.

Rate: 4/5


Kamis, 21 Desember 2017

Film Le Grand Voyage: Perjalanan Menemukan Kasih Sayang yang Terlambat


Sutradara: Ismaƫl Ferroukhi
Produser: Humbert Balsan
Penulis: Ismaƫl Ferroukhi
Aktor: Nicolas Cazalƫ, Mohamed Majd
Distribusi: Pyramide Distribution
Tanggal rilis: 7 September 2004
Durasi: 108 minute


Tahun 2004, film ini tayang dan setahun setelahnya memenangkan Golden Astor for Best Film di Mar del Plata International Film Festival. Pertemuan saya dengan film ini bisa dibilang tak sengaja. Pencarian film bertema hubungan orang tua dengan anak mengantarkan saya pada film Le Grand Voyage. Dan, saya menobatkannya sebagai film sepanjang masa. Film yang perlu saya abadikan untuk ditonton orang-orang yang saya sayangi—suami dan anak misal, ehem.
Dari Perancis Selatan, kisah ini bermula ketika seorang Ayah ingin menunaikan ibadah Haji menggunakan mobil. Kakak tertua dalam keluarga mereka tak bisa mengantar, karena surat ijin mengemudinya ditahan setelah melakukan pelanggaran lalu lintas. Maka, Reda, sang adik yang terpaksa menggantikan tugas itu. Padahal hubungan Reda dan Ayah kurang baik. Mereka punya prinsip hidup dan keyakinan tentang Tuhan masing-masing. Ayah Reda pemeluk islam yang taat, sementara Reda dalam film hanya digambarkan tak pernah beribadah (shalat). Perjalanan keduanya dimulai tanpa percakapan hangat. Di perjalanan jauh itu, tampak sifat keduanya yang sama keras kepala. Hal kecil semacam memilih jalan mana yang harus dilewati saja diperdebatkan sengit.
“Mengapa Ayah tak naik pesawat ke Mekkah? Itu jauh lebih mudah.”
“Saat air laut naik ke langit, ia akan kehilangan rasa asinnya untuk menjadi murni kembali.”
“Apa?”
“Air lautan menguap saat ia naik menuju ke awan. Dan saat air laut menguap, ia menjadi air tawar. Itu alasan mengapa lebih baik menempuh perjalanan haji dengan berjalan kaki daripada mengendarai kuda, dan lebih baik mengendarai kuda daripada naik mobil, dan lebih baik naik mobil daripada naik perahu, dan lebih baik naik perahu daripada naik pesawat terbang.”
Walau mereka terlihat tak menyukai satu sama lain, tapi di hati terdalam mereka ada kasih sayang anak dan orang tua. Terbukti saat mereka dihadang oleh badai salju. Bermalam di mobil, keesokan harinya Reda menyadari bahwa mobilnya tertimbun salju. Reda membangunkan Ayahnya yang masih tertidur. Ayah tak kunjung bangun karena demam. Sekuat mungkin Reda menghancurkan es yang menyelimuti mobilnya dan membawa ayah ke rumah sakit. Reda benar-benar khawatir terjadi sesuatu pada Ayahnya.
Ketika sang Ayah sehat kembali, dia meminta perjalanan dilanjutkan. Di urusan bea cukai, mereka bertemu Mustafa. Seorang laki-laki yang membantu mereka berkomunikasi dengan pihak pabean. Mustafa pun ikut menumpang dengan alasan ingin naik haji. Ayah menyuruh Reda berhati-hati dengan Mustafa. Tapi, Reda justru percaya dengan Mustafa karena kehadirannya menawarkan sikap yang hangat. Mustafa bisa menjadi teman ngobrol yang baik untuk Reda. Secara terbuka, Reda menceritakan tentang Lisa, seorang perempuan yang disukainya di sekolah. Lisa bukan seorang muslim, dan Reda menutupi hubungannya dengan Lisa dari keluarganya. Terlalu percaya pada Mustafa, Reda pun mau saja saat diajak mabuk-mabukan, ketika Ayah tidur di penginapan. Paginya, Ayah membangunkan Reda, memberi tahu bahwa Mustafa tak ada di kamar dan uang bekal mereka raib.
“Kenapa pergi ke sana menjadi begitu penting? Mengapa Mekah begitu istimewa?”
“Kita sudah sampai sejauh ini dan kini kau baru tertarik menanyakannya?”
“Haji itu penting. Ia adalah rukun Islam yang kelima. Semua muslim yang mampu, harus melaksanakannya sebelum mereka meninggal untuk mensucikan jiwa mereka. Kita semua pasti mati nantinya. Kita hanyalah tamu di bumi ini. Satu-satunya yang Ayah takutkan ialah meninggal sebelum melaksanakan kewajiban. Dan, tanpamu Ayah takkan pernah bisa berhasil.” 
Perjalanan dilanjutkan dengan sisa uang yang sedikit. Perdebatan kembali mewarnai perjalanan mereka hingga membuat Reda marah. Di gurun pasir, Reda berniat meninggalkan Ayahnya sendirian, tak mau lanjut mengantar naik Haji. Ayahnya menyusul, memberikan tawaran bahwa Reda akan pulang setelah mereka sampai di kota. Mobil akan dijual, Reda bisa pulang naik pesawat. Ayah akan memlanjutkan perjalanan seorang diri dengan berjalan kaki. Tak tega, Reda pun akhirnya mau mengantar Ayah kembali. Sifat Ayahnya yang luluh itu, membuat Reda mulai luluh juga. Reda mulai bertanya tentang ajaran agama yang dijalani sang Ayah. Perjalanan dilanjutkan hingga sampai ke Mekkah. Reda berhasil mengantarkan Ayahnya Haji. Tapi, Ayahnya tak kembali. Film ditutup dengan tangisan Reda. Tangisan menyesakkan dada, penyesalan seorang anak yang terlambat menemukan kasih sayang untuk ayahnya.
“Ayah banyak belajar dari perjalanan ini.”
:”Begitu juga aku.”
Film ini membuat saya banjir air mata, terutama pada bagian akhir. Sekaligus membuat saya belajar untuk tidak terlambat dalam menyayangi orang tua. Deskripsi hubungan anak-ayah di film ini sangat mengena di hati. Perbedaan prinsip hidup, pendapat, karena hidup dan tumbuh pada jaman yang berbeda menjadi dasar ‘ketidakcocokan’ orang tua-anak. Di film ini, semua itu dikemas apik dan dekat dengan penonton, sehingga saya (sebagai seorang anak) yang menonton pun mengamini semuanya. Kemudian, di akhir film, hati kita dipukul dengan penegasan bahwa semua ketidakcocokan itu bukanlah apa-apa karena sebenarnya yang terbesar adalah kasih sayang. Saya memberikan 5 bintang penuh untuk film yang sangat menyentuh ini.

Rate: 5/5

*sumber gambar: google            
  

Minggu, 17 Desember 2017

#Renungan 24: Keinginan dan Terlambat



Pagi tadi, ponakan perempuan saya yang berumur tiga tahunan pamer sendal baru. Sendal jepit berwarna pink dengan bulatan bulu di atas jepitnya. Sendal model ini memang beberapa waktu lalu sangat hits. Ada juga untuk orang dewasa. Sorenya, tetangga saya yang berumur empat tahunan, teman main ponakan, membeli sendal yang sama. Keinginan anak itu untuk memiliki sesuatu yang sama dengan ponakan saya begitu cepat terpenuhi. Berbeda dengan diri saya waktu kecil hingga terbawa dewasa.
Saat TK, saya ingin sendal bakiak modern seperti milik sepupu. Sendal itu sampai saya bawa pulang dan perlihatkan kepada emak. Saya bilang, ingin sendal seperti itu. Emak hanya mengiyakan, tapi tidak sekarang. Katanya nanti, kalau gentengnya laku. Waktu itu orang tua saya berwirausaha membuat genteng. Sabar menunggu, akhirnya saya pun dibelikan sendal itu. Agak lama, hingga boomingnya sudah lewat. Haha.
Beranjak kelas dua SD, teman-teman saya mempunyai sepeda. Mereka semua punya sepeda dan bersepeda bersama di minggu pagi. Saya selalu tertinggal kegiatan itu karena tak punya sepeda. Keinginan saya ikut bersepeda sangatlah besar. Karena Senin paginya mereka selalu membicarakan keseruan bersepeda kemarin, dan saya tak pernah mengerti apa yang mereka bicarakan. Mereka asyik bercerita, saya mendengarkan seorang diri. Ketika saya menyampaikan keiginan punya sepeda, orang tua saya pun meminta untuk menunggu. Satu tahun setelahnya, saya baru dibelikan sepeda.
Berlanjut ke SMP, saat semua teman-teman saya punya HP. Jaman dahulu, belum ada android, jadi jangan dibayangkan HP canggih semacam BBM atau Android. Maksud saya, HP sejenis Nokia, Soni, dan lain-lain. Teman-teman saya bertukar nomor HP kemudian saling berkirim pesan. Saya tak bisa melakukannya dan di usia itu, saya mulai mengekang keinginan yang perlu disampaikan pada orang tua. Tak saya ungkapkan bahwa semua teman punya HP dan saya juga ingin punya. Karena saya tahu, jawaban mereka pasti menyuruh menunggu. Seperti sebelum-sebelumnya. Lama-lama saya sadar bahwa tak semua keinginan saya pantas diungkapkan pada mereka.
Saat itu, saya pun menyiasatinya dengan berbagi HP bersama kakak perempuan. Nomor kakak, saya akui sebagai milik sendiri juga. Sehingga teman-teman bisa menghubungi saya dan sebaliknya. Dua tahun kemudian, barulah tabungan saya mencukupi untuk membeli HP. Kejadian ini pun terulang saya SMA. Semua teman saya punya motor, dan saya tidak. Saya tak pernah minta pada orang tua.
Hari ini, saya menyadari bahwa keinginan saya ternyata selalu terlambat. Terlambat terpenuhi. Tak seperti keinginan anak-anak lain. Teman-teman saya dulu, selalu mendapatkan apa yang diinginkan. Hingga semua keterlambatan yang saya alami membuat diri ini sungkan mengungkapkan keinginan pada orang tua. Saya lebih suka membebani diri sendiri, ketika menginginkan sesuatu. Efeknya mungkin baik, karena saya peka terhadap keadaan dan bisa mengendalikan setiap keinginan. Tapi, ada pula buruknya, yaitu membebankan semuanya pada diri sendiri hingga kadang merasa sendirian dan lelah sendirian untuk meraih keinginan-keinginan itu.

*gambar diambil dari google

*ditulis untuk #1minggu1cerita


Minggu, 19 November 2017

Aku ingin menemani Choi Young Do makan mie


Mungkin rasanya amat sangat terlambat membicarakan drama yang muncul beberapa tahun lalu ini. Tapi, dua hari ini saya merasa sangat merindukan Choi Young Do (dan Kim Woo Bin tentunya. Hihihi). Saya merasa perlu melampiaskan rasa rindu, sekaligus mengabadikan perasaan pada Choi Young Do. Maka, saya membuat tulisan random ini. #harapmaklum
Dulu sekali, saat drama korea ‘The Heirs’ sedang melejit, saya tidak langsung mengikutinya. Saya tipe orang yang tak bisa diulur-ulur oleh rasa penasaran. Hahaha. Setelah seluruh episode rampung, saya baru menontonnya. Saat itu, saya sering mendengar nama Kim Tan dan Cha Eun Sang, disebut oleh anak-anak kost yang memang rutin mengikuti. Kisah cinta mereka begitu menyita perhatian banyak orang. Tapi, saat menontonnya sendiri, saya justru sama sekali tidak tertarik dengan percintaan mereka. Mungkin karena terlalu bosan dengan tema serupa, tentang seorang perempuan dari keluarga biasa yang jatuh cinta pada laki-laki konglomerat. Perjuangan cinta beda kasta di kehidupan modern sudah menjamur. Dan, saya tidak menemukan apa yang spesial dari kisah mereka.


Dibanding kisah cinta Kim Tan-Cha Eun Sang, saya lebih tertarik dengan karakter Choi Young Do. Seorang laki-laki yang menyimpan banyak luka, kesepian dan tidak tahu cara mengekspresikan perasaannya. Hidup dalam lingkungan konglomerat dengan segala aturan permainan bisnis, membuat harinya sebagai seorang siswa SMA berumur 18 tahun terlihat menyedihkan. Nilai saham, perjanjian, pernikahan bisnis, etika kawan-lawan berbisnis, dan yang sejenisnya lebih banyak memenuhi harinya daripada kesenangan sebagai remaja. Choi Young Do hanya ada waktu untuk mengikuti apa yang Ayahnya perintahkan. Melakukan pembullian di sekolah menjadi salah satu pelampiasannya. Orang-orang hanya melihat sisi jahatnya itu, dan takut padanya.
Sisi jahat ini pula yang sedari awal dilihat oleh Cha Eun Sang, cinta pertama Yong Do. Pertama kali Yong Do melihat Eun Sang di sebuah minimarket. Yong Do sedang makan mie instan, sementara Eun Sang tertidur di depannya begitu saja. Bagi Yong Do, ini menarik dan sudah cukup membuatnya jatuh cinta. Sayangnya, apa yang Yong Do lakukan untuk mendekatinya justru berbuah sebaliknya. Di mata Eun Sang, dia tetaplah seorang laki-laki yang jahat dan perlu dijauhi. Hingga akhir, Eun Sang menolaknya, tanpa membalas apa pun.
Dari sisi lain saya melihat kebaikan Yong Do. Dia memang sering mengganggu Eun Sang dengan ancaman karena tak bisa mengatakan secara langsung hal-hal semacam: ‘aku ingin ngobrol denganmu’, ‘aku ingin kita saling menyapa’ atau ‘aku ingin makan mie berdua denganmu sambil bercerita’. Tapi, yang Yong Do lakukan ketika Eun Sang sedih atau mengalami kesulitan adalah membantunya. Walaupun perempuan itu ketus padanya. Nah, Yong Do baik banget, kan? J
Lebih dalam lagi, saya melihat Yong Do adalah orang yang paling menderita di drama ini. Dia hidup tanpa seseorang yang bisa diajak berbicara, berbagi kesedihan-kesedihannya. Jauh dari seorang ibu, menjalani hidupnya yang rumit seorang diri. Ayahnya akan menikah dengan perempuan lain untuk urusan bisnis, Ayahnya dipenjara karena kasus korupsi, Kim Tan yang seharusnya teman sejati justru sibuk dengan urusannya sendiri, Cha Eun Sang menolaknya berkali-kali, hingga permintaan maafnya ditolak oleh korban bullinya dulu. Tidak ada yang tahu apa yang dirasakannya. Harapannya sederhana, makan mie bersama Cha Eun Sang—yang tak pernah terwujud. Mungkin maksudnya, makan mie bersama orang yang disuka untuk membuat suasana hatinya membaik, meringankan sedikit beban hidupnya, atau bahkan hingga berbagi kesedihan.


Saya tak tahu, kenapa begitu simpati pada tokoh Yong Do. Orang-orang mungkin tertarik padanya karena diperankan oleh aktor yang sangat tampan. Tapi saya tertarik dengan karakternya, keadaan batinnya. Di kehidupan nyata pun, saya sering menaruh simpati pada orang-orang yang seperti ini. Cinta saya juga pernah hinggap pada seorang yang punya luka tapi jarang membicarakan luka-luka itu. Pernah ada yang bertanya kenapa, dan saya menjawab karena saya ingin menemaninya. Tak tega melihatnya terluka sendirian. Padahal, saya kan juga punya luka(?) Kalau saya ingin selalu menemani orang yang terluka, lalu siapa yang akan membantu saya menyembuhkan luka(?) Heuheu.
Ah, entahlah, saya juga tak paham. Sekiranya itulah perasaan saya pada Choi Young Do. Sekalipun saya juga punya luka, tapi saya tetap ingin menemani Choi Yong Do makan mie.


*ditulis untuk #1minggu1cerita


Kamis, 09 November 2017

Sebenar-benarnya teman



Alit, penulis Shitlicius pernah bilang (kurang lebih seperti ini, ehem): makin bertambah usia, teman akan semakin sedikit. Di satu sisi, saya manggut-manggut setuju. Pada sisi lain, saya teringat dengan diri sendiri yang memang tak banyak teman (dekat). Dulu, saya pernah menyalahkan diri sendiri. Berpikir bahwa saya susah cocok dengan orang lain, kerena mereka tak mau mengerti jalan pikiran ini—yang terkadang aneh, nggak seperti kebanyakan orang. Dan, saya pun enggan masuk terlalu dalam pada diri mereka.
Kenapa saya nggak mencoba memahami kamu lebih keras? atau kenapa kamu nggak mau mengerti apa yang ada di dalam kepala saya? atau kapan saya menemukan teman yang enak diajak ngobrol ‘ngalor-ngidul’? Pertanyaan semacam itu terus-menerus ada, seiring dengan silih bergantinya manusia di sekitar. Menjelang dua puluhan, kepala saya berbisik bahwa: perkenalan dengan orang lain akan bermuara pada dua hal, cocok atau tidak cocok. Sah-sah saja jika batin saya mengatakan salah satunya ketika semakin mengenal pribadi orang lain. Tidak ada yang salah, hanya perkara cocok dan tidak cocok.
Bertahun-tahun saya menantikan seorang teman yang bisa diajak bicara tentang pernikahan yang urgensinya bisa ditunda, tak perlu mematok usia bagi seorang perempuan. Orang di sekeliling saya membicarakan betapa menyedihkannya ulang tahun ke dua puluh lima tanpa seorang yang disebut suami. Saya menantikan seorang teman yang mau membicarakan tentang kunang-kunang, yang entah masih bisa dilihat terangnya oleh seorang anak yang lahir di dua puluh tahun mendatang, atau tidak. Teman di sekitar membicarakan gajah saja enggan.
Berpindah dari satu lingkungan ke lingkungan lain, saya tak kunjung mendapatkan teman idaman itu. Tapi, bukan berarti saya belum bertemu dengan seorang teman yang sebenar-benarnya. Lewat hal lain, saya menyadari dan mendapatkan teman yang sesungguhnya.
Tentang pendapat. Menikah bagi saya tak perlu dibatasi usia. Tak perlu adu cepat dengan orang lain. Bukan pula satu-satunya sumber kebahagiaan dalam hidup. Orang di sekitar saya, yang mengaku sebagai teman, sering sekali menyalahkan pendapat saya. Menyuruh cepat-cepat menikah, melarang saya menikah di usia yang lebih dari sekian. Agar saya bahagia. #lhah.
Tentang selera. Walaupun saya sering kepergok memakai flat shoes, tapi dalam otak pernah terbersit imajinasi agar kaki ini memaki sepatu boots pendek. Orang di sekitar saya pernah terbahak sangat kencang saat ide itu tercetus. Komentar negatif, nada sumbang, bercucuran dari mulut mereka. Gaya berpakaian saya yang terlalu sederhana, tak akan pantas berpadu dengan boots kekinian, orang lain pantas saja memakainya tapi saya tidak akan pantas. Kurang lebih seperti itu komentar yang keluar.
Tentang menjalani hidup. Sebuah buku bacaan selalu berada di tas. Seringnya sebuah novel atau kumpulan cerita pendek. Barangkali ada sepuluh atau dua puluh menit waktu luang yang bisa saya gunakan untuk membaca. Saat mata teman-teman di sekitar melihatnya, jangankan menanyakan judulnya, mereka justru menghakimi saya sebagai pengangguran tak guna. Waktu bagi mereka sebaiknya digunakan untuk menghasilkan sesuatu (uang), bukan duduk dan membaca.
Mereka berbeda dengan saya. Dan, saya bisa katakan bahwa mereka bukanlah sebenar-benarnya teman saya. Karena mereka tidak menghargai diri saya yang sesungguhnya.


Berpindah ke orang-orang lain, yang juga tak sama dengan saya. Mereka dan saya saling berbahagia ketika ada yang menikah, tak pernah menghakimi isi kepala masing-masing tentang pernikahan. Tak pernah membicarakan tentang kunang-kunang atau gajah, tapi menghargai kesukaan saya baca buku. Mereka dan saya tak pernah sama dalam berpakaikan, tapi mereka mau mengusulkan boots yang cocok untuk saya. Mereka menghargai setiap apa yang ada dalam diri dan pikiran saya. Entah yang aneh atau lucu, saya dan mereka bicarakan bersama, tertawakan bersama. Bagi saya, mereka inilah teman yang sesungguhnya.
Lalu, sampailah saya pada satu kalimat:
“Jika seseorang terus menerus menyalahkan pola pikirmu, prinsip hidupmu, jalan yang kau pilih, seleramu, keinginanmu, hingga mimpi-mimpi yang kau dambakan. Maka, hubungan yang cocok dengan seseorang itu adalah teman biasa. Jangan memaksa lebih, karena kau bisa terluka.”
Mungkin, quotes ini juga berguna untuk hubungan yang lain, tak hanya dalam pencarian teman yang sebenar-benarnya teman. Teman hidup barangkali. #eh


*ditulis untuk #1minggu1cerita dengan tema “Kawan”.
*sumber gambar: Google


Minggu, 05 November 2017

Dongen Untuk Asilia



“Bunda, bunda, asilia mau dibacain buku dongeng baru ini,” Asilia menarik lengan bundanya.
“Sebentar ya sayang, bunda masih ada kerjaan,” jawab Bunda Nabila pendek.
Bunda Nabila masih saja memandang layar komputernya. Tanpa sedikitpun menengok Asilia yang berdiri disampingnya dan merengek minta dibacakan dongeng. Lesu sekali wajah bocah yang masih duduk di TK nol kecil itu. Rambut kuncir kudanya bergoyang- goyang mengimbangi langkah menuju kamar.
Ayah yang sedari tadi memperhatikan dari ruang TV, menyusul Asilia. Mengantarkan putri kecilnya tertidur pulas. Walaupun ayah tak pandai membaca dongeng seperti bunda.
“Bunda, ayah mau bicara,” kata ayah pendek.
“Iya ayah, sebentar,” bunda masih saja menatap layar laptop.
Tangan ayah langsung memegang tangan bunda yang masih mengetik. Matanya menatap tajam mata bunda. Bunda menunduk, tak berani menatap suaminya. Langsung saja dia mematikan komputer.
“Bunda, apa bunda tidak merasa ada yang berubah dengan rumah ini sejak bunda bekerja jadi editor?”
“Ada apa yah?”
“Lihat Asilia. Dia tidak terurus. Membacakan dongeng seperti biasanya saja bunda sudah tidak sempat.”
Kecut sekali perkataan ayah ditelan oleh bunda. Matanya mulai berkaca- kaca. Mengingat Asilia yang sudah seminggu ini merengek minta dibacakan dongeng. Namun bunda tak pernah sempat. Hanya berkata iya, nanti saja. Hingga Asilia tertidur, bunda tak pernah membacakan satu halaman cerita saja. Pun dengan Asilia yang dulu sering dibuatkan bekal special. Sekarang bunda hanya memasak yang gampang, tidak ribet, bahkan membeli di warung depan jika sudah tidak sempat.
“Bunda, ayah tahu, kamu sangat mencintai dunia menulis. Tapi tidakkah bunda juga mencintai Asilia? Jika bunda tidak bisa mengejar mimpi bunda sekarang, bunda masih bisa mengejarnya lain waktu. Tapi jika bunda tidak bisa memberikan waktu terbaik untuk mendidik akhlak Asilia sekarang, bunda tidak akan pernah bisa mengejarnya di lain waktu. Karena ketika dia dewasa, dia akan terbentuk dari apa yang bunda tanamkan sejak kecil. Jika sekarang bunda hanya sibuk bekerja, kapan bunda akan menanamkan akhlak mulia pada Asilia?” Ayah menatap mata bunda yang sudah nanar.
“Tapi bunda juga ingin menulis yah. Pekerjaan ini, sudah bunda idamkan sejak dahulu. Salah satu posisi penting di penerbit.”
“Ayah tidak pernah melarang bunda untuk menulis. Ayah juga tidak melarang bunda untuk berhenti menulis. Tapi pikirkan semua ini dengan baik. Menulis dan Asilia,” ayah berkata datar.
Hati bunda sudah ditampar habis oleh semua perkataan ayah malam ini. Ayah benar, Asilia lebih penting dari semuanya. Tapi hatinya juga benar, dia tidak bisa berhenti menulis.
Malam mulai sunyi. Menyisakan bunda yang masih sibuk dengan pikirannya. Bunda duduk disamping tempat tidur putrinya. Memandang wajah Asilia yang polos sedang pulas. Rasanya dia sangat rindu dengan mata Asilia yang mulai mengantuk ketika dongeng sampai di tengah. Teringat mata Asilia yang perlahan- lahan menutup hingga lelap. Lucu sekali melihatnya kantuk hingga tertidur pulas.
Sudah seminggu bunda tak melihat ekspresi itu. Berkelebat pula seyum riang Asilia ketika melihat kotak makannya terisi penuh dengan “nasi goreng senyum”, “roti bakar ceria” atau “gulung- gulung lezat”. Semua menu special yang sengaja bunda ciptakan untuk bekal sekolah Asilia. Kemudian Asilia akan pulang sekolah dengan senyum riang. Bercerita tentang teman- temannya, gurunya, hingga hari ini belajar apa di sekolah. Sayang sekali, bunda sudah absen seminggu melewatkan masa- masa indah itu. Saat Asilia pulang, bunda masih berada di kantor redaksi. Menyerahkan setumpuk tugas editing dan mengambil tugas lagi. Bunda pulang dengan banyak PR dari redaksi, tanpa menghiraukan Asilia yang sudah menunggu untuk bercerita. Langsung saja bunda tancap gas di depan komputer, membiarkan asilia bermain dengan Mbok Inah yang sudah sepuh.
Air mata bunda mulai meleleh. Betapa berharganya waktu bersama Asilia. Seminggu kurang intensif menjaga Asilia saja, sudah ada kejadian putrinya membawa pulang boneka milik temannya. Kata Asilia dia hanya pinjam, tapi tidak ijin. Bunda menyadari satu hal yang sangat berharga. Bahwasannya akhlak anaknya tidak akan bisa ditukar dengan apapun. Dan dialah sebagai seorang ibu yang mampu menanamkan akhlak mulia pada Asilia.
Segara bunda menyalakan komputer kembali. Menuliskan surat pengunduran diri. Sudah benar malam ini keputusannya melepaskan pekerjaan. Sebab dia tidak pernah bisa melepaskan anaknya.

Asilia, bunda janji. Besok bunda akan membuatkan bekal yang enak, bunda akan mendengarkan ceritamu sepulang sekolah, dan bunda akan membacakan dongeng untuk Asilia.



*cerita ini saya tulis akhir Maret 2014 dan diikutkan lomba menulis sebuah penerbit indie--yang saya lupa namanya, hehehe. Cerita ini kemudian lolos dan dibukukan dalam sebuah antologi bertema wanita. Beberapa waktu setelahnya, saya mendapat pesan singkat dari seorang perempuan. Dia seorang wanita karir yang membaca cerita saya, kemudian ingin meluangkan waktunya lebih banyak untuk anaknya. Saat itu saya merasa bahagia, karena tulisan saya ternyata bisa membuat orang lain bergerak ke arah lebih baik. Sejak saat itu, saya percaya bahwa sebuah tulisan yang baik adalah tulisan yang bisa memberikan sumbangan pemikiran atau mempertanyakan banyak hal atau membuat seseorang bergerak ke arah lebih baik. Saya merasa perlu memposting tulisan ini karena sekranga sedang berada pada "down mood". #alesan

*sumber gambar: google

Minggu, 08 Oktober 2017

Makanan Favorit dan Rindu di Baliknya



Saya suka makan. Dan saya susah move on. Jika kedua dipadukan, maka akan menghasilkan orang macam saya; orang yang susah move on dari suatu makanan beserta pembuatnya kalau sudah menemukan kelezatan. Hahaha.
Waktu SMP, saya pernah disuguhi roti tawar yang disiram kuah santan setengah kental oleh teman saat berkunjung ke rumahnya. Neneknya yang memasak roti itu. Sedap, lezat, manis, semua menyatu dalam lidah. Saya kemudian menobatkannya sebagai roti tawar siram santan terbaik dalam hidup. Sekali pun di rumah beberapa kali coba membuatnya, tapi rasanya tak bisa selezat buatan nenek teman saya. Sampai sekarang, saya kadang merasa rindu memakannya lagi. Sayangnya nenek teman saya sudah tiada.
Saat kuliah, lidah saya terpikat dengan pecel buatan Bu Galon (dipanggil Bu Galon karena selain jualan nasi, beliau juga jualan galon). Saya menobatkannya sebagai pecel terlezat. Tak bisa digantikan dengan pecel lain. Saat saya rindu makan pecel, saya rela menyempatkan waktu ke luar kota, ke tempat Bu Galon. Ada lagi, makanan lezat saat kuliah yang selalu membuat saya rindu, karena belum menemukan tandingannya, yaitu Sambal Lamongan Gang Rambutan, Rames dan Garang Asem Pak Kembar, Tempe Goreng Stick di King Puyuh, Sambal Ijo di Patemon, Nasi Padang mas-mas ramah, Batagor dekat FIK, Gongso Gang Cempaka Sari, Kremes tempe dan ayam Cempaka Sari, Bubur Kacang Ijo bu sexy, dan masih banyak lagi. Hahaha. #ketahuansukamakanbanget.
Setelah empat tahun merantau, saya kembali ke Kudus. Dan kuliner Kudus berkembang pesat dibanding saat saya masih SMA. Bersama teman kerja dan murid les, saya mulai menjelajahi kuliner-kuliner baru di Kudus. Pun sama, saya banyak menemukan makanan lezat yang tak bisa tergantikan dengan buatan orang lain. Saya suka Ramen di IKKI Resto, ramennya sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia, tidak Jepang banget. Itu yang membuat saya menyukainya. Siomay Mandiri yang porsinya besar dan lezat, Geprek Keju, Chicken Steak di Kokako, Nasi Goreng Seafood di Chinese Food, Nasi Rawut di Depan Perumahan Megawon, Nasi Bakar di Angkringan Cekli, Kwetiau Goreng di WBB, Arem-arem di Hikmah, Galentin di Waroeng Kafe 27, dan lain-lain. Hahaha.
Lama-lama, saya sadar bahwa makanan bukan hanya perkara lidah. Tapi juga perkara rasa dan rindu yang ada di baliknya. Ini merepotkan bagi saya yang susah move on sekaligus sering rindu dengan makanan-makanan lezat yang pernah mampir di lidah. Kan repot, kalau saya kepalang rindu dan ingin mencicipinya kembali, padahal temptanya sangat jauh. Hihihi.

*ditulis untuk 1minggu1cerita

sumber gambar: google.


Minggu, 01 Oktober 2017

#Renungan24: Perihal Memandang Hidup dan Menyikapi Perbedaan

Semakin banyak mengenal orang lain, maka semakin banyak pula pandangan hidup yang saya dapatkan dari mereka. Perbedaan pandangan hidup yang berbeda terlalu jauh, kadang membuat saya mengernyitkan dahi dan merenunginya. Tak sampai ‘memusuhi’ pandangan hidupnya yang menurut saya kurang tepat. Tapi, kadang saya mendapatkan perlakuan yang kurang mengenakkan dari orang lain ketika dia memandang prinsip hidup saya keliru.
Teman saya pernah bilang, kalau belanja di departemen store yang mahal sekali itu, sebaiknya mengajak pacar. Biar baju yang harga satuannya hampir setengah juta bisa terbeli tanpa menguras tabungan sendiri. Ingat, statusnya harus pacar karena pacar akan memberikanmu apa pun. Kalau sudah jadi suami, itu takkan terjadi. Saya hanya tersenyum mendengarnya. Sejujurnya, ini berlawanan dengan diri saya. Sedari dulu, saya berpandangan bahwa pacar bukanlah orang yang harus kita korek dompetnya, atau orang yang harus kita manfaatkan. Karena perkara hati tidak bisa disandingkan dengan benda-benda. Saya lebih senang berada di sebuah taman dengan pacar untuk membicarakan buku, tumbuhan, bumi dan kehidupan daripada menggandenganya ke mall. Dan tentang belanja atau benda-benda yang perlu dibeli, saya lebih nyaman jika membelinya dengan hasil keringat sendiri.
Saat bersama dengan orang-orang yang tak berpikiran sama, kadang saya menerima perlakuan kurang enak. Mulai dari mereka menggap saya polos, terlalu naif, lugu atau tidak mengerti dengan yang namanya memperlakukan pacar. Padahal saya tidak pernah menganggap mereka ‘cetek’.



Minggu, 17 September 2017

Pertanyaan-Pertanyaan (Hidup) #1


Ada beberapa hal (tentang hidup) yang menyita pikiran saya. Sesuatu yang membuat saya memikirkannya begitu dalam, untuk menemukan jawabannya. Kadang, saya juga butuh seseorang untuk bertukar pikiran. Dan seringnya, saya tak kunjung menemukan jawabannya. Inilah yang saya sebut sebagai pertanyaan-pertanyaan hidup.
Sebenarnya, kita ini sedang menjalani takdir atau hasil dari usaha?
Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan teman lama, seorang laki-laki teman saat SD. Di sebuah kios pasar dia bekerja. Dia menjadi pelayanan untuk toko sepatu olahraga. Seingat saya, dulu sejak saya masuk kuliah, artinya usai lulus SMA dia sudah bekerja di sana. Enam tahun berjalan, dan dia masih tetap di sana.
Kita bertegur sapa sebentar, saling bertanya kabar, kemudian berlalu dengan senyum yang saling terlempar. Agak jauh berjalan, teman yang menemani saya ke pasar, bertanya tentang laki-laki tadi. Saya pun akhirnya bercerita sedikit tentang dia.
Waktu SD, dia selalu ikut kejuaraan sepak bola dan selalu memenangkannya. Dia kebanggaan sekolah karena selalu mengharumkan nama baik sekolah. Setiap hari, dia membawa bola ke sekolah. Berlatih saat istirahat, mematangkan kemahiran kakinya. Sayangnya, hobi dan prestasinya harus terputus setelah itu. Karena ada kebutuhan keluarga yang harus dia penuhi.
Teman saya bilang, “pinter main bola, tapi sayangnya kurang beruntung.”
Kalimat itu membuat saya mempertanyakan beberapa hal; apa nasibnya ditentukan oleh keberuntungan? jika dia berusaha maksimal di masa lalu, tapi sekarang tetap menjalani hidup sebagai penjaga toko sepatu, apa itu juga namanya ketidakberuntungan? lalu, di mana peran usaha dalam hidup ini?
Pikiran saya pun terus lanjut bertanya, jadi sebenarnya yang kita jalani sekarang adalah takdir (atau bisa disebut keberuntungan dan ketidakberuntungan) yang sudah tercatatkan? lalu, kapan usaha berbicara tentang jerih payah yang dilakukan?
Jodoh sudah ditentukan atau diyakini?                              
Kalau jodoh nggak ke mana.
Ungkapan itu seolah jadi jurus pamungkas jika ada seorang yang berada di ujung selatan dunia menikah dengan seorang di ujung utara dunia. Atau seorang yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu kemudian bertemu lagi dan menikah.
Seakan-akan sudah ada yang menggerakkan seseorang menuju orang lain, untuk sebuah pernikahan. Seolah-olah semuanya sudah diatur, si A akan menikah dengan B, lalu si C dengan si D, dan seterusnya. Walau mereka terpisah di tempat yang amat sangat jauh, atau di waktu yang amat sangat berbeda.
Tapi, jaman sekarang, ketika perceraian bukan hal yang tabu lagi (saking banyaknya perceraian yang dibeberkan media), bagaikan kacang rebus yang bisa dijumpai dengan mudah, lantas apakah ungkapan itu masih sahih?
Jika memang jodoh, harusnya tiada perceraian bukan? Apa “mekanisme”—yang dipercayai itu—sengaja mengatur seseorang berjodoh dengan orang yang salah? Kalau ada yang bilang ‘ternyata tidak jodoh’, lalu siapa yang harus disalahkan atas terjadinya pernikahan yang sudah terlanjur itu?
Apa benar jodoh benar-benar sudah ditentukan?
Atau harus diyakini? Tapi, kalau diyakini tanpa didukung semesta, apa bisa?


sumber gambar: google.

*ditulis untuk #1minggu1cerita.
Btw, ini tema minggu lalu. Tapi, karena minggu lalu sibuk yang kemudian berujung sakit kepala,  kuputuskan untuk bolos setor. Tulisan yang baru jadi satu paragraf ini kupending. Haha.

Jumat, 01 September 2017

#Renungan24: Saya dan Kegagalan


Diri sendiri adalah yang paling bertanggung jawab atas hidup masing-masing. Atas semua kegagalan dan keberhasilan.
Dan, saya tidak suka bertanggung jawab atas kegagalan. Hahaha!
Saya rasa, semua orang juga tidak suka bertanggung jawab atas kegagalannya. Ada yang mengatakan ‘siapa juga yang mau gagal’. Ini benar, tetapi seseorang mungkin lupa tentang ‘keberhasilan mana yang mau diraih dengan mudah?’.
Dua kali, saya gagal membuat adonan hottang (hotdog kentang)—sosis dibalut adonan lengket dilumuri dengan kentang beku kemudian digoreng, makanan yang beberapa waktu lalu sempat hits. Pertama, adonan yang saya buat kurang pekat. Adonan yang sudah dilumur ke sosis akhirnya bergelambir dan lepas. Kedua, adonannya tidak menempel, kurang lengket. Saya, gagal. Kegagalan ini makin terasa menyakitkan karena sebelumnya saya memasak cilok, cimol, untuk pertama kalinya dan berhasil. Mengambil jeda beberapa hari tanpa kembali ke dapur, akhirnya saya coba membuatnya lagi. Percobaan terakhir, saya bekali diri dengan informasi pembuatan hottang lebih banyak lagi. Dan, saya berhasil.
Ini terulang lagi, saat saya membuat brownies tanpa mixer dan telur. Tekstur bantet saya dapatkan. Saya pun kapok dan enggan kembali ke dapur untuk memasak brownies. Ada beberapa minggu saya singkirkan menu brownies dari daftar resep yang ingin dicoba. Sekarang, mood saya mengatakan ingin coba buat brownies lagi, lain kali.
Dari sana, saya belajar bahwa kita memang butuh gagal agar tahu caranya berhasil. Kegagalan membuat saya mempertanyakan: ‘apanya yang kurang?’. Saya harus mau belajar lagi agar lain kali berhasil. Saya harus bertanggung jawab atas kegagalan (yang disebabkan) oleh diri sendiri. Tapi, perasaan “bangkit lagi” semacam itu juga tidak bisa didapat dengan mudah. Apalagi jika kegagalan yang diperoleh adalah sebuah kegagalan besar, tidak hanya sebatas gagal di dapur. Belakangan, saya mulai menyadari ini. Usai mengalami kegagalan yang menyakitkan.
Beberapa bulan lalu, saya gagal dalam sebuah lomba novel. Rasanya saya sudah berjuang pol-polan untuk naskah itu. Ujung-ujungnya masih gagal juga. Didera kesedihan mendalam dan menyakitkan, saya enggan membuka naskah novel itu lagi. Mungkin kalau saya punya versi cetaknya, sudah saya buat hancur berkeping-keping. Saking kecewanya, butuh pelampiasan. Waktu itu, kata mutiara kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda seolah hanya omong kosong bagi saya. Persetan! Bodo amat! Nasihat dari teman saya (seketika saat saya gagal)—yang bilang bahwa naskah itu harus tetap dilanjut, paling tidak sebagai pertanggung jawaban moral terhadap tokoh-tokoh yang sudah saya buat—hanya saya dengarkan saja. Tanpa saya sangkutkan di hati dan pikiran.
Waktu demi waktu saya lewati tanpa membuka folder naskah itu sama sekali. Bulan demi bulan berlalu, tiba-tiba minggu kemarin saya tergerak untuk membukanya lagi. Tak hanya sekedar membaca, saya mengeditnya kembali! Dan, saya kukuh untuk melanjutkan naskah itu. Saya ingin melanjutkan naskah gagal itu. Well, nasihat dari seorang teman berdegung dan membuat saya berpikir bahwa kisah tokoh-tokoh saya harus selesai. Perasaan sayang terhadap tokoh-tokoh yang saya ciptakan muncul kembali dan membuat lupa akan kegagalan.
Jeda. Itulah yang saya pelajari dari kegagalan kemarin. Saya butuh jeda untuk kembali bangkit dan melupakan kegagalan. Sempat ada rasa kesal pada diri sendiri, karena tak kunjung bangkit dari kegagalan kemarin. Tak kunjung berani membuka folder naskah gagal itu. Justru masih merasa ‘sakit’ saat melihat folder itu. Tapi sekarang saya tahu bahwa semua hal butuh jeda. Butuh berhenti untuk lanjut berjalan lagi (apalagi usai terjatuh).
Diri sendiri memang harus bertanggung jawab atas semua kegagalan. Tapi jangan salahkan diri sendiri jika memang belum siap. Barangkali, diri ini hanya butuh jeda. Jeda untuk berani bangkit, mengatasi kegagalan. Hanya diri sendiri yang tahu, berapa lama jeda yang dibutuhkan. Mungkin, kita hanya butuh secangkir cokelat panas selama beberapa waktu sebelum melanjutkan perjalanan.

*ditulis untuk #1minggu1cerita


Minggu, 20 Agustus 2017

#Renungan24: Tentang Berhenti

sumber gambar: google


Beberapa waktu lalu, aku membaca tulisan seorang teman. Tentang dia yang belum “beranjak”, sementara orang-orang di sekitarnya sudah berjalan ke ini-itu (baca: menikah, punya anak, peningkatan karir, dan lain-lain). Darinya, aku tahu bahwa selama ini yang kulakukan adalah berhenti.
Setelah lulus, aku bekerja freelance di sebuah bimbingan belajar. Sambil berharap ada perusahaan atau sekolah yang menghubungiku. Tahun pertama, aku masih memasukkan lamaran kerja ke mana-mana. Tapi tak ada yang nyangkut. Akhirnya, aku berhenti dan menerima diriku sebagai pekerja freelance.
Di awal kelulusan, aku juga punya sebuah mimpi untuk melanjutkan study. Berusaha mengejarnya, tetapi kadang aku mengesampingkannya. Karena ada prioritas hidup lain yang perlu kuurus. Hingga aku tiba pada sebuah simpulan bahwa suatu saat nanti aku akan mengejar impian itu lagi. Sekarang aku akan berhenti sejenak karena ada hal lain yang perlu kupikirkan.
Keputusan yang kubuat untuk berhenti ternyata menyakiti diriku sendiri. Saat melihat teman-teman yang menjelajah dunia luar, betapa aku merasa seperti katak yang memutuskan untuk tetap di dalam tempurung. Enggan keluar, memutuskan berhenti di dalam sana karena merasa nyaman. Padahal, ada banyak hal yang terlewatkan. Ada banyak hal yang kuimpikan dan seharusnya bisa kuraih asal aku tidak berhenti. Ada banyak hal yang mungkin saja bisa kuraih jika aku tetap bergerak.
Dua tahun lebih aku berhenti. Bertahan sebagai pekerja freelance, menikmati ketidakjelasan yang sama sepanjang tahun, menikmati kegelisahan yang sama setiap hari. Dua tahun lebih aku tidak berani mengambil keputusan. Sudah tahu ingin bergerak ke arah yang lebih baik, tapi yang kulakukan justru berhenti. Ternyata ini menyakitkan. Ya, berhenti adalah salah satu hal yang paling menyakitkan.
Dari rasa sakit itu, aku memutuskan untuk beranjak. Mungkin ada yang bilang sudah terlalu terlambat. Sesuatu yang sudah dijalani selama dua tahun lebih biasanya akan menjeratmu seperti sumur yang terlanjur diceburi. Kita akan susah beranjak. Tapi aku sudah tahu bagaimana sakitnya berhenti selama itu. Bagiku, lebih baik beranjak dengan kesusahan setengah mati daripada tetap berhenti. Maka, di akhir tahun ini, aku akan mengambil keputusan yang sudah kutunda selama dua tahun lebih. Karena aku sudah tidak punya waktu lagi untuk berhenti. Aku tidak punya pilihan lain selain terus bergerak dan beranjak.

*ditulis untuk #1minggu1cerita