Di
twitter banyak bertebaran tagar #HariAyahNasional. Saya jadi teringat Bapak dan
apa-apa yang pernah kita lalui bersama. Pun teringat dengan semua nasihat dan
apa pun yang Bapak ajarkan tentang hidup, yang ternyata membentuk pola pikir
saya sekarang tentang hidup.
Waktu
kecil, sebelum tidur, terutama saat tak bisa tidur, Bapak mendongeng untukku.
Bukan tentang seorang putri yang membuat istana dari es. Bapak mendongeng tanpa
buku. Cerita keluar begitu saja dari mulutnya. Tentang kancil yang cerdik,
ande-ande lumut, jaka tarub, asal-usul daerah, sunan-sunan dan tentang
nabi-nabi. Suasana kamar temaram, Bapak mulai bercerita, hingga suaranya lirih
karena mulai mengantuk. Tapi, Bapak akan terus bercerita hingga saya tertidur
nyenyak.
Saat
ada bulusan (tradisi kupatan di Kudus), atau acara tradisi lainnya, Bapak
selalu menyempatkan untuk mengajakku. Dibonceng sepeda onthel, kakiku diikat,
kita pergi ke sana. Bapak milih waktu yang bukan puncak, biasanya di awal, agar
tak terlalu ramai (eh, mungkin ini salah satu sebab saya nggak terlalu suka
keramaian. hehe). Pulangnya, kita beli martabak telur. Di rumah, martabak dimakan
bersama. Saya, mas dan mbak masing-masing dapat dua potong biasanya. Saya
jarang sekali membeli mainan seperti anak-anak lain. Pernah suatu kali Bapak
membelikan saya mainan dari keramik yang sedang hits pada masanya. Di depan
rumah, saya terjatuh saat turun dan keramik-keramik itu pecah. Saya sedih
sekali, sementara Bapak tak punya uang untuk beli lagi. Akhirnya, malam itu
juga, Bapak mengelem keramik-keramik itu. Hari berikutnya, saya bermain ke
rumah seorang teman. Dia punya keramik-keramik mainan itu lebih banyak dari
saya dan dipajang indah di tempatnya. Saat pulang, Bapak tahu saya juga ingin
keramik milik sendiri dipajang. Jadi bapak membuatkan sendiri tempat
keramiknya. Memang tak seindah dengan yang dijual, tapi buat saya itu bagus
sekali.
Saat
terima rapot, nilai yang dilihat pertama oleh Bapak adalah nilai pelajaran
Agama. Nilai lainnya tak pernah dilihat. Bapak akan marah jika nilai matematika
saya tinggi sekali, tetapi nilai agama rendah. Sampai dewasa, Bapak tak pernah
menuntut apa-apa. Tak pernah menuntut saya untuk PNS, jadi orang kaya, atau
bahkan menikahi orang kaya (Hahaha!). Hanya meminta saya jangan lupa shalat,
ngaji dan puasa. Jika saya merantau ke luar kota, saya pasti dikasih bekal
tasbih dan al quran. Dan pesan, shalat dhuhanya jangan sampai lupa, baca al
waqiah setelah shalat ashar/subuh dan tasbih sebelum tidur.
Cara
Bapak memandang hidup dan menjalani hidup juga saya jadikan pelajaran. Saat
saya masih kelas satu SD, saya menderita suatu penyakit yang susah disembuhkan.
Bapak memberobatkan saya ke mana-mana. Bahkan sampai ke luar kota. Bapak tak
pernah mengeluh, tak pernah mengganggap saya sebagai anak yang hanya menjadi
beban. Tapi, Bapak sabar menjalani semuanya. Sembari terus berusaha
menyembuhkan saya, Bapak juga memasrahkan semuanya pada Tuhan. Mungkin cobaan
hidup lewat saya selama beberapa waktu lalu itu yang menjadikan Bapak semakin
bijak dalam memandang hidup.
Di
sela-sela nonton TV bersama, Bapak selalu menasihati saya. Tentang apa pun.
Kadang, tiba-tiba nyeletuk “kalau nyari suami nomer satu agamanya.” Padahal
kita tidak sedang membicarakan pasangan hidup atau nonton drama. Kita sedang
nonton bola bersama. Selepas lulus kuliah, Bapak bilang “kalau nyari kerja,
yang penting kamu seneng. nggak usah mikirin setor gaji buat orang tua. dan
yang paling penting tempat kerjanya longgar buat ibadah.” Kadang saat saya usai
mengeluh, nasihat itu datang. Misal saat saya mengeluhkan seorang teman yang
suka mengusik dan menggunjingkan saya. Bapak bilang “kita itu harus berbuat
baik sama semua orang. Jangankan sama orang, sama semut pun kita disuruh untuk
berbuat baik.” Dan masih banyak lagi nasihat lainnya.
Mungkin
apa-apa yang Bapak lakukan pada saya dari dulu sampai sekaranglah yang
membentuk pola pikir saya tentang hidup. Saya tak terlalu mementingkan materi,
saya memandang seseorang bukan dari derajatnya atau gelarnya, tapi dari
kebaikannya. Saya menjalani hidup dengan prinsip dasar bahwa hidup itu untuk
berbuat kebaikan. Dan, kalau bisa saling bermanfaat untuk sesama.
Saya
baru sadar dengan prinsip yang saya pegang sekarang, saya memang belum bisa
membuatkan rumah yang lebih bagus untuk orang tua saya, atau membelikan mereka
mobil, atau memberangkatkan mereka umroh. Entah Bapak menyesal atau tidak
dengan semua ajarannya, hingga anaknya ini belum bisa melakukan apa-apa untuk
beliau. Hihihi. Yang jelas, atas apa yang Bapak ajarkan, saya selalu
menyempatkan untuk beli koran yang dijual seorang anak di jalan hanya karena
tak tega. Semoga Bapak bangga dengan yang kulakukan! Hahaha~~~
Duh,
jadi kangen kan sama rumah. Kangen sama suara ceramah radio yang tiap pagi
Bapak dengarkan. Kangen sama celetukan nasihat-nasihat Bapak di sela nonton TV.
Kangen sama obrolan-obrolan bermutu dengan Bapak (Eits jangan salah, Bapak
pernah membahas ketidaksetujuannya dengan lirik lagu Indonesia Raya yang versi
panjang. Hehehe).
Setiap
apa yang Bapak punya dan lakukan untukku, rasanya semuanya puitik sekali.
Semoga Bapak selalu sehat. Dan, suatu saat nanti bisa ngobrol sama calonnya
anakmu ini. Penasaran deh, calonku seperti apa dan bagaimana kalau ngobrol sama
Bapak. Hihihi.
sumber gambar: google
Jogja,
12 Nov 18’.
Putri


0 komentar:
Posting Komentar