Saya
belum menjadi seorang ibu. Jadi, tidak tahu nantinya akan seperti apa. Sekarang,
yang ada di pikiran ketika disodori pertanyaan seperti tema challenge, hanya tiga hal ini. Entah suatu
saat nanti akan berubah atau tidak. Manusia selalu berkembang. Begitu juga diri
saya. Siapa tahu, saya menemukan “harta karun” dalam diri sendiri lagi.
1. Lembut
Hati (Baik Hati)
Beberapa
waktu lalu, saya dan teman mengeluhkan tentang mengapa saya dan dia selalu jadi
pihak yang tersakiti. Mulai dari dibohongi para mantan sampai gebetan direbut
teman. Asal saja saya nyeletuk bahwa mungkin memang hukum alam menetapkan kita
sebagai pihak tersakiti. Lalu, kata seorang teman lain yang ikut dalam
percakapan itu, orang baik akan selalu tersakiti. Saat itu, aku berpikir bahwa
mungkin perkataan itu benar. Mungkin saja aku dan dia baik, sehingga selalu
jadi “korban”. Saya bertanya pada diri sendiri. Apakah saya lebih rela disakiti
atau ingin berubah menjadi pihak yang sebaliknya?
Hati
kecil saya menjawab rela disakiti. Dan, saya ingin anak saya belajar tentang
kebaikan hati itu. Saya ingin punya anak berhati baik, agar tidak menambah
pihak orang yang menyakiti. Kemudian, saya juga berharap dia memiliki hati yang
lembut. Hati yang lembut lebih mudah disentuh. Mungkin ini juga salah satu
cerminan diri saya yang tidak suka kekerasan.
2. Perenung
Setiap
apa yang terjadi pada diri ini, jika tidak direnungkan hanya akan sia-sia.
Tidak berarti apa-apa. Tidak punya makna apa-apa. Saya ingin anak saya belajar
merenungi setiap apa yang terjadi kemudian mengambil sejumput pelajaran
darinya. Itu akan menjadikannya sebagai seorang pembelajar.
3.
Open-minded
Saya
sudah pernah bercerita tentang open-minded
di postingan sebelumnya. Intinya, saya tidak ingin anak-anak terkungkung dalam
sekat yang dibuat oleh pikiran sendiri.


0 komentar:
Posting Komentar