Dan, jujur saja, hidup sendirian membuatku
semakin sinting—bicara pada diri sendiri , membaca buku keras-keras di dalam
kamar mandi, dan memutar film tanpa menontonnya hanya agar ruangan nggak terasa
sunyi. (Ziggy, Jakarta Sebelum Pagi).
Saya sedang kesepian dan sepertinya akan berteman dengan
kesepian untuk beberapa waktu ke depan. Sama seperti apa yang ditulis Ziggy,
saya mulai merasa sinting. Bicara pada diri sendiri, ingin tertawa sekeras
mungkin saat sendirian, dan memutar film tanpa menontonnya. Saya memang tak
membaca buku keras-keras di kamar mandi seperti Ziggy, karena saya tinggal di
mess bersama orang lain. Jika tak ada orang, mungkin saya juga akan
melakukannya! Hahaha!
Hari ini, tak seperti biasanya. Menjelang jam delapan,
biasanya saya menunggu Mbak Rani pulang. Mbak Rani itu teman sekamar saya di
mess. Kita baru semingguan kenal, tapi sudah cocok. Saat Mbak Rani pulang, kita
selalu ngobrol panjang-lebar. Kadang saya yang lebih banyak bercerita sambil
menemani Mbak Rani makan. Lalu, kita ngobrol apa pun, sampai larut malam. Saat
Mbak Rani pulang ke Magelang seperti sekarang, saya merasa hampa. Tak punya teman
bicara, dunia saya seolah berhenti berputar.
Saya berpikir bahwa mungkin saya belum bisa beradaptasi
dengan “kesepian”. Biasanya saya di rumah, nonton TV dengan bapak, ngobrol
dengan emak atau main dengan Syifa—anak empat tahun yang lagi lucu-lucunya. Saya
terbiasa dengan kehangatan rumah, dengan kebersamaan dan komunikasi. Saya
terbiasa dengan suara-suara, canda-tawa dan interaksi. Lalu, sekarang saya
dihadapkan dengan sepi. Mungkin, saya hanya kaget.
Tapi, ini bukan kali pertama saya merantau. Waktu kuliah,
saya merantau ke Semarang. Satu tahun tinggal di asrama khusus untuk penerima
beasiswa, tiga tahun tinggal di kost. Saya merasa baik-baik saja, sama sekali
tak kesepian. Suasana di Semarang dulu, jauh berbeda dengan sekarang. Di asrama
khusus beasiswa, satu kamar ditempati empat orang. Kita saling menemani,
membuat jadwal pulang kampung secara bergantian. Hubungan dengan tetangga kamar
dalam satu deret pun sangat hangat. Rasa sepi tak pernah muncul di pikiran saya
saat itu.
Saat pindah ke kost, saya juga merasakan hal sama. Kost saya
adalah sebuah rumah dengan beberapa kamar di dalamnya. Ada sebuah ruang TV yang
menjadi “penyatu” kita. Makan bersama, nonton TV, atau sekadar ngemil dan
ngobrol. Dua belas orang yang tinggal di rumah itu saling menemani satu sama
lain. Saya pun tak pernah terpikir dengan kata kesepian.
Sekarang rasanya berbeda. Saya telah pindah ke kota yang lebih besar, di mana rasa individualisme sangat kental. Saya merasa kesepian di sini. Lalu, saya mulai memikirkan bahwa mungkin saya memang harus membiasakan diri dengan rasa sepi. Toh, inilah kehidupan yang sesungguhnya. Saya tak bisa menuntut orang-orang mengelilingi diri saya dengan kehangatan. Saya tak bisa menuntut keluarga akan selalu menemani saya ke mana pun pergi. Karena terkadang, untuk urusan sebuah impian dan kepentingan lain, saya perlu pergi jauh dari keluarga.
Saya belajar banyak tentang kesepian di sini. Belajar menerima rasa sepi yang memang akan selalu ada dalam hidup. Tapi, kalau saya disuruh memilih, saya lebih memilih untuk berada di tempat yang "hangat". Di tempat yang orang-orangnya berkumpul hanya untuk saling bercanda. Orang-orang yang saling menemani satu sama lain. Saya juga belajar untuk menciptakan kehangatan dalam keluarga saya nantinya. Tak akan membiarkan keluarga saya merasa kesepian. Karena saya sudah pernah merasakannya. Dan, kesepian rasanya sangat menyesakkan dada. :')
Putri
Jogja, 27 Juli 2018



0 komentar:
Posting Komentar