Saya
punya seorang teman yang berbeda. Seorang perempuan yang juga satu kampung
dengan saya. Dulu, kita satu SD dan pernah sekelas. Kita satu kelas hanya dua tahun,
karena dia menjalani masa SD dua kali lipat dari kita semua. Dia duduk di
bangku SD selama dua belas tahun. Alasannya, karena dia berbeda. Para guru
sudah menyarankan kepada orang tuanya sejak awal, untuk memasukkan dia ke SLB
(Sekolah Luar Biasa) saja. Tapi, keluarganya tidak mampu. Bapak dan ibunya
memilih menerima keputusan pihak sekolah. Paling tidak, anaknya bisa
baca-tulis-hitung dan mendapatkan kehidupan seperti anak seusianya—pagi hari
sekolah, bermain, belajar dan berteman.
Perbedaan
utama antara kita dengan dia ada pada segi mental. Pola pikirnya masih seperti
anak kecil. Dia juga susah menalar pelajaran yang diberikan. Walau dia sudah
tinggal kelas dan mengulang pelajaran, tapi dia tetap tidak bisa. Nilainya
tetap jelek. Dari segi fisik, dia lengkap seperti kita. Hanya saja, waktu SD
dia menderita sebuah penyakit kulit yang lumayan parah. Itu membuat teman-teman
sekelas enggan dekat dengannya. Bahkan siswa laki-laki selalu menjahilinya
hingga dia menangis. Padahal, dia orang yang baik dan rajin. Guru-guru sering
memanfaatkan dia sebagai “tenaga bersih-bersih” jika dibutuhkan. Misal saja
saat akan ada rapat, dia diminta membantu menyiapkan ruangan. Kalau piket, dia
juga sering dimanfaatkan oleh teman satu grup piket. Karena dia memang telaten
soal bersih-bersih dan merapikan sesuatu. Hasilnya pun sudah jelas bagus.
Sudah
lama sekali—sejak saya dan teman-teman meninggalkannya di kelas 4 SD—tidak
mendengar kabarnya. Tapi, kemarin ibu saya bercerita tentang dia dan membuat
saya berpikir jauh.
Sekarang,
dia sudah yatim-piatu. Dua kakak perempuannya sudah menikah. Dia tinggal di
rumah dan mengurus adik laki-lakinya. Adik laki-lakinya ini juga berbeda. Tidak
hanya tertinggal secara perkembangan mental, tapi juga secara fisik. Usia adik
laki-lakinya hampir sama dengan saya, tapi dia tidak bisa berbicara secara
jelas dan tidak bisa menulis. Adik laki-lakinya juga menuntaskan sekolah dasar
selama dua belas tahun. Dulu saat sekolah, teman perempuan saya yang kurus itu
memboncengkan adik laki-lakinya yang gemuk dan selalu tersenyum lebar. Sekarang,
dia harus merawatnya karena kedua kakak perempuannya seolah lepas tangan. Kedua
kakak perempuannya cantik-cantik dan menikah dengan laki-laki mapan. Salah
satunya masih sedesa, tapi tetap jarang mengunjunginya.
Sepeninggal
ibunya beberapa bulan lalu, teman saya itu mulai berjualan makanan di sebuah
sekolah dasar. Sore hari, dia berjualan roti, keliling kampung. Suaranya
lantang mempromosikan roti sepanjang jalan. Di dekat sekolah tempatnya
berjualan, ada sebuah puskesmas kecil yang kurang memadai. Hanya ada seorang
dokter yang praktik di hari-hari tertentu saja. Dokter ini memberikan nomor
handphonenya pada teman saya itu. Supaya dia dihubungi saat ada pasien yang
menunggunya. Beberapa hari kemudian, dokter itu bercerita pada beberapa
pasiennya bahwa teman saya selalu menghubunginya. Dia menelepon dokter itu
kemudian memutus telepon saat sudah diangkat. Berulang-ulang begitu. Dokter itu
berkata, “yasudah, orang ‘tidak lengkap’ begitu, dimaklumi saja.” Perkataan ini
yang membuat saya berpikir jauh.
Saya
bertanya pada diri sendiri, sebenarnya di
mana tempat orang-orang berbeda ini di mata kita? Apa sebatas pemakluman atas
kekurangan dan perbedaan? Apa sebatas rasa iba? Atau kita bisa memberikannya
sebuah ruang untuk membuatnya hidup seperti kita dengan caranya sendiri?
Dulu,
tidak ada yang mau satu kelompok dengannya. Guru biasanya memasukkan dia ke
kelompok saya. Karena saya mau menerima dia sebagai anggota kelompok. Tapi,
saya baru sadar sekarang, jika dulu saya “meremehkan” dia. Saya tidak
memberinya porsi mengerjakan tugas utama. Beranggapan bahwa akan lebih baik
jika kita saja yang bekerja, dan dia hanya membantu sedikit. Baru terpikir
sekarang, bahwa sikap saya dulu adalah suatu bentuk tidak memberinya ruang
untuk hidup sama seperti kita.
Lalu,
apakah kita dan dunia bersedia memberinya sebuah ruang? Atau tetap bersikap
sebatas iba.
*ditulis untuk #1minggu1cerita



