Sabtu, 25 Maret 2017

#Renungan24: Ruang Untuk Mereka yang Berbeda



Saya punya seorang teman yang berbeda. Seorang perempuan yang juga satu kampung dengan saya. Dulu, kita satu SD dan pernah sekelas. Kita satu kelas hanya dua tahun, karena dia menjalani masa SD dua kali lipat dari kita semua. Dia duduk di bangku SD selama dua belas tahun. Alasannya, karena dia berbeda. Para guru sudah menyarankan kepada orang tuanya sejak awal, untuk memasukkan dia ke SLB (Sekolah Luar Biasa) saja. Tapi, keluarganya tidak mampu. Bapak dan ibunya memilih menerima keputusan pihak sekolah. Paling tidak, anaknya bisa baca-tulis-hitung dan mendapatkan kehidupan seperti anak seusianya—pagi hari sekolah, bermain, belajar dan berteman.

Perbedaan utama antara kita dengan dia ada pada segi mental. Pola pikirnya masih seperti anak kecil. Dia juga susah menalar pelajaran yang diberikan. Walau dia sudah tinggal kelas dan mengulang pelajaran, tapi dia tetap tidak bisa. Nilainya tetap jelek. Dari segi fisik, dia lengkap seperti kita. Hanya saja, waktu SD dia menderita sebuah penyakit kulit yang lumayan parah. Itu membuat teman-teman sekelas enggan dekat dengannya. Bahkan siswa laki-laki selalu menjahilinya hingga dia menangis. Padahal, dia orang yang baik dan rajin. Guru-guru sering memanfaatkan dia sebagai “tenaga bersih-bersih” jika dibutuhkan. Misal saja saat akan ada rapat, dia diminta membantu menyiapkan ruangan. Kalau piket, dia juga sering dimanfaatkan oleh teman satu grup piket. Karena dia memang telaten soal bersih-bersih dan merapikan sesuatu. Hasilnya pun sudah jelas bagus.

Sudah lama sekali—sejak saya dan teman-teman meninggalkannya di kelas 4 SD—tidak mendengar kabarnya. Tapi, kemarin ibu saya bercerita tentang dia dan membuat saya berpikir jauh.

Sekarang, dia sudah yatim-piatu. Dua kakak perempuannya sudah menikah. Dia tinggal di rumah dan mengurus adik laki-lakinya. Adik laki-lakinya ini juga berbeda. Tidak hanya tertinggal secara perkembangan mental, tapi juga secara fisik. Usia adik laki-lakinya hampir sama dengan saya, tapi dia tidak bisa berbicara secara jelas dan tidak bisa menulis. Adik laki-lakinya juga menuntaskan sekolah dasar selama dua belas tahun. Dulu saat sekolah, teman perempuan saya yang kurus itu memboncengkan adik laki-lakinya yang gemuk dan selalu tersenyum lebar. Sekarang, dia harus merawatnya karena kedua kakak perempuannya seolah lepas tangan. Kedua kakak perempuannya cantik-cantik dan menikah dengan laki-laki mapan. Salah satunya masih sedesa, tapi tetap jarang mengunjunginya.

Sepeninggal ibunya beberapa bulan lalu, teman saya itu mulai berjualan makanan di sebuah sekolah dasar. Sore hari, dia berjualan roti, keliling kampung. Suaranya lantang mempromosikan roti sepanjang jalan. Di dekat sekolah tempatnya berjualan, ada sebuah puskesmas kecil yang kurang memadai. Hanya ada seorang dokter yang praktik di hari-hari tertentu saja. Dokter ini memberikan nomor handphonenya pada teman saya itu. Supaya dia dihubungi saat ada pasien yang menunggunya. Beberapa hari kemudian, dokter itu bercerita pada beberapa pasiennya bahwa teman saya selalu menghubunginya. Dia menelepon dokter itu kemudian memutus telepon saat sudah diangkat. Berulang-ulang begitu. Dokter itu berkata, “yasudah, orang ‘tidak lengkap’ begitu, dimaklumi saja.” Perkataan ini yang membuat saya berpikir jauh.

Saya bertanya pada diri sendiri, sebenarnya di mana tempat orang-orang berbeda ini di mata kita? Apa sebatas pemakluman atas kekurangan dan perbedaan? Apa sebatas rasa iba? Atau kita bisa memberikannya sebuah ruang untuk membuatnya hidup seperti kita dengan caranya sendiri?

Dulu, tidak ada yang mau satu kelompok dengannya. Guru biasanya memasukkan dia ke kelompok saya. Karena saya mau menerima dia sebagai anggota kelompok. Tapi, saya baru sadar sekarang, jika dulu saya “meremehkan” dia. Saya tidak memberinya porsi mengerjakan tugas utama. Beranggapan bahwa akan lebih baik jika kita saja yang bekerja, dan dia hanya membantu sedikit. Baru terpikir sekarang, bahwa sikap saya dulu adalah suatu bentuk tidak memberinya ruang untuk hidup sama seperti kita.

Lalu, apakah kita dan dunia bersedia memberinya sebuah ruang? Atau tetap bersikap sebatas iba.

*ditulis untuk #1minggu1cerita



Jumat, 17 Maret 2017

#Renungan24: Mencoba untuk Tahu


Tiga minggu yang lalu, saya mencoba untuk buka online shop. Berjualan baju, mengambil dari beberapa toko di luar kota. Selain untuk menambah kesibukan, juga untuk membantu keuangan keluarga. Saya merasa harus melakukan sesuatu yang sebenarnya bukan saya. Tapi, tidak ada salahnya mencoba.
Seminggu berjalan, saya merasa tidak suka dengan ini. Pertama, sistemnya saya menjual barang milik orang lain. Saya tidak tahu pasti semua baju itu bahannya seperti apa, kualitasnya seperti apa. Ketika ada konsumen yang bertanya, saya tidak bisa menjawab dengan pasti dan mantap. Ketika ada konsumen yang membeli, saya merasa khawatir. Khawatir kalau nanti barangnya beda jauh dengan foto yang saya pasang. Kalau barangnya tidak sesuai harapan, saya akan membuat konsumen kecewa. Dan, saya merasa tidak suka dengan perasaan seperti itu.
Dari apa yang saya alami itu, justru saya menemukan diri saya yang lain. Diri yang mungkin saja dulu pernah saya sadari, tapi belum diyakini. Sekarang, saya tahu kalau lebih cocok berkarya sendiri daripada menjual karya orang lain. Saya lebih senang membuat sesuatu sendiri. Jika ada yang suka, sila dibeli. Kalau tidak, saya sudah merasa puas dengan apa yang saya ciptakan sendiri itu. Jadi, saya semakin mantap dengan jati diri sebagai seorang “pembuat karya”. Dulu, saya juga sedikit menyadari ini. Tapi, dulu belum ada pengalaman dan bukti yang membuat saya meyakininya. Lewat mencoba hal baru yang saya kurang suka dan cocok ini—membuka online shop—saya bisa meyakinkan diri sendiri. Saya jadi sadar, ternyata mencoba sesuatu yang salah bukanlah sebuah kesalahan. Kadang mencoba sesuatu yang salah justru bisa membawa diri pada dampak baik, seperti yang terjadi pada diri saya.
Kedua, menjalankan bisnis semacam ini membuat saya kehilangan sebagian hal berharga dan saya sukai. Berhari-hari saya diliputi perasaan cemas dan tidak enak saat menunggu barang. Khawatir kalau barang jauh dari foto dan harapan. Sebagian konsentrasi saya hilang. Sehingga hari-hari yang saya lalui terasa janggal. Saya tidak menjadi diri saya yang seratus persen seperti biasanya. Saat mengajar les, saya banyak salah dalam menghitung, menulis angka, menulis rumus, dan memberi penjelasan.
Sekolah Toefl dan Sekolah Inggris yang saya jalankan juga terbengkalai. Padahal biasanya saya bisa mempelajari materi dengan baik. Mengerjakan soal-soal di handbook dan question of the day dengan sedikit kesalahan. Materi pun biasanya saya selesaikan jauh-jauh hari sebelum pembahasan. Tapi, minggu kemarin saya tidak melakukannya dengan maksimal. Dan, saya tidak suka itu. Saya menyesal saat semua itu sudah terlewat.
Aktivitas menulis saya juga terhenti. Saya sibuk membalas chat konsumen dan menanyakan stok ke pusat. Waktu menulis saya tersita. Padahal saya sudah punya beberapa ide untuk ditulis. Target jumlah tulisan di Bulan Februari untuk posting di blog juga tidak terpenuhi. Bahkan saya bolos setor ke #1minggu1cerita karena terlalu sibuk dan tidak sempat menulis satu tulisan pun dalam waktu satu minggu itu. Selain itu, pikiran saya juga kacau dengan urusan online shop yang saya rasa baru sebagai penyesuaian. Jadi, otak saya tidak bisa memproduksi satu kalimat di sela-sela kesibukan seperti biasanya.
Saya merenung dan belajar. Akhirnya, saya menemukan satu pikiran yang membuat nyaman. Online shop yang saya buka harus didasarkan pada sampingan saja. Bukan sesuatu yang secara obsesi ingin dikembangkan menjadi bisnis besar. Saya menjalani ini sebatas karena suka mencari baju-baju yang bagus untuk dijadikan referensi saat ingin membeli. Beberapa teman kadang merasa suka dengan apa yang saya beli dan pakai itu. Tidak ada salahnya jika saya mencoba sebagai penjual produk itu juga daripada selalu hanya sebagai konsumen. Kalau ada yang suka dan mau ya dilayani. Kalau tidak, saya tidak akan rugi. Karena niat sharing baju bagus saya sudah terpenuhi. Jalani saja semua ini dengan santai.
Dan, saya ingin kembali pada hal-hal yang saya cintai. Membaca buku, menulis, belajar bahasa inggris, mewarnai, nonton film, mencoba resep baru dan belajar membuat scrapbook. Saya akan menjalani apa yang membuat bahagia dan menjadikan apa yang saya kerjakan sebuah kebahagiaan.

 *ditulis untuk @1minggu1cerita.
*merasa sedih sudah beberapa kali absen.