Minggu, 29 September 2019

Dongeng, Atmosfer Baca dan Tumbuhnya Akar Literasi pada Anak

sumber gambar: dokumen pribadi

Rombongan Sunan Muria terhenti saat mendengar suara krubyuk... krubyuk... air di sawah. Hari hampir petang, adzan maghrib sebentar lagi terdengar. Sunan Muria mendengarkan dengan teliti dari mana suara itu berasal.
“Suara apa ini?” tanya Sunan Muria.
Salah seorang warga lalu menjawab, “kita sedang mencangkul sawah, Kanjeng Sunan.”
“Oh, sudah petang kok krubyak-krubyuk. Tak kira suara bulus.” Lalu, rombongan Sunan Muria melanjutkan perjalanannya.
Beberapa waktu berlalu, rombongan Sunan Muria kembali dari kunjungannnya melewati desa itu lagi. Saat singgah sebentar, beliau diberi tahu warga bahwa beberapa orang yang kemarin petang mencangkul di sawah telah berubah menjadi bulus. Apa yang Sunan Muria katakan menjadi kenyataan. Terkejut mendengarnya, Sunan Muria pun menancapkan tongkat di area persawahan itu. Keluarlah air dari dalam tanah.
“Ini sumber air untuk penghidupan para bulus itu,” ujar Sunan Muria.
Sekarang desa itu dinamai Desa Sumber dan setiap Syawal diadakan acara dinamai Bulusan. Berbagi berkah berupa makanan kepada para bulus yang ada di sana.
Di akhir dongeng, suara Bapak mulai berat karena kantuk menyerang sangat hebat. Saya masih ingat suara Bapak yang terseret-seret saat dongeng sebelum tidur itu akan berakhir. Saya masih ingat intonasi menggebu hingga lembut yang Bapak ucapkan. Saya masih ingat dongeng-dongeng yang Bapak bawakan; Ande-Ande Lumut, Jaka Tarub, Malin Kundang, Nabi Musa, Nabi Ibrahim, Fir’aun dan daftar panjang judul lainnya. Bagi saya dongeng telah menjadi bagian terpenting dalam hidup. Dongeng menjadi pemantik minat baca.

Dongeng
      sumber gambar: bobo

Imajinasi dan rasa ingin tahu. Utamanya, dua hal itu yang saya dapatkan atas dongeng. Lewat dongeng sebelum tidur yang Bapak tuturkan, daya imajinasi saya mulai berkelana. Saya dibawa ke dunia dongeng yang menarik dan seru. Hingga merasa “ketagihan” untuk berpetualang di dunia dongeng lainnya. Imajinasi saya haus cerita. Rasa ingin tahu mulai tumbuh dari sana. Setiap bertemu buku dongeng, saya selalu ingin tahu dunia apa yang akan diselami oleh imajinasi ini.
Di sekolah dasar, minat baca saya mencapai puncaknya. Saya melahap habis cerita-cerita yang ada di buku teks dalam waktu singkat. Setiap tahun ajaran baru, sekolah akan membagikan buku paket untuk dipinjam selama satu tahun. Sebangku hanya dipinjami satu buku karena keterbatasan jumlah. Jadi, saya harus berbagi buku dengan teman Kita harus bergiliran dalam membawa buku paket untuk belajar di rumah. Saya selalu meminta didahulukan membawa buku paket Bahasa Indonesia. Sepulang sekolah hingga malam, saya akan membaca teks cerita yang ada di sana. Sampai habis. Saya akan menuntaskannya dalam satu-dua hari saja.
Di depan sekolah, penjual mainan anak juga menyediakan buku dongeng kecil. Harganya seribu rupiah. Saya selalu menabung untuk bisa membelinya. Demi petualangan baru yang akan didapatkan dari dongeng tersebut. Jika sedang beruntung dapat uang saku lebih, saya akan menabung untuk membeli majalah anak. Majalah anak dengan dongeng Nirmala di dalamnya. Saya ingin tahu, apa yang akan dialami Nirmala minggu depan dan seterusnya. Saya tidak akan melewatkan kesempatan untuk membaca kisahnya. Saya akan berusaha agar bisa membacanya.
Jika melihat ke belakang, saat saya belum bisa membaca dan hanya bisa mendengar, maka dongeng sebelum tidur dari Bapak yang membantu membangkitkan minat baca ini. Andalusia, dkk (2017) menyatakan bahwa salah satu cara memperkenalkan anak pada kegiatan membaca dan menulis yang menyenangkan adalah dengan bercerita atau berdongeng. Dari dongeng, anak tidak hanya mendapatkan informasi, tetapi juga mendapatkan petualangan imajinatif. Maka, tidak ada kesan belajar secara terpaksa bagi si anak. Mereka akan nyaman dengan proses pengenalan aktivitas baca yang menyenangkan ini.
Fitri Wahyuni (2018) juga mengungkapkan bahwa dalam mendongeng terjadi proses mendapatkan kosakata baru, imajinasi baru, minat membaca dan daya simak anak. Aktivitas mendongeng akan membawa banyak dampak positif bagi pengenalan anak pada aksara. Maka, dongeng secara rutin bisa dijadikan sebagai salah satu sarana untuk memantik minat baca sejak kecil.

Atmosfer Baca
sumber gambar: dokumen pribadi

Baca. Baca. Baca. Itu adalah kegiatan yang hampir setiap hari Bapak ajarkan sejak kecil. Ketika membeli kacang rebus berbungkus koran, Bapak akan membuat sepotong koran sebagai bahan bacaan. Bapak yang akan membacakan tulisan pada sepotong koran itu. Jika sedang beruntung, maka ada satu artikel penuh yang akan dibaca. Kadang hanya sepotong artikel tidak utuh, tetapi Bapak tetap menggaris bawahi mana informasi yang bisa didapatkan. Seolah Bapak mengatakan “selalu ada informasi yang bisa didapatkan dari membaca”.
Dari bungkus shampoo, makanan, dan semua benda yang kita pegang setiap hari, Bapak selalu mengajarkan untuk membaca. Sepulang kerja, terkadang Bapak membawa sepotong tulisan dari koran yang ditemuinya. Lalu, Bapak memperlihatkan informasi dari tulisan tersebut. Kita menyimaknya bersama. Saat menonton televisi, Bapak akan membaca iklan baris yang berjalan di bawah layar. Ia membacanya keras, menunjukkan pada saya apa yang sedang dibaca. Tidak hanya itu, apa yang dilihat juga harus dibaca. Setiap naik transportasi umum, Bapak mengajarkan untuk membaca informasi yang ada di sekitar. Nama jalan, nama tempat, hingga petunjuk arah. Ia mengisyaratkan bahwa semuanya adalah tentang membaca.
Jika nilai ulangan saya bagus, maka Bapak akan memberikan hadiah; pergi ke toko buku. Berbonceng sepeda kayuh, Bapak mengajak saya ke toko buku terdekat. Saya dibuatnya terbiasa dikelilingi buku. Saya selalu betah dan rindu berada di tempat yang banyak buku. Lewat aktivitas membaca hal sederhana itu, Bapak seolah membangun atmosfer baca di rumah dan di mana pun berada. Atmosfer baca yang selalu melingkupi keseharian, sehingga menularkan keinginan membaca.
Irna menyebutkan ‘Pojok Baca’ dan berkunjung ke toko buku atau perpustakaan adalah dua cara untuk menumbuhkan minat baca anak. Pojok baca berkaitan dengan lingkungan yang mendukung anak untuk menumbuhkan minat baca. Sementara berkunjung ke toko buku atau perpustakaan termasuk penerapan model pembelajaran field trip atau berjalan-jalan. Kegiatan field trip yang menyenangkan bagi anak disisipi dengan makna literasi. Anak diajak mengunjungi buku agar membiasakan diri dengannya. Atmosfer baca dan toko buku, dua hal ini berhasil diterapkan Bapak. Ia telah melekatkan atmosfer baca pada dunia saya sampai sekarang. Di mana pun berada, saya akan ‘refleks’ membaca banyak hal.

Tumbuhnya akar literasi pada anak
Seorang anak yang memiliki minat membaca tinggi berasal dari keluarga yang memiliki kebiasaan membaca yang baik. Begitu tutur Andalusia, dkk, dan saya ikut mengamini. Jika orang tua ingin anaknya rajin membaca, maka mereka pun harus ikut rajin membaca. Begitu pula jika mereka ingin anak melek literasi, maka orang tua harus sadar literasi. Orang tua ikut terlibat dalam proses menumbuhkan cinta literasi pada diri anak. Dan, proses penumbuhan jiwa literasi ini perlu dimulai sejak dini.
Bak menanam kecambah, maka menumbuhkan akar literasi pada anak pun butuh proses panjang. Sejak anak belum bisa membaca, pengenalan pada bacaan bisa dilakukan dengan dongeng.Anak akan mulai mengenal kosa kata, bahasa dan cerita yang seru melalui dongeng. Anak akan terbiasa dengan aktivitas membaca lewat mendengar dongeng dari orang tua. Maka, orang tua bisa membacakan dongeng sebelum tidur secara rutin. Lewat dongeng, orang tua telah menanamkan benih baca pada diri anak.
Benih itu tidak lantas dibiarkan saja. Untuk tumbuh akar dan berkembang, sebuah benih butuh nutrisi. Atmosfer baca yang dibangun di rumah bisa menjadi salah satu nutrisi. Anak memiliki kecenderungan untuk meniru. Jika orang tua membaca, maka anak akan ikut membaca. Setiap hari atmosfer baca perlu dimunculkan di rumah. Orang tua bisa memberi contoh dengan membaca di sekitar anak dan melibatkan anak dalam proses membacanya. Maka, anak akan terbiasa dengan aktivitas membaca hingga menirunya.
Di era maraknya gawai sekarang, orang tua harus memunculkan atmosfer baca yang kuat di rumah. Agar anak lebih mengenal dan terbiasa dengan aktivitas membaca daripada menatap layar gawai. Ketika orang tua membiasakan diri dengan aktivitas membaca daripada bermain gawai, anak akan menirunya. Rutinitas membaca perlu digalakkan dengan kuat di rumah.
Bersama benih baca yang telah ditanam lewat dongeng, akar baca yang kuat akan tumbuh pada diri anak. Orang tua perlu menutrisinya lewat mencipta atmosfer baca di rumah setiap hari. Jika akar literasinya sudah tumbuh kokoh, maka membaca bukan sesuatu yang asing lagi bagi anak di sepanjang hidupnya.
#SahabatKeluarga #LiterasiKeluarga.

Referensi:
Andalusia, dkk. 2017. Literasi Dini dengan Teknik Bercerita.
Irna. Menumbuhkan Minat Baca Anak Usia Dini Melalui Implementasi Literasi Keluarga.
Wahyuni, Fitri. 2018. Menumbuhkan Kecerdasan Literasi Anak Usia Dini dengan Mendongeng.



Selasa, 17 September 2019

KUDO: Solusi Eksistensi Warung di Era Digital


Transaksi ekonomi bergeser ke media digital begitu cepat, mengimbangi laju kemajuan teknologi. Budiman Sudjatmiko dalam Menuju Ekonomi Digital: Kemajuan Teknologi, Kesetaraan Akses dan Kolaborasi mengungkapkan pendorong utama era digital ini adalah perkembangan Teknologi Informasi Revolusi, Big Data dan Revolusi Konektivitas (Internet of Things). Pengertian jual-beli yang dulu terbatas pada penukaran barang/jasa dengan senilai uang tertentu secara langsung mulai mengalami perluasan arti. Jual-beli bisa dijembatani oleh transaksi non-tunai dengan kemudahan yang luar biasa. Kartu Debit, Kartu Kredit, hingga bermacam uang virtual  menjadi alternatif pembayaran. Jual-beli juga mencapai ranah ketidakterbatasan pada produk yang dijual. Misalnya, minimarket telah membuktikan bahwa mereka menyediakan "apa saja" dan melampaui makna sebagai toko kelontong semata. Tetapi, para pelaku usaha mikro skala rumah tangga seperti warung yang masih bertahan dengan cara lama akan mengalami kelunturan eksistensi. Padahal mereka juga merupakan salah satu bagian dari pelaku ekonomi yang tak boleh dilupakan jaman.

Orang-orang lebih memilih berbelanja ke minimarket karena layanan yang disediakan lebih banyak. Konsumen era digital pun lebih senang dimanjakan oleh satu tempat dengan puluhan opsi transaksi. Tidak hanya kegiatan beli kebutuhan tetapi juga layanan ekonomi lain seperti pembayaran tagihan hingga pemesanan tiket. Kominfo pada bukunya Study Ekonomi Digital Di Indonesia memaparkan bahwa telah terjadi perubahan model bisnis dari Old Model-New Model-Future Model. Gambaran sederhana yang Kominfo paparkan contohnya pada pemesanan tiket. Dulu pemesanan hanya bisa melalui agen. Sekarang sudah beralih di banyak tempat seperti minimarket bahkan melalui aplikasi dengan segala kemudahannya. Jika warung masih bertahan tanpa inovasi, maka mereka akan mengalami kemerosotan popularitas hingga penghasilan. Dan, bisa mengalami gulung tikar.

Perkenalkan, KUDO
KUDO kependekan dari Kios untuk Dagang Online. Ia dibangun atas tiga niat mulia. Pertama, memberikan akses digital untuk berjualan berbagai macam produk bagi warung tradisional. Kedua, menjembatani layanan keuangan ke masyarakat dengan keterbatasan akses digital dan perbankan. Ketiga, meningkatkan penghasilan tambahan bagi pemilik warung dan peluang bagi para individu untuk berjualan. Singkatnya, KUDO hadir untuk #MerdekainWarung meng-upgrade warung menjadi Warung Digital Serba Bisa, agar berdaya saing di era digital ini. Ada banyak layanan yang disediakan oleh KUDO.

  1. Grosir Sembako
Grosir sembako adalah salah satu fitur yang disediakan oleh KUDO. Murah dan cepat jargon yang diusung oleh KUDO. Penjual tidak perlu mencari pemasok sembako lalu membandingkan harga. Karena di KUDO sudah dijamin harganya miring. KUDO bekerja sama dengan para produsen dan perusahaan ternama. Selain itu, barang akan cepat sampai bahkan dalam waktu satu hari.

  1. Transfer Uang
Warung akan semakin kece dengan fitur ini. Para tetangga tak perlu kerepotan mencari mesin ATM untuk transfer uang karena warung dekat rumah mereka sudah menyediakannya. Ini akan menjadi daya tarik kuat untuk warung mengingat transaksi transfer di masa sekarang semakin meningkat. #MajuinWarung bisa dilakukan dengan menambah layanan ini.

  1. Bisnis Pulsa
Bisnis yang satu ini sudah sangat populer. Ya, semua orang butuh pulsa. KUDO menyediakan fasilitas bisnis pulsa dengan harga yang sangat murah.

  1. PPOB
Dalam bahasa Indonesia PPOB bisa diartikan sebagai loket pembayaran online bank. Pembayaran yang dimaksud antara lain PLN, TELKOM, PDAM, cicilan motor, dan lain sebagainya. KUDO sebagai pihak yang ingin memerdekakan Warung menyediakan fasilitas ini tanpa keribetan.

  1. Bayar Tagihan Telepon
Bayar Tagihan telepon? Ke warung aja. Hehehe. Caranya mudah dan nggak pakai ribet.

  1. Daftar Grab
KUDO bekerja sama dengan Grab untuk mempercepat prekonomian digital. Ada keuntungan bagi Warung yang sudah bergabung dengan KUDO. Jika ada orang yang mendaftar agen Grab, maka pemilik warung mendapatkan keuntungan.

  1. Tiket Kereta
Wah, ini yang paling keren. Beli tiket kereta api di warung. Kapan lagi beli tiket kereta api semudah dan sedekat ini. KUDO menyediakan fasilitas bagi warung yang ingin menjual tiket kereta api. Gratis dan tanpa modal awal.

#MerdekainWarung Bersama KUDO


Seorang ibu, pedagang warung tenda kecil di pinggir jalan telah merasakan manfaat dari KUDO. Pertama dari tampilan warung yang menarik dan tak biasa. Katanya, sejak pertama memandang pembeli akan penasaran dengan warung miliknya.. Gerobak kecil yang dicat warna biru juga tampak lebih bersih dan rapi. Sehingga mendatangkan lebih banyak konsumen.
Kedua, penghasilannya pun bertambah. Ini sudah selaras dengan tujuan dibentuknya KUDO. Dan, sudah jelas sekali jika bergabung dengan KUDO akan membuat warung berlimpah keuntungan.
Dari semua fitur yang disediakan oleh KUDO, sudah jelas bahwa kehadirannya ada untuk meningkatkan eksistensi warung di era digital ini. Ada banyak fasilitas-fasilitas berbau digital yang kekian yang akan mewarnai warung. Jadi, warung yang semula biasa saja akan berubah menjadi luar biasa dan banjir banyak keuntungan. KUDO memang merupakan solusi bagi eksistensi warung di era digital sekarang ini.
Nah, biar warung digital makin eksis dan maju, para pemilik warung dengan label KUDO rasanya perlu menambahkan lokasi warungnya di Google Maps. Saat orang asing dari luar kota ingin mencari toko kelontong, pasti mereka akan mencarinya di Google Maps. Jadi, biar warung makin maju dan merdeka, maka tidak ada salahnya memasukkan lokasi warung di sana. Agar Warung Digital KUDO bisa menjadi alternatif terbaik bagi para pelancong.

Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis #MerdekainWarung yang diadakan oleh KUDO. 


Senin, 09 September 2019

UMi: Solusi Ide Bisnis Kreatif Minim Modal



Jika berbicara tentang perekonomian mandiri secara sederhana, maka UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) tak akan luput dari tinjauan. Keberadaan UMKM telah menjadi bagian penting bagi perputaran roda ekonomi terutama pada lapisan menengah ke bawah. Sebuah artikel di Koran Jakarta mengatakan bahwa pemberdayaan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) merupakan salah satu solusi dalam menggairahkan pertumbuhan perekonomian nasional dan mengurangi angka kemiskinan. Studi yang dilakukan Murdani dkk juga mengatakan hal senada; UMKM memberi sekitar 87% kontribusi ke dalam sejumlah badan usaha di Indonesia dan memiliki andil sebesar 85% dalam penyerapan tenaga kerja. Jadi, UMKM ternyata bisa "menolong" pertumbuhan ekonomi rumah tangga. Tapi, modal terkadang menjadi pengganjal majunya sebuah industri mikro ini.
Tak bisa dipungkiri, kehadiran modal merupakan jalan utama terbukanya sebuah usaha. Modal merupakan hal vital dalam usaha. Tanpa modal ide-ide kreatif yang berlalu-lalang di pikiran hanya bisa melayang pergi lalu kandas begitu saja. Dan, pada akhirnya bisnis yang ingin dibangun tak bergerak ke arah mana pun kecuali di kepala. Bisa saja meminjam modal di bank, atau koperasi. Tetapi, tak semua orang bernasib sama. Untuk sebuah bisnis yang baru dirintis dari benih kecil dan akan tumbuh perlahan, meminjam modal di bank terasa menyekik leher. Dan, provit mereka yang masih tergolong kecil mungkin dianggap tidak menguntungkan. Lalu, bank tidak bisa menggelontorkan dana pinjaman untuk bisnis yang berskala mikro. Bisnis yang rencananya hanya dibangun di gang-gang kampung saja.
Pemerintah tak tinggal diam atas masalah modal ini. Pemerintah memberikan uluran tangan  pada mereka yang butuh modal lewat program UMi (Pembiayaan Ultra Mikro). Program ini untuk membantu usaha dalam skala mikro yang bahkan tak tertolong oleh kredit melalui bank. Sebenarnya program ini merupakan lanjutan dari program bantuan sosial beberapa waktu lalu. Jika saya tidak salah ingat, dulu pemerintah pernah memberikan modal berupa barang untuk beberapa masyarakat terpilih. Barang tersebut tentu saja barang yang layak dijadikan untuk membuka usaha. Nah, kalau sekarang, pemerintah memberikan dorongan kepada pelaku usaha mikro dalam bentuk modal usaha. Maksimal sebesar 10 juta untuk tiap debitur. Dengan Badan Layanan Umum (BLU) Pusat Investasi Pemerintah (PIP) sebagai koordinator dan Lembaga Kuangan Bukan Bank (LKBB) sebagai penyalur. PT Pegadaian (Persero), PT Bahana Artha Ventura dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) yang akan menyalurkan dana Pembiayaan UMi. Pencairan dana akan dijamin mudah dan cepat.

Siapa saja yang berhak mendapatkan UMi?
Jawaban atas pertanyaan itu adalah semua orang. Semua Warga Negara Indonesia berhak mendapatkan UMi. Ada tiga syarat sederhana yang diberikan oleh pemerintah:
  1. Tidak sedang dibiayai oleh lembaga keuangan/koperasi.
  2. Warga Negara Indonesia (WNI) dibuktikan dengan Nomor Induk Kependudukan Elektronik.
  3. Memiliki ijin usaha/keterangan usaha dari instansi pemerintah dan/atau surat keterangan usaha dari penyalur.
Mudah dan sederhana sekali bukan, syarat untuk mendapatkan UMi? Ya, saya rasa ini karena pemerintah benar-benar ingin memberikan bantuan modal untuk para pelaku usaha mikro tanpa terkecuali.

Solusi Ide Bisnis Kreatif Minim Modal                    
  1. Untuk Anak Muda
Saat berada di masa kuliah, saya berkenalan dengan PKM (Program Kreativitas Mahasiswa). Para mahasiswa membuat proposal untuk didanai. Beberapa kali saya mengikuti program ini dan memerhatikan bahwa ada banyak sekali mahasiswa yang mengajukan proposal dengan tema kewirausahaan. Begitu banyak ide kreatif tentang produk yang ingin dihasilkan. Sayangnya, tak semua bisa lolos proses seleksi. Itu artinya, ada banyak ide usaha yang gugur karena tidak ada ketersediaan modal. Sebagian mahasiswa, apalagi yang berada di garis ekonomi menengah ke bawah tidak punya cukup modal untuk mengembangkan idenya. Ide-ide itu hanya berakhir pada tumpukan kertas proposal yang tak terpakai lagi.
Kehadiran UMi mungkin bisa saja menjadi suntikan semangat untuk mereka. Jika tidak lolos proses seleksi, maka mereka bisa mengajukan pinjaman modal pada UMi untuk mewujudkan impian bisnisnya. Saya harap pemerintah melakukan sosialisasi dengan lebih banyak lagi pada para mahasiswa yang ingin merintis bisnis kecilnya. Sekaligus menyuntikkan banyak keberanian agar mereka memulai usahanya lewat uluran tangan UMi.
  1. Untuk Masyarakat
Di gang-gang kecil desa, mungkin saja ada banyak sekali para pelaku usaha mikro yang bermimpi besar. Mereka ingin usahanya maju, tapi stagnan di tempat karena terbatas modal. Atau mereka ingin mewujudkan impian bisnis yang selama ini hanya ada di pikiran. Hadirnya UMi bisa menjadi penolong bagi mereka. Sosialisasi yang lebih banyak lagi mungkin akan membantu mempertemukan UMi dengan para pejuang bisnis mikro. Selain itu, mindset seorang pebisnis juga boleh dibina oleh pemerintah. Agar para pelaku maupun calon pelaku bisnis mikro semakin mempunyai keberanian untuk mewujudkan impian usahanya. Dan, agar UMi semakin tepat sasaran lagi bermanfaat untuk yang membutuhkan.

#UMicroScope #KenaliUMiLebihDekat




Rabu, 28 Agustus 2019

104.7 FM


Dari 104.7 FM, Dira menemukan nama Musika beserta nomor ponselnya. Musika hanya nama julukan. Dua belas tahun lalu, tidak ada tinder, tidak ada ‘biro jomblo’ seperti yang dipelopori Alit di twitter. Orang-orang mencoba peruntungan lewat acara radio. Dan, itulah yang dilakukan oleh Musika.
Setiap malam, Dira hanya mendengarkan acara itu. Ia mencatat nama dan nomor ponsel yang dibacakan. Sayangnya, ia tak punya ponsel. Ia tak mampu menghubungi nama julukan yang mencuri perhatiannya. Satu tahun berlalu, tabungan Dira ditukar dengan sebuah ponsel. Saat itu ia tengah dekat dengan seorang laki-laki yang bekerja di dekat kantor. Setiap istirahat makan siang dan pulang kerja, mereka selalu ngobrol ngalor-ngidul. Tetapi, semuanya tidak berjalan lancar.
Kesendirian membuat Dira mencari buku catatan di masa lalu. Ia menemukan banyak nama dan nomor ponsel dari acara radio di masa lalu itu. Lama ia memandangi catatannya. Lama ia berpikir, mana yang akan dihubungi. Dan, berlabuhlah matanya pada nama Musika. Sebuah nama yang menarik hatinya. Sebuah nama yang akhirnya selalu dikirimi surat seminggu sekali. J
Ya, setelah satu-dua pesan singkat perkenalan, mereka memutuskan untuk berkirim surat. Tahun-tahun berlalu, puluhan surat saling dikirim, dan akhirnya intuisi Dira untuk menghubungi Musika mengantarkannya pada simpul hubungan seumur hidup. Sekarang mereka berbahagia bersama satu anaknya. J

Catatan: nama tokoh disamarkan. Saluran frekuensi radio bukan yang sebenarnya. Entah itu, ada atau enggak frekuensi segitu. Hahaha. Dan sekarang entah masih ada atau enggak acara pencarian jodoh di radio. Hahaha.



Intuisi

...dan kau ada di antara milyaran manusia
dan kubisa, dengan radarku menemukanmu...

Dari belahan bumi lain, sebuah cerita bergulir saat mobil Rha mogok. Sekian banyak kendaraan lain yang lewat, hanya mobil Herman yang berhenti. Ia memberi bantuan pada Rha. Dan, dalam hitungan bulan, Herman sudah menjadi seseorang yang akan selalu membantu Rha dalam hal apa pun. Selanjutnya, seterusnya dan seumur hidup mereka.
Lain soal dengan Lena. Di penghujung sendirinya yang hampir lima tahun, ia mendapati bahwa Adi ternyata penggenap jiwanya. Empat tahun lalu, Adi hanya seorang teman berbagi diskusi soal pekerjaan. Ya, mereka satu kantor selama dua tahun dan tidak pernah terjadi apapun dalam bilangan tahun itu. Di satu sisi yang hampa, Adi tiba-tiba menghubungi Lena lagi. Hanya dari bertanya kabar, lalu semuanya berujung pada kecocokan dan hubungan yang matang.
Saya percaya, pertemuan-pertemuan berharga itu didasari oleh sesuatu yang magis. Entah bagaimana, hati bisa menggerakkan raga manusia untuk mencapai pertemuan-pertemuan itu. Ketika dikenang menyisakan kesan yang hangat dan dalam.
Intuisi. Saya rasa itulah benang merah dari semua proses penggerak hati ke raga. Di sini, saya akan menuliskan pertemuan-pertemuan berharga itu. Dengan mana yang disamarkan atau dengan nama asli. Tentu saja atas seijin pemilik pertemuan manis itu. Saya akan membawa pertemuan berharga itu ke dunia fiksi, tetapi pertemuan itu tetap milik kalian. :)
Jika ingin kisahnya dituliskan, boleh banget, kok. Saya akan sangat senang. :)

 

Senin, 26 Agustus 2019

Diet(?)


Diet? Boleh aja kok. Emm.. tapi kalau tujuan dietnya untuk melebihkan diri sendiri dan melihat orang lain dengan kacamata ‘ketidaksempurnaan’, itu sangat salah. Jika dalam hati ada sebutir debu niat yang berkata bahwa “saya diet agar badan saya bagus, tidak seperti kamu”, maka sebenarnya bukan diet yang dibutuhkan tetapi main yang jaaauuhhh. Hahahaha! Pemikiran terlalu sempit, lalu membawa ke ujung simpulan salah kaprah kadang menyakiti orang lain. :’)
Body Shaming. Disebut demikian, dan di sini saya sering mendengarnya bahkan pernah mengalami. Saya pernah ada di satu titik tidak mau dibonceng orang lain. Karena beberapa ada yang bilang teralu berat, gendut, dan lain-lain. Lebih baik saya menghindari keadaan itu daripada hanya menerima kalimat sampah dari mereka.
Kadang, saya tanya “eh, aku berat, ya. Maaf, ya.” Saat jawabannya “enggak, kenapa kamu minta maaf”. Duh, ingin kuajak hidup bersama selamanya orang-orang macam itu. Tapi, ya, lebih banyak yang berkata sebaliknya, sih. Hahaha.
Saya pun pernah ada di fase diet untuk orang lain. Pernah, agar si dia suka sama saya karena tipenya cewek-cewek kurus kaki panjang macam girlband koryah. Tapi pandangan saya berubah, saat melihat pasangan yang mereka tidak memandang fisik sama sekali. Tidak masalah apapun bentukmu, asal sejiwa ya sudah, asal satu frekuensi ya sudah, hal remeh-temeh bentuk fisik tidak akan jadi soal. Dan, saya melihat kebahagiaan di antara mereka sangat berlimpah. Pernah, agar orang lain memandang saya lebih baik daripada sebelumnya, agar tidak di “body-shaming” lagi. Tetapi, lama-lama saya juga menyadari bahwa saya tidak perlu dihargai oleh orang-orang yang memandang dalam satu sisi. Apalagi hanya dari segi fisik. HAHA! Teman-teman dekat yang saya sayangi tidak pernah seperti itu.
Dan, ya, terakhir. Sebagai pengingat saja. Bahwa Tuhan sudah menciptakan manusia dalam sebaik bentuk. Semua orang, bagaimana pun wujudnya. Jadi, hargai semuanya.
Diet? Boleh saja. Boleh banget. Untuk diri sendiri yang lebih baik bukan untuk orang lain atau untuk kata sempurna dari orang lain. Mari, menerima diri sendiri dengan bahagia. Lalu menemukan orang lain yang mau menerima diri kita dengan bahagia pula. J

Putri.

Selasa, 30 Juli 2019

Beranjak Dewasa


Kemarin, saat memakai lipstik mau berangkat kerja, tiba-tiba saya menangis. Tiga minggu sesak saja di dada, tanpa bisa ditata, akhirnya kemarin keluar begitu saja. Lepas begitu saja. Setelahnya, saya tahu akan ada perenungan-perenungan.  Banyak sekali yang berputar-putar di kepala. Pada akhirnya, di pagi hari yang sunyi tadi, saya memutuskan untuk beranjak dewasa. Keputusan, perbuatan dan apa pun itu dalam hidup saya, semuanya sedang beranjak dewasa.
Perasaan sensitif harus ditepis. Logika, pertimbangan dicampur intuisi harus diberi ruang lebih banyak. Sabarku tiada batas. Kasih sayangku tulus tiada batas pula. Tapi bukan berarti semuanya serta-merta bebas dan terlalu luas. Dalam beranjak dewasa, saya belajar untuk menyikapi semuanya dengan lebih lembut, sabar dan bijak. Dan, menjadi dewasa memang tidak pernah mudah.
Saya belajar dari masa lalu. Masa lalu untuk masa depan yang lebih dewasa. Saya tak ingin terjebak pada langkah yang sama di masa lalu. Karena di masa sekarang, saya sedang beranjak dewasa. Dan, saya tahu menjadi dewasa memang tidak pernah mudah.
Satu hal yang saya renungkan kemarin: masa lalu. Banyak hal yang saya dapatkan hari ini. Tak hanya soal hubungan, tapi juga kepribadian, impian dan karir. Semua tiba-tiba mencuat dalam pikiran dan menggusur semua pemikiran lama saya.
Secuil obrolan dengan Farrah kemarin.
“Kamu nikah dua tahun lagi. Paling tidak, untuk serius dengan laki-laki, kamu butuh dua tahun lagi. Dan itu dengan orang baru dalam hidupmu. Bukan dengan orang lama.”
“Kenapa harus dua tahun lagi? Nggak bisa tahun depan aja aku nikahnya?”
“Kenapa harus cepet-cepet sih, put?”
Awalnya agak kecewa dengan prediksi dua tahun lagi. Karena walaupun di dalam sini belum ada siapa-siapa, tapi saya berharap tahun depan. Tapinya lagi, tadi pagi saya belajar bahwa buat apa tahun depan? Ada banyak impian dan karir yang ingin saya kejar, belum tercapai sama sekali. Kenapa waktu saya harus terbuang sia-sia tanpa mendapatkan apa pun? Lalu, saya menyadari bahwa sebuah pernikahan membutuhkan kedewasaan yang sejati. Kenapa saya tidak belajar menjadi pribadi yang matang terlebih dahulu?
Saya pun meraih sebuah buku dna membuat sebuah ‘timeline karir’.
Apapun itu, saya berterima kasih atas diri ini di pagi tadi. Atas semua pemikiran dan perenungan. Atas keputusan untuk beranjak dewasa. Dan, ingat, menjadi dewasa tidak pernah mudah.


Jogja, 30 Juli 2019.
                                                   

Sabtu, 29 Juni 2019

Traveloka Dulu, Pasti Naik Bus Nyaman Kemudian

Sejak pindah ke Yogyakarta, saya berharap ada jalur kereta api Yogyakarta-Kudus. Saya lelah menghadapi ‘kejar-kejaran’ bus untuk pulang kampung. Dan, Tuhan mengabulkan doa saya dalam bentuk lain. Saya tidak perlu lagi menghadapi drama mengejar bus karena Traveloka menyediakan pemesanan tiket bus.
Dulu, saat akan pulang kampung saya selalu cemas dalam perjalanan menuju Terminal Bus Jombor. Di perjalanan, saya berdoa agar saya datang di waktu yang tepat. Artinya, saya masih bisa mendapatkan tiket bus (for your information, tiket bus memang hanya bisa didapatkan dengan datang langsung ke agen di terminal) dan tak perlu menunggu lama. Karena Yogyakarta-Kudus bukanlah jarak dekat dan memakan waktu kurang lebih lima jam perjalanan. Waktu benar-benar berharga untuk saya, agar segera sampai rumah dan bertemu keluarga.
Jika beruntung, saya akan mendapatkan tiket bus yang segera berangkat. Jika tidak, ya saya harus menunggu bus selanjutnya—yang biasanya berjeda satu jam lebih dari keberangkatan bus yang lalu. Bahkan pernah satu kali saya harus menunggu lebih dari dua jam. Jadwal keberangkatan bus pun sering berubah tanpa pemberitahuan lewat media sosial atau jejaring sosial lainnya. Ketidakpastian itu sering membuat saya kesal. Pernah satu kali, di bulan ini bus menuju kampung halaman berangkat pukul 07.00. Bulan depannya, ternyata jadwal berubah dan saya harus menelan kecewa sesampainya di terminal. Perubahan jadwal keberangkatan ini pun hanya bisa kita tahu jika datang langsung ke agen di terminal dengan meminta informasi di sana. Tapi, untuk orang yang tak banyak waktu luang dan jauh dari terminal, ini susah dilakukan.
Saya bersyukur dengan kehadiran fasilitas Bus Traveloka. Jadwal keberangkatan bus jelas, dan saya sudah pasti berangkat karena sudah mengantongi tiket elektronik dari Traveloka. Ini benar-benar membantu saya yang jauh dari terminal dan tak punya banyak waktu untuk pergi ke terminal memesan tiket. Sekarang saya tak perlu cemas lagi karena bisa memesan tiket bus melalui traveloka dengan sangat mudah. Armada bus yang diajak bekerja sama oleh Traveloka juga merupakan yang sering saya gunakan. Jadi, saya tak perlu cemas lagi dengan perjalanan nantinya.
Caranya memesan tiket bus di traveloka sangatlah mudah. Buka saja aplikasi traveloka, pilih Tiket Bus dan Travel, lalu mengisi tempat asal-tujuan hingga data diri. Metode pembayaran yang ditawarkan Traveloka pun beragam. Dan, yang paling menyenangkan adalah ada potongan harganya!Hahaha!
Saat pertama kali memasan tiket bus di traveloka, saya sama sekali tidak cemas. Karena sebelumnya sudah pernah memakai fasilitas pemesan tiket kereta api dari traveloka dan sudah membuktikan sendiri bahwa Traveloka terpercaya. Benar saja, sampai di terminal saya hanya tinggal menunjukkan tiket elektronik dari Traveloka. Jadi, tidak salah jika saya bilang ‘traveloka dulu, pasti naik bus nyaman kemudian’.
Oh iya, yang paling menyenangkan adalah Traveloka mengadakan survey untuk fasilitas pemesanan tiket bus dan travel ini. Artinya, untuk fasilitas yang sudah bagus sekarang ini, Traveloka masih akan terus mengadakan perbaikan dengan mau mendengarkan apa yang diinginkan pelanggan. Saya harap, Traveloka akan terus meningkatkan layanan ini dan semakin maju. Jangan lupa isi survey kalian ya, karena ada hadiah kupon potongan harga dari traveloka. Yeay!
Libur telah tiba! Selamat mencoba Tiket Bus dan Travel dari Traveloka! Traveloka dulu, pasti naik bus nyaman kemudian.

#BusTualangTraveloka

Rabu, 05 Juni 2019

#Renungan26: Waktu akan menyembuhkan


Malam ini saya keliling kampung. Halal bi halal. Dari satu rumah ke rumah yang lain, bersalaman, lalu saling berucap maaf. Kadang ada satu-dua percakapan tentang kabar. Saya melihat banyak luka sekaligus pemaafan dari sorot mata, getar suara dan raut wajah mereka ketika bercerita. Tiba-tiba saya ingin berbicara pada diri sendiri: luka, cobaan, atau apa pun yang kamu hadapi pada saat ini, akan disembuhkan oleh waktu.
Ada banyak cerita malam ini. Sebagian tentang luka masa lalu. Tentang sepenggal kisah hidup yang di masa lalu ingin dilupakan, ingin dilenyapkan dari bagian kehidupan. Tetapi malam ini, setelah bertahun-tahun bagian muram dari kehidupan itu berlalu, orang-orang mulai bisa mengisahkan dengan ikhlas, tanpa beban. Saya menatap khidmat saat mereka bercerita. Saya ingat, betapa di masa lalu itu pernah menjadi luka bagi mereka. Lubang yang membuat mereka terjerembab hingga tertatih begitu lama untuk bisa bangkit. Dari sorot mata yang jujur, malam ini luka itu telah musnah. Lalu, saya sadar bahwa waktu memang menyembuhkan.
Ada juga yang baru terluka. Kepalanya berat menopang beban, hatinya mengulur pada Tuhan minta dikuatkan. Saat ini, baginya, semua terasa berat. Tapi, saya percaya bahwa waktu akan menyembuhkan. Percayalah.

Btw, ini #Renungan26 lanjutan dari #Renungan23 dan #Renungan24, ya. Kalau #Renungan25 memang nggak ada. Ya, waktu itu memang maunya berhenti, nggak ada renungan-renungan lagi. Dan, saat itu saya merasa sangat lelah dengan hidup yang ‘merenung’ gitu. Saat itu saya maunya los aja, nggak usah mikir apa pun tentang apa yang terjadi di dua lima. Hidup suka-sukalah. Tapi, setelah beberapa hari ini membaca ulang tulisan renungan di blog, saya jadi ingin lanjut lagi. Saya melihat diri saya ‘tumbuh’ dari tulisan itu. Apa yang saya renungi tahun ini, jelas beda dengan tahun depan. Apa yang saya pikirkan pun begitu. Jadilah saya lanjut #Renungan26, biar apa yang ada di kepala terabadikan aja. Dan, sebagai rekam jejak bahwa jiwa saya tumbuh.


Minggu, 24 Februari 2019

Memikirkan Kembali


Langit di depan kamar pukul tiga pagi
Mengingatkan pada asa yg pernah pudar
Lalu pucat tanpa merona lagi
Ronanya hilang
Ronanya hilang       
Tuntas
Terlahir sebuah tanya "apa yang harus kulakukan
saat sudah tidak bahagia?"
Sebelah diri berbisik, "bukankah hidup memang
untuk tidak bahagia juga?"
Langit di depan kamar pukul empat pagi
Diam-diam menikmati sisa gelapnya

Semalam, setelah minum obat, saya rebahan di kasur. Menghadap pintu, lalu ingat bahwa saya punya sebuah janji yang belum tuntas. Janji untuk duduk di pinggiran pintu, menatap langit pukul tiga pagi di hari ulang tahun. Saya memang menatap langit itu setiap malam. Sepulang kerja, saat menggosok gigi sambil menatap langit. Ada berbagai rasa yang tiba-tiba muncul. Pernah, saat saya benar-benar lelah, ingin menggenggam pisau seerat mungkin. Di ’waktu gosok gigi itu, saya langsung merasa betapa langit sangat luas dan indah. Dan, nggak semua orang diberi kesempatan oleh Tuhan untuk gosok gigi sambil menatap langit. Beberapa orang justru gosok gigi terburu-buru, makan terburu-buru, minum terburu-buru, tanpa sempat berpikir tentang apa-apa yang Tuhan sampaikan lewat alam.
Saya ingin menatap langit pukul tiga pagi di depan kamar, karena ingin tahu. Rasa apa lagi yang akan muncul di hati. Apa saya akan merasakan hal yang sama, atau justru banyak sekali lompatan pikiran-perasaan yang tiba-tiba menyergap. Sayangnya, di hari ulang tahun saya yang lalu, saya sangat sibuk. Sepulang kerja lalu lelah, lalu ambruk di kasur. Paginya, moment itu terasa hilang. Padam. Dan, saya merasa nggak ada yang perlu dispesialkan lagi. Tapi, semalam saya menyadari telah kehilangan waktu merenung yang berharga itu. Lalu, saat saya hilang arah seperti akhir-akhir ini, rasanya semuanya memuakkan. Saya sadar memang butuh merenung. Melepas luka, menghela napas, memikirkan kembali.
Semalam, sayangnya tubuh nggak bisa diajak kompromi. Maunya rebahan, sambil menikmati rasa nyeri. Dan seperti biasa, setiap sakit, pikiran saya mendadak suka pergi ke mana pun. Bahkan pada hal yang nggak pernah saya pikirkan sekali pun. Lalu, di antara kelana pikiran yang jauh dan nggak tahu kapan selesainya, air mata jatuh menimpa bantal. Semuanya bercampur jadi satu, lalu luluh pada isakan yang sedikit gemetar.
Melepas Racun
Banyak hal berseliweran di kepala semalam yang membuat tangis pecah. Saya menyadarinya sebagai sebuah racun dalam diri yang perlu dikeluarkan. Bagi saya, menulis itu menyembuhkan. Saya memutuskan untuk membuang semua racun itu di sini, lalu mengendapkan pikiran, berpikir ulang dan kembali dalam keadaan yang lebih baik. Saya harap, benang yang kusutnya minta ampun di dalam kepala, bisa terurai.

Pertama, saya sedang berada di titik terendah dalam karir. Saya merasa bodoh, nggak bisa ngerjain soal ini-itu, nggak bisa membuat pembahasan yang enak untuk siswa, pengetahuan saya dangkal, dan lain-lain, dan lain-lain. Pokoknya semua yang membuat saya merasa minder dengan kemampuan diri sendiri. Saya nggak tahu kenapa pikiran itu tiba-tiba datang. Entah karena ada orang baru yang memang sangat pintar, lalu membuat siswa enggan bertanya pada saya lagi. Tapi, orang yang dulu juga sangat pintar. Diri saya tetap baik-baik saja. Saya nggak pernah merasa seperti ini, dan saya tetap merasa nyaman di sana. Mungkin karena orang yang dulu selain pintar juga peka, jadinya beliau nggak mau terlalu mengekspos kemampuannya yang cemerlang itu di depan saya. Sementara yang baru melakukannya. Saya jadi malas ke kantor, saya malas melihat kejadian-kejadian yang membuat diri semakin tak mampu. Saya lebih senang berada di tempat lain. Dan, saya lebih senang menghilang dari sana. Tak terlihat dan tak melihat yang membuat saya jatuh.

Saya pernah membicarakan ini pada teman satu bidang studi. Saya nggak tahu, dia ini tipe orang yang seperti apa. Dia ini selalu berpikir positif dan entah dia punya pikiran-pikiran seperti saya atau nggak. Dia bilang ke saya “nggak ada orang yang bodoh”. Saat itu saya sedikit bersemangat, lalu belajar lagi. Tapi rasa minder itu nggak kunjung hilang dan membuat saya nggak nyaman lagi. Kemarin tiba-tiba seorang rekan kerja yang cemerlang tapi perasa di atas berbicara kepada saya. Katanya, selama saya hilang-hilangan, saya dicari siswa. Hati saya sedikit terenyuh. Bukan karena saya merasa dibutuhkan, tetapi karena rekan kerja saya itu peduli dengan saya di sana. Mungkin dia sudah merasa saya kok mulai sering hilang.
Kedua, ini tentang luka yang saya yakin nggak pernah selesai sebelum saya pindah. Tentang seorang teman yang saya sayangi, tapi kok dia justru seperti itu. Dia sering membohongi saya, sekedar urusan pergi ke mana dan dengan siapa. Oke, saya terima. Beberapa hari setelahnya hubungan kembali cair, padahal sebelumnya saya sudah memutuskan untuk nggak peduli lagi sama dia. Tapi kok kemarin saya merasa seperti itu lagi. Kemarin, dia beli sarapan sendirian, demi membelikan sarapan seorang cowok. Biasanya, dia nggak mau beli sarapan sendirian. Kalau beli, kita berdua. Atau justru saya sendirian yang beli, untuk dia juga. Bahkan, dulu waktu saya sakit, dia nggak mau membelikan saya sarapan. Dia menyuruh saya go food saja. Karena dia sedang malas beli dan akan mengurus sarapannya sendiri nanti. Dia bahkan nggak peduli saya makan atau nggak saat sedang sakit. Sementara dia mau-maunya beli sarapan untuk cowok itu. Saya jadi semakin ‘sakit’ dan merasa beberapa hal yang membuat hubungan kita cair kemarin nggak ada apa-apanya. Hilang begitu saja, lenyap, nggak menyisakan makna apa pun.

Ketiga, saya mulai memikirkan orang tua yang jauh di Kudus. Saya ingin merawat mereka di hari tua, tapi saya nggak bisa kembali ke Kudus dalam waktu dekat tanpa rencana apa pun. Tahun depan, saya masih ingin bekerja di luar kota. Tetapi, saya juga ingin menemani orang tua saya. Saya juga mulai memikirkan menikah. Orang tua saya nggak pernah minta saya cepat menikah. Justru mereka menyabarkan kalau jodoh belum datang. Tapi, saya yakin orang tua saya ingin melihat pernikahan anak bungsunya ini. Ya, tapinya saya jomblo. Saya nggak tahu harus bagaimana. Hidup saya di Jogja pun mulai jauh dari kata tujuan. Saya hidup begini-begini saja. Saya kerja, mengerjakan soal, belajar, istirahat, sudah. Karir menulis saya belum berkembang lagi. Saya lebih sering malas karena terlalu lelah secara psikis maupun fisik bekerja di sini. Saya jadi bingung, apa yang sebenarnya ingin saya raih di Jogja.

Memikirkan Kembali

Pertama, saya ingin mengobati perasaan sendiri. Saya ingin menghargai kemampuan diri sendiri, sambil terus berkembang. Seperti apa yang Pak Nur bilang, belajar dan terus berkembang. Walau beliau sering membully saya, tapi diam-diam selalu memotivasi. Beliau pernah bilang, modal saya masuk pertama ke sana jauh lebih baik daripada dia. Entah dia bohong atau nggak. Tapi saya tahu, tujuannya memotivasi saya agar lebih berkembang. Lalu saya tanya, kenapa dia bisa jadi secemerlang itu. Katanya, tergantung kita mau berkembang sejauh apa. Jadi, saya memutuskan untuk berkembang terus-menerus. Tanpa memikirkan apa-apa yang terjadi pada orang lain. Dan, menghindari apa yang bisa membuat perasaan saya menjadi kecut.

Kedua, saya sudah memutuskan untuk nggak menyayangi teman itu lagi. Masih banyak teman yang menyayangi saya, dan perlu diperlakukan baik. Untuk apa mengurusi teman yang bahkan nggak mau ngucapin ulang tahun padahal dia tahu saya sedang berulang tahun dan dulu saya rayakan kecil-kecilan? Masih banyak teman baik yang perlu dibalas kebaikannya.

Ketiga, saya nggak tahu masa depan. Saya nggak tahu tahun depan akan di mana dan ke mana. Tujuan saya ke Jogja jelas untuk berkembang. Dari segi apa pun. Maka, saya harus terus mengingat tujuan saya pindah Jogja. Biar hidup saya di sini mulai berkembang, nggak begini-begini saja. Dan, untuk orang tua saya, saya hanya bisa berdoa pada Allah. Agar apa yang mereka inginkan tentang saya terwujud. Saya menyayangi mereka. Saya ingin mereka bahagia, seperti mereka ingin melihat saya bahagia. Tuhan, kabulkanlah pinta mereka.