Selasa, 31 Januari 2017

30DWC #Day30: Your highs and lows for the month



Mungkin ini bisa disebut sebagai pasang-surut diri saya selama sebulan ini. Lagi-lagi, tema ini kebetulan pas dengan diri saya. Satu bulan di tahun baru telah berlalu. Tetapi, saya merasakan pasang-surut yang berbeda di bulan ini. Bahkan bisa dibilang sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Salah satu penyebabnya adalah challenge menulis yang saya ikuti.
Minat saya dengan menulis—tulisan curhat semacam ini—sedang naik. Saya jadi senang bercerita tentang hal-hal kecil dan sederhana yang pernah saya alami. Atau menuangkan isi hati yang terpendam melalui tulisan. Mungkin saya tidak bisa menulis satu tulisan setiap hari, tapi saya selalu berusaha meluangkan waktu untuk melunasi tulisan itu. Bisa dibilang “marathon challenge”. Hehehe. Dan, saya merasa senang melakukannya.
Sayangnya, mood saya untuk menulis fiksi justru turun. Padahal sudah ada beberapa ide cerita pendek yang ingin saya tuliskan. Minggu kemarin, saya coba menulis sebuah cerita pendek untuk #1minggu1cerita. Hasilnya, kurang memuaskan. Saya pun lebih antusias untuk kembali menulis curhatan seperti ini.
Keinginan saya untuk membaca buku juga sedang naik. Rasanya saya senang sekali melihat tumpukan novel yang saya pinjam dari seorang siswa. Tidak sabar untuk menuntaskan semua novel itu sampai akhir. Hingga tidak sabar untuk gajian dan membeli sebuah buku baru.
Sementara mood saya mengajar fisika sedang turun. Saya senang berada di kelas dengan banyak siswa. Tetapi, rasanya saya sedang tidak ingin membicarakan fisika. Ini seperti yang saya ceritakan sebelumnya.


30DWC #Day29: Your goals for the next 30 days...



Saya pernah bilang di postingan sebelumnya bahwa saya ingin menikmati tahun ini tanpa membebani diri. Tapi, melihat tema ini, rasanya saya ingin menuliskan beberapa target. Target kecil-kecil saja. J
Bulan Januari ini, saya mengikuti beberapa challenge menulis. Awalnya terasa terbebani. Saya harus mau mendorong diri untuk menulis setiap hari. Atau meluangkan waktu untuk melunasi tulisan yang tertunda. Hampir sebulan berlalu. Dan, saya mulai berpikir, kalau bulan depan tidak ada challenge seperti ini, saya akan bagaimana? Apa saya akan tetap rutin menulis di blog? Atau blog saya kembali usang? Apa saya akan terjebak dengan rutinitas, kemudian tidak sempat menulis?
Ah, saya harap itu tidak terjadi. Maka, saya harus mendorong diri lebih keras lagi. Salah satu cara mendorong diri adalah dengan membuat target.
Saya berharap, bulan depan bisa menulis di blog secara rutin. Tidak perlu setiap hari. Paling tidak, seminggu dua kali. Mengingat postingan #Renungan23 saya lumayan gagal, maka bulan depan saya akan coba menyambungnya dengan #Renungan24.
Soal memasak, saya ingin rutin belajar masak. Saya senang melakukannya. Saya mulai menemukan rasa cinta pada dapur, panci dan aroma bumbu dapur. Ingin mencoba resep-resep yang saya temukan di internet atau dari teman. Seminggu sekali di saat weekend juga tak apa. Bulan ini sebenarnya ada beberapa resep yang ingin saya coba. Tapi, saya harus bersabar karena anggarannya tidak ada. Hahaha!
Kemudian, saya ingin mencoba hal baru, yaitu membuat scrapbook. Saya sudah pernah bercerita tentang ini sebelumnya. Lagi-lagi terbentur anggaran. Semoga bulan depan saya bisa belajar membuat scrapbook. Amiiinn...


30DWC #Day28: Five things that make you laugh-out-loud



Hahahaha! Membaca tema ini saja saya langsung tertawa. Ah, rasanya saya ini orang yang mudah sekali dibuat tertawa. Apalagi saya memang suka orang yang humoris. Saya suka menonton stand-up comedy, Cak Lontong, membaca Shitlicious, dan yang berbau humor lainnya.
Kalau disuruh menuliskan lima hal, justru saya bingung. Biasanya saya tertawa begitu saja saat mendengar seseorang bercerita lucu-lucu. Kecuali, yang dijadikan bahan teratwaan adalah kelemahan orang lain, menirukan orang-orang kekurangan, mengolok-olok orang lain dan menyinggung perasaan orang lain. Selebihnya, saya akan tertawa kalau humornya tulus. Hahaha!


30DWC #Day27: Something that’s kicking ass right now



Sebenarnya saya kurang paham apa artinya. Tapi, melihat postingan challenge dari seorang teman yang jago sekali Bahasa Inggris, saya menyimpulkan bahwa ini tentang sesuatu yang menjadi masalah sampai sekarang.
Nah, ini kebetulan sekali dengan apa yang sedang saya alami dan rasakan akhir-akhir ini. Sudah dua minggu berjalan mood saya untuk belajar dan mengerjakan soal fisika turun tajam. Selama setahun menjadi tutor les di sebuah Bimbingan Belajar, saya sudah pernah mengalami ini beberapa kali. Tapi, tidak separah ini. Paling sehari atau dua hari saja mood saya turun.
Kalau sekarang, saya sampai ingin “berlari” dan tidak kembali lagi. Saya merasa lelah dan tidak ingin melakukannya. Ingin mencari pekerjaan lain, tapi saya takut. Saya takut rindu mengajar. Rindu pada tawa murid-murid saya. Rindu pada curhatan dan perkembangan mereka.
Banyak teman saya yang memilih bekerja di luar mengajar. Ada yang bekerja di Bank, Koperasi dan lain-lain. Saya sempat memergoki mereka rindu pada suasana kelas. Saya jadi semakin takut mengalaminya.
Tapi, bertahan seperti ini juga tidak banyak membantu. Saya selalu mengalami ingin “berlari” dan tidak kembali lagi mengerjakan soal-soal rumit itu. Jadi, sampai sekarang saya bingung. Sebenarnya, apa yang saya mau dan inginkan?
Di satu sisi saya ingin berada di kelas bersama dengan siswa. Membantu mereka menyelesaikan masalah, menjadi pendengar mereka, dan bergurau dengan mereka. Di sisi lain, saya tidak ingin belajar dan mengajar fisika. Lalu, apa yang akan saya lakukan di kelas kalau seperti itu?
Sampai sekarang saya tidak tahu jawabannya.




30DWC #Day26: You’d like to improve



Hal-hal yang ingin saya jadikan lebih baik termasuk salah satu yang sedang saya perjuangkan. Apalagi kalau bukan memberantas rasa malas pada diri saya.
Kadang, saya rindu dengan masa-masa SD dan SMP. Saat saya menjadi seorang yang rajin. Waktu SD, setiap tahun ajaran baru kita dipinjami buku paket dari sekolah dan membeli buku pendamping latihan. Buku pendamping latihan ini tidak tebal seperti buku paket. Saya masih ingat, kertasnya buram. Isinya berbagai latihan dan bacaan berupa cerita. Dan, saya selalu menghabiskan buku itu di hari yang sama saat buku dibagikan.
Untuk buku paket, favorit saya adalah buku paket Bahasa Indonesia. Ada banyak cerita di sana. Begitu dipinjami, saya pasti langsung membacanya saat istirahat dan sesampainya di rumah. Dalam sehari, saya sudah membaca semua cerita di dalamnya.
Buku paket pelajaran eksak seperti matematika, selalu saya kerjakan selangkah lebih maju dari apa yang diajarkan di kelas—mungkin kebiasaan ini yang membuat saya lebih suka sesuatu yang dipersiapkan sebelumnya daripada dadakan. Misal, di kelas baru latihan lima, maka saya sudah mengerjakannya sampai latihan tujuh atau delapan. Biasanya, saya mengerjakan soal-soal matematika selepas shalat subuh. Saat masih hening dan udara dingin. Saat teman-teman saya lebih banyak yang masih tidur. Bapak mengajarkan bahwa belajar selepas shalat subuh itu bagus. Pikiran masih fresh. Dan, saya membiasakan diri untuk itu.
Entah bagaimana, semakin ke sini, kerajinan saya semakin menurun. Masa-masa kejayaan kerajinan saya adalah waktu SD dan SMP. Sekarang, saya tidak serajin dulu. Novel-novel yang ingin dibaca menumpuk. Sebulan bisa menghabiskan satu novel saja sudah bagus. Rasanya susah sekali meluangkan waktu mengerjakan ini-itu yang sudah direncanakan. Padahal dulu saya bisa melakukan lebih.
Maka, saya berharap bisa mengurangi rasa malas.


30DWC #Day25: Think of any word...

Think of any word. Search it on google images. Write something inspired by the 11th image.
Itulah tema hari ini. Panjang ya. Hahaha! Dan, saya memilih kata tersesat. Gambar kesebelas yang muncul adalah berikut:



Seorang yang tersesat, pasti merasakan gejala yang ditunjukkan oleh gambar. Bingung, tidak tahu harus melangkah ke mana. Pusing, tidak tahu harus berpikir atau berbuat apa. Hingga tidak fokus dan tidak mood menjalani keseharian. Mungkin ini juga gejala yang seseorang rasakan ketika “tersesat dalam jurusan kuliah”.
Setelah lulus, tidak tahu harus melangkah ke mana. Latar belakang pendidikannya memberikan pilihan pekerjaan A dan B. Sementara dia lebih senang memilih pekerjaan D dan E. Nah kan, kalau sudah begitu muncullah pusing. Tidak tahu harus berbuat apa. Dampaknya, menjalani kehidupan sehari-hari pun rasanya setengah hati. Karena tidak tahu arah mana yang akan dituju. Saya membayangkan seseorang yang hidupnya agak berantakan karena itu.
Maka, saya berpikir bahwa mengenal diri sendiri, mengetahui minat dan kesukaan, sangatlah penting diketahui oleh seseorang sejak awal. Mungkin, sejak usia sekolah.
Sayangnya, setiap hari, saya harus bertemu dengan murid les yang masih tersesat. Mereka tidak tahu harus berjalan ke mana setelah lulus. Mereka tidak tahu jurusan apa yang akan diambil. Pihak BK sekolah pun tidak banyak membantu.
Saya rasa, ada yang salah dengan sistem ini. Setiap hari, mereka dijejali dengan sesuatu tanpa menumbuhkan rasa suka. Mereka melakukan rutinitas belajar yang merupakan kewajiban. Bukan kebutuhan. Mereka melakukannya hanya karena memang harus dilakukan. Bukan karena ingin melakukan. Akhirnya, ketika mereka harus memilih mana yang ingin dipelajari dan dijadikan masa depan, mereka akan bingung. Dan, tersesat dalam tujuan hidup.
            

Sabtu, 28 Januari 2017

KampusFiksi Writing Challenge #Day10: Aku tidak akan mengulangi lagi



Disuruh menyebutkan sebuah hal yang aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Tapi, sebenarnya ada tiga hal yang ingin kuungkapkan. Jadi, aku akan menuliskan ketiganya.
Pertama, aku tidak akan makan sosis abal-abal goreng di depan tempat les lagi. Ini kali kedua aku sakit karena mengonsumsi makanan tersebut. Dan, aku tidak ingin sakit seperti ini lagi.
Kedua, aku tidak akan mengalah pada sesuatu yang hatiku tidak yakini, walaupun itu menyakiti hati orang lain. Dulu sekali, aku pernah merasa berada di antara orang-orang yang tidak sejalan denganku. Lama aku berpikir untuk mengatakan yang sejujurnya. Tapi, aku selalu dihantui perengkaran yang akan terjadi. Dihantui perasaan bahwa mungkin hidupku akan terjal setelah itu, karena dihantui permusuhan dengan mereka. Kemudian aku memberikan diri mengatakan pada mereka “maaf kawan kita sudah tidak sejalan lagi”. Pertengkaran pun terjadi. Hubunganku dengan mereka tidak lagi bisa sama seperti dulu. Dan, aku tidak menyesal telah membuat keputusan mengatakan apa yang hatiku ingin katakan itu. Bahkan aku bersyukur telah mengatakannya dan bisa menjadi diriku yang sekarang.
Ketiga, aku tidak akan mengesampingkan diri demi laki-laki yang aku cintai. Itu adalah kesalahan terbodoh yang pernah kubuat.

*ditulis dalam keadaan sakit karena sosis goreng depan tempat les.



Memori Daun Semanggi




“Ada satu hal yang membuatku tidak ingin pulang ke kampung halaman. Ingatan tentang daun semanggi semakin terlihat nyata saat aku pulang. Walau sawah di dekat rumahku sekarang sudah rusak. Sudah tidak ada lagi daun semanggi yang tumbuh subur di sekitar galengan. Tapi, memori tentang daun semanggi beberapa tahun lalu selalu berkelebat saat aku menatap hamparan sawah rusak itu.
“Sayangnya minggu kemarin aku harus pulang. Gaista, adik perempuanku, akan menikah. Tidak mungkin aku menolak pinta Ibu untuk pulang. Dua tahun sudah aku bersembunyi. Melewatkan prosesi lamaran Gaista. Melewatkan nikmatnya Jenang Kudus[1], Gemblong[2] dan Wajik[3] seserahan calon suaminya.
“Sore itu, aku berjalan dengan wajah sedikit menunduk. Aku menyadari bahwa telah salah memilih waktu pulang. Saat sore, para tetangga biasanya berada di teras rumah mereka. Ibu-ibu akan bergossip. Dan, aku berjalan di hadapan mereka seperti mangsa empuk. Sepanjang gang, setelah aku meninggalkan senyum palsu dan jejak kaki untuk ibu-ibu itu, sayup telingaku mendengar mereka mulai berbicara tentang aku. Tentang aku yang tidak pulang karena putus cinta. Atau tentang aku yang memilih mengejar karir di kota daripada menikah seperti kebanyakan perempuan di desaku. Mungkin mereka juga akan membicarakan statusku yang masih lajang sementara gadis seumuranku sudah menggendong bayi.
“Mungkin mereka juga sering bergossip di depan ibu. Karena malamnya, ibu mulai mengusikku dengan pertanyaan dan masa lalu. Ibu bilang, kemarin Toni pergi ke Gunung Muria., membeli Parijotho[4] untuk istrinya. Aku sedikit tersentak. Istri Toni sudah hamil. Sementara aku masih terperangkap pada kenangan yang tidak akan tumbuh, beberapa tahun silam.
“Aku sempat bertemu Toni. Sebelum kembali ke sini, aku menengok sawah rusak dekat rumah. Kucari daun semanggi di sana. Hanya ada beberapa yang tumbuh. Waktu kecil, aku dan Toni senang sekali bermain di sawah itu. Kalau musim kemarau, aku menemaninya main layangan. Kalau musim hujan, aku dan dia mencari keong. Kalau daun semanggi sedang tumbuh lebat, kita akan memanennya. Ibu memasaknya jadi oseng lezat yang kita makan bersama. Kemudian, aku memetik daun semanggi itu dan teringat pada suatu sore beberapa tahun lalu. Saat Toni menyatakan cintanya padaku. Aku baru lulus SMA, sedang dia sudah bekerja di bengkel sejak lulus SMK setahun lalu. Aku menerima daun semanggi darinya dengan senang hati.
“Empat tahun berjalan, aku dan dia mengulang sore yang sama. Dia memberiku daun semanggi dari sawah itu dan melamarku. Sayangnya, kita menemukan akhir yang berbeda. Aku belum ingin menikah. Dan, kita pun berakhir.
“Air mataku hampir jatuh saat mengingat masa lalu itu. Hingga suara Toni mengejutkanku. Dia berdiri tepat di belakangku. Mungkin dia juga sedang menyesali masa lalu sepertiku. Dia bilang, seandainya dulu kita tidak pernah pacaran ke Gunung Muria, mungkin kita tidak akan putus. Ah, dia percaya mitos[5] itu. Aku hanya terdiam kemudian pergi.
“Sebelum kembali ke sini, aku sempat ziarah ke makan Sunan Kudus. Sepanjang jalan menuju sana, aku teringat Toni lagi. Dulu, aku dan dia selalu pergi ke Ndandangan[6] bersama. Saat Buka Luwur[7] tiba, kita juga mengantre Nasi Jangkrik[8] bersama. Tapi, sekaramg sudah tidak akan seperti itu lagi.
“Selesai berdoa, aku merenung di luar Masjid Menara Kudus sembari menatap Menara Kudus. Aku dan Toni selalu kagum dengan bangunan Menara Kudus yang hanya dari batu bata ditumpuk-tumpuk. Tanpa perekat semen atau pasir. Dan, bangunan itu masih ada sampai sekarang. Ah, lagi-lagi Toni yang ada dipikiranku. Kudus, kampung halamanku, hanya mengingatkanku pada Toni saja. Itu sebabnya, aku terus bersembunyi di sini. Tidak ingin pulang. Tapi, kepulanganku kemarin rasanya membawa nasihat berbeda untuk diriku sendiri.”
Rinn terdiam sejenak setelah bercerita panjang. Dia mengambil napas kemudian menyesap cappucino di hadapannya.
“Apa itu?” tanya Rio.
Laki-laki itu sedari tadi mengamati gerak bibir Rinn. Mendengar setiap apa yang keluar dari mulut Rinn. Merasakan getaran perasaan Rinn saat suaranya bergetar ketika mengingat masa lalu bersama Toni.
“Perkataan Toni tentang mitos itu dan hubungan kita, rasanya sudah membuktikan banyak. Bahwa aku dan dia memang tidak bisa bersama karena kita sudah berbeda. Dulu, saat kita tumbuh di desa yang sama, memandang hidup dengan cara yang sama, aku sangat menyukainya. Jujur saja, aku pernah berharap jadi istrinya. Sekarang, saat aku adalah seorang perempuan dengan banyak sudut pandang yang kota ini berikan padaku, aku bukanlah Rinn yang menginginkan itu lagi. Jelas sudah, Toni ingin kehidupan seperti apa yang dia inginkan sekarang. Menikah, punya anak, hidup tenteram di kampung halaman. Mungkin dia berpikir bahwa aku juga seperti gadis-gadis di desaku lainnya. Menikah selepas SMA. Padahal, aku ingin belajar banyak dari kehidupan di belahan bumi lain. Tidak hanya di kampung halamanku. Kita sudah tak sejalan. Kukatakan itu pada diriku sendiri. Kemudian aku beranjak dari Masjid Menara Kudus dan kembali ke sini. Aku ingin menemuimu dan menceritakan semuanya.”
Rio tersenyum.
“Sekarang sudah kau ceritakan, Rinn. Permintaanmu terkabul.”
“Iya, aku merasa lega dan bahagia,” Rinn tersenyum lebar.
Selebar hatinya yang baru saja melepas sesak terpendam bertahun-tahun. Dan, melepas ketakutannya untuk pulang ke kampung halaman.


Catatan:
[1] Jenang Kudus: Makanan khas Kudus yang biasanya menjadi oleh-oleh wisatawan maupun seserahan lamaran.
[2] Gemblong: salah satu seserahan wajib untuk lamaran warga Kudus. Terbuat dari tepung ketan yang diuleni, berwarna putih dan elastis.
[3] Wajik: salah satu seserahan lamaran warga Kudus. terbuat dari ketan dan gula, rasanya sangat manis dan berwarna-warni.
[4] Parijotho: buah yang menjadi oleh-oleh khas saat berkunjung ke Gunung Muria. Warga Kudus percaya, jika wanita hamil yang ngidam dan memakan buah Parijhoto, maka bayi yang dikandungnya akan bagus budi pekertinya.
[5] Mitos Gunung Muria: setiap pasangan yang berpacaran di sana, maka akan putus. Sedangkan orang-orang yang “dipertemukan” di sana justru akan berjodoh.
[7] Buka Luwur: tradisi membuka dan mengganti kain penutup makam Sunan Kudus. Dilakukan pada 10 Muharram.
[8] Nasi Jangkrik: Diberikan secara gratis saat buka luwur, pada pagi hari. Berupa nasi yang dibungkus daun jati dan diberi lauk daging kerbau.



*tulisan ini diikutkan dalam #1minggu1cerita
*gambar merupakan logo #1minggu1cerita




Kamis, 26 Januari 2017

30DWC #Day23: A letter to someone



Untuk seseorang di masa lalu...
Hai, sekarang kamu sudah jadi apa? Apa kamu masih susah dibangunkan? Ah, aku hanya bertanya saja. Tidak ada maksud untuk mengungkit masa lalu itu. Tapi, aku perlu memberi tahumu bahwa kamu harus membaca surat ini. Aku merasa masih ada yang mengganjal.
Dulu, kita sama menghilang dengan tidak baik. Mungkin saat itu kita sedang emosi dan belum dewasa. Jadi, hanya itu yang bisa kita lakukan.
Kamu perlu tahu, bahwa di balik semua yang kita lalui, aku ingin semuanya—di antara kita—berubah jadi baik. Aku ingin, suatu saat nanti saat bertemu di jalan kita bisa saling tersenyum. Bukan saling membuang muka dan merasa tidak kenal.
Hey, aku yakin sekarang kamu sudah lebih dewasa daripada saat itu. Aku juga begitu. Jadi, mungkin suatu hari nanti kita bisa bertemu dan memperbaiki segalanya. Bukan mengubah apa yang telah kita jalani sekarang. Hanya memperbaiki apa yang buruk di masa lalu. Dan, bersama-sama menertawakan sikap kita di masa lalu itu. Ditemani dua gelas teh hangat.
Tapi, aku tidak bisa berharap banyak. Jika kamu masih sekeras dulu, maka pertemuan itu tidak akan pernah ada. Tidak ada pula tegur-sapa di antara kita. Bahkan, sejarah antara kita tidak akan pernah kamu anggap.



Salam hangat,                                                    
putri lestari


30DWC #Day22: Your body and how comfort you are...



Tema hari ini sebenarnya adalah “Put Your Music On Shuffle And Post The First Ten Songs”. Tapi, lagu yang saya masukkan di HP mungkin tidak ada sepuluh. Sedangkan yang ada di laptop ada ratusan dan itu bukan milik saya semuanya. Sewaktu masih ngekost, beberapa teman sering mengisi laptop saya dengan lagu-lagu favorit mereka. Jadi, saya ikut-ikutan Duo Tante (Tante Siska dan Tante Anggi) yang terkadang mengganti tema. Dan, tema kali ini inspirasinya dari postingan Tante Siska.
Tubuh saya bukanlah tubuh Angelina Joulie. Tapi, inilah tubuh yang melindungi hati saya. Tubuh yang memerangkap banyak lemak (Ha!). Dan, tubuh yang punya banyak kekurangan di bagian mulut.
Dari cerita ibu, saya tahu bahawa saat masih kecil, saya pernah terjatuh dari sepeda. Kakak laki-laki saya yang memboncengkan. Saya jatuh telungkup, bagian mulut terbentur. Entah peristiwa itu atau tidak yang membuat pertumbuhan gigi bawah saya lebih maju daripada gigi atas. Semua teman-teman punya gigi atas yang lebih menonol, tetapi saya tidak.
Tak sampai disitu saja. Saat kelas dua SD, saya punya benjolan kecil di area dalam mulut dan menempel pada gusi. Mereka menamainya semacam tumor. Saat dilakukan operasi, mereka harus mencabut dua gigi depan bagian atas. Dan, sampai sekarang hanya satu yang tumbuh. Itu membuat dereran gigi depan terdapat renggangan.
Tentu saja saya malu dan tidak nyaman. Kedua telapak tangan saya selalu menutupi mulut ketika tertawa. Saya juga tidak berani tertawa sampai terbahak lebar. Untuk foto, saya tidak pernah memperlihatkan gigi saat tersenyum pada kamera.
Masalah mulut dan gigi mungkin saja bisa dengan mudah diselesaikan jika pergi ke dokter gigi. Tapi, kedua orang tua saya bukanlah orang yang mampu untuk melakukan itu. Jadi, saya harus menerima ini semua. Tak jarang, teman-teman menyinggung tentang gigi—saat kesal pada saya.
Kalau diingat, hanya sedikit yang menyinggung perkara gigi di depan saya. Saya berpikir bahwa mungkin saja mereka yang tidak membicarakan tentang gigi, tidak ingin membuat saya sakit hati. Karena saya tidak pernah melukai hati mereka. Buat apa melukai hati saya hanya dengan “mengejek” kekurangan fisik. Pikiran itu mengantarkan saya pada pemahaman bahwa orang lain lebih menghargai hati saya daripada fisik. Jadi, saya tidak minder untuk berteman dengan mereka.
Sedangkan tentang memperlihatkan gigi saya saat tersenyum pada kamera, saya belum bisa. Rasanya tidak percaya diri.


30DWC #Day21: Three Lessons Do You Want Your Children To Learn From You



Saya belum menjadi seorang ibu. Jadi, tidak tahu nantinya akan seperti apa. Sekarang, yang ada di pikiran ketika disodori pertanyaan seperti tema challenge, hanya tiga hal ini. Entah suatu saat nanti akan berubah atau tidak. Manusia selalu berkembang. Begitu juga diri saya. Siapa tahu, saya menemukan “harta karun” dalam diri sendiri lagi.
1.    Lembut Hati (Baik Hati)
Beberapa waktu lalu, saya dan teman mengeluhkan tentang mengapa saya dan dia selalu jadi pihak yang tersakiti. Mulai dari dibohongi para mantan sampai gebetan direbut teman. Asal saja saya nyeletuk bahwa mungkin memang hukum alam menetapkan kita sebagai pihak tersakiti. Lalu, kata seorang teman lain yang ikut dalam percakapan itu, orang baik akan selalu tersakiti. Saat itu, aku berpikir bahwa mungkin perkataan itu benar. Mungkin saja aku dan dia baik, sehingga selalu jadi “korban”. Saya bertanya pada diri sendiri. Apakah saya lebih rela disakiti atau ingin berubah menjadi pihak yang sebaliknya?
Hati kecil saya menjawab rela disakiti. Dan, saya ingin anak saya belajar tentang kebaikan hati itu. Saya ingin punya anak berhati baik, agar tidak menambah pihak orang yang menyakiti. Kemudian, saya juga berharap dia memiliki hati yang lembut. Hati yang lembut lebih mudah disentuh. Mungkin ini juga salah satu cerminan diri saya yang tidak suka kekerasan.
2.    Perenung
Setiap apa yang terjadi pada diri ini, jika tidak direnungkan hanya akan sia-sia. Tidak berarti apa-apa. Tidak punya makna apa-apa. Saya ingin anak saya belajar merenungi setiap apa yang terjadi kemudian mengambil sejumput pelajaran darinya. Itu akan menjadikannya sebagai seorang pembelajar.
3.    Open-minded
Saya sudah pernah bercerita tentang open-minded di postingan sebelumnya. Intinya, saya tidak ingin anak-anak terkungkung dalam sekat yang dibuat oleh pikiran sendiri.

30DWC #Day20: Post About Three Celebrity Crushes



1.    Amir Khan
Beberapa kali nonton film Amir Khan seperti Mann, sayu justru mulai menyukainya saat bermain di 3 Idiot. Aktingnya bagus. Karakter yang dimainkan juga menarik. Kemudian, saya tahu bahwa Amir Khan tidak pernah mau datang ke festival film atau penghargaan. Seingat saya alasannya mulia. Tapi, saya lupa tepatnya. Semakinlah saya menyukainya.

2.    Simon Cowell
Saya lebih mengenalnya sebagai juri di acara pencarian bakat. Dia ini bertangan dingin. Seolah punya kemampuan melihat bakat di dalam diri seseorang. Simon juga sering sekali kontra pendapat dengan teman-temannya. Dan, saya merasa satu selera dengannya. Pembawaan sifatnya yang dingin, baik hati dan humor-humor cerdasnya sangat memikat hati saya.
Pernah suatu kali seorang juri perempuan America’s Got Talent menolak seorang gadis kecil yang sedang bernyanyi. Perempuan itu mengatakan bahwa dia tidak menyukainya. Juri lain dan penonton menilai juri perempuan itu sedikit jahat pada si gadis gadis cilik. Simon saja tidak berkomentar pedas seperti biasanya, karena tahu yang dihadapinya seorang gadis cilik—ini sangat memesona!. Ketika para juri berjalan memasuki koridor ruang make-up. Juri perempuan tadi tertawa karena sesuatu hal lucu. Simon melucu ke kamera dengan mengatakan “Itulah tawa seorang iblis yang baru saja menghancurkan mimpi gadis cilik”. Hahaha!
Ketika ada seorang juri laki-laki baru di season lain yang agaknya akan kontra dengan Simon, humor Simon juga keluar. Di ruang tunggu, Simon duduk berjauhan dengan juri baru itu. Mereka sama-sama terdiam. Ketika ditanya, Simon menjawab bahwa dia sedang melakukan bonding dengan juri baru. Hahaha. Ah, saya jadi merindukannya.

3.    Dian Sastro
Saya kira sebagian besar gadis di Indonesia menginginkan bisa seperti Dian Sastro yang membaca puisi kemudian bernyanyi di film AADC. Dia juga menari di kamar dan menyanyikan puisinya sendiri. Kakak perempuan saya sampai membeli sebuah gitar saat itu. Kakak saya juga menciptakan sebuah tarian untuk lagu kesukaannya. Hha!
Saya sendiri, menyukai Dian Sasto di film itu. Tapi, lebih suka lagi ketika menontonnya di sebuah acara talkshow. Dian menceritakan kehidupan pribadinya. Tentang dirinya yang vakum dari dunia film. Dian Sastro merasa bahwa film Indonesia tidak ada yang sesuai dengan idelismenya. Jadi, dia memilih untuk berhenti dulu.
Dia juga bercerita tentang kehidupan karirnya yang benar-benar dimulai dari bawah. Dengan ijasah sarjana filsafat yang dianggap sebagian besar orang sebagai ijasah tidak laku, dia mencari kerja. Memasukkan lamaran ke mana saja. Tanpa campur tangan orang tuanya, yang mungkin saat itu bisa membantunya masuk ke perusahaan dengan mudah. Ini mengagumkan! Di saat orang-orang mengandalkan kekuatan “orang dalam”, dia justru menolak itu. Diceritakan juga bahwa dia benar-benar merintis dari posisi bawah, hingga bisa naik ke posisi tinggi di perusahaan yang menerimanya.



Rabu, 25 Januari 2017

30DWC #Day19: Discuss Your First Love



Kalau diingat, dulu aku mata keranjang sekali. Waktu SD, aku naksir dengan cowok paling ganteng satu kelas. Tapi, tidak hanya ganteng saja. Dia juga pintar dan baik. Aku tidak tahu sejak kapan mulai menyukainya. Mungkin sejak kita selalu disandingkan bersama.
Aku sering mendapat rangking satu, dan dia peringkat kedua. Sering sekali seperti itu. Wali kelas kita di kelas 3, kemudian menyandingkan kita dalam satu bangku. Jadi, di sekolahku dulu, untuk kelas satu sampai lima bangkunya panjang untuk dua orang. Bahkan muat untuk tiga sampai empat orang. Karena dulu siswa di sekolahku membludak, maka bangkunya dibuat panjang seperti itu. Kalau sekarang, hanya diduduki dua orang saja.
Kita satu bangku selama dua tahun. Karena wali kelas 4 juga memiliki ide yang sama dengan sebelumnya. Dari situlah, kita semakin dekat. Kita saling mengenal lebih jauh. Dia anak cowok paling baik dan popular di kelas. Dia rajin mengerjakan PR, piket dan pandai bergaul. Seingatku, cuma dia anak cowok yang mau berangkat lebih pagi kemudian menyapu saat piket. Anak cowok lainnya lebih senang menyerahkan tugas piket pada anak perempuan. Hanya dia juga yang rajin mengerjakan PR. Lainnya lebih sering datang lebih pagi kemudian menyalin jawaban teman. Sementara aku dan dia sudah siap dengan PR kita, kemudian saling mencocokkan jawaban. Ngomong-ngomong, kita sering sekali mencocokkan jawaban. Kita sering berdiskusi jika jawabannya berbeda. Dan, dia pandai bergaul. Dia punya banyak teman, tidak sepertiku. Sifatnya itu yang membuat popular, di kalangan anak perempuan di kelas dan lain kelas.
Aku rasa, semua anak perempuan di kelas menyukainya. Tapi, mereka tidak punya kesempatan untuk dekat dengannya seperti aku. Selain sebangku, kita juga sering dikirim untuk lomba cerdas-cermat maupun olimpiade tingkat kecamatan. Kita juga disatukan dalam satu kelompok belajar dan kelompok tugas-tugas.
Dulu, kita sama sekali tidak pernah tahu perasaan masing-masing. Kita hanya sering bersama dan cocok. Satu kelas melihat kita sebagai “pasangan”. Tapi, kita selalu mengelaknya. Apa lagi setelah tahu, bahwa ternyata kita saudara jauh. Hahaha! Ini lucu!
Jadi, aku dan dia punya silsilah dari nenek yang entah bagaimana intinya kita masih saudara. Saat masih kecil, ternyata kedua orang tua kita sering membawa kita untuk main bersama. Mungkin saat usia satu sampai tiga tahun. Karena aku dan dia sama-sama tidak ingat. Hahaha!


KampusFiksi Writing Challenge #Day8: Inilah saya.



Tulislah lima fakta tentang dirimu yang berlawanan dengan opini orang lain. Wah, tema kali ini asyik! Saya cukup bersemangat dengan tema ini. Karena saya telah mendengar banyak ekspektasi orang lain tentang diri saya yang cukup berlawanan dengan diri saya sesungguhnya. Hanya karena melihat dari sesuatu yang terlihat saja.

1.    Sungguh, saya pernah pacaran, HTS, dan punya gebetan.
Mungkin karena saya kalem, tidak pernah terlihat mojok di sekolah dengan laki-laki, tidak pernah terlihat nonton bioskop atau makan dengan seorang laki-laki, maka mereka menganggap saya murni tidak pernah pacaran. Apalagi saat saya masuk ke lingkungan baru. Mereka tanpa menanyakan latar belakang kehidupan cinta saya, sudah beranggapan seperti itu lebih dulu. Di lingkungan baru kemarin, semua orang menganggap saya tidak pernah pacaran selama hidup. Satu-dua yang penasaran bertanya pada saya dengan sedikit sungkan. Saya mengalami hal semacam ini sangat sering. Mungkin saja, di mata mereka saya terlalu kalem untuk pacaran. Padahal pacaran kan tentang hati bukan tentang kalem. #eh.
2.    Saya suka laki-laki “biasa”.
Entah dari mana akarnya mereka bisa berpikir bahwa saya hanya “mau” dengan laki-laki macam ustadz. Sungguh, ini dusta! Haha! Bahkan belum pernah terlintas di pikiran untuk menyukai seorang ustadz. Mereka bahkan berpikir saya ini anti pacaran, kemudian maunya taaruf diajak nikah. Tolong jangan berpikir seperti ini hanya gara-gara saya memakai jilbab yang menutup dada dan sering mengajak kalian shalat. Pertama, saya memakai pakaian seperti ini karena saya nyaman memakainya. Kedua, saya mengajak shalat karena sudah adzan. Ini dua hal yang biasa saja. Tapi, bisa membuat kalian berpikir seperti itu. Percayalah, saya menyukai seorang laki-laki bukan karena “profesinya”. Orang baik juga banyak yang tidak jadi ustadz.
3.    Saya tak sepintar itu.
Mungkin sudah rejeki kalau murid les saya terus bertambah tiap naik semester. Mereka berpikir saya sangat jago fisika. Padahal tidak. Saya hanya menyayangi mereka dan akan berusaha memberikan yang terbaik pada mereka. Dari apa yang saya punya hingga apa yang mereka butuhkan. Jika mereka butuh sesuatu yang belum saya kuasai, maka saya akan belajar. Karena saya tahu, mereka membutuhkan saya untuk membimbing mereka. Saya juga tidak sempurna dan pernah melakukan kesalahan. Dari sana saya belajar. Saya tidak pintar, tetapi saya mau belajar.
4.    Saya tak sekeren itu.
Saya memang senang menuliskan beberapa cerita atau kalimat-kalimat yang menjadi penyalur kegelisahan. Sering saya memasangnya di akun-akun media sosial. Teman-teman yang membaca sering kagum dengan kalimat itu. Kemudian memuji saya berlebihan. Atau mengklaim saya sebagai “penulis”. Padahal, saya belum pernah menerbitkan sebuah buku. Tulisan saya belum pernah dimuat di media. Teman-teman yang berpikir saya keren, mungkin saja memiliki minta berbeda dengan saya. Hingga mereka mengatai saya keren karena melakukan apa yang mereka tidak lakukan. Percayalah, saya tidak sekeren itu.
5.    Saya tidak seratus persen “alim”.
Kalian cukup tahu saja, saya pernah pulang ke kost tengah malam. Pernah juga naik motor berdua—waktu itu dengan Farrah—dari Solo ke Jogja jam satu dini hari. Saat itu, kita sedang kembali dari sebuah acara. Saya pernah membaca karya Lisa Kleypas, Christian Simamora dan trilogi Fifty Shades of Grey. Jangan hanya melihat bahwa saya pernah membaca Ayat-Ayat Cinta atau karya Asma Nadia. Sebenarnya, saya juga tidak paham apa definisi alim yang mereka lekatkan. Tapi, saya rasa mereka perlu berpikir ulang saat membaca tulisan ini. Jika yaang mereka maksudkan alim adalah tidak pernah melakukan hal-hal semacam itu.

Ya, inilah saya yang sesungguhnya. Saya bukan bidadari tanpa sayap. Saya hanya perempuan yang memakai payung saat hujan.
Mungkin mereka tidak benar-benar mengenal saya ketika beropini yang sebaliknya.


KampusFiksi Writing Challenge #Day7: Teruntuk saya, ingatlah ini...



Saya cukup bingung menulis dengan tema kali ini: tulislah tulisan yang dapat membuatmu merasa kuat. Tidak tahu harus menulis apa. Jadi, maafkan kalau apa yang saya tulis ini cukup random dan melenceng dari tema. Hehe.
·           Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah jawaban dari teka-teki takdir. Terkadang memang lucu dan aneh. Begitulah yang namanya kehidupan. Saya harus mengerti itu. Orang lain mungkin tidak mengerti dan sering sekali menertawakan apa yang terjadi pada hidup saya. Saya tidak perlu memusingkannya. Apa yang keluar dari mulut mereka adalah pertanda bahwa pemahamannya tentang hidup tidak seperti saya.
·           Dari dulu, masalah memikirkan sesuatu terlalu jauh sebelum dimulai selalu melanda saya. Tapi, sekarang saya ingin itu berubah. Tidak perlu khawatir apa yang akan terjadi nanti. Mulai saja, kemudian renungkan dan belajar dari apa yang dihasilkan. Karena tidak menghasilkan apa-apa itu rasanya menyesakkan.
·      Setiap orang pasti mempunyai kekurangan dan kelebihan. Tidak ada yang lahir dengan kekurangan saja atau kelebihan saja. Tidak ada yang lahir dalam keadaan tidak layak. Kadang, orang lain tampak begitu kerena sementara diri sendiri tidak. Itu hanya karena saya tidak mau melihat lebih dalam pada diri sendiri. Padahal, saya juga spesial seperti mereka. Hanya saja spesial dalam bentuk yang berbeda.
·           Saat teman-teman mulai mengasihani dan memandang saya sebagai perempuan menyedihkan karena masih jomblo di usia 24 tahun, maka saya perlu mengatakan kepada mereka bahwa jalan kita berbeda. Kita tidak memandang ke arah yang sama. Untuk apa saya mendengarkan mereka. Seperti kalian yang mengasihani saya, saya pun tidak ingin menjalani pernikahan seperti kalian.
Saya cukupkan sedikit tulisan yang lebih mengarah ke motivasi untuk diri sendiri. Hha!

Senin, 23 Januari 2017

KampusFiksi Writing Challenge #Day6: Kubanggakan Tapi Kauremehkan



Hari ini temanya adalah hal yang pernah kubanggakan, tetapi justru diremehkan orang lain. Tidak banyak yang sering kubanggakan. Aku bahkan tidak bangga dengan diriku sendiri—aku menyukai diriku. Haha! Mungkin hanya ini yang kuingat.
Waktu kecil, sebelum masuk TK aku sudah tahu tanggal lahirku dan zodiakku. Aku bangga sekali, karena hanya aku yang tahu nama-nama Capricorn, Aquarius, Pisces dan lain-lain. Merasa sangat keren. Tapi, beberapa teman justru tidak perduli atas pengetahuanku itu. Mereka lebih bangga kalau aku bisa main yoyo atau gasing dari kayu yang muternya bisa lama. Sementara aku tidak bisa keduanya. Dulu, aku juga bangga karena sudah bisa membaca sebelum masuk SD. Tapi, teman-temanku lebih bangga mereka bisa menggambar.
Ikut challenge begini aku juga merasa bangga. Bangga dong, dalam satu bulan bisa mengisi blog dengan banyak tulisan. Tapi, teman-teman mengajar di bimbel (bimbingan belajar) sama sekali tidak ada yang melihatnya keren. Bagi mereka, yang membanggakan itu bisa menulis atau menyelesaikan administrasi keguruan. Haha!