“Ada
satu hal yang membuatku tidak ingin pulang ke kampung halaman. Ingatan tentang
daun semanggi semakin terlihat nyata saat aku pulang. Walau sawah di dekat
rumahku sekarang sudah rusak. Sudah tidak ada lagi daun semanggi yang tumbuh
subur di sekitar galengan. Tapi, memori tentang daun semanggi beberapa tahun
lalu selalu berkelebat saat aku menatap hamparan sawah rusak itu.
“Sayangnya
minggu kemarin aku harus pulang. Gaista, adik perempuanku, akan menikah. Tidak
mungkin aku menolak pinta Ibu untuk pulang. Dua tahun sudah aku bersembunyi. Melewatkan
prosesi lamaran Gaista. Melewatkan nikmatnya Jenang Kudus[1],
Gemblong[2] dan Wajik[3] seserahan calon suaminya.
“Sore
itu, aku berjalan dengan wajah sedikit menunduk. Aku menyadari bahwa telah
salah memilih waktu pulang. Saat sore, para tetangga biasanya berada di teras
rumah mereka. Ibu-ibu akan bergossip. Dan, aku berjalan di hadapan mereka
seperti mangsa empuk. Sepanjang gang, setelah aku meninggalkan senyum palsu dan
jejak kaki untuk ibu-ibu itu, sayup telingaku mendengar mereka mulai berbicara
tentang aku. Tentang aku yang tidak pulang karena putus cinta. Atau tentang aku
yang memilih mengejar karir di kota daripada menikah seperti kebanyakan perempuan
di desaku. Mungkin mereka juga akan membicarakan statusku yang masih lajang
sementara gadis seumuranku sudah menggendong bayi.
“Mungkin
mereka juga sering bergossip di depan ibu. Karena malamnya, ibu mulai mengusikku
dengan pertanyaan dan masa lalu. Ibu bilang, kemarin Toni pergi ke Gunung
Muria., membeli Parijotho[4] untuk istrinya. Aku sedikit tersentak. Istri
Toni sudah hamil. Sementara aku masih terperangkap pada kenangan yang tidak
akan tumbuh, beberapa tahun silam.
“Aku
sempat bertemu Toni. Sebelum kembali ke sini, aku menengok sawah rusak dekat
rumah. Kucari daun semanggi di sana. Hanya ada beberapa yang tumbuh. Waktu
kecil, aku dan Toni senang sekali bermain di sawah itu. Kalau musim kemarau,
aku menemaninya main layangan. Kalau musim hujan, aku dan dia mencari keong. Kalau
daun semanggi sedang tumbuh lebat, kita akan memanennya. Ibu memasaknya jadi oseng
lezat yang kita makan bersama. Kemudian, aku memetik daun semanggi itu dan
teringat pada suatu sore beberapa tahun lalu. Saat Toni menyatakan cintanya
padaku. Aku baru lulus SMA, sedang dia sudah bekerja di bengkel sejak lulus SMK
setahun lalu. Aku menerima daun semanggi darinya dengan senang hati.
“Empat
tahun berjalan, aku dan dia mengulang sore yang sama. Dia memberiku daun
semanggi dari sawah itu dan melamarku. Sayangnya, kita menemukan akhir yang
berbeda. Aku belum ingin menikah. Dan, kita pun berakhir.
“Air
mataku hampir jatuh saat mengingat masa lalu itu. Hingga suara Toni
mengejutkanku. Dia berdiri tepat di belakangku. Mungkin dia juga sedang
menyesali masa lalu sepertiku. Dia bilang, seandainya dulu kita tidak pernah
pacaran ke Gunung Muria, mungkin kita tidak akan putus. Ah, dia percaya mitos[5]
itu. Aku hanya terdiam kemudian pergi.
“Sebelum
kembali ke sini, aku sempat ziarah ke makan Sunan Kudus. Sepanjang jalan menuju
sana, aku teringat Toni lagi. Dulu, aku dan dia selalu pergi ke Ndandangan[6]
bersama. Saat Buka Luwur[7] tiba, kita juga mengantre Nasi Jangkrik[8]
bersama. Tapi, sekaramg sudah tidak akan seperti itu lagi.
“Selesai
berdoa, aku merenung di luar Masjid Menara Kudus sembari menatap Menara Kudus.
Aku dan Toni selalu kagum dengan bangunan Menara Kudus yang hanya dari batu
bata ditumpuk-tumpuk. Tanpa perekat semen atau pasir. Dan, bangunan itu masih
ada sampai sekarang. Ah, lagi-lagi Toni yang ada dipikiranku. Kudus, kampung
halamanku, hanya mengingatkanku pada Toni saja. Itu sebabnya, aku terus
bersembunyi di sini. Tidak ingin pulang. Tapi, kepulanganku kemarin rasanya
membawa nasihat berbeda untuk diriku sendiri.”
Rinn
terdiam sejenak setelah bercerita panjang. Dia mengambil napas kemudian
menyesap cappucino di hadapannya.
“Apa
itu?” tanya Rio.
Laki-laki
itu sedari tadi mengamati gerak bibir Rinn. Mendengar setiap apa yang keluar
dari mulut Rinn. Merasakan getaran perasaan Rinn saat suaranya bergetar ketika
mengingat masa lalu bersama Toni.
“Perkataan
Toni tentang mitos itu dan hubungan kita, rasanya sudah membuktikan banyak.
Bahwa aku dan dia memang tidak bisa bersama karena kita sudah berbeda. Dulu,
saat kita tumbuh di desa yang sama, memandang hidup dengan cara yang sama, aku
sangat menyukainya. Jujur saja, aku pernah berharap jadi istrinya. Sekarang,
saat aku adalah seorang perempuan dengan banyak sudut pandang yang kota ini
berikan padaku, aku bukanlah Rinn yang menginginkan itu lagi. Jelas sudah, Toni
ingin kehidupan seperti apa yang dia inginkan sekarang. Menikah, punya anak, hidup
tenteram di kampung halaman. Mungkin dia berpikir bahwa aku juga seperti
gadis-gadis di desaku lainnya. Menikah selepas SMA. Padahal, aku ingin belajar
banyak dari kehidupan di belahan bumi lain. Tidak hanya di kampung halamanku.
Kita sudah tak sejalan. Kukatakan itu pada diriku sendiri. Kemudian aku
beranjak dari Masjid Menara Kudus dan kembali ke sini. Aku ingin menemuimu dan menceritakan
semuanya.”
Rio
tersenyum.
“Sekarang
sudah kau ceritakan, Rinn. Permintaanmu terkabul.”
“Iya,
aku merasa lega dan bahagia,” Rinn tersenyum lebar.
Selebar
hatinya yang baru saja melepas sesak terpendam bertahun-tahun. Dan, melepas
ketakutannya untuk pulang ke kampung halaman.
Catatan:
[1]
Jenang
Kudus: Makanan khas Kudus yang biasanya menjadi oleh-oleh wisatawan maupun
seserahan lamaran.
[2]
Gemblong:
salah satu seserahan wajib untuk lamaran warga Kudus. Terbuat dari tepung ketan
yang diuleni, berwarna putih dan elastis.
[3]
Wajik:
salah satu seserahan lamaran warga Kudus. terbuat dari ketan dan gula, rasanya
sangat manis dan berwarna-warni.
[4]
Parijotho:
buah yang menjadi oleh-oleh khas saat berkunjung ke Gunung Muria. Warga Kudus
percaya, jika wanita hamil yang ngidam dan memakan buah Parijhoto, maka bayi
yang dikandungnya akan bagus budi pekertinya.
[5]
Mitos
Gunung Muria: setiap pasangan yang berpacaran di sana, maka akan putus.
Sedangkan orang-orang yang “dipertemukan” di sana justru akan berjodoh.
[7]
Buka
Luwur: tradisi membuka dan mengganti kain penutup makam Sunan Kudus. Dilakukan
pada 10 Muharram.
[8]
Nasi
Jangkrik: Diberikan secara gratis saat buka luwur, pada pagi hari. Berupa nasi
yang dibungkus daun jati dan diberi lauk daging kerbau.
*tulisan
ini diikutkan dalam #1minggu1cerita
*gambar
merupakan logo #1minggu1cerita