Kamis, 26 Februari 2015

Nasib, Jodoh, Siapa yang Tahu?


Beberapa hari yang lalu saya sempat dilanda galau yang luar biasa. Makan tak enak, tidur tak nyenyak, sampai hidup enggan matipun tak mau (hehe, lebai). Namun pada akhirnya saya tertawa renyah saat mengingat satu hal. Tidur nyenyak, makan banyak, gemuk jadinya.
Hari ini seorang teman juga mengalami hal sama. Saya merasa perlu membagi sesuatu dengan dia. Biar makannnya tambah enak, tidurnya tambah nyenyak, dan agak nambahlah berat badannya. (Haha, becanda dech).
Saya tahu benar, tidak mudah memutuskan sesuatu yang berhubungan dengan masa depan. Apalagi ketika pilihan itu terasa sulit. Bahkan kadang kita merasa itu bukanlah sesuatu yang bisa dipilih. Dua, tiga atau empat hal yang sama pentingnya, sama resikonya dan sama belum pastinya.
Kalau memilih yang pertama akan begini namun begitu. Memilih yang kedua akan begitu namun begini, dst.
Pikiran-pikiran itu terus memenuhi otak. Memeras seluruh syaraf untuk berpikir lebih keras. Hingga memberi efek galau luar biasa.
Tidak ada lagi hal yang bisa dipikirkan sebelum keputusan dibuat. Pusing. Galau. Aaarrgghhhh rasanya kepala mau pecah. Ingin berteriak seperti orang gila.
Sadarkah, saat-saat seperti itu, ada satu hal yang terlupa. Satu hal yang sangat penting. Satu hal yang mendasar. Satu hal yang harusnya tak pernah dilupakan dalam keadaan itu. Satu hal itu adalah Tuhan. Sang pemegang skenario.
Nasib, siapa yang tahu selain Tuhan?
Entah keputusan apa yang diambil. Tetap semua nasib akan berjalan sesuai skenario-Nya. Yang terpenting bukanlah jalan mana yang dipilih. Tapi bagaimana kau bisa berjalan di jalan itu dengan sebaik mungkin. Tidak melupakan Tuhan. Tidak melupakan hakikat hidup. Menempuh cara-cara yang baik dalam meraih sesuatu. Dan membuat hidup lebih bermakna dengan hal-hal yang berguna. Sekalipun nanti hasilnya mungkin tidak seperti yang diinginkan, tapi kau telah mendapatkan hal berharga. Kebermaknaan hidup.
Tenang saja, Tuhan sudah punya skenario terbaik untuk setiap makhluk. Ibaratkan saja hidup ini seperti film.
Si penulis skenario sudah merancang kapan tokoh utama akan jatuh ke titik terendah kemudian bangkit mencapai puncak. Anggaplah hidup sederhana seperti itu.
Kalau kau menemui kesulitan, merasa berada di titik terendah, ingatlah Sang Penulis Skenario sudah menyiapkan satu episode baru yang lebih baik. Kapan episode terbaik akan muncul? Tunggu saja tanggal mainnya. Bersabarlah. :-)
Ini juga berlaku untuk jodoh. Hal paling krusial saat usia sudah 20++ (untung aku baru 17. hihihi).
Saat pilihan mulai berdatangan. Atau bahkan saat tidak ada yang dipilih sekalipun. Tenang sajalah. Tuhan sudah menyiapkan skenario terbaik. Tunggu saja episode tabrakan dengan cowok keren di jalan ( idih sinetron banget. haha).
Dan hal yang perlu diingat tentang jodoh adalah. . .

Bersambung. Tunggu di "Nasib, Jodoh, Siapa yang Tahu? Bagian 2". :-)

_Misi menghibur seorang teman. Semoga kau terhibur_

Putri Lestari.

Selasa, 24 Februari 2015

Bahagia (Hanya) Terletak di Pikiran


Apa yang membuatmu bahagia?
Akan ada banyak jawaban untuk pertanyaan sederhana itu.
"Aku bahagia kalau punya banyak uang". (umumnya begini)
"Aku bahagia kalau punya banyak pacar". (yang ini sich, bahagianya sepihak. -_______-)
"Aku bahagia kalau dia putus. " (tipe kebahagiaan seorang jomblo. :D)
"Aku bahagia. . . . "
dan
"Aku bahagia. . . "
(silakan diisi sendiri, menurut versi masing-masing).
Akan ada banyak jawaban yang muncul. Tapi apakah ada yang menuliskan bahwa bahagia adalah ketika aku makan tempe sedangkan orang lain makan ayam?
Jika tidak, maka benar bahwa selama ini kebahagiaan diorientasikan pada sesuatu yang dianggap tinggi. Sesuatu yang dianggap lebih dan lebih baik.
Kalau begitu, di mana letak bahagia?
Sebagian orang mungkin akan menjawab ketika dia bisa mencapai sesuatu yang tinggi, lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Lebih baik dan lebih baik lagi dari orang lain. Ingin melampaui siapa saja atau apa saja untuk merasa puas. Itu yang disebut bahagia?
Cobalah mendongak ke atas sebentar. Menatap hamparan langit luas. Dan ingatlah, di atas langit masih ada langit. Kenapa tak menikmati hamparan langit yang bisa dilihat saja. Sekalipun di atas langit ada langit.
Merasa bahagia saat makan tempe saat orang lain makan ayam.
Bahagia saat bisa berlibur ke kota sebelah saat orang lain berlibur ke negara sebelah.
Bahagia hidup bersama karyawan perusahaan saat orang lain hidup bersama pemilik perusahaan.
Dan masih banyak lagi macam bahagia.
Jadi, sebenarnya bahagia terletak di pikiran setiap orang. Hanya dipikiran. Simple bukan?
Cobalah, merubah semua yang ada dipikiran. Ambisi, obsesi, transfer menuju satu kata. Bahagia. Coba saja pilih kalimat sugesti begini.
Aku bahagia makan tempe sekalipun orang lain makan ayam. Karena ini berkah yang Tuhan berikan hari ini.
Aku bahagia bisa berlibur ke kota sebelah sekalipun orang lain berlibur ke negara sebelah. Karena Tuhan masih memberiku kesempatan melihat keindahan di bumi-Nya yang luas.
Aku bahagia hidup bersama karyawan perusahaan sekalipun orang lain hidup bersama pemilik perusahaan. Karena. . . (isi sendiri ya. hhe)
Jika bahagia terletak di pikiran, maka semua orang dengan mudah bisa bahagia bukan?
So, bahagiakanlah dirimu sendiri. :-)
_Aku bahagia dengan hidup ini. Bukan karena aku merasa lebih dari yang lain. Tapi karena aku berpikir tentang hidup yang membahagiakan_
Putri Lestari.