Selasa, 09 Desember 2014

Si Kuda Hitam (Pembangun Pondasi)

Well, dari semua yang jelek- jelek, ada yang bagus juga lhoh. . . Ini dia yang BEKERJA KERAS TANPA BATAS DAN IKHLAS. Kalau ini boleh banget nyebut merek. Jeng. . . jeng. . . Eh tapi gag usah ding. Tanpa disebut juga udah pada tahu.
Pertama, ada si pendiam yang kamu gag akan menyangka kalau KEIKHLASANNYA LEBIH DARI 1000 PERSEN. Entah, aku gag tahu dia bisa IKHLAS begitu gimana caranya. Akupun gag akan bisa mencontoh keikhlasan itu walau cuma nol koma sekian persen. Mulutnya tak banyak membuka, tapi tangan dan kakinya terus bekerja. Memang kerjanya seperti tak terlihat. Karena dia tak pernah congkak. Keluhnya pun tak pernah terdengar. Dia seperti tak ada. Tenang, seperti angin yang selalu membersamai. Tapi jauh diluar itu, dia telah melakukan banyak hal untuk kita. Terima kasih si pendiam. :-)
Kedua, ah, aku agak malas memberinya julukan. Ini yang ter. . .  ter. . .  (duh berat banget kata itu diucapin). Ehem ehem. . . tercantik (diucapkan dengan cepat, hanya sepersekian detik saja). Bukan karena dia seorang rider handal yang mampu membawa beban 50 kg pulang- pergi tiap hari (aku). Tapi karena ini memang nyata. Enakan diajak kerja. Apalagi kalau yang memimpin layaknya sang pacar sendiri. :p
Ketiga, ehm. . . ini yang kalau ngomong suka mandang ke atas. Santai tapi mau kerja. Ketika direngeki libur ini libur itu dia hanya bisa mengiyakan. Sekalipun aku melihat sedikit beban di ujung matanya yang tak pernah diperlihatkan. You nice.
Keempat, si sabar, si kecil yang "indigo". Gag perlu banyak omong soal dia, cuma makasih banyak ya udah berbuat banyak. :-)
Kelima, yang selalu nurut sama nyonya. Kebaikanmu sungguh luar biasa. Diam, tenang, kerja. Itulah dirimu.
Dan yang lainnya, ada si ibu yang semoga aja cepat isi. :-) Keluguan akan prinsip, kebaikan dan kedewasaanmu atas itu semua sudah lebih dari cukup. :-)
Thanks a lot. :-) Cuma memikirkan kalian saja yang membuatku sedikit nyaman dan bahagia akan 45 hari itu.

Ku Namai Dia Perempuan Bermulut Racun

Pernah nonton film kartun yang ada tokoh ibu tiri atau penyihir jahatnya? Waahhhhhhh. . .  perempuan ini masih kalah jahat dari itu. Ku namai dia perempuan bermulut racun. Tak ada yang spesial memang. Dari wajahnya yang biasa saja, badannya yang juga biasa- biasa aja. Eitssss. . . tapi ada satu yang paling spesial. Mulutnya. Mulutnya beracun. Setiap apapun yang dikatakan hanya mampu menorehkan luka di hati orang lain.
Selama kurang lebih 40 hari (kalau mau dihitung tepatnya ya 45 dikurangi 9), cuma luka dan obrolan gag penting yang keluar dari mulutnya. Kritik ini- itu. Mulai dari ngelipet surat, minta tanda tangan, ngasih kenang- kenangan, semua dikritik. Begini salah, begitu salah. Oke dech gpp. Eh eh tapi kok kamunya malah sama sekali gag kerja ya? Hmmm. . .  bentar dech, tak pikir dulu. Kamu pernah kerja apa ya selama ini? (Sambil pegang kepala). Tik. Tak. Tik. Tak. Tik. Tak. Tetoootttt. (Waktu buat mikir habis).
Eh iya, kamu kerja kok. Kerja banget. Kerja ngedoain cowok! Eits bukan ngegodain ding. Merhatiin shalatnya, merhatin cukuran kumisnya, merhatiin mandinya, handuknya, pulangnya, mungkin juga merhatiin gebetannya. Biar gebetannya gag nempel terus gitu. Kakakaka.
Terus yang bikin aku jengkel sama kamu ya hari ini. KARENA KAMU SOK. SORRY NEK SOMBONGKU WES METU. Sok banget ngejudge orang kayak tuhan. Emang kamu Tuhan? Bisa tahu tingkat kenyamanan seseorang terhadap orang lain? Pliisss dech, gag usah sok tahu!
Dan. . .  em . . . BTW, emang aku gag bisa naik motor. Karena aku gag punya. SORRY KELUARGAKU GAG SEKAYA KAMU YANG BISA BELIIN ANAKNYA MOTOR SATU- SATU. Tapi aku beruntung ada orang- orang layaknya LELY, ARIS, ARIF, ENI, YEKTI, EKO, YUDHA yang dengan ikhlasnya mau boncengin perempuan seberat 50 kg ini. (Allah masih berbaik hati). :-)
Dan mulutmu itu semakin beracun karena kamu selalu membicarakan hal- hal yang fulgar dengan laki- laki tanpa batas. HARGA DIRIMU DI MANA? KECUALI KAMU DOKTER KELAMIN!. Perempuan bodoh  mana yang mau kupas tuntas seputar seks dengan semua laki- laki. Oke kita udah dewasa, hal semacam itu patut di share. Tapi gag bisakah kamu nyari forum yang isinya perempuan semua buat diskusi itu? Atau emang karena mulutmu selalu nyakitin perempuan sampai gag bisa bentuk forum perempuan buat diskusi? HEHEHE. . . KASIAN BANGET HIDUPMU!
. . . . .Nyata.

Senin, 08 Desember 2014

Teriakan Hati

Entah ini apa namanya. Teriakan atau umpatan atau apalah. Yang prnting bikin hati ini plooonnngggggggg. Hampir 45 hari. Rasanya hati ini pangin meledak. Mungkin karena aku gag nyaman sama keadaan ini. Aku udah coba nerima nasihat seorang teman "Hey, jangan suruh orang lain buat menyesuaikan kamu. Tapi kamu yang harus menyesuaikan orang lain." Yups itu bener banget. Gag ada yang sama. Sama sekali tanpa cela. Tapi, aku juga perlu bilang ke kamu "Hey, apa aku harus menyesuaikan orang- orang yang gag bisa komit dan gag bisa diajak kerja?". Yach, sayangnya semua itu hanya bisa kupendam. Diam itu emas (katanya). Dan jeng jeng seiring berjalannya waktu, si penasihat itupun "muak" sama keadaan ini. Saatnya angkat topi dan ketawa syetan. Bener aku tho?
Yach kalau dipikir- pikir, gimana aku bisa nyaman coba. Ada si komando yang bikin illfeel gila. Aku gag pernah nuntut seorang komando harus perfect. Tapi kalau komandonya gag bisa bikin kebijakan, peraturan yang tegas, terus maunya cuma modus- modus gag penting, siapa yang gag muak? Aku tahu, sebuah pengakuan pernah dibuat. Katanya emang udah gag bisa dikembangin, gag bisa dimajuin atau apalah namanya. Oke, kalau itu memang alasan yang membenarkan, coba kita lihat kasus lainnya. 3 bulan sebelumnya, aku sangat respect sama satu orang. Bukan karena dia cakep, baik, dll. Tapi karena dia bisa menempatkan diri dengan sempurna. Dan itu sangat mempesona. Dia bukan orang biasa memang. Kalungnya aja nyekek leher tak karuan, rokoknya gag pernah berhenti, dan mungkin dia juga bukan manusia. Sebangsa kalong. Hidupnya jam 1 sampai 4 pagi di warung kopi. Tapi apa yang terjadi sama dia? Dia sempurna mempesona kita 20 anak. Dia menjadi pemimpin yang tiada tandingannya. So, masih ngeles gag bisa belajar dan berusaha?
Ada juga nich yang tukang ngeles banyak buanget alasannya. Ada ini ada itu, mau ini mau itu, si anu kena ini kena itu. Mungkin beberapa orang terpesona sama kamu. Tapi aku SEBALIKNYA. Sama sekali gag ada pesonamu yang nyait di otakku.
Satu lagi tukang bikin acara gag jelas. Alih- alih refreshing atau apalah. Terus tempat tugasnya mau ditinggal gitu aja? Yaudah aku yang di tempat tugas gpp. Gag usah ikut refreshing. Lagian juga ngapain refreshing sama orang- orang yang bikin gag nyaman? Eh, giliran mau ngalah dituduh gag kompak. Dan jeng. . . jeng. . . beberapa hari kemudian, ada usul juga buat ninggalin tempat tugas. Terus bilangnya tempat tugas jangan ditinggal. Hey, Hellllooooo apa kabar LO pas ngatain gue gag kompak?
Dan yang paling males itu kalau mimpin orang- orang yang gag komit. Disuruh berangkat jam 8 minta dimolorin jam 9, 10 atau jam berapalah. Oke dech, aku gpp. Aku tetepa jam 8. Itu adalah sebuah komitmen yang ku bangun karena dedikasi perjanjin awal. Eh ternyata komandonya aja ngelanggar. (Sakitnya tuch di sini). Udah gitu, resiko jadi koordinator itu yang bikin pahit banget. Nugasin si ini si itu buat karena kemarin aku udah tugas dan sekarang lagi gag fit, gag juga dijalanin. Yowes aku sing ngerjake tugase sidane. Pahit banget tuch. Malesi.
Eh, ada juga senengnya lho. 45 hari hampir habis. Semangat.