Beberapa
waktu lalu, di akhir sesi mengajar les suatu kelas, kita berbincang tentang
masa depan dan dunia. Saya dan kelas, memang suka berbincang tentang banyak hal
di sela-sela atau akhir mengajar. Temanya bermacam-macam dan biasanya berbeda
antar kelas. Anggap saja ini sebagai refreshing untuk mereka yang dari pagi
dijejali pelajaran di sekolah dan sepulangnya belajar lagi di tempat les.
Awalnya,
mereka menanyakan tentang memilih jurusan yang tepat untuk kuliah. Mereka bingung
akan ke mana setelah lulus sekolah. Saya hanya menyarankan untuk pergi ke mana
saja yang mereka inginkan. Tapi, jawaban mereka justru mengejutkan saya. Mereka
berpikir, jalan mana yang harus dipilih setelah lulus kuliah agar bisa sukses
kelak. Agar mereka bisa hidup sejahtera di masa depan. Bahkan mereka bertanya
kepada saya, siapa teman yang sudah sukses, apa profesinya dan berapa
pendapatannya.
Ada
juga seorang anak yang jalan hidupnya sudah dituliskan oleh orang tua. Orang
tuanya bekerja di suatu perusahaan. Maka, dia diarahkan untu mengambil jurusan
tertentu agar setelah lulus kuliah bisa direkrut oleh perusahaan itu. Dia
berpendapat bahwa itu sama sekali bukan masalah walau agak bertentangan dengan
dirinya. Karena masa depannya sudah dijamin, tidak luntang-luntung cari kerja
seperti orang lain. Dia merasa senang dan tidak perlu pusing memikirkan tentang
karir. Tinggal dijalani saja sesuai jalan yang sudah ditunjukkan oleh orang
tuanya, maka masa depannya akan terjamin.
Salah
satu siswa kemudian berbicara tentang “koneksi”. Keluarganya bilang, jalan
pekerjaan akan mudah jika ada seseorang yang bisa membawanya menduduki suatu
jabatan. Membantunya mendapatkan sebuah pekerjaan. Fase seleksi dan kemampuan
diri hanyalah omong kosong. Karena peluang besar diterimanya seseorang,
diangkatnya jabatan seseorang, ada di tangan koneksi.
Saya
terkejut mendengar apa yang mereka bicarakan. Dulu, saat saya masih SMA, tidak
pernah ada pikiran tentang koneksi kerja terlintas di kepala. Saya tidak pernah
mendoktrin pikiran dengan hal semacam itu atau didoktrin oleh orang lain. Mungkin
saya yang terlalu polos. Tapi, saya bersyukur karena masih disertai dengan
pikiran baik. Pikiran yang membawa saya pada pemahaman baik ketika saya sudah
beranjak dewasa seperti ini. Ketika saya menemukan sendiri tentang koneksi—di beberapa
tempat—yang benar adanya, saya tidak lantas mengikuti jalan itu. Sekalipun gaji
saya tidak seberapa, tapi saya tidak berpikir untuk mencari koneksi untuk
meningkatkan karir. Begitulah pemahaman baik yang saya maksud.
Obrolan
saat itu juga membawa saya pada rasa miris. Ternyata sebatas itu para remaja
jaman sekarang memandang masa depan dan dunia. Hanya tentang bagaimana membuat
hidup mereka nyaman dan sejahtera suatu saat nanti. Hanya tentang masa depannya
yang sukses. Kurang peduli pada menjaga nilai-nilai kebaikan. Justru
mengesampingkannya, dan mungkin suatu saat nanti memudarkannya secara
turun-temurun. Tidak berpikir tentang luasnya dunia yang bukan hanya soal hidup
sejahtera di sebuah rumah besar. Benar saja jika mereka ingin hidup nyaman dan
enak suatu saat nanti. Tapi, tanpa melupakan ada hal lain di dunia ini, selain
memperbesar lumbung tabungan pribadi. Kurang berpikir tentang kekuasaan Tuhan.
Mereka lebih realistis daripada percaya pada jalan mengejutkan yang tiba-tiba
dianugerahkan.
Saya
tidak tahu dari mana pikiran itu muncul di kepala mereka. Dari orang tua di
rumah, guru di sekolah, atau dari apa yang mereka temukan. Saya rasa, jika
orang-orang tersebut ingin sesuatu yang lebih baik untuk dunia ini—untuk
dirinya juga, dan tidak hanya untuk dirinya sendiri—seharusnya mereka mulai
memberikan cara pandang dunia yang lebih luas pada remaja-remaja itu. Agar
dunia di mata mereka lebih luas dan bernilai baik. Dan, agar mereka meneruskan
cara pandang dunia yang lebih luas dan bernilai baik itu secara turun-temurun
kelak.
Sebagai
seorang yang ingin hal baik terjadi hingga beberapa masa ke depan, saya hanya
bisa membagikan cara pandang diri sendiri terhadap masa depan dunia kepada
mereka. Memang tidak banyak yang bisa saya lakukan. Mereka bertemu dan
mendengarkan saya hanya seminggu sekali. Sementara berada di tempat lain lebih
sering dan lebih lama. Tapi, saya tetap memberitahu mereka bahwa saya merasa
sukses ketika bisa membantu belajarnya dan memecahkan masalahnya. Saya merasa
sukses ketika mereka bilang tidak sabar bertemu saya untuk belajar bersama dan
berbagi cerita-cerita baik tentang dunia. Dan, saya merasa sukses ketika apa
yang saya sampaikan pada mereka dari hati, bisa sampai di hati mereka pula. J
“Penulis yang sukses adalah penulis
yang mampu menggerakkan pembaca untuk melakukan hal-hal yang luhur dan baik,
setelah ia membaca bukunya”—Andrea Hirata.
Maka,
bolehkan saya merasa sukses ketika bisa mengerakkan siswa untuk memandang dunia
dengan luas, baik dan luhur? J
*foto diambil saat saya berulang tahun









