Sabtu, 18 Februari 2017

#Renungan24: Dunia di Mata Mereka dan Saya


Beberapa waktu lalu, di akhir sesi mengajar les suatu kelas, kita berbincang tentang masa depan dan dunia. Saya dan kelas, memang suka berbincang tentang banyak hal di sela-sela atau akhir mengajar. Temanya bermacam-macam dan biasanya berbeda antar kelas. Anggap saja ini sebagai refreshing untuk mereka yang dari pagi dijejali pelajaran di sekolah dan sepulangnya belajar lagi di tempat les.

Awalnya, mereka menanyakan tentang memilih jurusan yang tepat untuk kuliah. Mereka bingung akan ke mana setelah lulus sekolah. Saya hanya menyarankan untuk pergi ke mana saja yang mereka inginkan. Tapi, jawaban mereka justru mengejutkan saya. Mereka berpikir, jalan mana yang harus dipilih setelah lulus kuliah agar bisa sukses kelak. Agar mereka bisa hidup sejahtera di masa depan. Bahkan mereka bertanya kepada saya, siapa teman yang sudah sukses, apa profesinya dan berapa pendapatannya.

Ada juga seorang anak yang jalan hidupnya sudah dituliskan oleh orang tua. Orang tuanya bekerja di suatu perusahaan. Maka, dia diarahkan untu mengambil jurusan tertentu agar setelah lulus kuliah bisa direkrut oleh perusahaan itu. Dia berpendapat bahwa itu sama sekali bukan masalah walau agak bertentangan dengan dirinya. Karena masa depannya sudah dijamin, tidak luntang-luntung cari kerja seperti orang lain. Dia merasa senang dan tidak perlu pusing memikirkan tentang karir. Tinggal dijalani saja sesuai jalan yang sudah ditunjukkan oleh orang tuanya, maka masa depannya akan terjamin.

Salah satu siswa kemudian berbicara tentang “koneksi”. Keluarganya bilang, jalan pekerjaan akan mudah jika ada seseorang yang bisa membawanya menduduki suatu jabatan. Membantunya mendapatkan sebuah pekerjaan. Fase seleksi dan kemampuan diri hanyalah omong kosong. Karena peluang besar diterimanya seseorang, diangkatnya jabatan seseorang, ada di tangan koneksi.

Saya terkejut mendengar apa yang mereka bicarakan. Dulu, saat saya masih SMA, tidak pernah ada pikiran tentang koneksi kerja terlintas di kepala. Saya tidak pernah mendoktrin pikiran dengan hal semacam itu atau didoktrin oleh orang lain. Mungkin saya yang terlalu polos. Tapi, saya bersyukur karena masih disertai dengan pikiran baik. Pikiran yang membawa saya pada pemahaman baik ketika saya sudah beranjak dewasa seperti ini. Ketika saya menemukan sendiri tentang koneksi—di beberapa tempat—yang benar adanya, saya tidak lantas mengikuti jalan itu. Sekalipun gaji saya tidak seberapa, tapi saya tidak berpikir untuk mencari koneksi untuk meningkatkan karir. Begitulah pemahaman baik yang saya maksud.

Obrolan saat itu juga membawa saya pada rasa miris. Ternyata sebatas itu para remaja jaman sekarang memandang masa depan dan dunia. Hanya tentang bagaimana membuat hidup mereka nyaman dan sejahtera suatu saat nanti. Hanya tentang masa depannya yang sukses. Kurang peduli pada menjaga nilai-nilai kebaikan. Justru mengesampingkannya, dan mungkin suatu saat nanti memudarkannya secara turun-temurun. Tidak berpikir tentang luasnya dunia yang bukan hanya soal hidup sejahtera di sebuah rumah besar. Benar saja jika mereka ingin hidup nyaman dan enak suatu saat nanti. Tapi, tanpa melupakan ada hal lain di dunia ini, selain memperbesar lumbung tabungan pribadi. Kurang berpikir tentang kekuasaan Tuhan. Mereka lebih realistis daripada percaya pada jalan mengejutkan yang tiba-tiba dianugerahkan.

Saya tidak tahu dari mana pikiran itu muncul di kepala mereka. Dari orang tua di rumah, guru di sekolah, atau dari apa yang mereka temukan. Saya rasa, jika orang-orang tersebut ingin sesuatu yang lebih baik untuk dunia ini—untuk dirinya juga, dan tidak hanya untuk dirinya sendiri—seharusnya mereka mulai memberikan cara pandang dunia yang lebih luas pada remaja-remaja itu. Agar dunia di mata mereka lebih luas dan bernilai baik. Dan, agar mereka meneruskan cara pandang dunia yang lebih luas dan bernilai baik itu secara turun-temurun kelak.

Sebagai seorang yang ingin hal baik terjadi hingga beberapa masa ke depan, saya hanya bisa membagikan cara pandang diri sendiri terhadap masa depan dunia kepada mereka. Memang tidak banyak yang bisa saya lakukan. Mereka bertemu dan mendengarkan saya hanya seminggu sekali. Sementara berada di tempat lain lebih sering dan lebih lama. Tapi, saya tetap memberitahu mereka bahwa saya merasa sukses ketika bisa membantu belajarnya dan memecahkan masalahnya. Saya merasa sukses ketika mereka bilang tidak sabar bertemu saya untuk belajar bersama dan berbagi cerita-cerita baik tentang dunia. Dan, saya merasa sukses ketika apa yang saya sampaikan pada mereka dari hati, bisa sampai di hati mereka pula. J
                                              
“Penulis yang sukses adalah penulis yang mampu menggerakkan pembaca untuk melakukan hal-hal yang luhur dan baik, setelah ia membaca bukunya”—Andrea Hirata.

Maka, bolehkan saya merasa sukses ketika bisa mengerakkan siswa untuk memandang dunia dengan luas, baik dan luhur?  J


*foto diambil saat saya berulang tahun 

Jumat, 17 Februari 2017

#Renungan24: Jer Basuki Mawa Beya



Jer basuki mawa beya
Setiap keberhasilan membutuhkan pengorbanan/biaya.
         
Sejak Sekolah Dasar, saya sudah mengenal ungkapan tersebut. Sebagai peribahasa dalam mata pelajaran Bahasa Jawa. Tapi, dulu saya tidak pernah memilih kata 'biaya' sebagai arti. Walau beya dalam Bahasa Jawa berarti biaya. Saya lebih menyukai kata pengorbanan. Bagi saya, kata itu lebih mewah dan istimewa. Pengorbanan hanya bisa dilakukan, diperjuangkan dan diraih oleh diri sendiri. Berbeda dengan uang yang bisa saja ditebus oleh orang lain. Beberapa orang terlahir sudah dikelilingi banyak uang. Kekayaan turun-temurun. Tidak perlu berjuang untuk mengeluarkan uang. Jika keberhasilan bisa ditebus oleh uang, maka ada yang tidak perlu memperjuangkan dan menempa diri. Hanya perlu mengeluarkan uang kemudian sukses.
Kemarin, saya mulai berpikir ulang. Biaya juga berpengaruh dalam kesuksesan seseorang. Itu yang menghujam dada dan pikiran saya, ketika membaca persyaratan beasiswa LPDP untuk study ke luar negeri.



Skor ielts atau ibt diwajibkan bagi setiap yang punya mimpi belajar ke luar negeri dan ingin dibantu negara. Saya rasa, semua orang bisa berjuang untuk meraih skor yang ditargetkan. Mengikat tali di kepalanya hingga larut. Terjaga hingga batas malam dan pagi sudah samar, demi sebuah impian. Tapi, tidak semua orang bisa melakukan tes ini. Biaya tesnya saja hampir 3 juta, untuk satu kali. Usaha untuk belajar saja tidak bisa memenuhi persyaratan beasiswa. Butuh biaya juga untuk meraihnya.
Syarat mendapatkan LoA diawal juga tidak bisa diraih hanya dengan bekal nilai. Ada biaya yang perlu dikeluarkan. Apalagi untuk mendaftar ke universitas luar negeri. Tidak sedikit biaya yang diperlukan. Dan, itulah yang harus dilakukan jika memang ingin impiannya terwujud dengan bantuan negara.
Beberapa orang merasa ini wajar dan setimpal. Mengingat bantuan negara yang tidak main-main jika sudah mendapatkannya. Tapi, beberapa orang merasa ini “tidak adil”. Keadaan setiap orang berbeda, tidak bisa disamakan. Ada yang terbatas ekonomi, akses belajar dan lain-lain. Setiap orang punya keterbatasan yang berbeda. Lalu, siapa yang akan membantu melampaui keterbatasan itu jika pihak yang mengulurkan tangan hanya mau terima beres?
Barangkali ada yang berpendapat, jika tidak mampu melampaui syarat itu, kenapa impiannya tidak diturunkan saja? Kasarnya, jika tidak mampu lanjut S2, kenapa tidak bekerja saja? Atau jika tidak mampu memenuhi syarat untuk kuliah di luar negeri, kenapa tidak menurunkan impian jadi kuliah di dalam negeri saja? Tidak perlu terlalu memaksakan diri dan menyalahkan yang sudah mau membantu. Mungkin saja orang-orang yang berpendapat seperti itu lupa kalau sewaktu kecil diajari untuk bermimpi setinggi langit. Bermimpi tanpa perduli dengan keterbatasan dan latar belakangnya.
Sementara syarat itu secara tidak langsung memberikan klaim bahwa hanya yang mampu memenuhi syarat itu saja yang diterima. Hanya yang tidak punya keterbatasan dalam hal-hal tertentu saja yang diterima.
Pihak yang membantu mungkin kurang mempertimbangkan bahwa seseorang bisa saja terbatas ekonomi, terbatas akses belajar. Lupa bahwa seseorang mungkin saja terbatas dalam hal-hal tertentu tapi tidak terbatas pada tekad dan semangat. Sayangnya, indikator tekad dan semangat bukanlah hal sangat penting di mata mereka.
Tapi, saya yakin masih ada orang-orang yang memaknai pepatah jawa itu sebagai perjuangan dan kerja keras. Tentang semangat, tekad, perjuangan dan pengorbanan.

Dan, saya yakin, walau manusia tidak memberi jalan pada orang-orang yang terbatas, Tuhan akan selalu memberi jalan bagi orang-orang yang berusaha. Tuhan akan selalu memberi jalan pada orang-orang yang bekerja keras dan berusaha membuka jalan lewat doa.




Kamis, 16 Februari 2017

Patah Hati Pertama



I can wipe the tears in my eyes. But I can’t wipe the pain in my heart—Anonymous

Kemarin, saya teringat dengan luka di masa lalu, lewat luka seorang anak yang belum genap tiga tahun. Dia mengalami patah hati pertamanya, seperti saya dulu.
Setiap pagi atau sore, dia sering diajak berkeliling kampung oleh Ayahnya dengan motor. Dia di depan, dipegang oleh Ayahnya. Itu adalah kebahagiaan untuknya. Saat motornya tidak dipakai, dia juga senang naik di bagian depan sembari berimajinasi sedang mengendarai motor. “Ngeeenggggg... tin tin...”, kata-kata itu selalu keluar dari mulutnya saat duduk di motor.
Tapi, sekarang dia tidak bisa melakukannya lagi. Sudah beberapa minggu ini motor itu tidak berada di rumah. Orang tuanya terpaksa menjual motor karena kesulitan ekonomi. Motor itu dijual pada saudaranya sendiri. Ketika saudara itu berkunjung, dia—anak perempuan yang belum genap tiga tahun itu—selalu memandang lama ke motornya. Tidak berani bertanya apa itu motornya yang dulu, atau meminta motor itu tidak dipakai. Dia hanya melihat lamat dengan sorot kesedihan. Saya dan anggota keluarganya selalu ikut merasa sedih saat melihat kesedihan tak teruangkapkan di matanya. Dan, saya juga teringat dengan kesedihan serupa yang pernah saya alami waktu kecil.
Saat kelas 2 SD, teman-teman saya punya sepeda baru. Mereka sering bersepeda di pagi hari saat libur sekolah dan sore hari. Saya tidak bisa melakukannya karena tidak punya sepeda. Saya benar-benar menginginkan sepeda saat itu. Dan, akhirnya saya mendapatkannya saat duduk di kelas 3 SD. Sepeda second-hand yang Bapak beli dari pasar. Saya sangat bahagia.
Tapi, kebahagiaan saya hanya sementara. Saya lupa kapan tepatnya, mungkin satu atau dua tahun setelahnya, sepeda itu dijual. Karena keluarga sedang kesulitan ekonomi, sepeda saya dijual pada seorang tetangga. Orang tua saya hanya bilang kalau sepeda saya sedang digadaikan. Tapi, tepat setelah itu, saya melihat seorang tetangga mengendarai sepeda itu. Saya tidak bertanya apa-apa pada Bapak dan Ibu. Saya hanya menatapnya lamat, dan berkata bahwa itu memang sepeda saya. Sepeda yang selalu menemani kebahagiaan saya.
Itulah patah hati pertama saya. Sampai sekarang, selalu ada perasaan aneh di hati (semacam sedikit kesedihan), saat melihat tetangga itu mengendarai sepeda. Sudah sepuluh tahun lebih, tapi luka di hati saya, perasaan sedih saya yang dulu, tetap ada walau sedikit.

*tulisan ini untuk #1minggu1cerita


Rabu, 08 Februari 2017

#Renungan23: Di penghujung 23...



Saya lebih menyukai diri saya yang sekarang. Saya mulai mengakui kesalahan dan kelemahan diri, meminta maaf pada diri sendiri, kemudian merangkak ke arah yang saya anggap lebih baik secara perlahan. Saya bersyukur atas semua yang ada. Hidup rasanya lebih bahagia dan lega.
Di penghujung 23, saya ingin mengungkapkan beberapa hal yang menurut saya penting. Sebuah pencapaian berharga untuk diri saya sendiri. Segala hal yang perlu saya ingat, bahwa saya pernah memikirkan dan melaluinya di 23.
Saya sangat bersyukur bisa masuk di #KampusFiksi12. Di sanalah saya menemukan banyak pandangan baru tentang hidup, teranugerahi untuk berubah dan mengembangkan diri, dan bertemu dengan teman yang seperti keluarga. Mereka semua tulus. Mereka semua saling menyayangi dalam pengertian tidak berlebihan. Mereka mengajariku tentang pertemanan sejati.
Mereka semua keren dengan kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Itu memacu saya untuk berubah dan mengembangkan diri. Karena sebelumnya, saya merasa tidak bisa dan tidak tahu cara mengembangkan diri. Terjebak dalam hidup dan pemikiran hidup yang saya tidak suka, tapi saya juga tidak bisa keluar. Di sana, saat bertemu dengan mereka yang kerennya berbeda-beda, saya mulai belajar. Teman-teman #KampusFiksi lain, yang saya tahu dan kenal juga berperan dalam ini.
Pertemanan dan kekeluargaan yang mereka tunjukan juga memberikan saya kenyamanan. Hingga saya mau terbuka pada mereka. Jujur saja, saya orang yang sangat tertutup. Saya jarang mengungkapkan apa yang saya rasakan. Bahkan, saat saya punya pacar, saya tidak pernah bilang rindu padanya. Padahal, saya sedang rindu. Ya, begitulah salah satu kekurangan diri saya. Susah mengungkapkan apa yang sedang saya rasakan. Kalau ditanya kenapa, mungkin ini ada hubungannya dengan pola asuh keluarga saya. Tapi, saya juga tidak bisa memastikannya semua berakar dari pola asuh. Karena saya belum belajar dan menelusurinya.
Di grup WhatsApp #KampusFiksi12, sedikit demi sedikit saya mau terbuka. Di sana, saya juga perlahan menjalin pertemanan lebih dekat dengan Serli. Dan, Serli cukup membantu saya dalam mengatasi masalah kesulitan mengungkapkan perasaan.
Ikatan yang sudah terjalin antara saya dan Serli selama dua tahun belakangan membuat saya berani buka-bukaan padanya. Khususnya beberapa hari terakhir. Baru kali itu saya blak-blakan pada seorang teman. Ah, sepertinya Serli punya sihir tertentu yang bisa membuat saya bercerita gamblang. Hahahaha!
Saya senang bisa mengakui kekurangan diri dalam mengungkapkan perasaan dan belajar mengatasinya di 23. J
Ego dan idelisme yang tinggi di tahun sebelumnya juga bisa saya atasi. Sekarang, saya merasa lebih santai dan legowo. Hahaha! Jadi, kalau dulu saya terlalu idealis terhadap sesuatu, berarti “dolanku kurang adoh” (artinya, mainnya kurang jauh). Ini benar juga sih. Karena sekarang saya lebih merasa nyaman dengan belajar menekan idealisme diri sendiri. Di 23, saya juga mulai menemukan diri saya yang lain. Saya yang suka mewarnai, belajar memasak dan suka dengan pernak-pernik.
Satu lagi yang paling membahagiakan adalah saya menemukan solusi untuk kemalasan dan ketidakkonsistenan saya dalam menulis. Awal Agustus 2016, saya berencana mengisi blog dengan tajuk #Renungan23. Isinya tentang pemikiran-pemikiran saya di umur 23. Inspirasinya dari blog Nazura Gulfira yang sangat apik. Saya sudah merancang untuk mengisi blog seminggu dua-tiga kali. Tapi, rencana itu gagal. Seperti biasa. Hahaha! Akhirnya, hanya ada beberapa postingan #Renungan23 yang saya post. Jumlahnya bahkan tidak lebih dari sepuluh. Ini jauh dari target!
Bulan lalu, saya ikut Writing Challenge dan ternyata saya bisa konsisten menulis. Saya bisa menekan rasa malas. Saya bisa menulis di sela-sela kesibukan dan tubuh saya yang mudah lelah. Saya bahagia sekali bisa menulis tiga puluh challenge itu. Nah, tema-tema yang diusung juga sebagian besar tentang diri sendiri. Jadi, saya merasa sekaligus mendapat terapi untuk berani mengungkapkan diri saya yang sesungguhnya. Berlatih mengungkapkan apa yang saya rasakan. Ini sangat menyenangkan.
Di 23, saya juga tahu, mana yang menjadi prioritas utama. Kebahagiaan orang tua saya adalah prioritas utama, segalanya bagi saya. Di malam yang sepi, saat melihat mereka tertidur lelap karena lelah, saya sempat menitikkan air mata. Dalam hati, saya berdoa dan memohon pada Tuhan. “Tuhan, ijinkanlah saya membahagiakan kedua orang tua saya di dunia dan akhirat. Jika tidak bisa di dunia, maka biarkan saya membahagiakannya di akhirat.” Itulah yang saya inginkan. Kebahagiaan mereka lebih penting daripada kebahagiaan saya.
Tapi, satu hal yang masih mengganjal di 23 ini. Saya masih saja merasa tersesat. Saya belum menemukan dengan jelas, apa yang ingin saya perjuangkan. Apa yang ingin diri saya kejar dan raih untuk kebahagiaan diri sendiri. Saya merasa senang berada di kelas bersama para siswa. Melihat perkembangan mental, kepribadian dan pengetahuan mereka. Tetapi, rasanya saya sangat bosan dan lelah belajar fisika. Lalu, apa yang akan saya lakukan jika ingin berada di kelas tanpa mengajar fisika? Bingung kan. Hahaha. Kita sama! Latar belakang pendidikan saya adalah pendidikan fisika. Tidak mungkin kan, saya di kelas untuk mengatasi konseling dan perkembangan mereka? Kalau hendak lanjut dan memilih jurusan yang berbeda, yang bekerja di belakang layar pendidikan, apa saya tidak akan rindu dengan tawa siswa? Apa saya bisa bahagia tanpa mendengar tawa siswa? Ah, sudahlah. Saya semakin bingung. Semoga saya segara menemukan titik terang atas rasa tersesat itu.
Terkahir, saya ingin mengucapkan terima kasih pada diri saya sendiri yang sudah cukup banyak belajar, berpikir dan berubah di 23-nya. Terima kasih, saya, di dua puluh tiga.
Dan, saya ucapkan selamat datang pada 24. Mari membuatnya lebih bermakna!



#Renungan23: Memaafkan diriku yang dulu...



Beberapa waktu lalu, saya menemukan akun instagram mantan. Melihat beberapa postingannya. Kemudian merasa sedikit “kacau” lagi. Ingat masa lalu yang begitu menyakitkan. Ini sudah saya alami berkali-kali.
Saya tidak pernah menceritakannya pada siapa pun. Orang lain memandang saya sebagai seseorang yang sudah melepaskan masa lalu itu. Tidak pernah terdistrak masa lalu lagi. Saya terlihat baik-baik saja. Saya tidak pernah membicarakan apa yang saya rasakan pada orang lain. Jadi, saya tidak pernah menerima saran untuk semua itu. Kemudian, kekacauan ini saya rasakan berulang-ulang.
Semalam, saya memutuskan untuk bercerita pada seseorang. Dia memberi saran agar saya segera melepaskan rasa sakit di masa lalu. Agar hidup lebih ringan. Saya pun memikirkan saran ini. Dan, saya menyadari bahwa kesalahan saya adalah belum memaafkan diri saya yang dulu.
Dulu, saya pernah melakukan suatu kesalahan. Saya mengakuinya. Saya menyesalinya. Tapi, ternyata saya belum memaafkan diri yang bersalah waktu itu.
Diri yang belum saya maafkan waktu itu kemudian menjadi kerikil yang masih saya rasakan ketidaknyamanannya hingga sekarang. Menghambat saya untuk bahagia dan bebas. Menghambat hati saya untuk merasa lega.
Maka, saya ingin membisikkan ini pada diri sendiri, “wahai hati, maafkanlah diriku yang pernah melakukan kesalahan di masa lalu. Karena aku tidak mampu mengulang masa lalu dan mencegah diriku berbuat salah. Aku hanya bisa melepaskannya. Dan, maafkanlah diriku di masa lalu.”
Saya merasa agak lega setelah menulis ini. Semoga saja setelah ini, tidak ada lagi kerikil yang tersisa. Tidak ada lagi rasa kacau yang mendera diri saya. Semoga saya lebih bahagia.

*tulisan ini untuk #1minggu1cerita dengan tema Forgiveness.



Minggu, 05 Februari 2017

Bertemunya Perbedaan pada Sebuah Kelas



Saya tidak tahu, siapa yang harus bertanggung jawab ketika seorang siswa gagal beradaptasi di sebuah kelas baru.
Tahun kemarin, saya sempat dipertemukan dengan seorang siswa yang bisa dibilang unik. Tingkah laku dan pola pikirnya berbeda dari teman-temannya. Ah, iya, saya ingatkan lagi. Saya hanya mengajar di sebuah bimbingan belajar (selanjutnya sebut saja bimbel), bukan di sekolah. Tapi, bimbel ini memiliki sistem yang mirip dengan sekolah, dari segi pengajaran. Tidak seperti bimbel bertaraf nasional yang membuat buku panduan kemudian menggunakannya sebagai bahan ajar. Kita memakai buku yang sama dengan apa yang siswa gunakan di sekolah. Dan, biasanya, mereka yang satu sekolah atau bahkan satu kelas akan jadi satu rombongan belajar di bimbel.
Seorang anak yang saya bilang unik tadi, mengambil les mata pelajarn fisika bersama teman-teman satu kelasnya. Kebetulan, saya menjadi tutor untuk mereka. Awalnya, saya merasa “tidak senang” dengan kehadiran si anak ini.
Suatu kali, mereka semua kelelahan karena usai latihan di sekolah sampai larut. Ketika saya mengajar, mereka semua sudah sangat lelah. Saya ijinkan mereka istirahat sebentar. Kemudian, mereka meminta les diakhiri lima belas menit lebih cepat. Mereka sudah ingin pulang dan istirahat. Tetapi, anak itu protes keras. Dia tidak mau les berakhir sebelum waktunya. Bahkan dia meminta tambahan waktu karena tadi sudah terpotong sekian menit untuk istirahat. Teman-temannya hanya menahan kesal. Mereka belum begitu akrab karena baru masuk tahun ajaran baru SMA. Dan, baru satu kelas selama beberapa hari.
Pernah juga suatu kali, dia meminta materi pengajaran dipercepat. Dia merasa sudah mengerti dan tidak perlu mengulang materi itu lagi. Tapi, sebagian besar temannya belum mengerti. Saya tetap menyampaikan materi itu. Dia meminta langsung pada pengerjaan soal agar tidak buang-buang waktu. Ketika saya ijinkan dia untuk mengerjakan soal sendiri—sementara temannya saya bimbing—dia mengalami kesulitan. Saya bantu dia menyelesaikan soal itu. Dia tetap tidak mau mengaku bahwa memang belum bisa. Justru dia menyalahkan soal yang dipilih sendiri itu terlalu sulit.
Proses pembelajaran sering terhambat karena dia tidak satu tujuan dengan temannya. Sering terjadi beda pendapat tentang ini dan itu saat di kelas. Protes terlalu sering terjadi dan membuat dia terlihat “egois”.
Lama-lama, temannya mulai tidak tahan jika ada dia di kelas. Beberapa teman yang agak jahil kadang membohonginya tentang jadwal les. Mereka bilang jadwal lesnya diganti di hari lain. Padahal, tidak ada yang diganti. Ini terjadi berulang-ulang. Dan, dia mulai merasa “dimusuhi” oleh teman-temannya.
Dia merasa tidak ada yang mau berteman dengannya. Dia sering dibohongi dan dikerjai. Merasa tidak senang, dia mengadu pada ayahnya. Kemudian, ayahnya lapor pada pihak BK (Bimbingan Konseling) Sekolah. Masalah jadi semakin rumit.
Pihak BK mengira adanya “mental bullying” di kelas tersebut. Menciptakan pandangan bahwa kelas tersebut bukanlah kelas yang baik. Satu kelas pun mendapat judge yang kurang enak. Satu kelas menerima hukuman.
Mereka semakin menyalahkan dia. Menyebutnya tukang adu. Tidak mau instrospeksi. Dan, dia jadi ingin pindah sekolah.
Kalau sudah begitu, siapa yang salah? Dan, apa yang harus dilakukan?
Saya rasa, sekolah memang tidak hanya tempat menuntut ilmu. Tetapi, juga untuk latihan bersosialiasasi. Menyesuaikan diri dengan orang lain, dengan lingkungan. Supaya nanti, kalau sudah masuk ke lingkup kehidupan dengan skala lebih besar—masyarakat misalnya—dia bisa menggunakan ilmu kasat mata tentang adaptasi tersebut. Ketika seorang siswa dinilai gagal atau tidak mampu melakukan penyesuaian, maka pihak sekolah wajib membantunya. Agar dia belajar dan memperbaiki kesalahannya. Bukan “membuatnya ingin” lari ke lingkungan lain.
Dia juga tidak sepenuhnya salah. Dirinya yang dibawa ke sekolah bisa saja merupakan cerminan pola asuh dari rumah. Atau hasil dari pemikirannya terhadap sesuatu. Jika keduanya ternyata berseberangan dengan pola-pola umum yang ada, maka perlu diadakan penyesuaian. Tidak semua anak punya alarm yang langsung menyala ketika menyadari adanya hal berseberangan tersebut. Harus ada seseorang yang memberitahunya tentang itu. Dari hati ke hati. Seharusnya, ada pihak yang mengambil peranan ini di sekolah. Agar sekolah tidak hanya menjadi suatu tempat untuk memperoleh ilmu pengetahuan, tapi juga ilmu kehidupan.
Sayangnya, yang anak itu dapatkan justru pembelaan. Bersamaan dengan pelimpahan kesalahan pada kelas. Dia tidak akan belajar merasa salah dan menyesuaikan diri. Sementara kelas tidak akan belajar cara menerima si pembeda dan merangkulnya. Justru mereka semakin tidak menyukai perbedaan.
Lalu, mereka akan terlambat dewasa. Terlambat salah dan belajar. Terlambat tahu cara menyikapi perbedaan. Tidak ada tempat untuk anak-anak yang gagal beradaptasi bersama mereka. Dan, tidak ada tempat untuk seorang yang salah.
Orang dewasalah yang perlu memikirkan dan bertanggung jawab tentang ini. Karena remaja hanya pernah melewati masa bermain, bukan masa gejolak seperti yang sedang mereka alami sekarang.


*tulisan ini untuk #1Minggu1Cerita




Rabu, 01 Februari 2017

#Renungan23: Berkomentar



Ini semua karena berkomentar seolah tidak ada adabnya.
Beberapa hari yang lalu, saya pergi ke pasar untuk mencari majalah bekas. Selain karena saya tidak punya cukup uang untuk membeli majalah baru setiap bulannya, saat itu saya juga sedang semangat membaca majalah. Ini bukan kali pertama saya mencari majalah bekas. Sejak keinginan saya membaca majalah muncul, saya sudah mencarinya di beberapa tempat yang berpotensi menjual majalah bekas. Tetapi, saya tidak mendapatkannya. Info dari salah satu temanlah yang akhirnya menggerakkan langkah pencarian ke pasar. Walau saat itu saya tidak tahu persis di mana tempat penjualan majalah bekas. Saya hanya diberi tahu, itu ada di lantai dua.
Saya bertanya pada beberaa pedagang buku di lantai dua, dan mereka memberikan jawaban yang sama. Langsung saja saya mencari toko itu. Memang tidak mudah, karena letaknya di dalam dan membaur dengan penjual topi, tas, dan ikat pinggang. Itu pun saya bertanya beberapa kali pada penjual lain. Sayangnya, toko yang saya maksud masih tutup. Ibu yang menjaga toko di sebelahnya, memberi tahu saya bahwa bukanya memang agak siang. Dengan kebaikan hati dan keramahannya, si ibu ini mempersilakan saya menunggu di tokonya. Tentu saja saya iyakan, karena saya lelah berkeliling. Kami pun ngobrol tentang beberapa hal, termasuk seputar profil saya.
Tak lama kami ngobrol, ada seorang ibu pemilik toko depannya menghampiri. Beliau langsung ngobrol panjang dan lebar tentang dagangannya dan hasil penjualan dengan si ibu ramah. Saya hanya melihat sekilas ke “ibu curhat” itu, karena dia sama sekali tidak melihat ke arah saya. Mau melempar senyum juga tidak tepat waktunya. Mau ikut ngobrol juga tidak enak. Akhirnya, posisi yang serba salah itu saya alihkan ke handphone. Saya membaca apa saja melalui handphone. Chatting yang masuk, pesan, hingga membaca blog. Tiba-tiba si ibu ramah ini pamit ke kamar kecil. Katanya kebelet. Tersisa saya, “ibu curhat”, pegawai-pegawai ibu curhat dan seorang laki-laki pemilik kios lain. Mereka langsung terkoneksi pada obrolan barang dagangan si ibu curhat, atas komando beliau pula. Saya masih terdiam dan membaca. Karena si ibu curhat ini sama sekali tidak mengusik saya.
Tetapi, konsentrasi saya pada tulisan agak terganggu ketika ibu curhat menyenggol salah satu pegawainya dan menunjuk ke arah saya. Mbak pegawai itu sedari tadi sudah ada di sana sejak saya ngobrol dengan si ibu ramah. Maka, dia sedikit tahu tentang saya. Dia pun membisikkan info itu pada si ibu curhat. Mereka berbisik-bisik, sesekali menatap ke arah saya, kemudian berbisik lagi. Begitulah yang mereka lakukan. Hingga si ibu curhat itu melontarkan beberapa pernyataan tentang diri saya, menurut versinya ke pegawai-pegawainya.
Tuhan mengijinkan telinga saya mencuri dengar sedikit tentang apa yang mereka bicarakan. Saat itu juga, saya langsung “tersadarkan”. Bahwa selama ini, kita terlalu banyak berkomentar tentang hal-hal yang sebenarnya tidak kita pahami betul. Tentu saja ibu curhat tadi tidak memahami betul kepentingan saya di sana, bahkan karakter saya. Tetapi, si ibu curhat dan para pegawainya bisa berkomentar selama beberapa menit tentang diri saya. Sungguh, mulut memang terkadang tidak adil.
Saya pun merasa bahwa saya mungkin saja sering melakukan hal-hal semacam itu. Bukan hanya dalam konteks berkomentar sepihak tentang seseorang yang baru saya temui, tapi juga ketika menemui persoalan-persoalan yang sebenarnya saya tidak begitu paham. Terkadang, mulut memang langsung angkat bicara dan berkomentar sesuka hati ketika melihat, mendengar atau membaca sesuatu—yang sebenarnya kita hanya tahu kulitnya saja. Maka, kejadian ini benar-benar membuat saya “tersadarkan” seperti yang saya bilang tadi. Bahwa tidak baik adanya membiarkan mulut bertindak tidak adil pada sesuatu yang pikiran saja belum berani mengeluarkan fonisnya; karena tidak benar-benar tahu tentang sesuatu hal tersebut. Membiarkan diri untuk mencari tahu, sembari mengunci mulut justru lebih bijaksana. Agaknya, memang sudah waktunya kita mulai mengurangi porsi bicara yang tidak penting. Jangan berkomentar, jika hanya tahu dari luar. Karena sudah saatnya memberikan adab dalam berkomentar.
                                                              
Putri Lestari
*tulisan ini ditulis sekitar minggu kedua bulan November tahun 2016, dan masuk dalam salah satu tulisan yang terbengkalai.