Minggu, 17 September 2017

Pertanyaan-Pertanyaan (Hidup) #1


Ada beberapa hal (tentang hidup) yang menyita pikiran saya. Sesuatu yang membuat saya memikirkannya begitu dalam, untuk menemukan jawabannya. Kadang, saya juga butuh seseorang untuk bertukar pikiran. Dan seringnya, saya tak kunjung menemukan jawabannya. Inilah yang saya sebut sebagai pertanyaan-pertanyaan hidup.
Sebenarnya, kita ini sedang menjalani takdir atau hasil dari usaha?
Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan teman lama, seorang laki-laki teman saat SD. Di sebuah kios pasar dia bekerja. Dia menjadi pelayanan untuk toko sepatu olahraga. Seingat saya, dulu sejak saya masuk kuliah, artinya usai lulus SMA dia sudah bekerja di sana. Enam tahun berjalan, dan dia masih tetap di sana.
Kita bertegur sapa sebentar, saling bertanya kabar, kemudian berlalu dengan senyum yang saling terlempar. Agak jauh berjalan, teman yang menemani saya ke pasar, bertanya tentang laki-laki tadi. Saya pun akhirnya bercerita sedikit tentang dia.
Waktu SD, dia selalu ikut kejuaraan sepak bola dan selalu memenangkannya. Dia kebanggaan sekolah karena selalu mengharumkan nama baik sekolah. Setiap hari, dia membawa bola ke sekolah. Berlatih saat istirahat, mematangkan kemahiran kakinya. Sayangnya, hobi dan prestasinya harus terputus setelah itu. Karena ada kebutuhan keluarga yang harus dia penuhi.
Teman saya bilang, “pinter main bola, tapi sayangnya kurang beruntung.”
Kalimat itu membuat saya mempertanyakan beberapa hal; apa nasibnya ditentukan oleh keberuntungan? jika dia berusaha maksimal di masa lalu, tapi sekarang tetap menjalani hidup sebagai penjaga toko sepatu, apa itu juga namanya ketidakberuntungan? lalu, di mana peran usaha dalam hidup ini?
Pikiran saya pun terus lanjut bertanya, jadi sebenarnya yang kita jalani sekarang adalah takdir (atau bisa disebut keberuntungan dan ketidakberuntungan) yang sudah tercatatkan? lalu, kapan usaha berbicara tentang jerih payah yang dilakukan?
Jodoh sudah ditentukan atau diyakini?                              
Kalau jodoh nggak ke mana.
Ungkapan itu seolah jadi jurus pamungkas jika ada seorang yang berada di ujung selatan dunia menikah dengan seorang di ujung utara dunia. Atau seorang yang sudah bertahun-tahun tidak bertemu kemudian bertemu lagi dan menikah.
Seakan-akan sudah ada yang menggerakkan seseorang menuju orang lain, untuk sebuah pernikahan. Seolah-olah semuanya sudah diatur, si A akan menikah dengan B, lalu si C dengan si D, dan seterusnya. Walau mereka terpisah di tempat yang amat sangat jauh, atau di waktu yang amat sangat berbeda.
Tapi, jaman sekarang, ketika perceraian bukan hal yang tabu lagi (saking banyaknya perceraian yang dibeberkan media), bagaikan kacang rebus yang bisa dijumpai dengan mudah, lantas apakah ungkapan itu masih sahih?
Jika memang jodoh, harusnya tiada perceraian bukan? Apa “mekanisme”—yang dipercayai itu—sengaja mengatur seseorang berjodoh dengan orang yang salah? Kalau ada yang bilang ‘ternyata tidak jodoh’, lalu siapa yang harus disalahkan atas terjadinya pernikahan yang sudah terlanjur itu?
Apa benar jodoh benar-benar sudah ditentukan?
Atau harus diyakini? Tapi, kalau diyakini tanpa didukung semesta, apa bisa?


sumber gambar: google.

*ditulis untuk #1minggu1cerita.
Btw, ini tema minggu lalu. Tapi, karena minggu lalu sibuk yang kemudian berujung sakit kepala,  kuputuskan untuk bolos setor. Tulisan yang baru jadi satu paragraf ini kupending. Haha.

Jumat, 01 September 2017

#Renungan24: Saya dan Kegagalan


Diri sendiri adalah yang paling bertanggung jawab atas hidup masing-masing. Atas semua kegagalan dan keberhasilan.
Dan, saya tidak suka bertanggung jawab atas kegagalan. Hahaha!
Saya rasa, semua orang juga tidak suka bertanggung jawab atas kegagalannya. Ada yang mengatakan ‘siapa juga yang mau gagal’. Ini benar, tetapi seseorang mungkin lupa tentang ‘keberhasilan mana yang mau diraih dengan mudah?’.
Dua kali, saya gagal membuat adonan hottang (hotdog kentang)—sosis dibalut adonan lengket dilumuri dengan kentang beku kemudian digoreng, makanan yang beberapa waktu lalu sempat hits. Pertama, adonan yang saya buat kurang pekat. Adonan yang sudah dilumur ke sosis akhirnya bergelambir dan lepas. Kedua, adonannya tidak menempel, kurang lengket. Saya, gagal. Kegagalan ini makin terasa menyakitkan karena sebelumnya saya memasak cilok, cimol, untuk pertama kalinya dan berhasil. Mengambil jeda beberapa hari tanpa kembali ke dapur, akhirnya saya coba membuatnya lagi. Percobaan terakhir, saya bekali diri dengan informasi pembuatan hottang lebih banyak lagi. Dan, saya berhasil.
Ini terulang lagi, saat saya membuat brownies tanpa mixer dan telur. Tekstur bantet saya dapatkan. Saya pun kapok dan enggan kembali ke dapur untuk memasak brownies. Ada beberapa minggu saya singkirkan menu brownies dari daftar resep yang ingin dicoba. Sekarang, mood saya mengatakan ingin coba buat brownies lagi, lain kali.
Dari sana, saya belajar bahwa kita memang butuh gagal agar tahu caranya berhasil. Kegagalan membuat saya mempertanyakan: ‘apanya yang kurang?’. Saya harus mau belajar lagi agar lain kali berhasil. Saya harus bertanggung jawab atas kegagalan (yang disebabkan) oleh diri sendiri. Tapi, perasaan “bangkit lagi” semacam itu juga tidak bisa didapat dengan mudah. Apalagi jika kegagalan yang diperoleh adalah sebuah kegagalan besar, tidak hanya sebatas gagal di dapur. Belakangan, saya mulai menyadari ini. Usai mengalami kegagalan yang menyakitkan.
Beberapa bulan lalu, saya gagal dalam sebuah lomba novel. Rasanya saya sudah berjuang pol-polan untuk naskah itu. Ujung-ujungnya masih gagal juga. Didera kesedihan mendalam dan menyakitkan, saya enggan membuka naskah novel itu lagi. Mungkin kalau saya punya versi cetaknya, sudah saya buat hancur berkeping-keping. Saking kecewanya, butuh pelampiasan. Waktu itu, kata mutiara kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda seolah hanya omong kosong bagi saya. Persetan! Bodo amat! Nasihat dari teman saya (seketika saat saya gagal)—yang bilang bahwa naskah itu harus tetap dilanjut, paling tidak sebagai pertanggung jawaban moral terhadap tokoh-tokoh yang sudah saya buat—hanya saya dengarkan saja. Tanpa saya sangkutkan di hati dan pikiran.
Waktu demi waktu saya lewati tanpa membuka folder naskah itu sama sekali. Bulan demi bulan berlalu, tiba-tiba minggu kemarin saya tergerak untuk membukanya lagi. Tak hanya sekedar membaca, saya mengeditnya kembali! Dan, saya kukuh untuk melanjutkan naskah itu. Saya ingin melanjutkan naskah gagal itu. Well, nasihat dari seorang teman berdegung dan membuat saya berpikir bahwa kisah tokoh-tokoh saya harus selesai. Perasaan sayang terhadap tokoh-tokoh yang saya ciptakan muncul kembali dan membuat lupa akan kegagalan.
Jeda. Itulah yang saya pelajari dari kegagalan kemarin. Saya butuh jeda untuk kembali bangkit dan melupakan kegagalan. Sempat ada rasa kesal pada diri sendiri, karena tak kunjung bangkit dari kegagalan kemarin. Tak kunjung berani membuka folder naskah gagal itu. Justru masih merasa ‘sakit’ saat melihat folder itu. Tapi sekarang saya tahu bahwa semua hal butuh jeda. Butuh berhenti untuk lanjut berjalan lagi (apalagi usai terjatuh).
Diri sendiri memang harus bertanggung jawab atas semua kegagalan. Tapi jangan salahkan diri sendiri jika memang belum siap. Barangkali, diri ini hanya butuh jeda. Jeda untuk berani bangkit, mengatasi kegagalan. Hanya diri sendiri yang tahu, berapa lama jeda yang dibutuhkan. Mungkin, kita hanya butuh secangkir cokelat panas selama beberapa waktu sebelum melanjutkan perjalanan.

*ditulis untuk #1minggu1cerita