Senyumku
tak terelakkan saat kau bertanya, “bagaimana kaubisa sampai di negeri ini?”
Rasa
khawatirku sudah pecah dan berpendar. Setidaknya hanya rupamu yang berubah agak
kentara. Nalarmu masih berjalan normal, mengingat pertanyaan itu kauajukan
setelah siuman.
Keberadaanmu
di kamarku bukanlah tanpa alasan. Pun sama dengan keberadaanku di negeri ini. Negeri
yang baru kutinggali selama tiga hari. Negeri yang berhasil membuatku bingung
dengan ribuan cermin datarnya.
Sampai
sekarang aku masih bingung, kenapa ada banyak cermin datar yang mengepung
negeri ini. Perusahaan, restaurant, sekolah,
dindingnya dilengkapi oleh cermin datar berukuran besar, berjejer satu sama
lain. Gedung pencakar langit yang mendominasi kotapun dinding bagian luarnya
dilengkapi cermin datar berentetan yang hanya berjarak beberapa langkah saja.
Kebingunganku
pun tak akan terjawab mudah dengan bertanya langsung pada penduduk asli negeri
ini. Susah sekali mendapatkan teman berbincang. Mereka hanya menjawab
pertanyaanku dengan “iya”, “tidak”, atau tak menjawab. Bahkan beberapa dari mereka
memilih menghindar sambil menimpukkan tatapan sinis, seolah aku penjahat kota
yang dikenai sanksi sosial.
Barangkali
negeri ini memang tidak ramah pada orang asing, seperti diriku. Sialnya, keberadaan
orang asingpun terlihat menonjol. Lagi lagi ini hanya soal warna kulit dan paras
saja, yang tidak terlalu penting untuk dipikirkan. Tapi perbedaan itu yang
membuat diriku seolah membawa label aku orang
asing ketika berjalan di keramaian.
Di
hari kedua tinggal, aku masih mencari pekerjaan. Hari itu, pertama kali aku
bertemu denganmu, pemimpin negeri ini.
Kemeja
lengan pendek dan rok panjang, rasanya jadi perpaduan yang pas untuk menghadap
dirimu. Tapi kata keliru kemudian tumbuh ketika aku melihat orang-orang berlalu
lalang di kantormu dengan pakaian sesukanya. Memang tak pernah terbayangkan,
ada perempuan memakai dress selutut
tanpa lengan, mampir di kantormu. Nyatanya, mataku benar-benar disuguhi
pemandangan itu. Ya, mungkin kantormu sangat santai. Tidak mempermasalahkan urusan
penampilan dan mementingkan kinerja. Baguslah!
Di sini aku bisa mendapat pekerjaan yang layak atas kemampuanku.
Sebelumnya
aku sudah melamar kerja di beberapa tempat. Perusahaan swasta, café, supermarket, semua menolak lamaranku. Padahal aku belum sampai di
tahap wawancara. Surat lamaranpun hanya dibaca sekilas. Aku berpikir lagi,
mungkin benar bahwa negeri ini sangat menjunjung potensi lokal dan susah
menerima pendatang. Tapi, apakah pemimpin negeri ini tidak bisa membantu?
Aku
pernah mendengar kasus tentang seorang pemimpin yang memberikan keringanan hukuman
pada penduduk asing yang terbukti menyelundupkan zat halusinasi tingkat tinggi.
Negeri itu melarang setiap warganya berhalusinasi melebihi kadar yang sudah
ditentukan, karena mayoritas penduduknya mempunyai kecerdasan akal yang lebih
rendah dari negeri lain. Halusinasi akan membuat akal mereka semakin tumpul dan
bodoh. Tidak bisa membedakan batas nyata dan maya.
Sebagai
pendatang legal yang baik, aku merasa layak mendapat perlakuan istimewa demikian.
Berpikir bahwa kaubisa membantuku hidup di negerimu. Maka sampailah aku di
ruang tunggu kantormu ini.
Resepsionis
di kantormu menyambutku dengan mata sinis. Sama seperti penduduk lain. Pesona
keanggunannya luntur sekejap, saat aku berkata ingin bertemu denganmu untuk
melamar kerja, kemudian dia terbahak. Mengguncangkan
sedikit bahu dan bibir mungilnya. Sebentar. Dia menghentikan kekehan itu
kemudian berbisik pada resepsionis di sebelahnya. Seorang laki-laki
berperawakan tinggi, berkulit putih, dengan wajah mirip Pangeran William di
negeri dongeng. Resepsionis di negeriku tak ada yang setampan dia.
Aku
menunggu dengan telinga terbuka namun seolah tuli. Dan keramahan pertama di
negeri ini akhirnya kudapat. Mereka menyuruhku menunggu.
Tepat
di depan meja resepsionis setinggi dada itu, aku ikut menunggu bersama beberapa
perempuan yang seketika melemparkan cibiran lewat sudut matanya. Ada yang seperti
sengaja menahan tawa tapi diperlihatkan. Aku hanya bisa membalasnya dengan
senyum. Entahlah, aku tak mengerti dengan etika yang diterapkan di sini.
Sambil
duduk, mataku terpikat dengan interior kantormu yang seperti kerajaan Pangeran
William dengan puluhan lukisan menghiasi dinding. Bedanya, di kantormu ada banyak cermin datar yang
memeluk dinding dengan erat. Pegawaimu yang mondar-mandir dengan tumpukan
berkas di tangan, masih sempat menengok cermin sekali, dua kali. Bahkan semua
pegawaimu melakukannya! Otakku pun baru menyadari jika semua orang selalu
menyempatkan diri untuk melihat refleksinya di cermin. Apa cermin benda yang
dikeramatkan di negeri ini?
Dan
apakah mendahului antrean juga menjadi tradisi?
Seorang
perempuan berambut ikal sepinggang yang tergerai sembarang, baru saja datang
kemudian menggerakkan bibir tebal berwarna merahnya ke dekat telinga resepsionist
laki-laki itu. Sama sepertiku, dia disuruh menunggu. Bedanya, dia dipanggil
lebih cepat. Merusak sistem antrean yang sudah rapi dengan halusnya. Tapi
rasanya hatiku tak pantas geram. Karena beberapa perempuan yang datang lebih
dahulu dariku sama sekali tak keberatan. Aku hanya bisa mengeraskan gigitan
pada bibir bagian bawah.
Kesabaranku
untuk bertemu pemimpin negeri ini semakin diuji dengan serobotan antrean yang
semakin sering. Perempuan yang masih duduk menunggu bersamaku, sama sekali bergeming.
Seolah semuanya lumrah, air mukanya bagai pantai tanpa gelombang. Hatiku ingin
menghentak. Tapi urung, ketika menyadari satu hal. Jangan-jangan sistem menunggu di negeri ini tidak didasarkan pada siapa
yang datang lebih awal?
Ah,
yang jelas, sistem itu membuat namaku dipanggil paling akhir. Saat mentari
sudah menyerap seluruh energi manusia hari ini. Yang tersisa hanya peluh.
Bahkan sesekali juga jenuh. Seperti air muka pemimpin negeri ini, sekarang. Aku
memang tak paham, sudah berapa aduan rakyat yang sampai ke telingamu hari ini. Tapi
dasi yang sudah kaukendurkan, rambut yang bagian depannya bekas dipelintir, cukup
memberi isyarat buruk bagiku. Jelas suasana hatimu kurang baik. Tapi kuakui,
kau masih tampak sangat tampan.
“Kau
bukan orang negeri ini, bukan?” tanyamu ketika mengalihkan pandangan padaku
dari tumpukan kertas di depanmu.
“Iya,
saya pendatang.”
“Apa
yang kauinginkan?” Matamu memicing seperti yang lainnya ketika melihatku. Oh, ini bukan pertanda baik.
“Saya,
ingin melamar kerja, Pak.” Kusodrokan map berisi lamaran.
Telapak
tanganmu kemudian memberi tanda stop!,
sebentar matamu menusuk pandangan sopanku,”hhhh. . . bahkan tumpukan kertas ini
lebih menarik dari dirimu.”
Kepalamu
kembali menunduk. Berjibaku dengan banyak kata yang katanya lebih menarik. Sejenak,
aku tercekat.
“Jangan
lupa perhatikan cermin yang terpasang sepanjang jalan menuju ruanganku tadi,”
tambahmu dengan wajah yang masih tenggelam pada tumpukan kertas.
Seketika
aku sadar, bahwa kau sedang mengusirku. Hariku
di sini terasa hampir kiamat. Tapi keberadaanku di negeri ini, tak boleh sirna sekejap
saja. Biarlah ragaku sekarat pelan-pelan. Asalkan aku tak pernah minta pulang.
Hari ini, hari ketiga aku di sini, agaknya semua
akan berubah. Perantauan di “Negeri
Cermin Datar” akan menjadi istimewa karena keberadaanmu. Orang nomor satu
di negeri ini—di negeri kalian semacam presiden— yang sedang betah berbaring di
kamarku. Kamar sederhana yang kusewa dari seorang ibu tukang sapu dengan harga
lumayan tinggi.
“Apa
kau tak ingin menjawab pertanyaanku?”
Kau
bertanya sembari menekan rasa sakit di bibirmu. Itu jelas terlihat dari kerutan
keningmu yang menegang.
“Jangan
banyak bicara dulu. Istirahatlah.”
Tatapanmu
lamat. Jauh berbeda dengan tatapan saat pertama kali kita bertemu dulu. Mungkin
kali ini kau merasa hutang budi. Sedang kali itu, kau merasa pongah dengan
semua kendali perintah yang akan dijalankan kacungmu, untuk sekali hardik.
Tatapanmu
masih terpaku padaku. Sementara aku memilih menatap jalan dari jendela kamar. Mereka yang berjalan di sana, tampak sama dengan
pegawai kantormu. Atau mungkin mereka memang selalu melakukannya tapi aku tidak
memperhatikan. Setiap melangkah beberapa meter, mereka menengok pada cermin
yang terpasang di sepanjang jalan. Kegiatan itu terus diulangi. Tanpa pernah
merasa bosan. Tanpa pernah merasa terganggu. Justru seulas senyum selalu
menyertai akhir pencerminan mereka.
Kau
sedikit berdehem. Bermaksud menegur. Kepalaku menoleh diikuti senyum. Sektika
diriku tersadar, hidup memang bagaikan bermain ular tangga. Adakalanya angka
dadu yang didapat akan mengantarkan pada tangga gemilang. Adakalanya dadu yang
kaukocok sendiri itu berkhianat dengan membiarkanmu jatuh terjerambab lewat sepucuk
ekor ular. Hatiku sedikit terkekeh ketika menyadari bahwa daduku dan dadumu sedang
ditukar begitu cepat dalam dua hari.
Kemarin
aku masih melihat wajah tampan tapi congkak milikmu. Dan sekarang, aku melihat
wajah yang masih terbekasi goresan pisau. Beberapa goresan vertical, goresan
horizontal, juga bekas tonjokan yang membuat bibirmu ngilu dan biru.
Tak
ada yang menyuruhku berada di sana saat itu terjadi. Namun takdir seolah
memilihku melihat pemimpin negeri ini dipukuli dan dicederai pada bagian wajah.
Sekelompok pemuda itu bergegas pergi setelah kauterkulai lemah dengan darah
yang menodai tanah. Gelap. Matamu sudah tertutup. Gulita. Tempat itu begitu
gulita.
Keikutsertaanku
sebagai tim medis di Universitas ternyata sedikit membantu. Lukamu tak lagi menganga
bercampur darah segar seperti kemarin. Ini sudah pantas disebut sebuah wajah
daripada daging tersayat yang terlumuri darah, seperti kemarin malam.
“Bagaimana
kau bisa sampai di negeri ini?” Rupanya kau masih penasaran dengan keberadaanku
di sini. Sambil meringis menahan perih, dilukamu yang terkena keringat, kau
masih sempat bertanya.
“Em.
. . aku. . . aku. . . sedang menjalankan sebuah ujian.”
Kulit
di dahimu tertarik ke tengah, membentuk lipatan-lipatan rasa heran,”ujian?”
“Iya,
ujian. Ujian bertahan hidup di negeri lain. Guru yang memilih negeri ini
untukku.”
Kau
terkekeh sebentar. Mungkin kauingin meledakkan tawa, tapi urung karena rasa
sakit yang masih menyengatmu.
“Gurumu
memilih tempat yang salah. Tak tahukah kau, ini negeri apa? Ini negeri tempat
orang-orang berparasa cantik dan tampan menetap. Di negeri ini, kecantikan dan
ketampananlah yang diandalkan. Seseorang berparas buruk sepertimu, tak akan
mendapat tempat negeri ini.”
Ah, pantas saja, aku selalu
dilayani terakhir untuk sebuah antrean. Ditolak bekerja sebelum melihat
kemampuan. Pantas saja, saat aku berdiri di dalam kereta monorel dengan
kecepatan tinggi, tak ada seorangpun yang mau menawariku tempat duduk. Padahal
aku sudah melewatkan empat stasiun. Dan itu jelas memakan ketegangan otot kaki
untuk berdiri. Terlebih lagi, ada laki-laki bertubuh kekar yang duduk dengan
nikmat di sana. Dan ketika seorang perempuan cantik baru saja masuk, laki-laki
itu memberikan tempat duduknya.
“Kautahu,
ribuan cermin datar sengaja dipasang di negeri ini. Itu kebijakan yang
ditetapkan oleh pemimpin-pemimpin sebelumnya untuk melihat seberapa cantik atau
tampannya dirimu. Dan kau pasti bisa menerka, aku terpilih sebagai pemimpin
karena ketampanan wajahku melebihi semua penduduk pria di sini.”
Bisa-bisanya
sebuah negeri dipimpin oleh seorang yang hanya tampan. Tidak punya kemampuan
memimpin. Eh, aku juga pernah mendengar cerita dari negeri lain. Di sana,
seorang pemimpin dipilih berdasarkan banyaknya uang yang dimiliki. Jadi negeri
ini tak sepenuhnya salah. Tapi aku tetap saja tak suka, walaupun dia tampan.
“Kau
terpilih tapi kau juga dicederai?” tanyaku dengan tatapan tajam.
“Heh,
di negeri lain yang menjadikan uang sebagai tolak ukur, terjadi banyak
pencurian uang dari orang yang kaya raya. Di sini, kecantikan dan ketampananlah
yang menjadi tolak ukur. Maka, mereka yang mengintai kecantikan dan ketampanan
seseorang, akan mencederai wajahnya. Seperti yang terjadi padaku.”
Suaramu
terdengar lirih di akhir.
“Pantas
saja guru memilih negeri ini untukku. Aku berasal dari negeri yang sangat jauh
dari sini. Di negeriku memang tak ada orang-orang berparas cantik dan tampan. Kalaupun
ada, tak bisalah melebihi kecantikan dan ketampanan orang-orang di negerimu. Karena
di negeriku, kebaikan hatilah yang menjadi tolak ukur. Semua orang saling
membantu satu sama lain, tanpa peduli wajah atau status. Memberi pekerjaan pada
yang berkemampuan. Memberi makanan pada yang kelaparan. Pun memberi pertolongan
pada yang membutuhkan, seperti pada dirimu semalam. Dan keberadaanku di sini,
untuk menjalani sebuah ujian. Ujian mempertahankan kebaikan hati di negeri
perantauan untuk gelar sarjanaku.”
Lidahmu
seolah kelu. Matamu yang nanar muncul begitu saja.
“Bawa
aku ke negerimu. Sepertinya aku akan lebih nyaman berada di sana. Lagipula, aku
sudah tak punya apa-apa lagi di sini.”
Sebulir
air jatuh dari sudut matamu. Merembesi setiap luka yang kutaksir rasanya perih.
“Kenapa
kau tak coba merubah negeri ini?”
“Merubahnya?
Kau becanda?! Mana mungkin sistem yang sudah berjalan lama bisa dirubah.
Selamanya, kecantikan dan ketampanan adalah nomor satu di negeri ini.”
Aku
menyeringai.
“Hey,
kau hanya perlu melakukan satu hal. Gantilah seluruh cermin datar di negeri ini
dengan cermin cekung dan cembung.”
***
*teruntuk yang
menomor satukan kesempurnaan fisik, dariku—Putri Lestari.