Bangun tidur dengan seekor kucing.
Bukannya aku takut dengan kucing. Tapi, beberapa kisah yang terjadi antara aku
dan kucing membuat kita tidak bisa akrab. Waktu masih kecil, saat makan ada
seekor kucing yang loncat ke meja. Sampai ke depan piringku dan aku sangat
kaget. Pernah juga, saat mati listrik, seekor kucing tidur di tempat tidurku. Waktu
aku mau tidur, karena gelap, aku langsung tidur di atas kucing itu. Si kucing
bergerak di bawah punggunggu. Aku geli sekaligus kaget. Setelahnya, hubungan
kita tidak pernah baik.
Bangun tidur sebagai orang lain
atau ada di dimensi dunia yang lain. Sebelum tidur, aku
sering memikirkan sesuatu. Kadang, aku berkhayal, bagaimana kalau nanti saat
bangun, aku adalah seorang Syahrini. Apa aku akan menggunakan uangku untuk
membuat hujan uang di sebuah desa daripada naik jet pribadi? Kira-kira seperti
itulah. Kebanyakan pikiran aku ini. Nah, kalau itu benar-benar terjadi, mungkin
aku akan histeris.
Ada rambut di makananku. Ini
semacam hubungan tidak baikku dengan kucing. Tapi, kalau yang ini aku sedang
mencoba menguranginya. Histeris yang kumaksud di sini sebenarnya lebih mengarah
ke arah “enek” berlebihan. Jadi, tiap aku makan nasi dan ada sehelai rambut
saja di dalamnya, maka aku akan berhenti makan. Merasa mual sampai hilang
selera makan.
Berhubung
aku ini orangnya memang jarang teriak-teriak, jadi histeris versiku jangan
dibayangkan seperti itu. Kalau teriak, paling juga teriak ringan, bukan
jeritan. Histeris versiku lebih mengarah ke perasaan dan tingkah laku. Bisa
saja aku langsung melompat, berlari terbirit atau menahan perasaan ngeri di
dalam.


0 komentar:
Posting Komentar