Sabtu, 17 Juni 2017

#7DaysKF: Untuk diriku sendiri...

Hai, diriku yang sudah lebih tua. Apakah kamu sudah bergerak ke arah yang lebih baik? Jika belum, maka kamu perlu berhenti sebentar. Berpikir, merenung.

Apakah kamu sudah merasa lebih bahagia? Jika belum, maka kamu perlu melakukan hal-hal yang membahagiakan untuk dirimu sendiri.

Apakah kamu sudah mendapatkan sesuatu/mencapai beberapa tujuanmu? Jika belum, maka kamu perlu serius memikirkan jalan lain.

Apakah kamu sudah memberikan sesuatu/bermanfaat untuk orang lain? Jika belum, kamu perlu berbuat lebih untuk hidup ini.

Dan, apakah kamu masih suka malas-malasan? Jika masih, maka kamu harus berubah.
Kamu juga harus lebih menikmati hidupmu. Lebih banyak keluar rumah. Mau belajar banyak hal.

Kalau kamu sudah punya pasangan, kamu harus lebih terbuka padanya. Jangan terlalu banyak memendam sendiri.

Apakah kamu menikah dengan laki-laki yang kamu idamkan? Seorang yang pandai menggambar, humoris dan santai. Aku penasaran karena kamu selalu membayangkannya.

Aku harap, kamu tidak kecewa dengan hidupmu yang sekarang.


Jumat, 16 Juni 2017

#7DaysKF: Mengapa aku?


sumber gambar: google


Aku ini tukang minder. Disuruh menyebutkan tiga alasan kenapa aku pantas dapat jodoh yang baik, ya bingung mau nulis apa. Orang minder kan, merasa tidak pantas. Hehehe.

Tapi, kemarin aku sempat ngobrol dengan salah satu teman tentang keminderan itu. Dari hal sederhana saja, aku minder luar biasa. Dia bilang, aku harus belajar untuk mengurangi rasa minder itu. Setiap diri layak mendapat penghargaan. Di tema kali ini, aku akan mencobanya.

Mengapa aku pantas?

Pertama, karena aku sangat menyayangi kedua orang tuaku. Bagiku, orang tuaku adalah segalanya. Apa pun demi kebahagiaan mereka. Nantinya, ketika sudah punya pasangan, aku pun akan menyayangi orang tuanya. Bahkan aku sering membayangkan, bagaimana rasanya punya dua ibu untuk disayangi. Dan, bagaimana rasanya disayangi oleh dua ibu. Ada saat-saat aku bertukar cerita, bercanda, dibimbing, diajari memasak dan lain-lain oleh mereka. Ya, semoga saja aku tidak mendapat drama mertua jahat macam sinetron. Hahaha.

Kedua, karena aku suka berbuat baik; menolong orang lain, mencoba membuat hidupku jadi lebih baik, membantu orang lain keluar dari masalah. Pernah suatu kali aku melihat seorang nenek berjualan keripik pisang di depan mini market. Saat itu, ada niat untuk membeli, tapi karena suatu hal tidak jadi. Sesampainya di kost, aku merasa menyesal karena tidak membeli dagangan nenek itu. Dalam hati pun langsung berniat tidak akan menyiakan kesempatan kedua. Maka, di hari selanjutnya, aku pergi ke mini market itu untuk membeli keripik si nenek. Di keadaan lain, aku sedang terburu pergi ke suatu tempat. Di jalan besar, aku melihat seorang ibu akan menyeberang jalan dan membawa tas. Aku tidak sempat menolongnya menyeberang. Rasa sesal di hatiku, membuatku berdoa sepanjang jalan. Semoga beliau selamat sampai seberang jalan. Aku pun lega setelah melihatnya sampai di seberang jalan.

Ketiga, karena aku ingin kehidupan yang lebih baik. Jadi, pasangan yang baik tak salah memilihku, karena aku pun mau dibuat baik. *ini promosi atau apa?



Kamis, 15 Juni 2017

#7DaysKF: Aku ingin segera menemukanmu

Orang yang ingin kutemui dalam waktu dekat ini adalah jodohku. Hehehe. Kalau ditanya siapa dia, aku jug tidak tahu. Tapi, tahun ini aku berharap bisa bertemu seseorang untuk memulai sebuah hubungan.

Terus terang saja, aku mulai bosan dengan kesendirian. Walau dalam kebersamaan pun, aku akan tetap butuh kesendirian. Tapi, untuk saat ini aku berpikir bahwa lebih baik jika aku bersama seseorang.

Setidaknya, pikiranku yang penuh ini bisa sedikit luber pada orang lain. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul di kepalaku bisa kutanyakan padanya. Atau dia dengan senang hati rela menemaniku mencari jawaban pertanyaan itu.

Aku berharap segera bertemu orang yang tepat. Dah~


Rabu, 14 Juni 2017

#7DaysKF: Surat yang tak seharusnya ada

sumber gambar: google


Dua, bukan satu. Ada dua surat memalukan yang selalu kusesali. Seharusnya aku tak pernah menulis surat itu. Tapi, aku baru menyadari ini setelah surat itu dibaca oleh orang yang kutuju.

Pertama, surat untuk mantan kekasihku. Aku lupa persisnya bagaimana. Saat itu, aku masih mengharapkannya. Jadi aku memberinya sebuah surat. Surat itu tak pernah mendapat balasan dan aku menyesal telah mengirimnya.

Kedua, surat untuk seseorang yang kusukai sejak pertama kali melihatnya. Cinta pandangan pertamaku. Awalnya aku berharap bisa memulai satu hubungan dengan dia. Maka, aku menuliskan sebuah surat. Dia membacanya dan mengucapkan terima kasih. Itu saja. Lambat laun, aku tahu bahwa dia adalah laki-laki yang sering mendapatkan surat seperti itu. Hahaha! Aku merasa menjadi bagian dari jerami yang bertumpuk. Bukan sebuah jarum yang berkilat dalam tumpukan jerami.

Selasa, 13 Juni 2017

#7DaysKF: Aku kehilangan arah

sumber gambar: google


Dua tahun lalu, saat aku lulus kuliah, aku merasa kehilangan sesuatu yang sangat penting dalam hidup, yaitu jati diri dan arah hidup.

Setalah lulus, aku tidak tahu ingin jadi apa. Kebingungan besar melandaku. Sementara waktu terus berjalan, tak mau menunggu aku yang bingung. Sementara semua ini terlanjur terjadi, orang-orang kampung memandangku lebih tinggi, sebagai seorang sarjana—tidak banyak yang sarjana di kampungku, kecuali mereka anak perangkat desa.

Aku ini sarjana pendidikan, tapi saat itu aku tidak ingin mengajar. Em, mungkin lebih tepatnya, tidak ingin mengajar fisika. Begitu lulus, aku yang lemah dalam bahasan-bahasan kelistrikan, elektromagnetik, dan sejenisnya, merasa enggan bertemu fisika. Bisa dibilang, aku kehilangan kemistri dengan fisika.

Tapi, aku tidak kehilangan passion untuk mengajar. Aku tetap ingin mengajar. Di dalam kelas, bertemu banyak siswa, tetapi aku tidak ingin membicarakan fisika sama sekali. Padahal, empat tahun aku kuliah fisika dan mendapatkan gelar sarjana dari sana. Sudah semestinya aku berada di dalam kelas dan mendongeng tentang hukum newton. Lalu, apa yang akan kulakukan di dalam kelas kalau tak mau berbicara tentang fisika sama sekali? Saat itu, aku berpikir bahwa aku gila. Hahahaha.

Sudah ada niatan dalam hati untuk berhenti dulu, sembari berpikir. Tidak memasukkan lamaran ke sekolah mana pun, sambil memantau peluang pekerjaan lain. Tapi, takdir berkata lain dan mempertemukan aku dengan sebuah pekerjaan paruh waktu: jadi tutor les. Awalnya aku berpikir untuk menolak. Aku masih membutuhkan waktu untuk berpikir. Setelah berpikir ulang, luntang-luntung sambil berpikir itu tak enak. Lebih baik aku jalani ini sambil berpikir. Aku pun menerima tawaran itu.

Satu bulan, dua bulan, tiga bulan, hingga satu tahun, aku masih merasa ingin kabur dari pekerjaan ini. Aku tak suka. Terjerat. Dadaku sesak. Aku ingin lari sejauh mungkin. Aku tetap tidak ingin mengocehkan hukum newton terlalu banyak di depan siswa. Merasa kemampuanku tak seberapa. Walau siswa banyak yang terbantu atas dongengku. Beberapa kali aku bolos kerja untuk memasukkan lamaran ke Bank dan perusahaan lain. Sayangnya, tak satu pun usahaku membuahkan hasil. Tak ada yang memanggilku untuk wawancara. Aku merasa semakin frustasi.

Orang tua dan teman-temanku tak tahu apa yang kurasakan ini. Orang tuaku menyuruhku melamar ke sekolah-sekolah. Aku melakukannya dengan setengah hati. Orang tuaku berharap ada dari salah satu sekolah itu memanggilku. Tapi, hatiku berharap itu tidak akan terjadi.

Aku tidak tahu ingin berbuat apa dan ingin jadi apa. Aku tidak tahu harus melangkah ke mana.

Senin, 12 Juni 2017

#7DaysKF: Binatang-binatang mempesona

sumber gambar: google


Saat aku melihat beberapa binatang tertentu, aku merasa terpesona hingga ingin memilikinya. Hahaha! Intinya, binatang-binatang tertentu punya daya tarik yang menggetarkan hatiku. Kalau dipikir-pikir, binatang ini kadang terlalu ekstrem untuk dimiliki. Tapi, karena challenge mengatakan aku boleh memiliki apa saja dan yang mana saja dari jenis binatang itu, maka aku akan menuliskan keinginanku.

Singa. Yes, singa! Pertama kali aku suka pada singa adalah saat menonton film Narnia seri pertama. Aslan, sosok singa yang sungguh menarik. Dia gagah, dan berhati baik. Sejak saat itu, kalau melihat singa, aku lebih ingin mendekat dan mengelus surainya daripada kabur. Aku juga berandai-andai jika saja aku bisa memelihara singa di rumah. Empuk kali ya, dibuat sandaran sambil tiduran. (Dikira boneka! Hihihi).

Gajah. Ahhh... kalau ini karena ke-melow-annya. Bagiku, mata seekor gajah berbicara banyak hal dan melow. Menurutku, gajah juga merupakan hewan yang mudah tersentuh dan lembut. Setiap melihat gajah di liputan televisi atau di kebun binatang, aku jarang menemukan “api yang menyala” di mata seekor gajah. Lebih banyak kelembutan dan kasih di sana. Rasanya, aku ingin punya satu keluarga gajah untuk dipelihara di rumah. Aku bakal bahagia kalau ngelihat ibu, bapak dan anak gajah saling bercengkerama, saling mengasihi. Ingin ngobrol juga dengan mereka dari hati ke hati. Barangkali punggung mereka lelah bekerja dan butuh tukang pijat.

Koala. Kalau yang ini, karena lucu aja sih. Hehehe. Salah satu binatang favorit sejak lama. Wajah dan tingkahnya lucu.

Jerapah. Ini sih gara-gara aku nonton Madagaskar. Hehehe.

       Penguin. Cara jalannya lucu, unik. Dia juga hewan yang baik. Heheheh. Melihat penguin berjalan pelan, seolah melihat seorang anak kecil yang belajar berjalan. Yah, bisa sebagai obat rindu dekat dengan anak kecil.

Itulah lima binatang yang membuatku benar-benar terpesona dan ingin memiliknya di rumah. Sempat berpikir menuliskan buaya. Tapi, kemudian ingat kalau aku tak suka mantanku; aku tak suka buaya darat.

Minggu, 11 Juni 2017

Penyebab dan Tips Budaya Konsumtif

Kebetulan sekali, kemarin aku nonton video tentang harapan. Sekelompok orang, masuk ke dalam ruangan luas dengan sejumlah balon di tangan. Sebuah suara menggema ruangan, memberi instruksi. 

Apabila keinginan yang suara itu sebutkan adalah keinginan para pemegang balon, maka mereka harus melepaskan satu balon. Ada banyak daftar keinginan yang akan disebutkan oleh sumber suara. Maka, para pemegang balon harus melepaskannya satu per satu hingga balon di genggaman habis.

Pernyataan awal yang sumber suara itu sebutkan masih seputar hal-hal ringan. Misal, membelikan ponakan mainan, jalan-jalan saat liburan, dan lain-lain. Orang-orang mulai melepaskan satu per satu balon dengan senyum lebar.

Lama-lama, balon di genggaman mulai berkurang. Bahkan ada yang habis. Padahal masih banyak pernyataan yang masih diungkapkan sumber suara. Dan, pernyataan itu termasuk hal yang lebih penting dari pernyataan sebelumnya. Misalnya saja, menabung untuk pendidikan anak, pernikahan, hingga mengajak orang tua melakukan perjalanan spiritual--bisa diartikan naik haji bagi muslim.

Senyum mereka yang awalnya lebar mulai surut. Mereka yang telah kehabisan balon berharap masih punya beberapa balon untuk dilepaskan pada keinginan penting seperti itu. Sayangnya, mereka telah menghabiskannya tadi.

Nah, keinginan untuk belanja juga demikian. Saat punya banyak uang, maka daftar belanjaan tiba-tiba saja bertambah panjang. Karena yang ada dipikiran hanyalah apa yang diinginkan saat itu. Bukan rencana jangka panjang. Saat uang mulai menipis, barulah ada rasa sesal. Berharap masih ada sejumlah uang yang tersisa untuk sesuatu yang lebih penting.

Secara kebetulan lagi, aku pernah nulis tentang tips mengerem keinginan belanja di sini. Barangkali bisa menjadi solusi untuk beberapa orang.


*postingan ini dibuat untuk 1minggu1cerita dengan tema budaya konsumtif


Hai, ini aku!


sumber: google


Hai, em.. aku tak pandai menyapa. Aku juga tak pandai mengawali sebuah percakapan. Tapi, tak apalah. Ini hanya perkenalan. Yang mana, aku akan membeberkan apa yang terlihat di kulitnya saja. Karena, kalau mau tahu lapisan yang lebih dalam, bukan perkenalan namany; tapi pendekatan. :D

Aku ulangi ya.

Hai, aku Putri. Lengkapnya Putri Lestari. Namaku memang terlalu mudah diingat. Tapi, wajahku tidak. Bahkan banyak yang lupa aku pernah satu sekolah dengannya. Mungkin bukan tidak ingat, tapi tidak tahu kalau aku satu angkatan dengan mereka, hehehe. Karena aku lebih senang datang lebih awal, mengambil posisi yang tidak memperlihatkanku menonjol (di belakang atau tengah), kemudian menunduk untuk membaca buku atau sekedar mengamati ini-itu.

Intinya, aku tidak suka disorot lampu, tidak suka jadi pusat perhatian.

Lalu, bagaimana seseorang bisa melihatku dan membawaku pada hidupnya?

Hmm, aku juga sedang mempertanyakan itu.