sumber gambar: google
Dua
tahun lalu, saat aku lulus kuliah, aku merasa kehilangan sesuatu yang sangat
penting dalam hidup, yaitu jati diri dan arah hidup.
Setalah
lulus, aku tidak tahu ingin jadi apa. Kebingungan besar melandaku. Sementara
waktu terus berjalan, tak mau menunggu aku yang bingung. Sementara semua ini
terlanjur terjadi, orang-orang kampung memandangku lebih tinggi, sebagai seorang
sarjana—tidak banyak yang sarjana di kampungku, kecuali mereka anak perangkat
desa.
Aku
ini sarjana pendidikan, tapi saat itu aku tidak ingin mengajar. Em, mungkin
lebih tepatnya, tidak ingin mengajar fisika. Begitu lulus, aku yang lemah dalam
bahasan-bahasan kelistrikan, elektromagnetik, dan sejenisnya, merasa enggan
bertemu fisika. Bisa dibilang, aku kehilangan kemistri dengan fisika.
Tapi,
aku tidak kehilangan passion untuk
mengajar. Aku tetap ingin mengajar. Di dalam kelas, bertemu banyak siswa,
tetapi aku tidak ingin membicarakan fisika sama sekali. Padahal, empat tahun
aku kuliah fisika dan mendapatkan gelar sarjana dari sana. Sudah semestinya aku
berada di dalam kelas dan mendongeng tentang hukum newton. Lalu, apa yang akan
kulakukan di dalam kelas kalau tak mau berbicara tentang fisika sama sekali?
Saat itu, aku berpikir bahwa aku gila. Hahahaha.
Sudah
ada niatan dalam hati untuk berhenti dulu, sembari berpikir. Tidak memasukkan
lamaran ke sekolah mana pun, sambil memantau peluang pekerjaan lain. Tapi,
takdir berkata lain dan mempertemukan aku dengan sebuah pekerjaan paruh waktu:
jadi tutor les. Awalnya aku berpikir untuk menolak. Aku masih membutuhkan waktu
untuk berpikir. Setelah berpikir ulang, luntang-luntung sambil berpikir itu tak
enak. Lebih baik aku jalani ini sambil berpikir. Aku pun menerima tawaran itu.
Satu
bulan, dua bulan, tiga bulan, hingga satu tahun, aku masih merasa ingin kabur
dari pekerjaan ini. Aku tak suka. Terjerat. Dadaku sesak. Aku ingin lari sejauh
mungkin. Aku tetap tidak ingin mengocehkan hukum newton terlalu banyak di depan
siswa. Merasa kemampuanku tak seberapa. Walau siswa banyak yang terbantu atas
dongengku. Beberapa kali aku bolos kerja untuk memasukkan lamaran ke Bank dan
perusahaan lain. Sayangnya, tak satu pun usahaku membuahkan hasil. Tak ada yang
memanggilku untuk wawancara. Aku merasa semakin frustasi.
Orang
tua dan teman-temanku tak tahu apa yang kurasakan ini. Orang tuaku menyuruhku
melamar ke sekolah-sekolah. Aku melakukannya dengan setengah hati. Orang tuaku
berharap ada dari salah satu sekolah itu memanggilku. Tapi, hatiku berharap itu
tidak akan terjadi.
Aku
tidak tahu ingin berbuat apa dan ingin jadi apa. Aku tidak tahu harus melangkah
ke mana.