Ada seseorang yang secara nggak langsung bilang kalau
aku ini nggak jenius/nggak pinter karena nggak pernah nakal waktu kecil. Dan aku juga
nggak “tahan banting” karena keluarga mendidikku tanpa “kekerasan”. Sejak saat itu, aku belajar dua sampai
tiga kali lipat dari biasanya sebelum mengajar les. Dan aku mencoba
untuk “lebih kuat” dari biasanya.
Seorang teman juga pernah bilang padaku kalau
aku ini orang yang open-minded. Gara-gara
aku yang “kalem” dan jarang berkata kasar kuat bertahan pada obrolan bertema
celana dalam. Aku nggak menyuruh mereka berhenti atau pergi meninggalkan
orbolan.
Aku nggak suka memberi sekat pada
sesuatu, hingga mereka membentuk kotak-kotak tertentu. Aku justru heran dengan mereka
yang memberi sekat atau membuat golongan. Suatu hari di semester 4, saat aku
masih kuliah, aku memutuskan untuk memakai rok dan tidak mau memakai jilbab
yang kainnya tipis. Hanya karena aku sudah tidak nyaman dengan penampilanku
yang kemarin. Itu wajar, kan? Seperti saat kita sudah bosan dengan satu gaya
rambut, maka kita akan pergi ke salon dan mengubahnya. Sayangnya, nggak
sesederhana itu menurut orang lain. Orang-orang di sekitarku mulai memandangku
beda. Ada yang bertanya, “masihkah kamu mau menemaniku nonton konser setelah
ini?” atau “apa kamu nggak mau pacaran dan nggak mau dekat dengan lelaki
lagi?”. Hei, apa yang salah? Aku akan nonton konser jika aku suka dan suaranya
tidak terlalu keras. Dan aku akan pacaran jika aku sudah bertemu orang yang
membuatku ingin pacaran.
Aku nggak tahu apa salahnya perempuan
yang memakai rok dan jilbab tebal pergi ke sebuah pertunjukan musik atau drama
bersama teman-temannya. Aku juga nggak tahu apa salahnya perempuan yang nggak
memakai jilbab pergi ke masjid untuk mendengarkan ceramah.
Masih ada satu lagi yang kuingat yang
pernah beberapa orang katakan. Para mantan gebetanku, semuanya bilang kalau aku ini manis. Hahaha! Entah gombal atau nggak,
namanya juga pedekate. Yang jelas aku ingin ingat
itu. Cewek suka ingat kalau dibilang cantik atau manis, kan? :D
Rasanya, aku orang yang lebih mengingat
komentar tentang kekuranganku daripada kelebihanku. Mungkin aku terlalu
negativitas (apa, sih!). Aku jarang percaya apalagi ingat tentang hal baik apa
saja yang orang lain katakan padaku. Misal ada yang bilang aku keibuan, dewasa,
enak diajak cerita dan semacamnya, aku tidak memasukkannya ke dalam hati.
Karena aku tidak percaya kalau punya semua itu. Seringnya, aku ingat hal-hal
negatif atau kekurangan yang orang lain beritahukan padaku. Kenapa begitu, aku
juga tidak tahu.


0 komentar:
Posting Komentar