Sabtu, 22 Desember 2018

Sebuah Keputusan


“Kalau kamu dikasih tiket konser seharga 900-ribu, tapi nggak suka sama band-nya, apa tetap bakal nonton?” tanya Farrah usai aku curhat yang cenderung ngeluh.
“Emm... enggak,” jawabku setelah mikir panjang.
“Mending keluar duit 500-ribu buat beli tiket konser band yang kamu suka. Ya, nggak? Ya emang sih, harus keluar duit, tapi kan kamu suka, kamu seneng, kamu bahagia” lanjut Farrah.
“Iya sih,” kataku membenarkan.
“Aku rasa nggak rugi sama sekali kalau kamu keluar duit 500-ribu tiap bulan, tapi kamu nyaman dan bahagia. Kesehatan jiwa dan batinmu itu lebih penting,” lanjutnya.
Itu obrolanku sama Farrah beberapa hari lalu di salah satu angkringan Jogja. Berhari-hari dan berkali-kali aku berpikir bahwa lima ratus ribu itu berharga. Apalagi sudah merasakan bagaimana susahnya mencari uang dan menabung. Tapi, semakin banyak hari berlalu, rasanya semakin banyak pula ‘toxic’ yang kuterima. Dan, aku mulai setuju dengan argumen Farrah. Kebahagiaan, kenyamanan dan kepuasan emang nggak bisa diukur dengan materi.
‘Toxic’ yang kuterima mungkin sudah berada di level serius. Aku menjadi orang yang banyak mengeluh, sana-sini sambat. Mood nulisku lebih banyak hilang entah kemana. Aku tahu di mana semuanya berakar, tetapi tak kunjung berani bertindak karena terlalu banyak pertimbangan.
Gong-nya adalah beberapa waktu lalu. Satu-dua kejadian membuatku merasa sangat kacau. Efeknya lebih buruk dari sebelum-sebelumnya. Mood-ku berantakan, ingin misuh-misuh, hariku nggak berjalan lancar, tulisan-tulisan terbengkalai. Aku sudah terlalu lelah menghadapi, lalu membuat sebuah keputusan: lebih baik mengeluarkan 500-ribu tiap bulan demi kebahagiaan.
Oh iya, seharusnya postingan ini menjadi postingan detoks diri. Mengeluarkan semua yang kurasa sebagai racun yang telah kuterima. Tapi, urung kulakukan. Karena sadar, bahwa penggosip ada di mana-mana dan kepo sampai mana-mana dan aku nggak suka diomongin di mana-mana. Yak, sekian!

Putri.
Kudus, 22 Desember 2018.


0 komentar:

Posting Komentar