Kamis, 15 Oktober 2015

[Bagian Random] Kencan Pertama



Tangan kananku masih menggenggam dua tiket itu dengan erat.
“Aku percaya, jika tak semua orang punya ayah.”
“Mana mungkin kau lahir, jika kau tak punya ayah.”
“Coba tanyakan pada orang yang kau panggil ayah; apakah suaraku terbata saat berbohong?, apakah aku menangis jika terjatuh saat belajar sepeda?, di mana aku menyembunyikan kertas ulangan yang nilainya jelek?, apakah kepalaku menunduk saat dimarahi?, aku lebih suka balon atau aromanis?, dan apa kau ingat tanggal lahirku?”
“Emmmm….”
“Kau mulai tak yakin dia bisa menjawabnya?..... Jadi????”
“Aku hanya sedang berpikir.”
“Kemudian tanyakan pada dirimu sendiri; apa kau pernah mendengar cerita tentang nabimu darinya?, apa dia membelamu saat kau digoda teman laki-laki sekelasmu sepulang sekolah?, apa kau pernah bercakap panjang-lebar dengannya tentang ibu yang cerewet di pagi hari?, apa kau pernah mengatakan isi hatimu padanya? dan apakah kau ingat bentuk mata, hidung, juga rahangnya? Jika jawabannya tidak, aku rasa kau akan sepakat bahwa tak semua orang punya ayah.”
“Tapi, bukankah ada seorang laki-laki yang menitikkan air mata saat aku lahir? Ada seorang laki-laki yang pernah menggendongku saat bayi, kemudian seenaknya menciumku.”
                 “Lalu, apa laki-laki itu bisa kau andalkan sejauh ini—sejauh kau tumbuh? Apa laki-laki itu tahu tentang dirimu? Apa dia tahu apa yang kau sukai? Apa dia masih—dan selalu—bersamamu?”
                 “Emmm…. Aku tidak tahu jawabannya.”
                 “Kau tidak bisa menjawabnya atau tidak berani menjawabnya?”
                 “Entahlah….”
                 Hening. Sebelah diriku tidak berani bertanya pada sebelah diriku yang lain.
***
Matamu mengekor seorang ayah yang menggandeng putri kecilnya keluar dari pintu tempatmu berdiri. Aku tidak tahu persis apa yang kau pikirkan, tapi dari kejauhan aku bisa melihat cairan bening yang bermuara di sudut matamu. Kau mulai menunduk ketika menyadari bahwa pintu itu sudah ditutup dan sekitarmu sepi.
“Hei, ayo kita pulang. Kau sudah menunggu sejak tempat ini dibuka tadi pagi. Apa kau masih ingin menunggu?”
Kau tersentak dan mendongak. Sebuah senyum yang terkesan dipaksakan terpasang di wajahmu. Tanganmu sedikit gemetar saat meremas dua tiket itu dan melemparnya ke tempat sampah. Aku meraih tanganmu dan menggenggamnya erat.
“Kalau kita punya anak perempuan kelak, ajaklah dia jalan-jalan hanya berdua denganmu. Belikan balon atau aromanis. Gandeng tangannya sepanjang perjalanan. Itu adalah kencan pertama yang diinginkan seorang anak perempuan.”
Suaramu terbata. Kau mengatakannya sambil menunduk dan mengeratkan genggamanmu pada tanganku. Aku mengelus kepalamu pelan. Agar sedikit terobati hatimu yang hancur atas kencan pertamamu yang tak pernah kau dapatkan.



By: Putri Lestari—gadis kecil yang memakai gaun selutut berwarna ungu muda di kencan pertamanya.

Jumat, 09 Oktober 2015

[Bagian Random] Gelisah



Ada yang “mengganggu” pikiranku (lagi). Seperti biasa, aku mulai merasa ingin tapi tak ingin. Berdosa tapi tak berdosa—karena semua orang melakukan hal semacam itu dan tetap hidup damai. Melawan tapi berdamai. Dan menangis tapi terbahak santai. Aku ingin membaginya denganmu; walau tanpa belaian lembut dari tangan beratmu.
Entah kau tahu atau tidak tentang diriku yang mencintaiku dunia pendidikan. Kalau pun kau tahu, mungkin kau hanya melihatku sebagai sarjana pendidikan yang nantinya akan mengajar di sekolah seperti lainnya. Memberi penjelasan, memberi tugas kemudian kutinggal minum teh di kantor hingga bel berbunyi, mengadakan ulangan sesuai ketentuan, hingga menuliskan angka-angka di rapot yang sebelumnya sudah kukalkulasi sedemikian rupa agar tinta merahku masih utuh. Kau pun tentu menerka, aku akan ikut CPNS tahun ini, tahun depan, dan tahun depannya lagi hingga berhasil. Menunggu pengangkatan pegawai, dan bertemu dengan bulan-bulan yang lebih membahagiakan.
Aku tak sepenuhnya menyalahkan terkaanmu. Tapi kenyataannya aku hanya seorang tentor di beberapa lembaga bimbingan belajar. Memang, aku menemukan sedikit kebahagiaan di sana. Mengajari mereka materi-materi fisika dan menyalurkan sedikit pengetahuanku. Mendengar mereka berkata “ooo….” panjang sambil mengangguk, bagiku sebuah kepuasan pribadi. Tapi aku juga menyimpan gelisah.
Aku gelisah dengan pekerjaan “pendidik” yang seperti ini. Kau tahu, sekarang ini banyak bermunculan lembaga bimbingan belajar. Mulai dari lembaga yang namanya sudah terkenal, sampai lembaga kecil-kecilan yang biasanya didirikan oleh seorang guru. Jelas ini menguntungkan bagi sarjana pendidikan—macam aku—yang belum diterima sebagai guru bantu di sekolah. Ibaratnya, pengetahuan yang didapat bisa disalurkan, menambah “jam terbang” mengajar, dan tentu saja sebagai tempat mencari kepuasan mengajar bagi orang sepertiku.
Tapi, aku mengkhawatirkan semua ini. Lembaga bimbingan belajar yang semakin banyak dan ramai murid, guru-guru yang juga mendirikan bimbel. Aku merasa khawatir dengan dunia yang sangat kucintai—dunia pendidikan. Apa yang guru-guru ajarkan di sekolah hingga mereka mencari “sekolah kedua”? Apa metode pengajaran (yang dipelajari, diteliti, hingga disimpulkan mahasiswa pendidikan semasa kuliah) yang diterapkan di sekolah sama sekali tidak berhasil? Apakah orientasi pendidikan di sekolah sekarang ini hanya berpandang pada nilai siswa? Ke mana budaya belajar “mencari dan menemukan” bukan dijejali?
Rasanya aku ingin berlari. Keluar dari semua ini. Meninggalkan sesuatu yang kujalani namun terasa membunuh yang kucintai. Tapi aku tak ingin. Aku tak ingin kehilangan kebahagiaan mengajar yang sedikit itu. Dan aku tak ingin menjadi sarjana pendidikan yang hanya menganggur. Sekalipun rasanya dedikasiku pada dunia yang kucintai tak ada. Mana yang harus kulakukan?
Soal CPNS, entahlah…. Aku dari dulu tak begitu menggebu tentang itu. Aku hanya berharap bisa menjadi guru bantu di sekolah. Setidaknya ada sebuah kelas untukku. Supaya aku bisa mengajarkan materi, pendidikan karakter, memfasilitasi kemampuan individu siswa (yang berbeda-beda) dan apa-apa yang kudapat selama kuliah. Ya, memang aku tak akan mendapat gaji ke-13. Tapi toh bisa makan sehari dua kali sudah cukup bagiku. Sayangnya, tak semudah itu mencari sekolah. Ada “sesuatu” yang tak mudah kujelaskan. Itu artinya, agar aku bisa mendapatkan sebuah kelas, aku harus lolos ujian CPNS. Padahal sudah banyak kabar tentang “intrik” di sana. Dan aku tak menyukainya. Ah, lagi-lagi ini yang kurasakan. Seperti ingin tapi tak ingin.
Kau mungkin bertanya, “kenapa aku tak ikut program mengajar di tempat terpencil seperti yang beberapa temanku lakukan? Jika itu memang cinta dari hati nuranimu”.
Yaahhh…. untuk yang satu ini, aku tak mau banyak berlasan. Aku selalu merasa berdosa ketika tahu anak-anak di tempat terpencil kekurangan guru. Tidak mendapatkan pendidikan yang layak. Mengalami ketimpangan dengan para siswa yang sekolah di kota dan banyak lembaga bimbel di kota itu. Aku pun merasa berdosa jika menyalahkan badanku yang terlalu mudah sakit (mungkin dua bulan sekali aku sakit). Tapi kenyataannya, mungkin saja aku tak akan lolos tes kesehatan. Lari satu putaran lapangan sepak bola saja aku tak kuat—bahkan terkadang setelahnya aku sakit. Rasa berdosa itu selalu ada di dalam hatiku, tapi kadang aku pun berpura-pura tak merasa.
Dan yang terakhir…. ini tentang kau. Aku tak mungkin meninggalkan kau yang (sudah) meninggalkanku—bahkan tanpa pertemuan. Kecintaanku padamu tak akan pernah selesai jika kau masih memperjuangkan nilai-nilai kehidupan, perdamaian umat dan kebahagiaan non materi. Entah bagaimana, aku sangat mencintaimu atas semua itu. Bagiku, kau juga inspirasi yang tak kunjung kering. Bagaimana mungkin aku bisa memenggal perasaan ini hanya karena kau mengidamkan perempuan lain? Hanya karena kau susah diraih dan aku bukan “tipemu”. Tapi, lagi-lagi aku gelisah dan terjerat.
Ada suatu kebiasaan yang disebut “menikah” dalam hidup ini. Jika aku boleh meminta, aku ingin menikah denganmu dan ikut memperjuangkan apa yang kau suarakan. Tapi jika kau memilih orang lain, aku tak bisa berbuat apa-apa. Rasanya aku ingin “membunuh” pengharapanku padamu, agar bisa kurancang pernikahan itu dengan orang lain. Terbahak santai dengan seseorang suatu saat nanti. Namun, aku juga ingin menangis saat melepasmu sebelum memperjuangkan harapanku.