Minggu, 31 Desember 2017

2017: Terlalu Banyak Berhenti


Di akhir tahun ini, saya ingin mengatakan pada diri sendiri, “kamu terlalu banyak berhenti!”
Tahun lalu, saya sudah mengeluhkan hal serupa. Bahwa saya tak tahu harus berjalan ke mana. Rasanya semua jalan buntu, tak saya sukai. Akhirnya saya hanya berhenti, menjalani semua ini setiap hari, hingga sekarang penyesalan terdalam datang.
Tadi, saya melihat postingan foto seorang teman. Dia sedang berlibur dengan keluarganya. Dia tampak sangat bahagia—ya, itu sudah pasti. Setahu saya, pekerjaannya sekarang bukanlah pekerjaan impiannya. Tapi, dari pekerjaan itu dia bisa menghasilkan banyak uang dan membantu perekonomian keluarganya. Itu membuat dia sangat bahagia. Kemudian, saya melihat pada diri sendiri. Saya pun bekerja yang tak sepenuhnya saya cintai. Bedanya saya tak menghasilkan banyak uang dan tak bisa membantu perekonomian keluarga. Dan, saya tetap bertahan di sana. Tahun ini, saya tak berusaha cukup keras untuk berlari.
Saya melihat teman-teman melamar banyak pekerjaan, mencobanya, kemudian mengundurkan diri ketika tak cocok. Bahkan ada seorang teman yang dalam waktu dua tahun telah berganti lebih dari lima pekerjaan. Itu menyadarkan saya bahwa keputusan saya selama ini mungkin keliru. Hingga menyisakan penyesalan di akhir tahun lalu dan akhir tahun ini.
Ada banyak hal, yang saya sesali tahun ini. Karena saya terlalu banyak berhenti. Lebih baik salah jalan daripada berhenti. Jalan yang salah akan membuatmu menemukan jalan yang tepat suatu saat nanti. Kalau berhenti, maka saya tidak akan menemukan yang tepat. Saya telah melewatkan satu tahun ini hanya untuk berhenti.
Maka, yang ingin saya katakan untuk diri sendiri di akhir tahun adalah, “mulailah beranjak, jangan banyak berhenti lagi!”
*ditulis sambil kepo SBS Drama Awards 2017


Jumat, 22 Desember 2017

Film My Love My Bride: Menikah; Belajar Cinta yang Sebenarnya

Sutradara: Im Chan-sang
Produser: Byun Bong-hyun
Penulis: Kim Ji-hye
Pemeran: Jo Jung-suk, Shin Min-ah
Tanggal rilis: 8 Oktober 2014
Durasi: 111 menit
Negara: Korea Selatan

“Apa seseorang tahu arti cinta ketika membicarakannya? Butuh berapa banyak cinta untuk mendefinisikan arti cinta?”

Film ini dibuka dengan adegan yang menarik dan dikemas jenaka. Tokoh utama laki-laki, Young-min (Jo Jung-suk) sedang menunggu pacarnya dengan sebuah cincin, sembari chatting di grup pertemanannya. Young-min membuka obrolan di grup dengan kalimat ‘aku pikir... aku akan menikah’. Seorang teman yang masih lajang memberinya selamat. Di tempat lain, teman-temannya yang sudah menikah digambarkan sedang repot mengurus anak. Membaca pesan dari Young Min, semua temannya yang sudah menikah bersikeras melarangnya, dengan alasan berdasarkan pengalaman. Katanya, ‘jangan menikah. kau akan tetap kesepian setelah menikah. pulanglah, bodoh. aku serius’.
Kemudian, film bergerak pada pernikahan Young-min dan Mi-young (Shin Min-ah). Seperti orang-orang yang menikah pada umumnya, mereka sangat bahagia. Saat itu, bayangan menikah di kepala mereka adalah kehidupan penuh kebahagiaan selamanya. Mereka mengucapkan kalimat-kalimat manis semacam ‘aku akan membahagiakanmu selamanya’ dan ‘aku mencintaimu selamanya’. Tapi, kenyataan berkata lain. Pertengkaran datang menghampiri kehidupan rumah tangga mereka setiap hari, walaupun baru di awal pernikahan. Mulai dari kebiasaan keduanya sehari-hari yang mengganggu satu sama lain, kecemburuan, hingga salah paham yang berujung pada pertengkaran besar. Mi-young merasa lelah dengan semua pertengkaran, dan ingin memikirkan ulang tentang pernikahan mereka. Min-young hampir saja ingin bercerai. Lalu, salah paham di antara mereka mulai terurai. Mereka saling meminta maaf dan berbaikan.


“Kau bertengkar dengan suamimu?”
“Itu sudah rutinitas kami. Setiap hari kami bertengkar. Dia mungkin sudah bosan denganku. Aku mungkin tidak penting dalam hidupnya.”

Konflik rumah tangga yang diangkat dalam film ini dibagi dalam beberapa tema. Dan, semua tema yang diambil terasa dekat dengan kehidupan nyata. Diawali dengan tema rumah baru yang menggambarkan kehidupan awal mereka sebagai pengantin, bergerak halus ke tema omelan yang berarti dimulainya percecokan mereka, kemudian godaan orang ketiga dari kedua belah pihak, dan berakhir pada belajar mencintai dalam pernikahan. Semua tema itu bersatu menjalin sebuah cerita utuh, yang seolah menggambarkan grafik konflik umum dari awal hingga puncak pernikahan. Setiap tema digarap dengan sederhana tapi tetap apik dan realistik. Seolah tidak ada yang dibuat-buat, dan penonton percaya bahwa sebagian besar rumah tangga mengalaminya. Misalnya saja, permasalahan kecil seperti sang suami selalu sembarangan meletakkan barang, jorok menggunakan kamar mandi, berbohong saat pulang larut, sementara istri selalu mengomel dan sering marah. Saya yang belum menikah jadi terbayang kalau nanti mungkin akan seperti itu. Karena biasanya perempuan memang lebih rapi daripada laki-laki, perempuan juga suka ngomel-ngomel—ada juga yang enggak, sih hhee. Ketika sifat dasar itu bertemu dalam sebuah rumah, maka apa yang ada dalam film ini akan terjadi.




Tidak hanya masalah rumah tangga berdua saja yang diangkat, tetapi juga konflik individu saat dihadapkan dengan keadaan yang sekarang sudah tak sendiri. Impian yang dulu rasanya ingin sekali diraih dan diusahakan begitu keras, mulai terpinggirkan perlahan. Young-min yang suka menulis puisi waktunya lebih banyak tersita untuk bekerja. Sementara Mi-young mengesampingkan keinginanya melukis. Mi-young mengajar melukis di sebuah lembaga pendidikan, tak sempat menggores kanvasnya sendiri karena sibuk bekerja dan mengurus rumah. Sesuai dengan realita, sebagian orang yang sudah menikah akan dihadapkan pada konflik batin yang demikian. Antara melanjutkan mimpi atau mengesampingkannya demi kepentingan lain. Saya pun sempat bertanya dalam hati, apakah sebuah impian pantas ditukar dengan pernikahan? Lalu, seiring berjalannya waktu film ini menjawab dengan keduanya yang melanjutkan mimpinya.

“Aku berpikir diriku terus melukis. Kuanggap diriku sedang melukis saat sedang memerika lukisan murid-murid dengan pensil di tanganku.”

Sayangnya, seperti sebuah film drama-romantis pada umumnya, semuanya berakhir manis dan mulus. Impian yang tertunda bisa dilanjutkan, penyelesaian konflik di akhir pun tergolong mudah. Padahal dalam kehidupan nyata, banyak sekali yang merasakan pahit terpaksa melepas impiannya. Kemudian, ada juga yang perlu melalui jalan terjal untuk berbaikan. Tapi, di luar semua itu film ini tetap dapat dinikmati dengan baik.

Menikah; Belajar Cinta yang Sebenarnya

Kata cinta yang sering diagungkan muda-mudi saat kasmaran rasanya menjadi kerdil setelah saya nonton film ini. Arti cinta yang dipahami ketika belum menikah, seolah tak ada apa-apanya. Dua hal dasar yang terlihat kentara pada film ini adalah saling memahami dan membunuh ego. Setiap pertengkaran yang mereka alami, selalu berawal dari ego masing-masing yang tak mau kalah. Semuanya akan kembali baik-baik saja ketika mereka mau saling memahami dan mengesampingkan egonya. Dan, dua hal itu tak mungkin dilakukan tanpa perasaan mencintai pasangan. Di satu waktu mereka bertengkar kecil hingga hebat, tapi di waktu lain mereka menyadari bahwa semua pertengkaran itu tidak ada artinya dibandingkan perasaan mencintai satu sama lain. Walaupun mereka sudah sadar akan itu, mereka tetap sering bertengkar dan akan selalu berbaikan. Begitu seterusnya, sebuah pernikahan berjalan diiringi pertengkaran kemudian kembali pada perasaan cinta yang menyatukan. Pernikahan menjadi ladang yang tepat untuk belajar arti cinta yang sebenarnya.
Saya menobatkan film ini sebagai film yang harus ditonton bagi yang belum/akan menikah. Karena ada banyak hal tentang pernikahan yang bisa diambil. Pun makna cinta dari perspektif orang yang sudah menikah. Apalagi di jaman sekarang, ketika perasaan cinta dengan mudah ‘dipamerkan’ ke semua orang saat sedang bersemi, tetapi begitu mudah luntur saat diterpa badai. Bayangan pernikahan yang sangat membahagiakan seperti yang sering kita lihat di media sosial akan berubah setelah nonton film ini.

Rate: 4/5


Kamis, 21 Desember 2017

Film Le Grand Voyage: Perjalanan Menemukan Kasih Sayang yang Terlambat


Sutradara: Ismaël Ferroukhi
Produser: Humbert Balsan
Penulis: Ismaël Ferroukhi
Aktor: Nicolas Cazalë, Mohamed Majd
Distribusi: Pyramide Distribution
Tanggal rilis: 7 September 2004
Durasi: 108 minute


Tahun 2004, film ini tayang dan setahun setelahnya memenangkan Golden Astor for Best Film di Mar del Plata International Film Festival. Pertemuan saya dengan film ini bisa dibilang tak sengaja. Pencarian film bertema hubungan orang tua dengan anak mengantarkan saya pada film Le Grand Voyage. Dan, saya menobatkannya sebagai film sepanjang masa. Film yang perlu saya abadikan untuk ditonton orang-orang yang saya sayangi—suami dan anak misal, ehem.
Dari Perancis Selatan, kisah ini bermula ketika seorang Ayah ingin menunaikan ibadah Haji menggunakan mobil. Kakak tertua dalam keluarga mereka tak bisa mengantar, karena surat ijin mengemudinya ditahan setelah melakukan pelanggaran lalu lintas. Maka, Reda, sang adik yang terpaksa menggantikan tugas itu. Padahal hubungan Reda dan Ayah kurang baik. Mereka punya prinsip hidup dan keyakinan tentang Tuhan masing-masing. Ayah Reda pemeluk islam yang taat, sementara Reda dalam film hanya digambarkan tak pernah beribadah (shalat). Perjalanan keduanya dimulai tanpa percakapan hangat. Di perjalanan jauh itu, tampak sifat keduanya yang sama keras kepala. Hal kecil semacam memilih jalan mana yang harus dilewati saja diperdebatkan sengit.
“Mengapa Ayah tak naik pesawat ke Mekkah? Itu jauh lebih mudah.”
“Saat air laut naik ke langit, ia akan kehilangan rasa asinnya untuk menjadi murni kembali.”
“Apa?”
“Air lautan menguap saat ia naik menuju ke awan. Dan saat air laut menguap, ia menjadi air tawar. Itu alasan mengapa lebih baik menempuh perjalanan haji dengan berjalan kaki daripada mengendarai kuda, dan lebih baik mengendarai kuda daripada naik mobil, dan lebih baik naik mobil daripada naik perahu, dan lebih baik naik perahu daripada naik pesawat terbang.”
Walau mereka terlihat tak menyukai satu sama lain, tapi di hati terdalam mereka ada kasih sayang anak dan orang tua. Terbukti saat mereka dihadang oleh badai salju. Bermalam di mobil, keesokan harinya Reda menyadari bahwa mobilnya tertimbun salju. Reda membangunkan Ayahnya yang masih tertidur. Ayah tak kunjung bangun karena demam. Sekuat mungkin Reda menghancurkan es yang menyelimuti mobilnya dan membawa ayah ke rumah sakit. Reda benar-benar khawatir terjadi sesuatu pada Ayahnya.
Ketika sang Ayah sehat kembali, dia meminta perjalanan dilanjutkan. Di urusan bea cukai, mereka bertemu Mustafa. Seorang laki-laki yang membantu mereka berkomunikasi dengan pihak pabean. Mustafa pun ikut menumpang dengan alasan ingin naik haji. Ayah menyuruh Reda berhati-hati dengan Mustafa. Tapi, Reda justru percaya dengan Mustafa karena kehadirannya menawarkan sikap yang hangat. Mustafa bisa menjadi teman ngobrol yang baik untuk Reda. Secara terbuka, Reda menceritakan tentang Lisa, seorang perempuan yang disukainya di sekolah. Lisa bukan seorang muslim, dan Reda menutupi hubungannya dengan Lisa dari keluarganya. Terlalu percaya pada Mustafa, Reda pun mau saja saat diajak mabuk-mabukan, ketika Ayah tidur di penginapan. Paginya, Ayah membangunkan Reda, memberi tahu bahwa Mustafa tak ada di kamar dan uang bekal mereka raib.
“Kenapa pergi ke sana menjadi begitu penting? Mengapa Mekah begitu istimewa?”
“Kita sudah sampai sejauh ini dan kini kau baru tertarik menanyakannya?”
“Haji itu penting. Ia adalah rukun Islam yang kelima. Semua muslim yang mampu, harus melaksanakannya sebelum mereka meninggal untuk mensucikan jiwa mereka. Kita semua pasti mati nantinya. Kita hanyalah tamu di bumi ini. Satu-satunya yang Ayah takutkan ialah meninggal sebelum melaksanakan kewajiban. Dan, tanpamu Ayah takkan pernah bisa berhasil.” 
Perjalanan dilanjutkan dengan sisa uang yang sedikit. Perdebatan kembali mewarnai perjalanan mereka hingga membuat Reda marah. Di gurun pasir, Reda berniat meninggalkan Ayahnya sendirian, tak mau lanjut mengantar naik Haji. Ayahnya menyusul, memberikan tawaran bahwa Reda akan pulang setelah mereka sampai di kota. Mobil akan dijual, Reda bisa pulang naik pesawat. Ayah akan memlanjutkan perjalanan seorang diri dengan berjalan kaki. Tak tega, Reda pun akhirnya mau mengantar Ayah kembali. Sifat Ayahnya yang luluh itu, membuat Reda mulai luluh juga. Reda mulai bertanya tentang ajaran agama yang dijalani sang Ayah. Perjalanan dilanjutkan hingga sampai ke Mekkah. Reda berhasil mengantarkan Ayahnya Haji. Tapi, Ayahnya tak kembali. Film ditutup dengan tangisan Reda. Tangisan menyesakkan dada, penyesalan seorang anak yang terlambat menemukan kasih sayang untuk ayahnya.
“Ayah banyak belajar dari perjalanan ini.”
:”Begitu juga aku.”
Film ini membuat saya banjir air mata, terutama pada bagian akhir. Sekaligus membuat saya belajar untuk tidak terlambat dalam menyayangi orang tua. Deskripsi hubungan anak-ayah di film ini sangat mengena di hati. Perbedaan prinsip hidup, pendapat, karena hidup dan tumbuh pada jaman yang berbeda menjadi dasar ‘ketidakcocokan’ orang tua-anak. Di film ini, semua itu dikemas apik dan dekat dengan penonton, sehingga saya (sebagai seorang anak) yang menonton pun mengamini semuanya. Kemudian, di akhir film, hati kita dipukul dengan penegasan bahwa semua ketidakcocokan itu bukanlah apa-apa karena sebenarnya yang terbesar adalah kasih sayang. Saya memberikan 5 bintang penuh untuk film yang sangat menyentuh ini.

Rate: 5/5

*sumber gambar: google            
  

Minggu, 17 Desember 2017

#Renungan 24: Keinginan dan Terlambat



Pagi tadi, ponakan perempuan saya yang berumur tiga tahunan pamer sendal baru. Sendal jepit berwarna pink dengan bulatan bulu di atas jepitnya. Sendal model ini memang beberapa waktu lalu sangat hits. Ada juga untuk orang dewasa. Sorenya, tetangga saya yang berumur empat tahunan, teman main ponakan, membeli sendal yang sama. Keinginan anak itu untuk memiliki sesuatu yang sama dengan ponakan saya begitu cepat terpenuhi. Berbeda dengan diri saya waktu kecil hingga terbawa dewasa.
Saat TK, saya ingin sendal bakiak modern seperti milik sepupu. Sendal itu sampai saya bawa pulang dan perlihatkan kepada emak. Saya bilang, ingin sendal seperti itu. Emak hanya mengiyakan, tapi tidak sekarang. Katanya nanti, kalau gentengnya laku. Waktu itu orang tua saya berwirausaha membuat genteng. Sabar menunggu, akhirnya saya pun dibelikan sendal itu. Agak lama, hingga boomingnya sudah lewat. Haha.
Beranjak kelas dua SD, teman-teman saya mempunyai sepeda. Mereka semua punya sepeda dan bersepeda bersama di minggu pagi. Saya selalu tertinggal kegiatan itu karena tak punya sepeda. Keinginan saya ikut bersepeda sangatlah besar. Karena Senin paginya mereka selalu membicarakan keseruan bersepeda kemarin, dan saya tak pernah mengerti apa yang mereka bicarakan. Mereka asyik bercerita, saya mendengarkan seorang diri. Ketika saya menyampaikan keiginan punya sepeda, orang tua saya pun meminta untuk menunggu. Satu tahun setelahnya, saya baru dibelikan sepeda.
Berlanjut ke SMP, saat semua teman-teman saya punya HP. Jaman dahulu, belum ada android, jadi jangan dibayangkan HP canggih semacam BBM atau Android. Maksud saya, HP sejenis Nokia, Soni, dan lain-lain. Teman-teman saya bertukar nomor HP kemudian saling berkirim pesan. Saya tak bisa melakukannya dan di usia itu, saya mulai mengekang keinginan yang perlu disampaikan pada orang tua. Tak saya ungkapkan bahwa semua teman punya HP dan saya juga ingin punya. Karena saya tahu, jawaban mereka pasti menyuruh menunggu. Seperti sebelum-sebelumnya. Lama-lama saya sadar bahwa tak semua keinginan saya pantas diungkapkan pada mereka.
Saat itu, saya pun menyiasatinya dengan berbagi HP bersama kakak perempuan. Nomor kakak, saya akui sebagai milik sendiri juga. Sehingga teman-teman bisa menghubungi saya dan sebaliknya. Dua tahun kemudian, barulah tabungan saya mencukupi untuk membeli HP. Kejadian ini pun terulang saya SMA. Semua teman saya punya motor, dan saya tidak. Saya tak pernah minta pada orang tua.
Hari ini, saya menyadari bahwa keinginan saya ternyata selalu terlambat. Terlambat terpenuhi. Tak seperti keinginan anak-anak lain. Teman-teman saya dulu, selalu mendapatkan apa yang diinginkan. Hingga semua keterlambatan yang saya alami membuat diri ini sungkan mengungkapkan keinginan pada orang tua. Saya lebih suka membebani diri sendiri, ketika menginginkan sesuatu. Efeknya mungkin baik, karena saya peka terhadap keadaan dan bisa mengendalikan setiap keinginan. Tapi, ada pula buruknya, yaitu membebankan semuanya pada diri sendiri hingga kadang merasa sendirian dan lelah sendirian untuk meraih keinginan-keinginan itu.

*gambar diambil dari google

*ditulis untuk #1minggu1cerita