Sabtu, 29 Juni 2019

Traveloka Dulu, Pasti Naik Bus Nyaman Kemudian

Sejak pindah ke Yogyakarta, saya berharap ada jalur kereta api Yogyakarta-Kudus. Saya lelah menghadapi ‘kejar-kejaran’ bus untuk pulang kampung. Dan, Tuhan mengabulkan doa saya dalam bentuk lain. Saya tidak perlu lagi menghadapi drama mengejar bus karena Traveloka menyediakan pemesanan tiket bus.
Dulu, saat akan pulang kampung saya selalu cemas dalam perjalanan menuju Terminal Bus Jombor. Di perjalanan, saya berdoa agar saya datang di waktu yang tepat. Artinya, saya masih bisa mendapatkan tiket bus (for your information, tiket bus memang hanya bisa didapatkan dengan datang langsung ke agen di terminal) dan tak perlu menunggu lama. Karena Yogyakarta-Kudus bukanlah jarak dekat dan memakan waktu kurang lebih lima jam perjalanan. Waktu benar-benar berharga untuk saya, agar segera sampai rumah dan bertemu keluarga.
Jika beruntung, saya akan mendapatkan tiket bus yang segera berangkat. Jika tidak, ya saya harus menunggu bus selanjutnya—yang biasanya berjeda satu jam lebih dari keberangkatan bus yang lalu. Bahkan pernah satu kali saya harus menunggu lebih dari dua jam. Jadwal keberangkatan bus pun sering berubah tanpa pemberitahuan lewat media sosial atau jejaring sosial lainnya. Ketidakpastian itu sering membuat saya kesal. Pernah satu kali, di bulan ini bus menuju kampung halaman berangkat pukul 07.00. Bulan depannya, ternyata jadwal berubah dan saya harus menelan kecewa sesampainya di terminal. Perubahan jadwal keberangkatan ini pun hanya bisa kita tahu jika datang langsung ke agen di terminal dengan meminta informasi di sana. Tapi, untuk orang yang tak banyak waktu luang dan jauh dari terminal, ini susah dilakukan.
Saya bersyukur dengan kehadiran fasilitas Bus Traveloka. Jadwal keberangkatan bus jelas, dan saya sudah pasti berangkat karena sudah mengantongi tiket elektronik dari Traveloka. Ini benar-benar membantu saya yang jauh dari terminal dan tak punya banyak waktu untuk pergi ke terminal memesan tiket. Sekarang saya tak perlu cemas lagi karena bisa memesan tiket bus melalui traveloka dengan sangat mudah. Armada bus yang diajak bekerja sama oleh Traveloka juga merupakan yang sering saya gunakan. Jadi, saya tak perlu cemas lagi dengan perjalanan nantinya.
Caranya memesan tiket bus di traveloka sangatlah mudah. Buka saja aplikasi traveloka, pilih Tiket Bus dan Travel, lalu mengisi tempat asal-tujuan hingga data diri. Metode pembayaran yang ditawarkan Traveloka pun beragam. Dan, yang paling menyenangkan adalah ada potongan harganya!Hahaha!
Saat pertama kali memasan tiket bus di traveloka, saya sama sekali tidak cemas. Karena sebelumnya sudah pernah memakai fasilitas pemesan tiket kereta api dari traveloka dan sudah membuktikan sendiri bahwa Traveloka terpercaya. Benar saja, sampai di terminal saya hanya tinggal menunjukkan tiket elektronik dari Traveloka. Jadi, tidak salah jika saya bilang ‘traveloka dulu, pasti naik bus nyaman kemudian’.
Oh iya, yang paling menyenangkan adalah Traveloka mengadakan survey untuk fasilitas pemesanan tiket bus dan travel ini. Artinya, untuk fasilitas yang sudah bagus sekarang ini, Traveloka masih akan terus mengadakan perbaikan dengan mau mendengarkan apa yang diinginkan pelanggan. Saya harap, Traveloka akan terus meningkatkan layanan ini dan semakin maju. Jangan lupa isi survey kalian ya, karena ada hadiah kupon potongan harga dari traveloka. Yeay!
Libur telah tiba! Selamat mencoba Tiket Bus dan Travel dari Traveloka! Traveloka dulu, pasti naik bus nyaman kemudian.

#BusTualangTraveloka

Rabu, 05 Juni 2019

#Renungan26: Waktu akan menyembuhkan


Malam ini saya keliling kampung. Halal bi halal. Dari satu rumah ke rumah yang lain, bersalaman, lalu saling berucap maaf. Kadang ada satu-dua percakapan tentang kabar. Saya melihat banyak luka sekaligus pemaafan dari sorot mata, getar suara dan raut wajah mereka ketika bercerita. Tiba-tiba saya ingin berbicara pada diri sendiri: luka, cobaan, atau apa pun yang kamu hadapi pada saat ini, akan disembuhkan oleh waktu.
Ada banyak cerita malam ini. Sebagian tentang luka masa lalu. Tentang sepenggal kisah hidup yang di masa lalu ingin dilupakan, ingin dilenyapkan dari bagian kehidupan. Tetapi malam ini, setelah bertahun-tahun bagian muram dari kehidupan itu berlalu, orang-orang mulai bisa mengisahkan dengan ikhlas, tanpa beban. Saya menatap khidmat saat mereka bercerita. Saya ingat, betapa di masa lalu itu pernah menjadi luka bagi mereka. Lubang yang membuat mereka terjerembab hingga tertatih begitu lama untuk bisa bangkit. Dari sorot mata yang jujur, malam ini luka itu telah musnah. Lalu, saya sadar bahwa waktu memang menyembuhkan.
Ada juga yang baru terluka. Kepalanya berat menopang beban, hatinya mengulur pada Tuhan minta dikuatkan. Saat ini, baginya, semua terasa berat. Tapi, saya percaya bahwa waktu akan menyembuhkan. Percayalah.

Btw, ini #Renungan26 lanjutan dari #Renungan23 dan #Renungan24, ya. Kalau #Renungan25 memang nggak ada. Ya, waktu itu memang maunya berhenti, nggak ada renungan-renungan lagi. Dan, saat itu saya merasa sangat lelah dengan hidup yang ‘merenung’ gitu. Saat itu saya maunya los aja, nggak usah mikir apa pun tentang apa yang terjadi di dua lima. Hidup suka-sukalah. Tapi, setelah beberapa hari ini membaca ulang tulisan renungan di blog, saya jadi ingin lanjut lagi. Saya melihat diri saya ‘tumbuh’ dari tulisan itu. Apa yang saya renungi tahun ini, jelas beda dengan tahun depan. Apa yang saya pikirkan pun begitu. Jadilah saya lanjut #Renungan26, biar apa yang ada di kepala terabadikan aja. Dan, sebagai rekam jejak bahwa jiwa saya tumbuh.