Kemarin, saat memakai lipstik mau berangkat kerja,
tiba-tiba saya menangis. Tiga minggu sesak saja di dada, tanpa bisa ditata,
akhirnya kemarin keluar begitu saja. Lepas begitu saja. Setelahnya, saya tahu
akan ada perenungan-perenungan. Banyak
sekali yang berputar-putar di kepala. Pada akhirnya, di pagi hari yang sunyi tadi,
saya memutuskan untuk beranjak dewasa. Keputusan, perbuatan dan apa pun itu
dalam hidup saya, semuanya sedang beranjak dewasa.
Perasaan sensitif harus ditepis. Logika,
pertimbangan dicampur intuisi harus diberi ruang lebih banyak. Sabarku tiada
batas. Kasih sayangku tulus tiada batas pula. Tapi bukan berarti semuanya serta-merta
bebas dan terlalu luas. Dalam beranjak dewasa, saya belajar untuk menyikapi
semuanya dengan lebih lembut, sabar dan bijak. Dan, menjadi dewasa memang tidak
pernah mudah.
Saya belajar dari masa lalu. Masa lalu untuk masa
depan yang lebih dewasa. Saya tak ingin terjebak pada langkah yang sama di masa
lalu. Karena di masa sekarang, saya sedang beranjak dewasa. Dan, saya tahu
menjadi dewasa memang tidak pernah mudah.
Satu hal yang saya renungkan kemarin: masa lalu.
Banyak hal yang saya dapatkan hari ini. Tak hanya soal hubungan, tapi juga
kepribadian, impian dan karir. Semua tiba-tiba mencuat dalam pikiran dan
menggusur semua pemikiran lama saya.
Secuil obrolan dengan Farrah kemarin.
“Kamu nikah dua tahun lagi. Paling tidak, untuk
serius dengan laki-laki, kamu butuh dua tahun lagi. Dan itu dengan orang baru
dalam hidupmu. Bukan dengan orang lama.”
“Kenapa harus dua tahun lagi? Nggak bisa tahun depan
aja aku nikahnya?”
“Kenapa harus cepet-cepet sih, put?”
Awalnya agak kecewa dengan prediksi dua tahun lagi.
Karena walaupun di dalam sini belum ada siapa-siapa, tapi saya berharap tahun
depan. Tapinya lagi, tadi pagi saya belajar bahwa buat apa tahun depan? Ada banyak impian dan karir yang ingin saya kejar,
belum tercapai sama sekali. Kenapa waktu saya harus terbuang sia-sia tanpa
mendapatkan apa pun? Lalu, saya menyadari bahwa sebuah pernikahan membutuhkan
kedewasaan yang sejati. Kenapa saya tidak belajar menjadi pribadi yang matang
terlebih dahulu?
Saya pun meraih sebuah buku dna membuat sebuah ‘timeline
karir’.
Apapun itu, saya berterima kasih atas diri ini di
pagi tadi. Atas semua pemikiran dan perenungan. Atas keputusan untuk beranjak
dewasa. Dan, ingat, menjadi dewasa tidak pernah mudah.
Jogja, 30 Juli 2019.
