Rabu, 28 Agustus 2019

104.7 FM


Dari 104.7 FM, Dira menemukan nama Musika beserta nomor ponselnya. Musika hanya nama julukan. Dua belas tahun lalu, tidak ada tinder, tidak ada ‘biro jomblo’ seperti yang dipelopori Alit di twitter. Orang-orang mencoba peruntungan lewat acara radio. Dan, itulah yang dilakukan oleh Musika.
Setiap malam, Dira hanya mendengarkan acara itu. Ia mencatat nama dan nomor ponsel yang dibacakan. Sayangnya, ia tak punya ponsel. Ia tak mampu menghubungi nama julukan yang mencuri perhatiannya. Satu tahun berlalu, tabungan Dira ditukar dengan sebuah ponsel. Saat itu ia tengah dekat dengan seorang laki-laki yang bekerja di dekat kantor. Setiap istirahat makan siang dan pulang kerja, mereka selalu ngobrol ngalor-ngidul. Tetapi, semuanya tidak berjalan lancar.
Kesendirian membuat Dira mencari buku catatan di masa lalu. Ia menemukan banyak nama dan nomor ponsel dari acara radio di masa lalu itu. Lama ia memandangi catatannya. Lama ia berpikir, mana yang akan dihubungi. Dan, berlabuhlah matanya pada nama Musika. Sebuah nama yang menarik hatinya. Sebuah nama yang akhirnya selalu dikirimi surat seminggu sekali. J
Ya, setelah satu-dua pesan singkat perkenalan, mereka memutuskan untuk berkirim surat. Tahun-tahun berlalu, puluhan surat saling dikirim, dan akhirnya intuisi Dira untuk menghubungi Musika mengantarkannya pada simpul hubungan seumur hidup. Sekarang mereka berbahagia bersama satu anaknya. J

Catatan: nama tokoh disamarkan. Saluran frekuensi radio bukan yang sebenarnya. Entah itu, ada atau enggak frekuensi segitu. Hahaha. Dan sekarang entah masih ada atau enggak acara pencarian jodoh di radio. Hahaha.



Intuisi

...dan kau ada di antara milyaran manusia
dan kubisa, dengan radarku menemukanmu...

Dari belahan bumi lain, sebuah cerita bergulir saat mobil Rha mogok. Sekian banyak kendaraan lain yang lewat, hanya mobil Herman yang berhenti. Ia memberi bantuan pada Rha. Dan, dalam hitungan bulan, Herman sudah menjadi seseorang yang akan selalu membantu Rha dalam hal apa pun. Selanjutnya, seterusnya dan seumur hidup mereka.
Lain soal dengan Lena. Di penghujung sendirinya yang hampir lima tahun, ia mendapati bahwa Adi ternyata penggenap jiwanya. Empat tahun lalu, Adi hanya seorang teman berbagi diskusi soal pekerjaan. Ya, mereka satu kantor selama dua tahun dan tidak pernah terjadi apapun dalam bilangan tahun itu. Di satu sisi yang hampa, Adi tiba-tiba menghubungi Lena lagi. Hanya dari bertanya kabar, lalu semuanya berujung pada kecocokan dan hubungan yang matang.
Saya percaya, pertemuan-pertemuan berharga itu didasari oleh sesuatu yang magis. Entah bagaimana, hati bisa menggerakkan raga manusia untuk mencapai pertemuan-pertemuan itu. Ketika dikenang menyisakan kesan yang hangat dan dalam.
Intuisi. Saya rasa itulah benang merah dari semua proses penggerak hati ke raga. Di sini, saya akan menuliskan pertemuan-pertemuan berharga itu. Dengan mana yang disamarkan atau dengan nama asli. Tentu saja atas seijin pemilik pertemuan manis itu. Saya akan membawa pertemuan berharga itu ke dunia fiksi, tetapi pertemuan itu tetap milik kalian. :)
Jika ingin kisahnya dituliskan, boleh banget, kok. Saya akan sangat senang. :)

 

Senin, 26 Agustus 2019

Diet(?)


Diet? Boleh aja kok. Emm.. tapi kalau tujuan dietnya untuk melebihkan diri sendiri dan melihat orang lain dengan kacamata ‘ketidaksempurnaan’, itu sangat salah. Jika dalam hati ada sebutir debu niat yang berkata bahwa “saya diet agar badan saya bagus, tidak seperti kamu”, maka sebenarnya bukan diet yang dibutuhkan tetapi main yang jaaauuhhh. Hahahaha! Pemikiran terlalu sempit, lalu membawa ke ujung simpulan salah kaprah kadang menyakiti orang lain. :’)
Body Shaming. Disebut demikian, dan di sini saya sering mendengarnya bahkan pernah mengalami. Saya pernah ada di satu titik tidak mau dibonceng orang lain. Karena beberapa ada yang bilang teralu berat, gendut, dan lain-lain. Lebih baik saya menghindari keadaan itu daripada hanya menerima kalimat sampah dari mereka.
Kadang, saya tanya “eh, aku berat, ya. Maaf, ya.” Saat jawabannya “enggak, kenapa kamu minta maaf”. Duh, ingin kuajak hidup bersama selamanya orang-orang macam itu. Tapi, ya, lebih banyak yang berkata sebaliknya, sih. Hahaha.
Saya pun pernah ada di fase diet untuk orang lain. Pernah, agar si dia suka sama saya karena tipenya cewek-cewek kurus kaki panjang macam girlband koryah. Tapi pandangan saya berubah, saat melihat pasangan yang mereka tidak memandang fisik sama sekali. Tidak masalah apapun bentukmu, asal sejiwa ya sudah, asal satu frekuensi ya sudah, hal remeh-temeh bentuk fisik tidak akan jadi soal. Dan, saya melihat kebahagiaan di antara mereka sangat berlimpah. Pernah, agar orang lain memandang saya lebih baik daripada sebelumnya, agar tidak di “body-shaming” lagi. Tetapi, lama-lama saya juga menyadari bahwa saya tidak perlu dihargai oleh orang-orang yang memandang dalam satu sisi. Apalagi hanya dari segi fisik. HAHA! Teman-teman dekat yang saya sayangi tidak pernah seperti itu.
Dan, ya, terakhir. Sebagai pengingat saja. Bahwa Tuhan sudah menciptakan manusia dalam sebaik bentuk. Semua orang, bagaimana pun wujudnya. Jadi, hargai semuanya.
Diet? Boleh saja. Boleh banget. Untuk diri sendiri yang lebih baik bukan untuk orang lain atau untuk kata sempurna dari orang lain. Mari, menerima diri sendiri dengan bahagia. Lalu menemukan orang lain yang mau menerima diri kita dengan bahagia pula. J

Putri.