Dulu, saya selalu kagum
dengan seseorang yang berani resign dari pekerjaannya karena merasa tak cocok,
tak nyaman, atau merasa pekerjaan itu bukan ‘dia banget’ dan belum mendapat
pekerjaan baru. Artinya, dia berani memutuskan untuk menganggur, di antara
berjuta umat manusia yang tak ingin menjadi pengangguran. Saya menjadi bagian
dari berjuta umat manusia itu. Takut menjadi pengangguran, tak ada penghasilan
setiap bulan, dan yang paling membebani diri adalah tak bisa ikut menyokong
kebutuhan keluarga. Ketakutan itu mengalahkan rasa tak nyaman selama hampir
tiga tahun. Saya bertahan di tempat itu dengan segala ketidaknyamanan yang saya
alami. Tapi, bulan kemarin saya membuat satu keputusan besar. Saya akhirnya
memutuskan resign, menjemput status pengangguran.
Saya sudah terlalu
lelah berada di sana, atas semua yang saya alami. Tahun pertama saya bekerja di
sana, sama sekali tidak ada keinginan untuk resign. Tempat kerja saya dekat
dengan rumah, saya yang tak ada motor bisa jalan kaki ke sana, gajinya lumayan,
dan saya belum terlalu mengenal orang-orang yang ada di sana. Pertemanan saya
dengan orang-orang yang berada di sana hanya sebatas lempar senyum dan sapa
saat bertemu di mushalla atau jalan. Mereka tak menjenguk saat saya sakit
lumayan lama, walau rumah saya dekat. (Sekarang saya baru menyadari jika hubungan
sebatas itu ternyata yang terbaik.)
Tahun kedua, saya mulai
menyesap sedikit “racun”. Perlakuan atasan saya kurang menyenangkan. Dia
mengorek kehidupan pribadi saya melalui orang lain. Tentang keluarga, tentang
perekonomian keluarga yang kurang, tentang kehidupan pribadi saya di rumah.
Dari seorang tetangga yang hanya melihat saya dari luar saja, tanpa tahu
tentang kehidupan saya yang sebenarnya. Apa yang atasan saya tahu, dibeberkan
di hadapan rekan kerja serta siswa (ingat, saya kerja di bimbingan belajar),
tanpa konfirmasi terlebih dahulu kepada saya tentang kebenarannya. Masalah
perekonomian keluarga saya yang sebenarnya tak layak dibicarakan di depan umum,
atau tentang suatu kabar tak benar. Dua-duanya diungkapkan dengan percaya diri
olehnya di depan siswa. Ketika saya membela diri, menyangkal kabar yang memang
tidak benar itu, justru atasan saya memberikan tanggapan tak percaya. Dia tak
mempercayai pembelaan saya dan tetap membahasnya sesuai kebenaran versinya. Saat
itu saya pulang dan menangis di rumah. Perasaan tidak dihargai mulai muncul dan
setelahnya semakin membesar seiring dengan perlakuannya kepada saya. Kata
resign selalu muncul dipikiran, tetapi orang tua saya bilang untuk bertahan
sampai saya dapat kerjaan baru. Saya memutuskan bertahan saat itu.
Di lingkungan sosial
pun sama. Pada awalnya saya merasa sosialisasi dengan teman-teman berjalan
baik. Saya membantu mereka dan berbaur dengan mereka. Tapi, saya pun mulai
merasakan “racun” di hubungan itu. Ada seseorang yang mengganggu sekali. Dia
selalu mengomentari apa yang ada di hidup saya, bahkan selera saya, dan menghakimi
bahwa itu salah. Saya hanya memakai baju yang lengannya sampai pergelangan
tangan, dia bilang saya rewel, selera saya susah. Saya bilang ingin membeli sepatu
boots wanita—yang bootsnya pendek—dan dia menertawakan saya. Katanya orang yang
memakai jilbab lumayan panjang seperti saya tak akan pantas. Saya coba membela
diri dengan memberi contoh bahwa teman saya juga memakai jilbab lebih panjang,
tapi pantas memakainya. Dia bilang kalau saya yang pakai tak akan pantas, dan
dia akan menertawakan saya jika jadi membelinya. Saya suka membaca dan beli
buku. Dia bilang, untuk apa beli buku, itu tidak penting, lebih baik beli baju.
Kalau buku sekali baca langsung selesai sementara baju akan terus digunakan. Saya
sering sakit, dia menghakimi saya di depan siswa kalau badan saya lemah. Saya
ini tidak bisa diajak travelling ke mana-mana, karena badannya rewel sekali. Kemudian
pamer, dia sering olahraga dan mengkritik badan saya. Saya buktikan dengan
travelling ke Malang dan kembali dengan sehat, tapi dia sama sekali tak meralat
ucapannya. Saya memang hanya bekerja sebagai tutor les, di sore hari. Dia
berkomentar, apa saya tak bosan kalau pagi hanya di rumah, tidak bekerja dan
menganggur. Tanpa tahu apa yang saya lakukan saat di rumah, dia mengkritik kehidupan
saya dan menganggap dia yang paling benar. Di sela-sela mengajar, saya pernah
belajar toefl. Belajar melalui
program gratis yang diadakan oleh orang baik. Saya memperkenalkan program itu,
siapa tahu bermanfaat. Tapi, dia malah berkomentar bahwa dia tidak sempat
belajar. Orang pengangguran macam saya-lah yang waktunya terlalu berlebih, yang
cocok untuk program seperti itu. Tanpa mendengarkan penjelasan saya bahwa PNS/dosen/orang-orang
sibuk banyak yang ikut program itu. Masih banyak lagi hal yang dia lakukan
kepada saya. Dia selalu memberikan energi negative ke saya.
Dari semua perlakukan
itu, perlakuannya yang terakhirlah yang membuat saya paling “sakit”. Sekaligus
yang mendorong saya untuk resign. Sebelumnya, memang ada sesuatu yang rumit
terjadi. Tapi, saya tak menganggapnya serius, tak menganggapnya sebagai masalah.
Ternyata atasan saya menganggapnya sebagai suatu masalah. Atasan saya
membeberkannya (seperti biasa) kepada rekan kerja, termasuk dia. Menurut sudut
pandang atasan, saya salah dan sudah tak dipedulikan lagi. Tapi, itu tak pernah
disampaikan ke saya, hanya disampaikan ke rekan kerja. Dia (rekan kerja tadi)
membeberkannya kepada siswa saya dengan sudut pandangnya juga, yang menganggap
saya sudah tak berharga di sana. Saya tahu dari siswa yang konfirmasi kebenaran
masalah itu ke saya. Saya tak habis pikir dengan apa yang terjadi.
Saya berteman dengan
dia hampir tiga tahun. Atas semua perlakuan negativenya, saya hanya diam, tak
pernah melawan. Tapi, ketika ada hal seperti itu terjadi, dia malah bersikap
yang sangat tak profesional. Dia menceritakan masalah itu kepada siswa saya,
bukan mengkonfirmasi ke saya terlebih dahulu. Dan dia menceritakannya dengan
ketus, seolah saya bukanlah orang yang pernah dikenalnya. Seharusnya jika
memang masih menganggap sebagai teman, saat tahu ada masalah yang menjerat
saya, perilaku yang benar adalah memberi tahu saya. Bukan malah mengumbar
semuanya di belakang saya kepada banyak orang. Atasan saya juga tak seharusnya melakukan
hal itu. Jika merasa saya ada salah, harusnya diingatkan. Bukan digunjingkan
dengan rekan sesama kerja. Itu tidak menghargai saya. Malam itu, saya kembali
menangis dan berkata pada orang tua bahwa saya sudah tak kuat di sana. Saya
minta ijin ke mereka untuk resign. Restu mereka adalah yang utama. Mereka mengerti
dan mengijinkannya.
Tak hanya sampai di situ,
semua berlanjut ketika saya mengatakan resign ke atasan. Saya bilang sudah tak
nyaman di sana dan ingin pindah ke tempat lain. Atasan saya memaksa untuk
menceritakan semuanya dengan jujur. Saya mengatakan semuanya. Saya bilang jika
mendengar banyak suara tentang atasan yang menganggap kerumitan kemarin sebagai
masalah dan tak mempedulikan saya lagi. Dia menyangkalnya, tapi dia juga
keceplosan, katanya “kalau tahu kamu akan membicarakan ini, orangnya tak suruh
datang sekalian”. Penyangkalan demi penyangkalan dia ucapkan, tapi justru dari
sudut pandang saya, itu penyangkalan yang lemah. Dia bilang sangat menghargai
perasaan saya, sehingga tidak mengatakan apa pun yang akan menyakiti. Tidak
pernah menegur saya, karena menghargai. Dia bilang, saya tidak kirimi nama
anak-anak yang lolos SNMPTN karena yang lolos tak ada murid saya. Dia
menghargai perasaan saya. Faktanya, sebagian siswa yang pernah saya ajar, lolos
SNMPTN. Saya hanya diam.
Selanjutnya dia mengungkapkan
banyak kalimat yang tujuannya agar saya bertahan. Tapi, lagi-lagi apa yang dia
ucapkan justru melemahkan. Dia bilang, rumah saya yang paling jelek di antara
semuanya, orang tua saya yang paling tidak mampu di antara semuanya, jadi gaji
saya dari dia sangat diharapkan keluarga. Sebaiknya saya tidak resign karena
keluarga kurang mampu. Dia bilang, saya akan dimasukkan untuk ngajar di
sekolahnya jika dia punya kekuasaan. Atau jika saya melamar kerja di
sekolahnya, dia akan memberi saya nilai lebih baik daripada teman-teman (yang
juga bekerja di tempatnya). Semester depan saya akan diberi kelas paling
banyak, gaji saya naik, dan jika dibanding dengan bimbel-bimbel lain, gaji di
situ lebih banyak. Dia memuji saya terus-menerus. Katanya, saya bisa mengajar
semua kalangan. Termasuk siswa dari sekolah favorit. Faktanya, dulu pernah ada
sekelompok anak dari sekolah favorit yang tak cocok dengan saya dan minta ganti
guru. Pada guru yang menggantikan itu, dia bilang bahwa saya jangan sampai
mengajar sekolah favorit lagi. Lalu, tiba-tiba dia bilang tetangganya mulai
menanyakan saya. Tetangganya ada yang ingin menjodohkan anaknya dengan salah
satu pekerja di sana, dan saya masuk kandidat. Secara tidak langsung, dia mau
bilang kalau saya tetap di sana, maka semua perkara (termasuk jodoh) akan dia
jamin.
Dalam hati, saya
geleng-geleng. Dia benar-benar tak mengenal saya. Saya bukan orang yang
materialistis. Untuk saya, bekerja dapat gaji tak terlalu banyak bukan masalah
asal saya nyaman dan bahagia di tempat kerja. Tentang jodoh, dia memandang saya
salah kaprah. Saya memang orang yang pendiam, tapi bukan berarti bisa diartikan
sebabagi ‘cewek polos’ yang akan manggut-manggut saja jika dijodohkan. Dia tak
tahu jika saya punya banyak teman dan punya idealisme sendiri tentang jodoh. Saya
membaca banyak buku, saya melihat dunia lebih luas, pemikiran saya tentang
jodoh tak sesempit itu.
Dan yang terakhir, yang
paling menyakitkan dari semuanya, dia menuduh saya akan menghancurkan usahanya
jika saya keluar. Saya dituduh akan menyebar cerita ini kepada semua pekerja di
sana yang menyebabkan mereka ingin keluar. Saya dinilai akan menghancurkan
bimbel itu. Lalu, dia mengancam saya. Dia bilang, jika saya keluar dengan cara
seperti itu, selamanya dia akan memberikan cap kepada saya sebagai orang terburuk
yang pernah bekerja padanya. Setelah saya bilang bahwa saya tak akan buka mulut
pada rekan-rekan pekerja, dia sedikit lega. Lagian, saya bukan orang rendahan
semacam itu! Saya bukan orang yang suka membeberkan sana-sini. Ucapannya yang
tak tertata pun berujung pada membeberkan aib semua rekan pekerja di sana,
menjelekkan-jelekkan mereka dan mengunggulkan saya (mungkin di depan yang lain,
akan terjadi sebaliknya, kan?).
Saya lelah hidup di
lingkungan yang terlalu negative. Saya lelah menyesap terlalu banyak racun. Energi
positif saya banyak terbuang. Saya ingin maju, mengerjakan ini dan itu, mencapai
ini dan itu, tapi yang berkeliaran di telinga saya setiap hari adalah hal
negative. Kepala saya dipenuhi oleh cerita-cerita negative mereka. Walau kelihatannya
sepele, tapi itu benar-benar menguras energi positif. Saya ingin berada di
lingkungan yang orang-orangnya saling menghargai, punya pandangan hidup yang
tak sempit. Saya ingin dihargai dengan apa adanya saya, bukan diolok-olok
karena selera/gaya hidup saya berbeda. Lingkungan seperti itu, akan membuat
saya nyaman. Dan saya berpendapat bahwa lingkungan baik hanya dihuni oleh
orang-orang baik, orang-orang berpandangan hidup luas, dan orang-orang yang
dewasa dalam bersikap.

