Hal-hal
yang ingin saya jadikan lebih baik termasuk salah satu yang sedang saya
perjuangkan. Apalagi kalau bukan memberantas rasa malas pada diri saya.
Kadang,
saya rindu dengan masa-masa SD dan SMP. Saat saya menjadi seorang yang rajin. Waktu
SD, setiap tahun ajaran baru kita dipinjami buku paket dari sekolah dan membeli
buku pendamping latihan. Buku pendamping latihan ini tidak tebal seperti buku
paket. Saya masih ingat, kertasnya buram. Isinya berbagai latihan dan bacaan
berupa cerita. Dan, saya selalu menghabiskan buku itu di hari yang sama saat
buku dibagikan.
Untuk
buku paket, favorit saya adalah buku paket Bahasa Indonesia. Ada banyak cerita
di sana. Begitu dipinjami, saya pasti langsung membacanya saat istirahat dan
sesampainya di rumah. Dalam sehari, saya sudah membaca semua cerita di
dalamnya.
Buku
paket pelajaran eksak seperti matematika, selalu saya kerjakan selangkah lebih
maju dari apa yang diajarkan di kelas—mungkin kebiasaan ini yang membuat saya
lebih suka sesuatu yang dipersiapkan sebelumnya daripada dadakan. Misal, di
kelas baru latihan lima, maka saya sudah mengerjakannya sampai latihan tujuh
atau delapan. Biasanya, saya mengerjakan soal-soal matematika selepas shalat
subuh. Saat masih hening dan udara dingin. Saat teman-teman saya lebih banyak
yang masih tidur. Bapak mengajarkan bahwa belajar selepas shalat subuh itu
bagus. Pikiran masih fresh. Dan, saya
membiasakan diri untuk itu.
Entah
bagaimana, semakin ke sini, kerajinan saya semakin menurun. Masa-masa kejayaan
kerajinan saya adalah waktu SD dan SMP. Sekarang, saya tidak serajin dulu. Novel-novel
yang ingin dibaca menumpuk. Sebulan bisa menghabiskan satu novel saja sudah
bagus. Rasanya susah sekali meluangkan waktu mengerjakan ini-itu yang sudah
direncanakan. Padahal dulu saya bisa melakukan lebih.
Maka,
saya berharap bisa mengurangi rasa malas.


0 komentar:
Posting Komentar