“Setiap keputusan yang
diambil orang lain bukan tanggung jawabmu.”
Saya mengucapkan
nasihat itu pada diri sendiri berkali-kali untuk mengurangi rasa sakit di hati.
Beberapa waktu lalu, saya mendengar bahwa seseorang sangat terganggu dengan
keberadaan saya. Kehadiran saya membuatnya sangat taak nyaman hingga tak kuat.
Lalu, hati saya merasa sangat sakit. Saya membenci diri sendiri.
Sebelumnya saya tak
pernah menjadi pengganggu bagi orang lain. Jutru sebaliknya, selama dua puluh
tahun lebih menjalani hidup, sayalah yang menjadi objek untuk diganggu. Mulai
dari digunjingkan kekurangan fisik, dibicarakan sesuka mereka karena saya dulu
sangat pendiam dan takut marah saat mendengar desas-desus tentang diri ini. Sekarang,
ketika saya menerima kabar bahwa saya adalah pengganggu, saya merasa sangat
hancur.
Saya menyalahkan diri
sendiri selama beberapa hari. Setiap teringat, hati saya sangat sakit, dada saya
sesak, hingga air mata keluar. Pikiran saya terus dihantui rasa bersalah. Pertanyaan
kenapa. kenapa dan kenapa sering muncul di kepala. Kadang ada rasa marah dalam
diri, tetapi kadang juga ada rasa benci. Saya diambang kebingungan yang
menyakitkan.
Farrah membantu saya
melewati hari. Obrolan kita kemarin malam sedikit mengurangi rasa bersalah yang
muncul. Tapi, keesokan harinya saya mulai merasa seperti itu lagi. Rasa
bersalah muncul, membenci diri sendiri atas apa yang terjadi. Hari ini, air
mata menetes lagi mengurai dada yang terasa sangat menyesakkan.
Hari ini, saya ingin
mengakhiri semuanya. Saya tak suka berlarut-larut merasa bersalah dan membenci
diri sendiri. Saya harus keluar dari semua belenggu itu, agar hidup kembali
normal. Agar saya bisa merasa bahagia lagi, hanya dengan hal-hal receh dan
sederhana. Agar saya bisa tertawa lepas seperti biasanya. Maka, saya ingin
mengatakan pada diri sendiri bahwa berbuat kesalahan bukanlah hal yang
abnormal. Semua orang pasti pernah membuat kesalahan, entah hanya sebesar biji
kacang atau sebesar buah semangka. Apa pun itu, maafkanlah diri sendiri atas
semua kesalahan yang dilakukan. Agar bisa berjalan maju untuk hidup yang lebih
luas.
“Maafkanlah dirimu
sendiri. Lepaskanlah semua beban dan luka yang pernah ada, agar kau bisa
membahagikan dirimu seperti biasanya.”
*merasa lega setelah
menulis. emang bener, buat aku, menulis itu menyembuhkan.


0 komentar:
Posting Komentar