Kamis, 15 Oktober 2015

[Bagian Random] Kencan Pertama



Tangan kananku masih menggenggam dua tiket itu dengan erat.
“Aku percaya, jika tak semua orang punya ayah.”
“Mana mungkin kau lahir, jika kau tak punya ayah.”
“Coba tanyakan pada orang yang kau panggil ayah; apakah suaraku terbata saat berbohong?, apakah aku menangis jika terjatuh saat belajar sepeda?, di mana aku menyembunyikan kertas ulangan yang nilainya jelek?, apakah kepalaku menunduk saat dimarahi?, aku lebih suka balon atau aromanis?, dan apa kau ingat tanggal lahirku?”
“Emmmm….”
“Kau mulai tak yakin dia bisa menjawabnya?..... Jadi????”
“Aku hanya sedang berpikir.”
“Kemudian tanyakan pada dirimu sendiri; apa kau pernah mendengar cerita tentang nabimu darinya?, apa dia membelamu saat kau digoda teman laki-laki sekelasmu sepulang sekolah?, apa kau pernah bercakap panjang-lebar dengannya tentang ibu yang cerewet di pagi hari?, apa kau pernah mengatakan isi hatimu padanya? dan apakah kau ingat bentuk mata, hidung, juga rahangnya? Jika jawabannya tidak, aku rasa kau akan sepakat bahwa tak semua orang punya ayah.”
“Tapi, bukankah ada seorang laki-laki yang menitikkan air mata saat aku lahir? Ada seorang laki-laki yang pernah menggendongku saat bayi, kemudian seenaknya menciumku.”
                 “Lalu, apa laki-laki itu bisa kau andalkan sejauh ini—sejauh kau tumbuh? Apa laki-laki itu tahu tentang dirimu? Apa dia tahu apa yang kau sukai? Apa dia masih—dan selalu—bersamamu?”
                 “Emmm…. Aku tidak tahu jawabannya.”
                 “Kau tidak bisa menjawabnya atau tidak berani menjawabnya?”
                 “Entahlah….”
                 Hening. Sebelah diriku tidak berani bertanya pada sebelah diriku yang lain.
***
Matamu mengekor seorang ayah yang menggandeng putri kecilnya keluar dari pintu tempatmu berdiri. Aku tidak tahu persis apa yang kau pikirkan, tapi dari kejauhan aku bisa melihat cairan bening yang bermuara di sudut matamu. Kau mulai menunduk ketika menyadari bahwa pintu itu sudah ditutup dan sekitarmu sepi.
“Hei, ayo kita pulang. Kau sudah menunggu sejak tempat ini dibuka tadi pagi. Apa kau masih ingin menunggu?”
Kau tersentak dan mendongak. Sebuah senyum yang terkesan dipaksakan terpasang di wajahmu. Tanganmu sedikit gemetar saat meremas dua tiket itu dan melemparnya ke tempat sampah. Aku meraih tanganmu dan menggenggamnya erat.
“Kalau kita punya anak perempuan kelak, ajaklah dia jalan-jalan hanya berdua denganmu. Belikan balon atau aromanis. Gandeng tangannya sepanjang perjalanan. Itu adalah kencan pertama yang diinginkan seorang anak perempuan.”
Suaramu terbata. Kau mengatakannya sambil menunduk dan mengeratkan genggamanmu pada tanganku. Aku mengelus kepalamu pelan. Agar sedikit terobati hatimu yang hancur atas kencan pertamamu yang tak pernah kau dapatkan.



By: Putri Lestari—gadis kecil yang memakai gaun selutut berwarna ungu muda di kencan pertamanya.

Jumat, 09 Oktober 2015

[Bagian Random] Gelisah



Ada yang “mengganggu” pikiranku (lagi). Seperti biasa, aku mulai merasa ingin tapi tak ingin. Berdosa tapi tak berdosa—karena semua orang melakukan hal semacam itu dan tetap hidup damai. Melawan tapi berdamai. Dan menangis tapi terbahak santai. Aku ingin membaginya denganmu; walau tanpa belaian lembut dari tangan beratmu.
Entah kau tahu atau tidak tentang diriku yang mencintaiku dunia pendidikan. Kalau pun kau tahu, mungkin kau hanya melihatku sebagai sarjana pendidikan yang nantinya akan mengajar di sekolah seperti lainnya. Memberi penjelasan, memberi tugas kemudian kutinggal minum teh di kantor hingga bel berbunyi, mengadakan ulangan sesuai ketentuan, hingga menuliskan angka-angka di rapot yang sebelumnya sudah kukalkulasi sedemikian rupa agar tinta merahku masih utuh. Kau pun tentu menerka, aku akan ikut CPNS tahun ini, tahun depan, dan tahun depannya lagi hingga berhasil. Menunggu pengangkatan pegawai, dan bertemu dengan bulan-bulan yang lebih membahagiakan.
Aku tak sepenuhnya menyalahkan terkaanmu. Tapi kenyataannya aku hanya seorang tentor di beberapa lembaga bimbingan belajar. Memang, aku menemukan sedikit kebahagiaan di sana. Mengajari mereka materi-materi fisika dan menyalurkan sedikit pengetahuanku. Mendengar mereka berkata “ooo….” panjang sambil mengangguk, bagiku sebuah kepuasan pribadi. Tapi aku juga menyimpan gelisah.
Aku gelisah dengan pekerjaan “pendidik” yang seperti ini. Kau tahu, sekarang ini banyak bermunculan lembaga bimbingan belajar. Mulai dari lembaga yang namanya sudah terkenal, sampai lembaga kecil-kecilan yang biasanya didirikan oleh seorang guru. Jelas ini menguntungkan bagi sarjana pendidikan—macam aku—yang belum diterima sebagai guru bantu di sekolah. Ibaratnya, pengetahuan yang didapat bisa disalurkan, menambah “jam terbang” mengajar, dan tentu saja sebagai tempat mencari kepuasan mengajar bagi orang sepertiku.
Tapi, aku mengkhawatirkan semua ini. Lembaga bimbingan belajar yang semakin banyak dan ramai murid, guru-guru yang juga mendirikan bimbel. Aku merasa khawatir dengan dunia yang sangat kucintai—dunia pendidikan. Apa yang guru-guru ajarkan di sekolah hingga mereka mencari “sekolah kedua”? Apa metode pengajaran (yang dipelajari, diteliti, hingga disimpulkan mahasiswa pendidikan semasa kuliah) yang diterapkan di sekolah sama sekali tidak berhasil? Apakah orientasi pendidikan di sekolah sekarang ini hanya berpandang pada nilai siswa? Ke mana budaya belajar “mencari dan menemukan” bukan dijejali?
Rasanya aku ingin berlari. Keluar dari semua ini. Meninggalkan sesuatu yang kujalani namun terasa membunuh yang kucintai. Tapi aku tak ingin. Aku tak ingin kehilangan kebahagiaan mengajar yang sedikit itu. Dan aku tak ingin menjadi sarjana pendidikan yang hanya menganggur. Sekalipun rasanya dedikasiku pada dunia yang kucintai tak ada. Mana yang harus kulakukan?
Soal CPNS, entahlah…. Aku dari dulu tak begitu menggebu tentang itu. Aku hanya berharap bisa menjadi guru bantu di sekolah. Setidaknya ada sebuah kelas untukku. Supaya aku bisa mengajarkan materi, pendidikan karakter, memfasilitasi kemampuan individu siswa (yang berbeda-beda) dan apa-apa yang kudapat selama kuliah. Ya, memang aku tak akan mendapat gaji ke-13. Tapi toh bisa makan sehari dua kali sudah cukup bagiku. Sayangnya, tak semudah itu mencari sekolah. Ada “sesuatu” yang tak mudah kujelaskan. Itu artinya, agar aku bisa mendapatkan sebuah kelas, aku harus lolos ujian CPNS. Padahal sudah banyak kabar tentang “intrik” di sana. Dan aku tak menyukainya. Ah, lagi-lagi ini yang kurasakan. Seperti ingin tapi tak ingin.
Kau mungkin bertanya, “kenapa aku tak ikut program mengajar di tempat terpencil seperti yang beberapa temanku lakukan? Jika itu memang cinta dari hati nuranimu”.
Yaahhh…. untuk yang satu ini, aku tak mau banyak berlasan. Aku selalu merasa berdosa ketika tahu anak-anak di tempat terpencil kekurangan guru. Tidak mendapatkan pendidikan yang layak. Mengalami ketimpangan dengan para siswa yang sekolah di kota dan banyak lembaga bimbel di kota itu. Aku pun merasa berdosa jika menyalahkan badanku yang terlalu mudah sakit (mungkin dua bulan sekali aku sakit). Tapi kenyataannya, mungkin saja aku tak akan lolos tes kesehatan. Lari satu putaran lapangan sepak bola saja aku tak kuat—bahkan terkadang setelahnya aku sakit. Rasa berdosa itu selalu ada di dalam hatiku, tapi kadang aku pun berpura-pura tak merasa.
Dan yang terakhir…. ini tentang kau. Aku tak mungkin meninggalkan kau yang (sudah) meninggalkanku—bahkan tanpa pertemuan. Kecintaanku padamu tak akan pernah selesai jika kau masih memperjuangkan nilai-nilai kehidupan, perdamaian umat dan kebahagiaan non materi. Entah bagaimana, aku sangat mencintaimu atas semua itu. Bagiku, kau juga inspirasi yang tak kunjung kering. Bagaimana mungkin aku bisa memenggal perasaan ini hanya karena kau mengidamkan perempuan lain? Hanya karena kau susah diraih dan aku bukan “tipemu”. Tapi, lagi-lagi aku gelisah dan terjerat.
Ada suatu kebiasaan yang disebut “menikah” dalam hidup ini. Jika aku boleh meminta, aku ingin menikah denganmu dan ikut memperjuangkan apa yang kau suarakan. Tapi jika kau memilih orang lain, aku tak bisa berbuat apa-apa. Rasanya aku ingin “membunuh” pengharapanku padamu, agar bisa kurancang pernikahan itu dengan orang lain. Terbahak santai dengan seseorang suatu saat nanti. Namun, aku juga ingin menangis saat melepasmu sebelum memperjuangkan harapanku.




Rabu, 30 September 2015

[Resensi: Cinta Acakadut] Sebuah “Misi” Pencarian Tulang Rusuk



Judul: Cinta Acakadut
Penulis : Furqonie Akbar
Penerbit : PING!!!
Cetakan : I, 2015
Tebal : 220 halaman
ISBN : 978-602-255-834-7


Ini kali kedua saya menulis resensi. Masih ada sedikit rasa canggung dan kikuk, sih. Apalagi, buku yang ini beda dengan yang kemarin—Alles Liebe (sebuah novel yang ditulis oleh Farrahnanda). Sampul belakang buku ini memang melabelinya sebagai “Novel”. Tapi, setelah dibaca, ini seperti Personal Literatur, biasanya disingkat PerLit. Oke, saya akan mulai berceloteh dengan santai (sesantai penulis bertutur melalui buku ini) dari kacamata saya yang masih buram; terutama soal PerLit.
Cinta Acakadut menyajikan pernak-pernik dunia percintaan dengan bahasa santai. Penulis memberikan beberapa sudut pandangnya tentang dunia percintaan; tentang sebuah hubungan, jomblo, move on, fase-fase hubungan, gombalan, dan lain-lain. Serba-serbi dunia percintaan itu diceritakan dalam bab tertentu, seperti berikut:

Jenis-jenis hubungan..................................................................................... 10
Tukang Modus, Playboy, & Cuma Mata Keranjang....................................... 35
Spesies-Spesies Jomblo................................................................................ 39
Move On......................................................................................................... 49
Sabtu Malam Vs Malam minggu.................................................................... 55
Gombalan So Sweet Anak Muda.................................................................... 86
Fase-Fase dalam Hubungan Percintaan Kawula Muda................................92

Sudut pandang penulis tentang percintaan, ditulis dengan gaya bahasa yang santai dibarengi humor. Tapi, saya rasa, bab-bab tersebut cocok dibaca anak remaja yang baru gede. Kalau untuk seseorang yang sudah berumur 20 plus sih—nunjuk diri sendiri—agaknya mereka sudah punya pemahaman sendiri. *salam dua jari sambil nyengir
Ada satu sudut pandang cinta yang sebenarnya biasa saja, tapi penulis mengemasnya dengan apik, seperti berikut ini.

Karena, rumus cinta berbunyi:
Ganteng + baik – kere = jomblo
Jelek + kaya + agresif = punya gebetan tapi paling lama 1 bulan
Ganteng + baik + kaya = punya pacar 10

Saya memang tidak sepenuhnya sepaham dengan rumus yang dibuat penulis. Tapi toh, di dunia nyata kita jumpai penerapan rumus tersebut. Hahaha…
Bagian lain dari buku ini adalah cerita tentang kisah percintaan penulis dan teman-teman terdekatnya. For your information, saya sangat suka dengan bagian ini. Penulis membeberkan kisah-kisah percintaannya. Pun kisah percintaan teman-teman terdekatnya. Campur-campur deh rasanya, waktu baca bagian ini. Satu hal yang bisa diambil dari bagian ini adalah pelajaran tentang cinta.
Sisanya, penulis memberikan cerpen, renungan, dan beberapa makna cinta dari teman-teman terdekatnya. Makna-makna cinta yang ada nggak sepenuhnya mellow, tapi ada sisi humorisnya. Namanya juga arti cinta dari berbagai jenis menusia. :D
Dibagian ini, saya paling menikmati bab renungan. Ada kalimat nampol yang kudu dibaca seluruh umat di dunia ini, termasuk kamu yang lagi baca resensi ini.

… Padahal ibu kita selalu memberikan cinta tanpa batas. Tapi, kita mengabaikannya dan malah memberikan cinta berlebih kepada orang lain…
__Furqonie Akbar (halaman 207)

Sebuah “Misi” Pencarian Tulang Rusuk
Tidak banyak yang bisa saya ulas dari Cinta Acakadut. Saya hanya bisa menuliskan bagian ini sebagai penutup.
Buku ini seolah membawa kita berkelana pada kehidupan cinta seseorang dan pemikiran-pemikirannya tentang cinta. Mulai dari cinta pertamanya hingga kisah cintanya yang lain. Kisah seseorang yang mengalami banyak suka maupun duka. Beberapa pelajaran diambil untuk menjalani cinta selanjutnya dan selanjutnya. Begitu kiranya garis besar yang saya tangkap.
Layaknya kisah seseorang di buku ini, saya yakin, semua orang juga pernah mengalami kisah cinta yang menguras emosi. Mungkin apa yang kita alami berbeda dengan apa yang dialami penulis. Dari segi cara menjalani sebuah hubungan maupun cara memaknai hubungan. Apakah kita tahu, semua kisah cinta yang kita alami, baik pahit maupun manisnya, sebenarnya untuk apa?!
Di akhir buku ini, penulis membuat kita menyadarinya muara akan semua kisah cinta yang pernah kita alami. Setelah larut dalam perjalanan cinta yang acakadut, penulis mengantarkan kita pada sebuah “misi” pencarian tulang rusukyang kita temukan diakhir. Itulah yang sebenarnya menjadi tujuan dari semua pejuang cinta. Dan buku ini ditutup manis dengan sebuah surat untuk seorang tulang rusuk (penulis).

Surat Cinta untuk Tulang Rusuk
Tapi, aku percaya bahwa Tuhan akan segera mempertemukan kita dengan cara yang sangat unik. Karena itulah, aku akan terus bersabar, akan terus mencarimu. Dan, kau di sana, tunggulah aku.
Tulang rusukku, aku mencintaimu. Aku merindukanmu.

__Furqonie Akbar (halaman 211)



Jumat, 25 September 2015

[Resensi: Alles Liebe] Aku Ingin Dimengerti…


Judul: Alles Liebe
Penulis : Farrahnanda
Penerbit : de TEENS
Cetakan : I, November 2013
Tebal : 228 halaman
ISBN : 978-602-7695-25-2

Novel remaja yang judulnya diambil dari Bahasa Jerman ini saya peroleh dari seorang teman baik hati—ehem. By the way, ini pertama kalinya saya meresensi buku. Kacamata saya mungkin masih buram dalam melihat buku ini. *Duh, jadi deg-degan
Saya akan mengungkapkan apa yang ada di buku dalam dua bagian. Bagian ulasan buku dan satu bagian yang saya beri judul “Aku Ingin Dimengerti”. Simak yeahhh…!
Novel ini dibuka dengan prolog bernuansa duka. Suasana pemakaman membuat saya menebak sedari awal bahwa akan ada yang meninggal. Siapa yang meninggal? Pertanyaan itu bisa dijawab dengan mengikuti kisah Sartika—anak panti asuhan—sebagai seseorang yang seolah diblacklist dari pergaulan di SMA-nya.
Sartika lebih senang berkomunikasi dengan awan, asap rokok dan angin di atap sekolah daripada siswa lain. Sikapnya yang kasar kepada guru, nilai jelak dan pelanggaran seabrek, hampir mendepaknya dari sekolah. Tapi seorang siswa mempertaruhkan jabatannya sebagai Dewan Eksekutor dan Sekretaris OSIS untuk menyelamatkan Sartika. Ferro bersedia jabatannya dicopot jika tidak bisa mengubah Sartika.
Awalnya Sartika menolak niat baik Ferro. Namun dia terus meyakinkan Sartika. Sartika berjuang dengan laki-laki yang menjadi pacarnya secara tidak sengaja itu. Mengejar semua pelajaran yang banyak ditinggalkan, mengurangi hingga berhenti merokok. Akhirnya Sartika mendapatkan hasil yang baik di akhir semester. Ferro pun tidak jadi kehilangan jabatannya. Dan hubungan mereka, terus berlanjut hingga kuliah. Sayangnya Sartika harus menangis di akhir cerita karena Ferro meninggal.
Saya mengapresiasi novel ini karena di dalamnya ada hal-hal yang sebenarnya biasa, namun disorot dengan baik oleh penulis. Ada empat hal yang saya garis bawahi.
1.  Sikap Guru Kimia kepada Sartika. Murid yang sikapnya minus (bahkan bisa dibilang kurang ajar), prestasi belajar buruk, pelanggarannya banyak, memang seolah dipandang sebelah mata oleh seorang guru. Penulis membeberkan perasaan seorang murid yang berada di posisi itu.
2.  Perasaan siswa yang dikucilkan. Walaupun Sartika terlihat kasar dan tidak peduli, namun perasaan tidak enak saat dikucilkan teman-temannya tetaplah ada.

“Aku tidak suka menjadi anak panti dan jadi bahan ejekan anak-anak ingusan yang belum dewasa itu.”
__Sartika, halaman 44.

3.  Sisi ambisius seorang siswa berprestasi diinterpretasikan oleh tokoh Rana. Sayangnya, menurut saya, ada beberapa adegan yang menggambarkan Rana tidak pantas disebut berprestasi karena sifatnya. Misalnya saja di halaman 191, ketika Rana menarik rambut Sartika di kelas ketika nilai Sartika lebih tinggi. 
4.  Perkara “anak emas” juga diselipkan dengan apik. Tak bisa dipungkiri, bahwa “kasih” beberapa guru lebih berat kepada siswa yang berprestasi.

“Kalau saja yang melakukan tindak kekerasan macam monyet liar barusan itu aku. Pasti pelajaran sudah dihentikan karena guru ini akan menyeretku sampai ke ruang guru dan aku dihakimi massa di sana. Tapi, toh, terkadang dunia memang tidak harus selalu adil, kan?”
__Sartika, halaman 194

Namun, saya agak mengernyitkan dahi ketika membaca adegan guru matematika yang tidak berkutik saat Rana menyerang Sartika di jam pelajarannya. Ini menjadi satu-satunya adegan yang menurut saya “cacat”. Karena seorang guru membiarkan kekerasan terjadi di depannya.

Aku ingin dimengerti…

Semua kisah dan konflik yang dialami Sartika, bagi saya telah menyampaikan satu pesan besar. Pesan untuk memahami perasaan siswa yang terasing di sekolah. Siswa-siswa yang hanya dicap buruk karena pelanggarannya tanpa pernah dimengerti kenapa dia melakukannya.
Sartika yang sering membolos jam pelajaran, merokok di sekolah, kasar dengan teman-temannya—bahkan guru. Ternyata hanya ingin mengatakan aku ingin dimengerti pada orang-orang itu dengan bahasa yang unik. Bahasa yang hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang mau mengerti. Bukan orang-orang yang menghakimi semua sikapnya dengan mata telanjang.

“Aku menangis. Jelas-jelas aku menangis sekarang. Memalukan! Seharusnya aku tidak boleh menangis, aku harus kuat menghadapi semua sendiri. Semua orang itu hanya monyet-monyet yang tidak mau memahamiku…”
__Sartika, halaman 98.


Rabu, 23 September 2015

Jatuh Cinta Lewat Tulisan


dunia bergerak bukan karena omongan

para pembicara dalam ruang seminar
yang ucapannya dimuat
di halaman surat kabar
mungkin pembaca terkagum-kagum
tapi dunia tak bergerak
setelah surat kabar itu dilipat [1]


Senja terpana dengan puisi di halaman terkahir itu. Embusan napasnya yang dalam lagi panjang bukan pertanda keputusasaan, melainkan getir yang coba dilepaskan.
“Seperti ada yang runtuh di dalam hatiku ketika membacanya…”
Gumamnya lirih yang kemudian disapu angin sore begitu cepat. Kakinya masih berselonjor sembari memangku buku. Matanya mulai berkejaran dengan burung yang terbang merunut garis jingga cakrawala. Angin bertiup lebih kencang, menggoncangkan tangkai-tangkai anyelir di hadapan senja.
Waktunya pulang, batin Senja ketika alam mulai mengusirnya dari ladang ini. Dia beranjak dari rumput-rumput basah itu, memeluk erat sebuah buku dan berjalan pulang.
***
“Hanya mengajarkan apa yang aku tahu tentang mawar, anyelir, lily dan krisan saja,” jawab Senja dengan bola mata yang terpaku pada buku—yang sedang dibacanya.
Dion kehilangan akal untuk merajut kata dengan Senja. Perempuan itu hanya menjawab datar. Tanpa ekspresi, tanpa sorot mata yang mengatakan aku ingin berbincang lebih lama denganmu. Dion memang menemani raganya menjaga toko bunga itu, tapi ruh dan batin Senja sedang berkelana.
Dion paham benar, jika Senja memang mencintai buku-buku itu. Buku yang ditulis oleh seseorang. Seseorang yang hanya diketahui namanya; Leonat. Tidak ada foto di lembar biografi semua buku yang ditulisnya. Dan desa ini seolah mengurung Senja untuk mencari sosoknya.
“Senja… besok aku akan ke kota lagi,” ujar Dion pelan.
Senja bergeming.
***
Hanya ada satu cara membahagiakan Senja. Mempertemukannya dengan Leonat. Dion sengaja mempercepat kepulangannya ke desa. Ketika embun sedang bergelayut manja di ujung daun, Dion tiba dan berhambur ke rumah Senja. Dia ingin bertemu dengan gadis yang dicintainya itu dan melihat senyum bahagianya.
Senja terpaku melihat Dion yang terengah-engah, berdiri di depan pintu rumahnya sepagi ini. Apalagi dengan tas dan kemeja rapi yang dipakainya usai dari kota.
“Senja… Leonat akan mengadakan bedah buku terbarunya di kota. Aku sudah membelikanmu buku terbarunya sekaligus tiketnya.”
Sebelah tangan Dion memegang buku bersampul ungu dan sebuah tiket. Senja tersenyum. Dia meraih buku dan tiket itu, kemudian melonjak girang. Belum pernah Dion melihat Senja sebahagia itu. Senyumnya sangat lepas dan tulus. Sayangnya, senyum itu bukan untuk Dion.
Dia pun tahu, hubungan ini memang berawal dari orang tua Senja—bahkan mungkin bukan hubungan yang diinginkan Senja. Senja telah lama memberikan cintanya pada seseorang. Seseorang yang selalu ditelusuri isi pikirannya melalui buku. Sementara Dion sudah memberikan cintanya pada Senja sejak mereka masih bermain di ladang bunga.
Waktu memisahkannya dari keceriaan Senja selama bertahun-tahun. Dia harus menyelesaikan kuliah di kota dan meninggalkan Senja bermain di ladang bunga itu sendirian. Saat dia kembali, Senja memang masih senang berada di ladang bunga itu. Tapi bukan bermain di sana yang membuatnya bahagia. Melainkan buku yang sering dia baca di sana.
“Kita akan ke sana kan?” Senja bertanya dengan senyum lebar.
Dion tersenyum.
***
Senja memegang sebuket bunga—perpaduan mawar putih, lily putih dan krisan merah—dengan lembut dan hati-hati. Dia tak ingin bunganya rusak. Bunga itu spesial. Bunga itu untuk Leonat.
Mawar putih simbol cinta sejati, keluguan, rahasia dan juga diam. Bunga lily berwarna putih bisa melambangkan sesuatu yang suci dan murni. Dan krisan merah berarti cinta.
Dia laki-laki yang mengagumkan. Tulisan-tulisannya memperjuangkan kehidupan yang tak banyak disuarakan. Pikirannya begitu memesona. Tak heran jika ada yang jatuh cinta hanya dengan membaca pikirannya lewat buku.
Dion masih mengingat ocehan Senja sepanjang perjalanan. Kemudian tersenyum saat melihat senja menggendong sebuket bunga itu layaknya menggendong seorang bayi.
Langkah Dion terhenti tepat di depan pintu masuk gedung acara. Senja menatapnya dan mengernyitkan dahi.
“Masuklah, aku hanya membeli tiket untukmu. Aku akan menunggu di sini,” kata Dion sembari menamatkan pandangannya pada Senja yang bergerak masuk hingga duduk.
***
Senja berdiri dengan antusias sedari tadi. Entah sudah berapa puluh orang yang mendapat tanda tangan. Dan entah sudah berapa lama dia berdiri, mengantre. Tapi rasa bahagia itu tetap menyala terang di hatinya. Gilirannya pun tiba.
Sejenak dia bergeming. Memandang Leonat yang begitu dekat. Bisa sedekat ini… bisiknya lirih.
Seorang laki-laki bertubuh besar—semacam bodyguard—yang berdiri di samping Leonat, berkata dengan nada tegas, “bukunya nona!”
Tangan Senja sedikit tersentak, mengulurkan buku itu dengan cepat. Leonat menggerakkan pulpen di halaman pertama buku. Membubuhkan tanda tangan di buku Senja seperti pada buku yang lain. Leonat tersenyum dan memberikan buku itu padanya. Belum sempat Senja menyerahkan buket bunga itu, seseorang yang suara masih tegas tadi kembali menegur.
“Maaf nona, silakan,” tangan kanannya menunjuk pintu keluar,”berikutnya!”
***
Dion agak heran menatap Senja keluar dari gedung masih dengan sebuket bunga itu. Tapi senyum Senja membuatnya sedikit tenang.
“Ada apa?” Dion bertanya sambil melirik bunga itu.
“Em.. tidak ada. Hanya tidak sempat memberikannya.”
“Mau menunggu sampai Leonat keluar dari gedung?”
Senja menatap Dion tepat di jantung matanya. Sejenak Dion hanyut, kemudian cepat melempar pandang. Mata Senja pun ikut melihat ke arah lain. Matanya tertuju pada suara anak kecil yang menangis dan menunjuk bunga yang masih dijaganya. Anak itu merengek pada ibunya.
Kaki Senja melangkah mantap padanya. Langkahnya yang pelan terlihat anggun dengan rok panjang itu.
“Ini untukmu anak manis, jangan menangis lagi,” katanya sambil menyerahkan sebuket bunga itu.
“Senja, kau tidak jadi…”
“Ah, sudahlah,” Senja memotong kalimat Dion.
Pandangan Senja beralih pada pintu gedung yang dikerumuin banyak orang. Di sana ada Leonat yang mencari jalan keluar.
“Dia.. hanya seseorang yang bisa kukagumi dan kujatuhcintai pikirannya, tapi tak akan pernah bisa kusentuh.”
Senja tersenyum pada Dion. Senyum yang berbeda dari biasanya.

Catatan:
[1] Cuplikan Puisi “Mendongkel Orang-Orang Pintar” oleh Wiji Tukhul.


dengan sepenuh hati,
_Putri Lestari

Selasa, 22 September 2015

Apakah Cinta Bisa Diukur dengan Satuan “Tinggi”?


(Ini hanya sebuah curhat dari seorang perempuan yang selama empat tahun terakhir sering bermain dengan satuan. Kesamaan nama, tempat, adegan, dan lain-lain memang disengaja untuk kepentingan #KODE!)

Mulanya aku hanya seorang cewek polos yang menganggap cinta adalah perasaan luar biasa, suci, tulus dan agung. Semacam cinta luar biasa pangeran yang membangunkan putri tidur, cinta tulus seorang gadis yang berhasil mengusir kutukan Beast, atau cinta Shrek pada Putri Viona—pun sebaliknya.
Selama bertahun-tahun pemahaman cintaku yang semacam itu, sama sekali tidak membawa masalah. Aku bisa dengan mudah menyukai Ge Pamungkas—yang terkenal itu loh—tanpa mempertimbangkan apa pun. Tapi sejak mengenal seseorang (baca: gebetanku) aku mulai memikirkan kembali pemahaman cintaku.
Kuakui, rasa sukaku tumbuh dari kekaguman atas dirinya. Saking kagumnya, aku selalu mendewakan dia. Padahal aku tahu, dia manusia biasa dengan segala kekurangan. Misalnya,  dia suka mimisan kalau pikiran dan batinnya tertekan. Dan mimisannya itu nggak kenal waktu, pun tempat. Pernah suatu kali aku menemaninya jalan-jalan pas pikirannya lagi kacau. By the way, itu jalan kaki beneran. Dia dengan segala kekacauan di pikiran—dan mungkin saja batin—berjalan secepat mungkin tanpa mempedulikan aku yang berusaha mengimbangi langkahnya. For your info, sama sekali aku nggak anggap dia jahat waktu itu.
Keinginanku cuma satu; menyamai langkahnya. Tapi aku memang harus puas tertinggal beberapa meter darinya. Hingga dia berhenti saat darah keluar dari hidungnya. Perasaanku padanya—yang kukatakan tulus—memerintahkan diriku untuk mengelap darah yang mengalir dengan lengan kaosku. Sampai saat itu aku masih menganggap bahwa cinta nggak bisa diukur dengan satuan apa pun. Apalagi dengan harga deterjen cair yang kupakai untuk membersihkan noda darah kering.
Beberapa hari setelahnya, kita masih sering jalan bareng. Pernah suatu kali dia mengajakku ke “jamuan” makan malam komunitas yang diikuti. Ya sebenarnya itu nggak sengaja. Malam itu dia hanya ingin berterima kasih atas kejadian “pendarahan” tempo hari lewat secangkir kopi. Tapi malam itu aku harus puas dengan makan malam massal saja.
Ohh Tuhan, baru kali itu aku bingung cara menikmati hidangan. Di depanku ada sebuah piring dengan sendok, garpu, pisau yang tertata rapi di sebelah kanan dan kirinya. Dia dan teman-temannya, entah bagaimana bisa menggunakan alat yang sama pada hidangan tertentu secara serempak. Sementara aku hanya bisa mengekor cara makannya. Aku terbiasa makan dengan sendok atau bahkan tangan saja.
Malam itu pun aku menjadi seorang pendiam untuk pertama kalinya. Dia dan teman-temannya membicarakan banyak hal; sejarah dunia, sejarah angkasa, budaya Perancis, budaya Jerman, sastra Arab, dan lain-lain yang nggak bisa kusebut karena aku lupa. Aku rasa, dari semua orang yang hadir di sana, hanya aku yang cuma tahu sejarah Indonesia level anak SD. Pun hanya tahu sedikit kebudayaan Indonesia.
Aku hanya menjadi pengamat di sana. Mengamati sorot matanya yang terpesona pada mereka. Pada perempuan-perempuan yang hadir dan “hidup” di dalamnya.
Malam itu, aku mulai ragu bahwa cinta nggak punya satuan. Dan malam itu pun aku mulai ragu menyebutnya sebagai gebetan.
Perkatannya tempo hari rasanya menjadi batas atas semua ini. Dia bilang “aku ingin menjadi awan”, saat kita sedang menikmati sore bersama. Saat aku, dia dan dua ekor kucingnya sama-sama tidur menatap langit. Aku mulai berpikir, jika dia memang segumpal awan, maka sampai kapan pun aku hanya bisa menjadi gadis yang menatapnya dari tempatku berpijak—seperti sekarang.
Dan dia. . .? Ah, apa kau bercanda?! Mana mungkin aku akan terlihat! Selamanya, aku hanya bagaikan butiran debu yang dibagi menjadi tujuh, jika dilihat dari atas sana. Saat itulah mungkin cinta punya satuan yang diberi nama “tinggi”.
Akhirnya aku harus menyadari bahwa dia adalah seseorang yang selalu bisa kukagumi, kutemani sepinya, kumaklumi kesalahannya, tapi nggak akan pernah bisa kugapai.
Hanya ada dua pilihan yang bisa dijalani. Menghabiskan waktu berjam-jam untuk telentang di tanah lapang ini sambil menatap awan itu. Atau menghabiskan waktu berjam-jam untuk telentang di tanah lapang ini sambil bergandengan tangan dengan seseorang dan sesekali menatap awan itu.

__Putri Lestari

Rabu, 16 September 2015

Seandainya. . .

Matamu menyiramkan kepedihan tak terperi pada seseorang yang kau tatap hampa. Genap dua hari nyawamu seolah terbang entah kemana. Tangismu terdengar memilukan ketika berdiskusi dengan Tuhan untuk mengulang waktu.
Kau tak pernah menyangka bahwa seluruh hidupmu akan hancur dalam waktu sekejap, hanya karena kau salah “mencintai”. Sesuatu yang kaucintai, bahkan kaugilai dengan seluruh hidupmu itu memang sudah kaulepaskan begitu saja. Sayangnya itu tak memusnahkan racun yang terus berkelindan di dalam hatimu. Pedihnya, itu adalah racun yang kaubuat sendiri.
Amarahmu pada diri sendiri seolah tak pernah habis. Padahal kemarin kau sudah mengamuk hingga batas gilamu samar. Ruangan itu. . . kau hancurkan! Ruangan yang belakangan seolah keramat bagimu. Ruangan yang mungkin merindukan dirimu yang dulu. Tanganmu yang menari pada kertas-kertas kosong. Tempat menuangkan imaji tak terbatas yang berkutat di kepalamu. Matamu yang jeli menyematkan beberapa pernik cantik nan elegan. Konsentrasi kaucurahkan begitu dalam pada kertas itu, hingga menolak bocah yang membawa sebuah buku dongeng dan menarik ujung gaun tidurmu. Ruangan yang bertahun-tahun menemanimu dalam kubangan obsesi yang kau atas namakan impian.
Obsesi atau impian itu pernah mengantarkanmu hingga puncak yang kauidamkan. Kauimpikan. Kau usahakan mati-matian hingga mengorbankan seluruh hidupmu—yang baru kau sadari belakangan ini. Aku masih ingat betapa bahagianya kau saat itu. Malam itu kau tak mengahabiskan banyak waktu di ruanganmu. Tapi bersama orang-orang yang menghujanimu dengan kata selamat. Dari balik jendela kamarku, aku mengintip salam perpisahan bahagia pada mereka yang mengantarmu pulang di waktu yang ragu kusebut malam atau pagi. Sayangnya itu menjadi kebahagiaan terakhirmu.
Sebuah badai datang dalam hidupmu. Bahkan kau tak pernah menyangka jika badai itu bagaikan “musuh dalam selimut”. Selama ini sudah mengincarmu, tanpa pernah kau sadari. Kau murka. Sangat murka.
Ruangan itu kau jadikan pelampiasan. Kertas-kertas yang sudah kaububuhi gambar berhamburan. Kau merobeknya dengan emosi yang begitu tinggi. Tak peduli kau pernah menggambarnya hingga batas sadarmu punah.
Emosimu yang mengerikan itu beralih pada tas-tas yang kaudesain untuk perusahaanmu. Itu hasil karyamu selama bertahun-tahun. Kau abadikan di ruang kerja dengan apik. Dan sekarang kau membanting semuanya.
Kau masih belum puas. Tanganmu memegang ‘tas kebanggaan’. Tas yang telah mengantarkanmu pada kebahagian tak terhingga itu. Pada puncak yang kauidamkan, tapi tak pernah kau rasakan semilir angin di puncak itu. Dan tak akan pernah. Karena kau memilih berada di kamar ini pada waktu yang lama dan lama.
Seandainya. Kata itu muncul saat kau menatap wajah putrimu yang sedang pulas.
Seandainya. . . aku sadar lebih awal bahwa impian terbesarku bukanlah pekerjaanku tapi masa depanmu. . .
Sedandainya. . . kusediakan sedikit waktuku untuk mendengar ceritamu yang tata bahasanya masih kacau tapi penuh semangat. . .
Seandainya. . . kuluangkan waktu untuk mendongeng kemudian kuselipkan beberapa nasihat dan peringatan untukmu. . .
Seandainya. . . aku banyak memberikan kasih sayang untukmu. . .
“Seandainya” adalah kata yang cukup menghibur sekaligus menikam dirimu. Kau tersenyum saat membayangkannya, kemudian muram setelah menyadari itu tidak mungkin. Putrimu terlanjur menemukan sepasang telinga yang mau mendengarkannya dengan sabar. Putrimu terlanjur menemukan kasih di tempat lain. Kasih yang siap mendongeng untuk putrimu sebelum merengkuhnya dalam peluk tak terlupakan.
Aku telah gagal menjadi seorang ibu. . .
Kau kembali mengucapkannya bersama air yang merembesi pipi. Sejak putrimu yang belum lulus TK itu dicabuli oleh pacar Minah—pengasuh anakmu—kau selalu berucap demikian.
Hidupmu hancur. Hatimu seperti dibunuh berkali-kali. Rasanya pedih. Pedih sekali. Aku tahu betapa itu menyiksamu. Aku paham benar. Karena aku pun pernah dihantui oleh pengandaian yang begitu menyiksa.
Seandainya. . . aku meluangkan banyak waktu dan kasih untukmu, pasti kau tak akan mencari kasih di luar sana—yang membuatmu merasakan kehamilan sekaligus keguguran saat baru lulus SMA.
Seandainya. . . aku sempat memberitahumu—dan diriku sendiri—bahwa perempuan dilahirkan untuk menempati tiga posisi. Sebagai anak, sebagai istri, dan sebagai ibu—mungkin saja kau tak akan menganggap dirimu gagal seperti sekarang.
Sayangnya aku harus terbunuh oleh racun yang sama denganmu, setiap hari. Bahkan hingga aku benar-benar meninggalkanmu dari dunia ini seminggu yang lalu, racun itu tetap bersarang di hatiku.


_putri lestari

Rabu, 02 September 2015

Negeri Cermin Datar

Senyumku tak terelakkan saat kau bertanya, “bagaimana kaubisa sampai di negeri ini?”
Rasa khawatirku sudah pecah dan berpendar. Setidaknya hanya rupamu yang berubah agak kentara. Nalarmu masih berjalan normal, mengingat pertanyaan itu kauajukan setelah siuman.
Keberadaanmu di kamarku bukanlah tanpa alasan. Pun sama dengan keberadaanku di negeri ini. Negeri yang baru kutinggali selama tiga hari. Negeri yang berhasil membuatku bingung dengan ribuan cermin datarnya.
Sampai sekarang aku masih bingung, kenapa ada banyak cermin datar yang mengepung negeri ini. Perusahaan, restaurant, sekolah, dindingnya dilengkapi oleh cermin datar berukuran besar, berjejer satu sama lain. Gedung pencakar langit yang mendominasi kotapun dinding bagian luarnya dilengkapi cermin datar berentetan yang hanya berjarak beberapa langkah saja.
Kebingunganku pun tak akan terjawab mudah dengan bertanya langsung pada penduduk asli negeri ini. Susah sekali mendapatkan teman berbincang. Mereka hanya menjawab pertanyaanku dengan “iya”, “tidak”, atau tak menjawab. Bahkan beberapa dari mereka memilih menghindar sambil menimpukkan tatapan sinis, seolah aku penjahat kota yang dikenai sanksi sosial.
Barangkali negeri ini memang tidak ramah pada orang asing, seperti diriku. Sialnya, keberadaan orang asingpun terlihat menonjol. Lagi lagi ini hanya soal warna kulit dan paras saja, yang tidak terlalu penting untuk dipikirkan. Tapi perbedaan itu yang membuat diriku seolah membawa label aku orang asing ketika berjalan di keramaian.
Di hari kedua tinggal, aku masih mencari pekerjaan. Hari itu, pertama kali aku bertemu denganmu, pemimpin negeri ini.
Kemeja lengan pendek dan rok panjang, rasanya jadi perpaduan yang pas untuk menghadap dirimu. Tapi kata keliru kemudian tumbuh ketika aku melihat orang-orang berlalu lalang di kantormu dengan pakaian sesukanya. Memang tak pernah terbayangkan, ada perempuan memakai dress selutut tanpa lengan, mampir di kantormu. Nyatanya, mataku benar-benar disuguhi pemandangan itu. Ya, mungkin kantormu sangat santai. Tidak mempermasalahkan urusan penampilan dan mementingkan kinerja. Baguslah! Di sini aku bisa mendapat pekerjaan yang layak atas kemampuanku.
Sebelumnya aku sudah melamar kerja di beberapa tempat. Perusahaan swasta, café, supermarket, semua menolak lamaranku. Padahal aku belum sampai di tahap wawancara. Surat lamaranpun hanya dibaca sekilas. Aku berpikir lagi, mungkin benar bahwa negeri ini sangat menjunjung potensi lokal dan susah menerima pendatang. Tapi, apakah pemimpin negeri ini tidak bisa membantu?
Aku pernah mendengar kasus tentang seorang pemimpin yang memberikan keringanan hukuman pada penduduk asing yang terbukti menyelundupkan zat halusinasi tingkat tinggi. Negeri itu melarang setiap warganya berhalusinasi melebihi kadar yang sudah ditentukan, karena mayoritas penduduknya mempunyai kecerdasan akal yang lebih rendah dari negeri lain. Halusinasi akan membuat akal mereka semakin tumpul dan bodoh. Tidak bisa membedakan batas nyata dan maya.
Sebagai pendatang legal yang baik, aku merasa layak mendapat perlakuan istimewa demikian. Berpikir bahwa kaubisa membantuku hidup di negerimu. Maka sampailah aku di ruang tunggu kantormu ini.
Resepsionis di kantormu menyambutku dengan mata sinis. Sama seperti penduduk lain. Pesona keanggunannya luntur sekejap, saat aku berkata ingin bertemu denganmu untuk melamar kerja, kemudian dia terbahak. Mengguncangkan sedikit bahu dan bibir mungilnya. Sebentar. Dia menghentikan kekehan itu kemudian berbisik pada resepsionis di sebelahnya. Seorang laki-laki berperawakan tinggi, berkulit putih, dengan wajah mirip Pangeran William di negeri dongeng. Resepsionis di negeriku tak ada yang setampan dia.
Aku menunggu dengan telinga terbuka namun seolah tuli. Dan keramahan pertama di negeri ini akhirnya kudapat. Mereka menyuruhku menunggu.
Tepat di depan meja resepsionis setinggi dada itu, aku ikut menunggu bersama beberapa perempuan yang seketika melemparkan cibiran lewat sudut matanya. Ada yang seperti sengaja menahan tawa tapi diperlihatkan. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyum. Entahlah, aku tak mengerti dengan etika yang diterapkan di sini.
Sambil duduk, mataku terpikat dengan interior kantormu yang seperti kerajaan Pangeran William dengan puluhan lukisan menghiasi dinding. Bedanya,  di kantormu ada banyak cermin datar yang memeluk dinding dengan erat. Pegawaimu yang mondar-mandir dengan tumpukan berkas di tangan, masih sempat menengok cermin sekali, dua kali. Bahkan semua pegawaimu melakukannya! Otakku pun baru menyadari jika semua orang selalu menyempatkan diri untuk melihat refleksinya di cermin. Apa cermin benda yang dikeramatkan di negeri ini?
Dan apakah mendahului antrean juga menjadi tradisi?
Seorang perempuan berambut ikal sepinggang yang tergerai sembarang, baru saja datang kemudian menggerakkan bibir tebal berwarna merahnya ke dekat telinga resepsionist laki-laki itu. Sama sepertiku, dia disuruh menunggu. Bedanya, dia dipanggil lebih cepat. Merusak sistem antrean yang sudah rapi dengan halusnya. Tapi rasanya hatiku tak pantas geram. Karena beberapa perempuan yang datang lebih dahulu dariku sama sekali tak keberatan. Aku hanya bisa mengeraskan gigitan pada bibir bagian bawah.
Kesabaranku untuk bertemu pemimpin negeri ini semakin diuji dengan serobotan antrean yang semakin sering. Perempuan yang masih duduk menunggu bersamaku, sama sekali bergeming. Seolah semuanya lumrah, air mukanya bagai pantai tanpa gelombang. Hatiku ingin menghentak. Tapi urung, ketika menyadari satu hal. Jangan-jangan sistem menunggu di negeri ini tidak didasarkan pada siapa yang datang lebih awal?
Ah, yang jelas, sistem itu membuat namaku dipanggil paling akhir. Saat mentari sudah menyerap seluruh energi manusia hari ini. Yang tersisa hanya peluh. Bahkan sesekali juga jenuh. Seperti air muka pemimpin negeri ini, sekarang. Aku memang tak paham, sudah berapa aduan rakyat yang sampai ke telingamu hari ini. Tapi dasi yang sudah kaukendurkan, rambut yang bagian depannya bekas dipelintir, cukup memberi isyarat buruk bagiku. Jelas suasana hatimu kurang baik. Tapi kuakui, kau masih tampak sangat tampan.
“Kau bukan orang negeri ini, bukan?” tanyamu ketika mengalihkan pandangan padaku dari tumpukan kertas di depanmu.
“Iya, saya pendatang.”
“Apa yang kauinginkan?” Matamu memicing seperti yang lainnya ketika melihatku. Oh, ini bukan pertanda baik.
“Saya, ingin melamar kerja, Pak.” Kusodrokan map berisi lamaran.
Telapak tanganmu kemudian memberi tanda stop!, sebentar matamu menusuk pandangan sopanku,”hhhh. . . bahkan tumpukan kertas ini lebih menarik dari dirimu.”
Kepalamu kembali menunduk. Berjibaku dengan banyak kata yang katanya lebih menarik. Sejenak, aku tercekat.
“Jangan lupa perhatikan cermin yang terpasang sepanjang jalan menuju ruanganku tadi,” tambahmu dengan wajah yang masih tenggelam pada tumpukan kertas.
Seketika aku sadar, bahwa kau sedang mengusirku. Hariku di sini terasa hampir kiamat. Tapi keberadaanku di negeri ini, tak boleh sirna sekejap saja. Biarlah ragaku sekarat pelan-pelan. Asalkan aku tak pernah minta pulang.
Hari ini, hari ketiga aku di sini, agaknya semua akan berubah. Perantauan di “Negeri Cermin Datar” akan menjadi istimewa karena keberadaanmu. Orang nomor satu di negeri ini—di negeri kalian semacam presiden— yang sedang betah berbaring di kamarku. Kamar sederhana yang kusewa dari seorang ibu tukang sapu dengan harga lumayan tinggi.
“Apa kau tak ingin menjawab pertanyaanku?”
Kau bertanya sembari menekan rasa sakit di bibirmu. Itu jelas terlihat dari kerutan keningmu yang menegang.
“Jangan banyak bicara dulu. Istirahatlah.”
Tatapanmu lamat. Jauh berbeda dengan tatapan saat pertama kali kita bertemu dulu. Mungkin kali ini kau merasa hutang budi. Sedang kali itu, kau merasa pongah dengan semua kendali perintah yang akan dijalankan kacungmu, untuk sekali hardik.
Tatapanmu masih terpaku padaku. Sementara aku memilih menatap jalan dari jendela kamar. Mereka yang berjalan di sana, tampak sama dengan pegawai kantormu. Atau mungkin mereka memang selalu melakukannya tapi aku tidak memperhatikan. Setiap melangkah beberapa meter, mereka menengok pada cermin yang terpasang di sepanjang jalan. Kegiatan itu terus diulangi. Tanpa pernah merasa bosan. Tanpa pernah merasa terganggu. Justru seulas senyum selalu menyertai akhir pencerminan mereka.
Kau sedikit berdehem. Bermaksud menegur. Kepalaku menoleh diikuti senyum. Sektika diriku tersadar, hidup memang bagaikan bermain ular tangga. Adakalanya angka dadu yang didapat akan mengantarkan pada tangga gemilang. Adakalanya dadu yang kaukocok sendiri itu berkhianat dengan membiarkanmu jatuh terjerambab lewat sepucuk ekor ular. Hatiku sedikit terkekeh ketika menyadari bahwa daduku dan dadumu sedang ditukar begitu cepat dalam dua hari.
Kemarin aku masih melihat wajah tampan tapi congkak milikmu. Dan sekarang, aku melihat wajah yang masih terbekasi goresan pisau. Beberapa goresan vertical, goresan horizontal, juga bekas tonjokan yang membuat bibirmu ngilu dan biru.
Tak ada yang menyuruhku berada di sana saat itu terjadi. Namun takdir seolah memilihku melihat pemimpin negeri ini dipukuli dan dicederai pada bagian wajah. Sekelompok pemuda itu bergegas pergi setelah kauterkulai lemah dengan darah yang menodai tanah. Gelap. Matamu sudah tertutup. Gulita. Tempat itu begitu gulita.
Keikutsertaanku sebagai tim medis di Universitas ternyata sedikit membantu. Lukamu tak lagi menganga bercampur darah segar seperti kemarin. Ini sudah pantas disebut sebuah wajah daripada daging tersayat yang terlumuri darah, seperti kemarin malam.
“Bagaimana kau bisa sampai di negeri ini?” Rupanya kau masih penasaran dengan keberadaanku di sini. Sambil meringis menahan perih, dilukamu yang terkena keringat, kau masih sempat bertanya.
“Em. . . aku. . . aku. . . sedang menjalankan sebuah ujian.”
Kulit di dahimu tertarik ke tengah, membentuk lipatan-lipatan rasa heran,”ujian?”
“Iya, ujian. Ujian bertahan hidup di negeri lain. Guru yang memilih negeri ini untukku.”
Kau terkekeh sebentar. Mungkin kauingin meledakkan tawa, tapi urung karena rasa sakit yang masih menyengatmu.
“Gurumu memilih tempat yang salah. Tak tahukah kau, ini negeri apa? Ini negeri tempat orang-orang berparasa cantik dan tampan menetap. Di negeri ini, kecantikan dan ketampananlah yang diandalkan. Seseorang berparas buruk sepertimu, tak akan mendapat tempat negeri ini.”
Ah, pantas saja, aku selalu dilayani terakhir untuk sebuah antrean. Ditolak bekerja sebelum melihat kemampuan. Pantas saja, saat aku berdiri di dalam kereta monorel dengan kecepatan tinggi, tak ada seorangpun yang mau menawariku tempat duduk. Padahal aku sudah melewatkan empat stasiun. Dan itu jelas memakan ketegangan otot kaki untuk berdiri. Terlebih lagi, ada laki-laki bertubuh kekar yang duduk dengan nikmat di sana. Dan ketika seorang perempuan cantik baru saja masuk, laki-laki itu memberikan tempat duduknya.
“Kautahu, ribuan cermin datar sengaja dipasang di negeri ini. Itu kebijakan yang ditetapkan oleh pemimpin-pemimpin sebelumnya untuk melihat seberapa cantik atau tampannya dirimu. Dan kau pasti bisa menerka, aku terpilih sebagai pemimpin karena ketampanan wajahku melebihi semua penduduk pria di sini.”
Bisa-bisanya sebuah negeri dipimpin oleh seorang yang hanya tampan. Tidak punya kemampuan memimpin. Eh, aku juga pernah mendengar cerita dari negeri lain. Di sana, seorang pemimpin dipilih berdasarkan banyaknya uang yang dimiliki. Jadi negeri ini tak sepenuhnya salah. Tapi aku tetap saja tak suka, walaupun dia tampan.
            “Kau terpilih tapi kau juga dicederai?” tanyaku dengan tatapan tajam.
“Heh, di negeri lain yang menjadikan uang sebagai tolak ukur, terjadi banyak pencurian uang dari orang yang kaya raya. Di sini, kecantikan dan ketampananlah yang menjadi tolak ukur. Maka, mereka yang mengintai kecantikan dan ketampanan seseorang, akan mencederai wajahnya. Seperti yang terjadi padaku.”
Suaramu terdengar lirih di akhir.
“Pantas saja guru memilih negeri ini untukku. Aku berasal dari negeri yang sangat jauh dari sini. Di negeriku memang tak ada orang-orang berparas cantik dan tampan. Kalaupun ada, tak bisalah melebihi kecantikan dan ketampanan orang-orang di negerimu. Karena di negeriku, kebaikan hatilah yang menjadi tolak ukur. Semua orang saling membantu satu sama lain, tanpa peduli wajah atau status. Memberi pekerjaan pada yang berkemampuan. Memberi makanan pada yang kelaparan. Pun memberi pertolongan pada yang membutuhkan, seperti pada dirimu semalam. Dan keberadaanku di sini, untuk menjalani sebuah ujian. Ujian mempertahankan kebaikan hati di negeri perantauan untuk gelar sarjanaku.”
Lidahmu seolah kelu. Matamu yang nanar muncul begitu saja.
“Bawa aku ke negerimu. Sepertinya aku akan lebih nyaman berada di sana. Lagipula, aku sudah tak punya apa-apa lagi di sini.”
Sebulir air jatuh dari sudut matamu. Merembesi setiap luka yang kutaksir rasanya perih.
“Kenapa kau tak coba merubah negeri ini?”
“Merubahnya? Kau becanda?! Mana mungkin sistem yang sudah berjalan lama bisa dirubah. Selamanya, kecantikan dan ketampanan adalah nomor satu di negeri ini.”
Aku menyeringai.
“Hey, kau hanya perlu melakukan satu hal. Gantilah seluruh cermin datar di negeri ini dengan cermin cekung dan cembung.”
***
*teruntuk yang menomor satukan kesempurnaan fisik, dariku—Putri Lestari.