Ada yang bilang, semangat di awal itu sudah biasa.
Mempertahankan semangat sampai akhir, baru luar biasa.
Itu yang sedang kuperjuangkan. Dan
akan selalu kuperjuangkan. Terlalu banyak yang harus kusesali setiap akhir
tahun. Biasanya, aku selalu membuat resolusi atau apa saja yang harus
dikerjakan setahun ini, di tahun baru. Semacam proyek yang harus kuselesaikan dalam
waktu satu tahun. Tetapi, di akhir tahun, aku selalu mendapati semuanya tidak
tercapai. Dan aku akan menyesal.
Tidak hanya target tahunan yang meleset jauh dari
target. Target-target "kecil" yang kubuat setiap bulan atau minggu
juga tidak berhasil. Faktor pengganggunya hanya satu. Kemalasan. Biasanya, aku akan menggebu
di awal, melempem di tengah, dan sirna di akhir. Tahun kemarin, aku punya
target mengisi blog secara rutin. Tema sudah ditentukan. Minggu pertama dan
kedua berjalan lancar. Minggu ketiga mulai bolong-bolong targetnya. Berlanjut
hingga tidak kupenuhi sama sekali.
Dulu, waktu aku masih suka membela
diriku sendiri, aku akan mengatakan bahwa aku sibuk hingga tidak bisa memenuhi
target itu. Tapi, itu hanya kamuflase untuk mengurangi penyesalan. Di luar
sana, ada banyak orang yang kesibukannya jauh berkali lipat dariku. Mereka
tetap bisa rutin menulis di blog atau melakukan banyak hal. Jadi, sebenarnya
aku ini tidak mau mengakui kalau targetku tidak tercapai karena aku malas.
Sekarang, aku sudah jujur dengan diriku sendiri. Aku tidak mau berlindung dari
kata sibuk lagi. Dan seperti ungkapan di atas, aku akan coba untuk mengisi
semangat di awal, tengah maupun akhir.
Ada satu lagi yang sedang kuperjuangkan.
Ini berhubungan dengan mindset-ku
sendiri. Mungkin berhubungan dengan sifat perfeksionis.
Waktu SMA, pelajaran seni rupa di sekolah diisi dengan
praktik menggambar. Menggambar garis, menggambar perspektif. Untuk menentukan
garis tepinya saja, aku butuh waktu lebih dari teman-teman. Karena aku tidak
mau terlewat satu atau dua milimeter dari ukuran yang seharusnya. Biasanya,
guru seni rupa juga akan memperlihatkan gambar contoh. Biar kita tahu, gambar
kita nantinya "kurang-lebih" akan seperti itu. Tapi, aku
mengartikannya sebagai "sama dengan-lebih dari". Jadi, yang terjadi
adalah aku akan mengulang gambar jika belum seperti contoh.
Sempurna atau tidak sama sekali. Mungkin
lebih tepatnya begitu. Sering sekali aku sudah berencana untuk melakukan
sesuatu tetapi tidak jadi dilakukan. Hanya karena kurang satu “bahan” saja. Contohnya
saat aku akan mencoba resep di internet. Aku tidak jadi mencobanya kalau bahan
yang kupunya tidak sama dengan resep. Padahal, bahan itu bisa saja diganti
dengan yang sejenis. Tapi, aku memilih tidak melakukan karena tahu hasilnya
tidak akan seperti itu. Atau, saat aku akan menulis. Aku sudah membuat
kerangkanya, sudah mulai mengumpulkan bahan. Tetapi, sebelumnya aku tahu kalau tulisanku
akan jadi “sampah”. Karena aku sudah membaca tulisan yang menurutku, Wow! Maka,
aku tidak jadi menulis. Atau aku akan beralasan bahwa aku akan berlatih menulis
terlebih dahulu selama beberapa waktu, hingga aku merasa layak untuk menulis
yang itu.
Seorang teman,pernah berkata padaku
bahwa, pada akhirnya, kita memang harus menulis banyak “sampah”. Aku mulai
menyadari ini. Tidak ada sesuatu yang instan dan langsung enak kecuali mie
instan. Temanku yang lain juga mengatakan bahwa tidak ada sesuatu yang dibuat
manusia akan sempurna. Karena yang membuat saja tidak sempurna.
Aku berpikir kemudian menyadari bahwa mindset-ku selama ini salah besar. Meninggalkan
kata sempurna adalah jawabannya. Seperti yang kulakukan di awal bulan ini. Aku
sengaja ikut dua tantangan menulis setiap hari. Padahal, aku belum tahu akan
menulis apa. Dan aku tahu, tulisanku tidak akan bagus. Tidak akan “berisi”.
Kadang hanya curcol dengan bahasa yang kurang tertata.
Biarlah. Biarlah seperti itu. Biar aku
bisa memberi tahu pada diriku sendiri, kalau membuat sesuatu yang tidak
sempurna bukanlah hal buruk. Membuat sesuatu yang tidak sempurna bukanlah hal
salah.


0 komentar:
Posting Komentar