Minggu, 19 November 2017

Aku ingin menemani Choi Young Do makan mie


Mungkin rasanya amat sangat terlambat membicarakan drama yang muncul beberapa tahun lalu ini. Tapi, dua hari ini saya merasa sangat merindukan Choi Young Do (dan Kim Woo Bin tentunya. Hihihi). Saya merasa perlu melampiaskan rasa rindu, sekaligus mengabadikan perasaan pada Choi Young Do. Maka, saya membuat tulisan random ini. #harapmaklum
Dulu sekali, saat drama korea ‘The Heirs’ sedang melejit, saya tidak langsung mengikutinya. Saya tipe orang yang tak bisa diulur-ulur oleh rasa penasaran. Hahaha. Setelah seluruh episode rampung, saya baru menontonnya. Saat itu, saya sering mendengar nama Kim Tan dan Cha Eun Sang, disebut oleh anak-anak kost yang memang rutin mengikuti. Kisah cinta mereka begitu menyita perhatian banyak orang. Tapi, saat menontonnya sendiri, saya justru sama sekali tidak tertarik dengan percintaan mereka. Mungkin karena terlalu bosan dengan tema serupa, tentang seorang perempuan dari keluarga biasa yang jatuh cinta pada laki-laki konglomerat. Perjuangan cinta beda kasta di kehidupan modern sudah menjamur. Dan, saya tidak menemukan apa yang spesial dari kisah mereka.


Dibanding kisah cinta Kim Tan-Cha Eun Sang, saya lebih tertarik dengan karakter Choi Young Do. Seorang laki-laki yang menyimpan banyak luka, kesepian dan tidak tahu cara mengekspresikan perasaannya. Hidup dalam lingkungan konglomerat dengan segala aturan permainan bisnis, membuat harinya sebagai seorang siswa SMA berumur 18 tahun terlihat menyedihkan. Nilai saham, perjanjian, pernikahan bisnis, etika kawan-lawan berbisnis, dan yang sejenisnya lebih banyak memenuhi harinya daripada kesenangan sebagai remaja. Choi Young Do hanya ada waktu untuk mengikuti apa yang Ayahnya perintahkan. Melakukan pembullian di sekolah menjadi salah satu pelampiasannya. Orang-orang hanya melihat sisi jahatnya itu, dan takut padanya.
Sisi jahat ini pula yang sedari awal dilihat oleh Cha Eun Sang, cinta pertama Yong Do. Pertama kali Yong Do melihat Eun Sang di sebuah minimarket. Yong Do sedang makan mie instan, sementara Eun Sang tertidur di depannya begitu saja. Bagi Yong Do, ini menarik dan sudah cukup membuatnya jatuh cinta. Sayangnya, apa yang Yong Do lakukan untuk mendekatinya justru berbuah sebaliknya. Di mata Eun Sang, dia tetaplah seorang laki-laki yang jahat dan perlu dijauhi. Hingga akhir, Eun Sang menolaknya, tanpa membalas apa pun.
Dari sisi lain saya melihat kebaikan Yong Do. Dia memang sering mengganggu Eun Sang dengan ancaman karena tak bisa mengatakan secara langsung hal-hal semacam: ‘aku ingin ngobrol denganmu’, ‘aku ingin kita saling menyapa’ atau ‘aku ingin makan mie berdua denganmu sambil bercerita’. Tapi, yang Yong Do lakukan ketika Eun Sang sedih atau mengalami kesulitan adalah membantunya. Walaupun perempuan itu ketus padanya. Nah, Yong Do baik banget, kan? J
Lebih dalam lagi, saya melihat Yong Do adalah orang yang paling menderita di drama ini. Dia hidup tanpa seseorang yang bisa diajak berbicara, berbagi kesedihan-kesedihannya. Jauh dari seorang ibu, menjalani hidupnya yang rumit seorang diri. Ayahnya akan menikah dengan perempuan lain untuk urusan bisnis, Ayahnya dipenjara karena kasus korupsi, Kim Tan yang seharusnya teman sejati justru sibuk dengan urusannya sendiri, Cha Eun Sang menolaknya berkali-kali, hingga permintaan maafnya ditolak oleh korban bullinya dulu. Tidak ada yang tahu apa yang dirasakannya. Harapannya sederhana, makan mie bersama Cha Eun Sang—yang tak pernah terwujud. Mungkin maksudnya, makan mie bersama orang yang disuka untuk membuat suasana hatinya membaik, meringankan sedikit beban hidupnya, atau bahkan hingga berbagi kesedihan.


Saya tak tahu, kenapa begitu simpati pada tokoh Yong Do. Orang-orang mungkin tertarik padanya karena diperankan oleh aktor yang sangat tampan. Tapi saya tertarik dengan karakternya, keadaan batinnya. Di kehidupan nyata pun, saya sering menaruh simpati pada orang-orang yang seperti ini. Cinta saya juga pernah hinggap pada seorang yang punya luka tapi jarang membicarakan luka-luka itu. Pernah ada yang bertanya kenapa, dan saya menjawab karena saya ingin menemaninya. Tak tega melihatnya terluka sendirian. Padahal, saya kan juga punya luka(?) Kalau saya ingin selalu menemani orang yang terluka, lalu siapa yang akan membantu saya menyembuhkan luka(?) Heuheu.
Ah, entahlah, saya juga tak paham. Sekiranya itulah perasaan saya pada Choi Young Do. Sekalipun saya juga punya luka, tapi saya tetap ingin menemani Choi Yong Do makan mie.


*ditulis untuk #1minggu1cerita


Kamis, 09 November 2017

Sebenar-benarnya teman



Alit, penulis Shitlicius pernah bilang (kurang lebih seperti ini, ehem): makin bertambah usia, teman akan semakin sedikit. Di satu sisi, saya manggut-manggut setuju. Pada sisi lain, saya teringat dengan diri sendiri yang memang tak banyak teman (dekat). Dulu, saya pernah menyalahkan diri sendiri. Berpikir bahwa saya susah cocok dengan orang lain, kerena mereka tak mau mengerti jalan pikiran ini—yang terkadang aneh, nggak seperti kebanyakan orang. Dan, saya pun enggan masuk terlalu dalam pada diri mereka.
Kenapa saya nggak mencoba memahami kamu lebih keras? atau kenapa kamu nggak mau mengerti apa yang ada di dalam kepala saya? atau kapan saya menemukan teman yang enak diajak ngobrol ‘ngalor-ngidul’? Pertanyaan semacam itu terus-menerus ada, seiring dengan silih bergantinya manusia di sekitar. Menjelang dua puluhan, kepala saya berbisik bahwa: perkenalan dengan orang lain akan bermuara pada dua hal, cocok atau tidak cocok. Sah-sah saja jika batin saya mengatakan salah satunya ketika semakin mengenal pribadi orang lain. Tidak ada yang salah, hanya perkara cocok dan tidak cocok.
Bertahun-tahun saya menantikan seorang teman yang bisa diajak bicara tentang pernikahan yang urgensinya bisa ditunda, tak perlu mematok usia bagi seorang perempuan. Orang di sekeliling saya membicarakan betapa menyedihkannya ulang tahun ke dua puluh lima tanpa seorang yang disebut suami. Saya menantikan seorang teman yang mau membicarakan tentang kunang-kunang, yang entah masih bisa dilihat terangnya oleh seorang anak yang lahir di dua puluh tahun mendatang, atau tidak. Teman di sekitar membicarakan gajah saja enggan.
Berpindah dari satu lingkungan ke lingkungan lain, saya tak kunjung mendapatkan teman idaman itu. Tapi, bukan berarti saya belum bertemu dengan seorang teman yang sebenar-benarnya. Lewat hal lain, saya menyadari dan mendapatkan teman yang sesungguhnya.
Tentang pendapat. Menikah bagi saya tak perlu dibatasi usia. Tak perlu adu cepat dengan orang lain. Bukan pula satu-satunya sumber kebahagiaan dalam hidup. Orang di sekitar saya, yang mengaku sebagai teman, sering sekali menyalahkan pendapat saya. Menyuruh cepat-cepat menikah, melarang saya menikah di usia yang lebih dari sekian. Agar saya bahagia. #lhah.
Tentang selera. Walaupun saya sering kepergok memakai flat shoes, tapi dalam otak pernah terbersit imajinasi agar kaki ini memaki sepatu boots pendek. Orang di sekitar saya pernah terbahak sangat kencang saat ide itu tercetus. Komentar negatif, nada sumbang, bercucuran dari mulut mereka. Gaya berpakaian saya yang terlalu sederhana, tak akan pantas berpadu dengan boots kekinian, orang lain pantas saja memakainya tapi saya tidak akan pantas. Kurang lebih seperti itu komentar yang keluar.
Tentang menjalani hidup. Sebuah buku bacaan selalu berada di tas. Seringnya sebuah novel atau kumpulan cerita pendek. Barangkali ada sepuluh atau dua puluh menit waktu luang yang bisa saya gunakan untuk membaca. Saat mata teman-teman di sekitar melihatnya, jangankan menanyakan judulnya, mereka justru menghakimi saya sebagai pengangguran tak guna. Waktu bagi mereka sebaiknya digunakan untuk menghasilkan sesuatu (uang), bukan duduk dan membaca.
Mereka berbeda dengan saya. Dan, saya bisa katakan bahwa mereka bukanlah sebenar-benarnya teman saya. Karena mereka tidak menghargai diri saya yang sesungguhnya.


Berpindah ke orang-orang lain, yang juga tak sama dengan saya. Mereka dan saya saling berbahagia ketika ada yang menikah, tak pernah menghakimi isi kepala masing-masing tentang pernikahan. Tak pernah membicarakan tentang kunang-kunang atau gajah, tapi menghargai kesukaan saya baca buku. Mereka dan saya tak pernah sama dalam berpakaikan, tapi mereka mau mengusulkan boots yang cocok untuk saya. Mereka menghargai setiap apa yang ada dalam diri dan pikiran saya. Entah yang aneh atau lucu, saya dan mereka bicarakan bersama, tertawakan bersama. Bagi saya, mereka inilah teman yang sesungguhnya.
Lalu, sampailah saya pada satu kalimat:
“Jika seseorang terus menerus menyalahkan pola pikirmu, prinsip hidupmu, jalan yang kau pilih, seleramu, keinginanmu, hingga mimpi-mimpi yang kau dambakan. Maka, hubungan yang cocok dengan seseorang itu adalah teman biasa. Jangan memaksa lebih, karena kau bisa terluka.”
Mungkin, quotes ini juga berguna untuk hubungan yang lain, tak hanya dalam pencarian teman yang sebenar-benarnya teman. Teman hidup barangkali. #eh


*ditulis untuk #1minggu1cerita dengan tema “Kawan”.
*sumber gambar: Google


Minggu, 05 November 2017

Dongen Untuk Asilia



“Bunda, bunda, asilia mau dibacain buku dongeng baru ini,” Asilia menarik lengan bundanya.
“Sebentar ya sayang, bunda masih ada kerjaan,” jawab Bunda Nabila pendek.
Bunda Nabila masih saja memandang layar komputernya. Tanpa sedikitpun menengok Asilia yang berdiri disampingnya dan merengek minta dibacakan dongeng. Lesu sekali wajah bocah yang masih duduk di TK nol kecil itu. Rambut kuncir kudanya bergoyang- goyang mengimbangi langkah menuju kamar.
Ayah yang sedari tadi memperhatikan dari ruang TV, menyusul Asilia. Mengantarkan putri kecilnya tertidur pulas. Walaupun ayah tak pandai membaca dongeng seperti bunda.
“Bunda, ayah mau bicara,” kata ayah pendek.
“Iya ayah, sebentar,” bunda masih saja menatap layar laptop.
Tangan ayah langsung memegang tangan bunda yang masih mengetik. Matanya menatap tajam mata bunda. Bunda menunduk, tak berani menatap suaminya. Langsung saja dia mematikan komputer.
“Bunda, apa bunda tidak merasa ada yang berubah dengan rumah ini sejak bunda bekerja jadi editor?”
“Ada apa yah?”
“Lihat Asilia. Dia tidak terurus. Membacakan dongeng seperti biasanya saja bunda sudah tidak sempat.”
Kecut sekali perkataan ayah ditelan oleh bunda. Matanya mulai berkaca- kaca. Mengingat Asilia yang sudah seminggu ini merengek minta dibacakan dongeng. Namun bunda tak pernah sempat. Hanya berkata iya, nanti saja. Hingga Asilia tertidur, bunda tak pernah membacakan satu halaman cerita saja. Pun dengan Asilia yang dulu sering dibuatkan bekal special. Sekarang bunda hanya memasak yang gampang, tidak ribet, bahkan membeli di warung depan jika sudah tidak sempat.
“Bunda, ayah tahu, kamu sangat mencintai dunia menulis. Tapi tidakkah bunda juga mencintai Asilia? Jika bunda tidak bisa mengejar mimpi bunda sekarang, bunda masih bisa mengejarnya lain waktu. Tapi jika bunda tidak bisa memberikan waktu terbaik untuk mendidik akhlak Asilia sekarang, bunda tidak akan pernah bisa mengejarnya di lain waktu. Karena ketika dia dewasa, dia akan terbentuk dari apa yang bunda tanamkan sejak kecil. Jika sekarang bunda hanya sibuk bekerja, kapan bunda akan menanamkan akhlak mulia pada Asilia?” Ayah menatap mata bunda yang sudah nanar.
“Tapi bunda juga ingin menulis yah. Pekerjaan ini, sudah bunda idamkan sejak dahulu. Salah satu posisi penting di penerbit.”
“Ayah tidak pernah melarang bunda untuk menulis. Ayah juga tidak melarang bunda untuk berhenti menulis. Tapi pikirkan semua ini dengan baik. Menulis dan Asilia,” ayah berkata datar.
Hati bunda sudah ditampar habis oleh semua perkataan ayah malam ini. Ayah benar, Asilia lebih penting dari semuanya. Tapi hatinya juga benar, dia tidak bisa berhenti menulis.
Malam mulai sunyi. Menyisakan bunda yang masih sibuk dengan pikirannya. Bunda duduk disamping tempat tidur putrinya. Memandang wajah Asilia yang polos sedang pulas. Rasanya dia sangat rindu dengan mata Asilia yang mulai mengantuk ketika dongeng sampai di tengah. Teringat mata Asilia yang perlahan- lahan menutup hingga lelap. Lucu sekali melihatnya kantuk hingga tertidur pulas.
Sudah seminggu bunda tak melihat ekspresi itu. Berkelebat pula seyum riang Asilia ketika melihat kotak makannya terisi penuh dengan “nasi goreng senyum”, “roti bakar ceria” atau “gulung- gulung lezat”. Semua menu special yang sengaja bunda ciptakan untuk bekal sekolah Asilia. Kemudian Asilia akan pulang sekolah dengan senyum riang. Bercerita tentang teman- temannya, gurunya, hingga hari ini belajar apa di sekolah. Sayang sekali, bunda sudah absen seminggu melewatkan masa- masa indah itu. Saat Asilia pulang, bunda masih berada di kantor redaksi. Menyerahkan setumpuk tugas editing dan mengambil tugas lagi. Bunda pulang dengan banyak PR dari redaksi, tanpa menghiraukan Asilia yang sudah menunggu untuk bercerita. Langsung saja bunda tancap gas di depan komputer, membiarkan asilia bermain dengan Mbok Inah yang sudah sepuh.
Air mata bunda mulai meleleh. Betapa berharganya waktu bersama Asilia. Seminggu kurang intensif menjaga Asilia saja, sudah ada kejadian putrinya membawa pulang boneka milik temannya. Kata Asilia dia hanya pinjam, tapi tidak ijin. Bunda menyadari satu hal yang sangat berharga. Bahwasannya akhlak anaknya tidak akan bisa ditukar dengan apapun. Dan dialah sebagai seorang ibu yang mampu menanamkan akhlak mulia pada Asilia.
Segara bunda menyalakan komputer kembali. Menuliskan surat pengunduran diri. Sudah benar malam ini keputusannya melepaskan pekerjaan. Sebab dia tidak pernah bisa melepaskan anaknya.

Asilia, bunda janji. Besok bunda akan membuatkan bekal yang enak, bunda akan mendengarkan ceritamu sepulang sekolah, dan bunda akan membacakan dongeng untuk Asilia.



*cerita ini saya tulis akhir Maret 2014 dan diikutkan lomba menulis sebuah penerbit indie--yang saya lupa namanya, hehehe. Cerita ini kemudian lolos dan dibukukan dalam sebuah antologi bertema wanita. Beberapa waktu setelahnya, saya mendapat pesan singkat dari seorang perempuan. Dia seorang wanita karir yang membaca cerita saya, kemudian ingin meluangkan waktunya lebih banyak untuk anaknya. Saat itu saya merasa bahagia, karena tulisan saya ternyata bisa membuat orang lain bergerak ke arah lebih baik. Sejak saat itu, saya percaya bahwa sebuah tulisan yang baik adalah tulisan yang bisa memberikan sumbangan pemikiran atau mempertanyakan banyak hal atau membuat seseorang bergerak ke arah lebih baik. Saya merasa perlu memposting tulisan ini karena sekranga sedang berada pada "down mood". #alesan

*sumber gambar: google