Senin, 24 Desember 2018

Resolusi 2019



Duh, tahun lalu saya nggak nulis resolusi. Alasannya, saya nggak mau membebani diri terlalu banyak. Saat beberapa resolusi nggak tercapai, maka di akhir tahun saya akan mendapatkan sebuah pukulan bernama penyesalan. Maka tahun 2018 nggak ada resolusi. Untuk tahun 2019 niat itu kembali muncul. Tahun baru tanpa resolusi. Hingga saya menyadari satu hal dan memutuskan untuk menulis resolusi sederhana ini.

Tahun 2018 saya berprinsip ‘ngalir aja’. Setelah mengalami beberapa kegagalan di tahun sebelumnya. Saya masih kerja di bimbel Kudus yang ‘gitu-gitu’ aja, nggak mengalami perkembangan karir. Lomba menulis nggak membuahkan hasil, naskah-naskah yang nggak selesai. Target bertajuk “membahagiakan orang tua” (misal: membelikan hewan qurban) banyak yang nggak tercapai. Seperti yang saya tulis di penghujung tahun 2017 lalu, di akhir tahun saya mengalami beberapa penyesalan. Lalu, menyalahkan diri sendiri: kenapa kamu nggak berusaha lebih keras lagi untuk mencapainya? Saya nggak mau mengalami penyesalan yang sama di akhir tahun. Jadi saya memutuskan tahun 2018 tanpa resolusi.

Saya justru mendapatkan beberapa hal nggak terduga di tahun 2018. Pindah ke Jogja, mendapat pekerjaan baru dan tulisan saya dimuat di media. Ya, walaupun saya lima kali tertolak proyekan naskah novel. Hahaha! Ternyata ‘mengalir’ justru memberikan saya lebih banyak. Dan, di akhir tahun ini saya lebih berbahagia. Saya nggak mengalami penyesalan seperti tahun sebelumnya. Mungkin karena saya nggak mengawalinya dengan ekspektasi. Lalu, apa yang saya dapatkan sepanjang tahun ini terlihat spesial. Padahal saya juga mengalami beberapa kegagalan. Gagal beasiswa karena skor toefl kurang, lima kali ditolak proyekan novel, gagal saat melamar kerja di sekolah, belum bisa membelikan bapak sepeda, dan lain-lain. Tapi, karena saya nggak punya ekspektasi di awal tahun, maka saya nggak merutuki diri di akhir tahun ini. Entah memang karena saya nggak membuat resolusi atau pola pikir dan cara saya menjalani hidup mulai berubah. Pokoknya, saya suka perasaan akhir tahun yang seperti ini. Tanpa penyesalan mendalam, tanpa menyalahkan diri sendiri. :D

Tahun depan, saya ingin mengulangnya lagi. Nggak mau hidup dengan resolusi. Tapi, beberapa hari di rumah membuat saya menyadari sesuatu. Ternyata saya tipe orang yang butuh deadline dan jadwal. Ehehehehe. Sekarang masanya libur, saya pulang ke Kudus untuk melepas rindu dengan keluarga. Eh, yang saya dapatkan di rumah selain obat kangen tapi juga ketidakproduktifan! L Selama di rumah, saya hidup sesuka hati. Mager-mageran, banyak tidur, banyak nyekrol timeline, pokoknya melakukan hal yang masuk kategori ‘males-malesan’. Di rumah saya nggak ada beban untuk berangkat jam sembilan pagi atau jam setengah satu. Nggak ada beban nyuci pagi-pagi agar sehari cucian kering. Nggak ada beban menyisihkan waktu untuk menulis. Justru dengan waktu yang longgar ini saya nggak menghasilkan apa-apa. Mengedit tulisan hanya satu hari saja. Belum melanjutkan naskah-naskah. Ide-ide di kepala belum terealisasi. Duh.. duh...! Maka saya memutuskan untuk membuat resolusi kecil tahun depan, yang isinya lebih berisi jadwal dan deadline.
                                                                 
Tahun 2019, saya ingin mendorong diri untuk lebih rajin membaca. Satu buku setiap bulan minimal, atau dua bolehlah. Di sela-sela kegiatan setiap hari, saya akan menyisipkan waktu baca. Menulis satu halaman setiap hari, dengan jadwal menulis yang akan saya tentukan jamnya secara fleksible nantinya. Belajar memasak seminggu sekali atau dua minggu sekali. Banyak minum air putih, makan buah dan sayur. Berolahraga di pagi hari (nah, kalau yang ini sudah saya mulai, *tepuk dada), seminggu dua atau tiga kali. Lebih hemat dan bijak menggunakan uang, nggak jajan terus. Bepergian di hari Minggu, terutama jika ada kegiatan volunteer. Dan... satu lagi. Ini sebenarnya harapan, bukan resolusi. Hehehe. Saya berharap tahun depan bertemu dengan ‘orang baru’. Seseorang yang cocok dengan saya dan mau menerima semua kekurangan diri (ini sih, dalam rangka ditarotin si Farrah kalau tahun depan saya bakal ketemu orang baru yang cocok dan menerima apa adanya. ehehehe).

Kali ini saya nggak punya resolusi tentang berat badan atau semacamnya. Saya mendapatkan sebuah penerimaan diri. Saya memang gendut, tidak cantik dan secara fisik banyak kekurangan. Saya menerima semuanya dalam diri ini. Saya nggak mau membebani diri untuk menjadi proporsional dan cantik bak model. Karena lebih penting saya menerapkan hidup sehat daripada memikirkan hal semacam itu. Lalu, tetap menjadi diri sendiri yang tidak sempurna tetapi selalu memperbaiki apa yang ada di dalam diri (sikap dan perbuatan). Bukankah apa yang ada di dalam diri adalah kekayaan berharga dari seseorang dibanding apa yang hanya tampak saja? ;))


Putri
Kudus, 24 Desember 2018.



*sumber gambar: google

Sabtu, 22 Desember 2018

Sebuah Keputusan


“Kalau kamu dikasih tiket konser seharga 900-ribu, tapi nggak suka sama band-nya, apa tetap bakal nonton?” tanya Farrah usai aku curhat yang cenderung ngeluh.
“Emm... enggak,” jawabku setelah mikir panjang.
“Mending keluar duit 500-ribu buat beli tiket konser band yang kamu suka. Ya, nggak? Ya emang sih, harus keluar duit, tapi kan kamu suka, kamu seneng, kamu bahagia” lanjut Farrah.
“Iya sih,” kataku membenarkan.
“Aku rasa nggak rugi sama sekali kalau kamu keluar duit 500-ribu tiap bulan, tapi kamu nyaman dan bahagia. Kesehatan jiwa dan batinmu itu lebih penting,” lanjutnya.
Itu obrolanku sama Farrah beberapa hari lalu di salah satu angkringan Jogja. Berhari-hari dan berkali-kali aku berpikir bahwa lima ratus ribu itu berharga. Apalagi sudah merasakan bagaimana susahnya mencari uang dan menabung. Tapi, semakin banyak hari berlalu, rasanya semakin banyak pula ‘toxic’ yang kuterima. Dan, aku mulai setuju dengan argumen Farrah. Kebahagiaan, kenyamanan dan kepuasan emang nggak bisa diukur dengan materi.
‘Toxic’ yang kuterima mungkin sudah berada di level serius. Aku menjadi orang yang banyak mengeluh, sana-sini sambat. Mood nulisku lebih banyak hilang entah kemana. Aku tahu di mana semuanya berakar, tetapi tak kunjung berani bertindak karena terlalu banyak pertimbangan.
Gong-nya adalah beberapa waktu lalu. Satu-dua kejadian membuatku merasa sangat kacau. Efeknya lebih buruk dari sebelum-sebelumnya. Mood-ku berantakan, ingin misuh-misuh, hariku nggak berjalan lancar, tulisan-tulisan terbengkalai. Aku sudah terlalu lelah menghadapi, lalu membuat sebuah keputusan: lebih baik mengeluarkan 500-ribu tiap bulan demi kebahagiaan.
Oh iya, seharusnya postingan ini menjadi postingan detoks diri. Mengeluarkan semua yang kurasa sebagai racun yang telah kuterima. Tapi, urung kulakukan. Karena sadar, bahwa penggosip ada di mana-mana dan kepo sampai mana-mana dan aku nggak suka diomongin di mana-mana. Yak, sekian!

Putri.
Kudus, 22 Desember 2018.