Duh, tahun lalu saya
nggak nulis resolusi. Alasannya, saya nggak mau membebani diri terlalu banyak.
Saat beberapa resolusi nggak tercapai, maka di akhir tahun saya akan
mendapatkan sebuah pukulan bernama penyesalan. Maka tahun 2018 nggak ada resolusi.
Untuk tahun 2019 niat itu kembali muncul. Tahun baru tanpa resolusi. Hingga
saya menyadari satu hal dan memutuskan untuk menulis resolusi sederhana ini.
Tahun 2018 saya
berprinsip ‘ngalir aja’. Setelah mengalami beberapa kegagalan di tahun
sebelumnya. Saya masih kerja di bimbel Kudus yang ‘gitu-gitu’ aja, nggak
mengalami perkembangan karir. Lomba menulis nggak membuahkan hasil,
naskah-naskah yang nggak selesai. Target bertajuk “membahagiakan orang tua” (misal:
membelikan hewan qurban) banyak yang nggak tercapai. Seperti yang saya tulis di
penghujung tahun 2017 lalu, di akhir tahun saya mengalami beberapa penyesalan.
Lalu, menyalahkan diri sendiri: kenapa
kamu nggak berusaha lebih keras lagi untuk mencapainya? Saya nggak mau
mengalami penyesalan yang sama di akhir tahun. Jadi saya memutuskan tahun 2018
tanpa resolusi.
Saya justru mendapatkan
beberapa hal nggak terduga di tahun 2018. Pindah ke Jogja, mendapat pekerjaan
baru dan tulisan saya dimuat di media. Ya, walaupun saya lima kali tertolak proyekan
naskah novel. Hahaha! Ternyata ‘mengalir’ justru memberikan saya lebih banyak. Dan,
di akhir tahun ini saya lebih berbahagia. Saya nggak mengalami penyesalan
seperti tahun sebelumnya. Mungkin karena saya nggak mengawalinya dengan
ekspektasi. Lalu, apa yang saya dapatkan sepanjang tahun ini terlihat spesial.
Padahal saya juga mengalami beberapa kegagalan. Gagal beasiswa karena skor
toefl kurang, lima kali ditolak proyekan novel, gagal saat melamar kerja di
sekolah, belum bisa membelikan bapak sepeda, dan lain-lain. Tapi, karena saya
nggak punya ekspektasi di awal tahun, maka saya nggak merutuki diri di akhir
tahun ini. Entah memang karena saya nggak membuat resolusi atau pola pikir dan
cara saya menjalani hidup mulai berubah. Pokoknya, saya suka perasaan akhir
tahun yang seperti ini. Tanpa penyesalan mendalam, tanpa menyalahkan diri
sendiri. :D
Tahun depan, saya ingin
mengulangnya lagi. Nggak mau hidup dengan resolusi. Tapi, beberapa hari di
rumah membuat saya menyadari sesuatu. Ternyata saya tipe orang yang butuh
deadline dan jadwal. Ehehehehe. Sekarang masanya libur, saya pulang ke Kudus
untuk melepas rindu dengan keluarga. Eh, yang saya dapatkan di rumah selain
obat kangen tapi juga ketidakproduktifan! L Selama di
rumah, saya hidup sesuka hati. Mager-mageran,
banyak tidur, banyak nyekrol timeline,
pokoknya melakukan hal yang masuk kategori ‘males-malesan’. Di rumah saya nggak
ada beban untuk berangkat jam sembilan pagi atau jam setengah satu. Nggak ada
beban nyuci pagi-pagi agar sehari cucian kering. Nggak ada beban menyisihkan
waktu untuk menulis. Justru dengan waktu yang longgar ini saya nggak
menghasilkan apa-apa. Mengedit tulisan hanya satu hari saja. Belum melanjutkan
naskah-naskah. Ide-ide di kepala belum terealisasi. Duh.. duh...! Maka saya
memutuskan untuk membuat resolusi kecil tahun depan, yang isinya lebih berisi jadwal
dan deadline.
Tahun 2019, saya ingin
mendorong diri untuk lebih rajin membaca. Satu buku setiap bulan minimal, atau
dua bolehlah. Di sela-sela kegiatan setiap hari, saya akan menyisipkan waktu
baca. Menulis satu halaman setiap hari, dengan jadwal menulis yang akan saya
tentukan jamnya secara fleksible nantinya. Belajar memasak seminggu sekali atau
dua minggu sekali. Banyak minum air putih, makan buah dan sayur. Berolahraga di
pagi hari (nah, kalau yang ini sudah saya mulai, *tepuk dada), seminggu dua
atau tiga kali. Lebih hemat dan bijak menggunakan uang, nggak jajan terus.
Bepergian di hari Minggu, terutama jika ada kegiatan volunteer. Dan... satu
lagi. Ini sebenarnya harapan, bukan resolusi. Hehehe. Saya berharap tahun depan
bertemu dengan ‘orang baru’. Seseorang yang cocok dengan saya dan mau menerima
semua kekurangan diri (ini sih, dalam rangka ditarotin si Farrah kalau tahun
depan saya bakal ketemu orang baru yang cocok dan menerima apa adanya. ehehehe).
Kali ini saya nggak
punya resolusi tentang berat badan atau semacamnya. Saya mendapatkan sebuah
penerimaan diri. Saya memang gendut, tidak cantik dan secara fisik banyak
kekurangan. Saya menerima semuanya dalam diri ini. Saya nggak mau membebani
diri untuk menjadi proporsional dan cantik bak model. Karena lebih penting saya
menerapkan hidup sehat daripada memikirkan hal semacam itu. Lalu, tetap menjadi
diri sendiri yang tidak sempurna tetapi selalu memperbaiki apa yang ada di
dalam diri (sikap dan perbuatan). Bukankah apa yang ada di dalam diri adalah
kekayaan berharga dari seseorang dibanding apa yang hanya tampak saja? ;))
Putri
Kudus, 24 Desember
2018.
*sumber gambar: google

