Senin, 24 Desember 2018

Resolusi 2019



Duh, tahun lalu saya nggak nulis resolusi. Alasannya, saya nggak mau membebani diri terlalu banyak. Saat beberapa resolusi nggak tercapai, maka di akhir tahun saya akan mendapatkan sebuah pukulan bernama penyesalan. Maka tahun 2018 nggak ada resolusi. Untuk tahun 2019 niat itu kembali muncul. Tahun baru tanpa resolusi. Hingga saya menyadari satu hal dan memutuskan untuk menulis resolusi sederhana ini.

Tahun 2018 saya berprinsip ‘ngalir aja’. Setelah mengalami beberapa kegagalan di tahun sebelumnya. Saya masih kerja di bimbel Kudus yang ‘gitu-gitu’ aja, nggak mengalami perkembangan karir. Lomba menulis nggak membuahkan hasil, naskah-naskah yang nggak selesai. Target bertajuk “membahagiakan orang tua” (misal: membelikan hewan qurban) banyak yang nggak tercapai. Seperti yang saya tulis di penghujung tahun 2017 lalu, di akhir tahun saya mengalami beberapa penyesalan. Lalu, menyalahkan diri sendiri: kenapa kamu nggak berusaha lebih keras lagi untuk mencapainya? Saya nggak mau mengalami penyesalan yang sama di akhir tahun. Jadi saya memutuskan tahun 2018 tanpa resolusi.

Saya justru mendapatkan beberapa hal nggak terduga di tahun 2018. Pindah ke Jogja, mendapat pekerjaan baru dan tulisan saya dimuat di media. Ya, walaupun saya lima kali tertolak proyekan naskah novel. Hahaha! Ternyata ‘mengalir’ justru memberikan saya lebih banyak. Dan, di akhir tahun ini saya lebih berbahagia. Saya nggak mengalami penyesalan seperti tahun sebelumnya. Mungkin karena saya nggak mengawalinya dengan ekspektasi. Lalu, apa yang saya dapatkan sepanjang tahun ini terlihat spesial. Padahal saya juga mengalami beberapa kegagalan. Gagal beasiswa karena skor toefl kurang, lima kali ditolak proyekan novel, gagal saat melamar kerja di sekolah, belum bisa membelikan bapak sepeda, dan lain-lain. Tapi, karena saya nggak punya ekspektasi di awal tahun, maka saya nggak merutuki diri di akhir tahun ini. Entah memang karena saya nggak membuat resolusi atau pola pikir dan cara saya menjalani hidup mulai berubah. Pokoknya, saya suka perasaan akhir tahun yang seperti ini. Tanpa penyesalan mendalam, tanpa menyalahkan diri sendiri. :D

Tahun depan, saya ingin mengulangnya lagi. Nggak mau hidup dengan resolusi. Tapi, beberapa hari di rumah membuat saya menyadari sesuatu. Ternyata saya tipe orang yang butuh deadline dan jadwal. Ehehehehe. Sekarang masanya libur, saya pulang ke Kudus untuk melepas rindu dengan keluarga. Eh, yang saya dapatkan di rumah selain obat kangen tapi juga ketidakproduktifan! L Selama di rumah, saya hidup sesuka hati. Mager-mageran, banyak tidur, banyak nyekrol timeline, pokoknya melakukan hal yang masuk kategori ‘males-malesan’. Di rumah saya nggak ada beban untuk berangkat jam sembilan pagi atau jam setengah satu. Nggak ada beban nyuci pagi-pagi agar sehari cucian kering. Nggak ada beban menyisihkan waktu untuk menulis. Justru dengan waktu yang longgar ini saya nggak menghasilkan apa-apa. Mengedit tulisan hanya satu hari saja. Belum melanjutkan naskah-naskah. Ide-ide di kepala belum terealisasi. Duh.. duh...! Maka saya memutuskan untuk membuat resolusi kecil tahun depan, yang isinya lebih berisi jadwal dan deadline.
                                                                 
Tahun 2019, saya ingin mendorong diri untuk lebih rajin membaca. Satu buku setiap bulan minimal, atau dua bolehlah. Di sela-sela kegiatan setiap hari, saya akan menyisipkan waktu baca. Menulis satu halaman setiap hari, dengan jadwal menulis yang akan saya tentukan jamnya secara fleksible nantinya. Belajar memasak seminggu sekali atau dua minggu sekali. Banyak minum air putih, makan buah dan sayur. Berolahraga di pagi hari (nah, kalau yang ini sudah saya mulai, *tepuk dada), seminggu dua atau tiga kali. Lebih hemat dan bijak menggunakan uang, nggak jajan terus. Bepergian di hari Minggu, terutama jika ada kegiatan volunteer. Dan... satu lagi. Ini sebenarnya harapan, bukan resolusi. Hehehe. Saya berharap tahun depan bertemu dengan ‘orang baru’. Seseorang yang cocok dengan saya dan mau menerima semua kekurangan diri (ini sih, dalam rangka ditarotin si Farrah kalau tahun depan saya bakal ketemu orang baru yang cocok dan menerima apa adanya. ehehehe).

Kali ini saya nggak punya resolusi tentang berat badan atau semacamnya. Saya mendapatkan sebuah penerimaan diri. Saya memang gendut, tidak cantik dan secara fisik banyak kekurangan. Saya menerima semuanya dalam diri ini. Saya nggak mau membebani diri untuk menjadi proporsional dan cantik bak model. Karena lebih penting saya menerapkan hidup sehat daripada memikirkan hal semacam itu. Lalu, tetap menjadi diri sendiri yang tidak sempurna tetapi selalu memperbaiki apa yang ada di dalam diri (sikap dan perbuatan). Bukankah apa yang ada di dalam diri adalah kekayaan berharga dari seseorang dibanding apa yang hanya tampak saja? ;))


Putri
Kudus, 24 Desember 2018.



*sumber gambar: google

Sabtu, 22 Desember 2018

Sebuah Keputusan


“Kalau kamu dikasih tiket konser seharga 900-ribu, tapi nggak suka sama band-nya, apa tetap bakal nonton?” tanya Farrah usai aku curhat yang cenderung ngeluh.
“Emm... enggak,” jawabku setelah mikir panjang.
“Mending keluar duit 500-ribu buat beli tiket konser band yang kamu suka. Ya, nggak? Ya emang sih, harus keluar duit, tapi kan kamu suka, kamu seneng, kamu bahagia” lanjut Farrah.
“Iya sih,” kataku membenarkan.
“Aku rasa nggak rugi sama sekali kalau kamu keluar duit 500-ribu tiap bulan, tapi kamu nyaman dan bahagia. Kesehatan jiwa dan batinmu itu lebih penting,” lanjutnya.
Itu obrolanku sama Farrah beberapa hari lalu di salah satu angkringan Jogja. Berhari-hari dan berkali-kali aku berpikir bahwa lima ratus ribu itu berharga. Apalagi sudah merasakan bagaimana susahnya mencari uang dan menabung. Tapi, semakin banyak hari berlalu, rasanya semakin banyak pula ‘toxic’ yang kuterima. Dan, aku mulai setuju dengan argumen Farrah. Kebahagiaan, kenyamanan dan kepuasan emang nggak bisa diukur dengan materi.
‘Toxic’ yang kuterima mungkin sudah berada di level serius. Aku menjadi orang yang banyak mengeluh, sana-sini sambat. Mood nulisku lebih banyak hilang entah kemana. Aku tahu di mana semuanya berakar, tetapi tak kunjung berani bertindak karena terlalu banyak pertimbangan.
Gong-nya adalah beberapa waktu lalu. Satu-dua kejadian membuatku merasa sangat kacau. Efeknya lebih buruk dari sebelum-sebelumnya. Mood-ku berantakan, ingin misuh-misuh, hariku nggak berjalan lancar, tulisan-tulisan terbengkalai. Aku sudah terlalu lelah menghadapi, lalu membuat sebuah keputusan: lebih baik mengeluarkan 500-ribu tiap bulan demi kebahagiaan.
Oh iya, seharusnya postingan ini menjadi postingan detoks diri. Mengeluarkan semua yang kurasa sebagai racun yang telah kuterima. Tapi, urung kulakukan. Karena sadar, bahwa penggosip ada di mana-mana dan kepo sampai mana-mana dan aku nggak suka diomongin di mana-mana. Yak, sekian!

Putri.
Kudus, 22 Desember 2018.


Senin, 12 November 2018

Tentang Bapak: Pandangan Hidup dan Bagaimana Hidup Seharusnya




Di twitter banyak bertebaran tagar #HariAyahNasional. Saya jadi teringat Bapak dan apa-apa yang pernah kita lalui bersama. Pun teringat dengan semua nasihat dan apa pun yang Bapak ajarkan tentang hidup, yang ternyata membentuk pola pikir saya sekarang tentang hidup.
Waktu kecil, sebelum tidur, terutama saat tak bisa tidur, Bapak mendongeng untukku. Bukan tentang seorang putri yang membuat istana dari es. Bapak mendongeng tanpa buku. Cerita keluar begitu saja dari mulutnya. Tentang kancil yang cerdik, ande-ande lumut, jaka tarub, asal-usul daerah, sunan-sunan dan tentang nabi-nabi. Suasana kamar temaram, Bapak mulai bercerita, hingga suaranya lirih karena mulai mengantuk. Tapi, Bapak akan terus bercerita hingga saya tertidur nyenyak.
Saat ada bulusan (tradisi kupatan di Kudus), atau acara tradisi lainnya, Bapak selalu menyempatkan untuk mengajakku. Dibonceng sepeda onthel, kakiku diikat, kita pergi ke sana. Bapak milih waktu yang bukan puncak, biasanya di awal, agar tak terlalu ramai (eh, mungkin ini salah satu sebab saya nggak terlalu suka keramaian. hehe). Pulangnya, kita beli martabak telur. Di rumah, martabak dimakan bersama. Saya, mas dan mbak masing-masing dapat dua potong biasanya. Saya jarang sekali membeli mainan seperti anak-anak lain. Pernah suatu kali Bapak membelikan saya mainan dari keramik yang sedang hits pada masanya. Di depan rumah, saya terjatuh saat turun dan keramik-keramik itu pecah. Saya sedih sekali, sementara Bapak tak punya uang untuk beli lagi. Akhirnya, malam itu juga, Bapak mengelem keramik-keramik itu. Hari berikutnya, saya bermain ke rumah seorang teman. Dia punya keramik-keramik mainan itu lebih banyak dari saya dan dipajang indah di tempatnya. Saat pulang, Bapak tahu saya juga ingin keramik milik sendiri dipajang. Jadi bapak membuatkan sendiri tempat keramiknya. Memang tak seindah dengan yang dijual, tapi buat saya itu bagus sekali.
Saat terima rapot, nilai yang dilihat pertama oleh Bapak adalah nilai pelajaran Agama. Nilai lainnya tak pernah dilihat. Bapak akan marah jika nilai matematika saya tinggi sekali, tetapi nilai agama rendah. Sampai dewasa, Bapak tak pernah menuntut apa-apa. Tak pernah menuntut saya untuk PNS, jadi orang kaya, atau bahkan menikahi orang kaya (Hahaha!). Hanya meminta saya jangan lupa shalat, ngaji dan puasa. Jika saya merantau ke luar kota, saya pasti dikasih bekal tasbih dan al quran. Dan pesan, shalat dhuhanya jangan sampai lupa, baca al waqiah setelah shalat ashar/subuh dan tasbih sebelum tidur.
Cara Bapak memandang hidup dan menjalani hidup juga saya jadikan pelajaran. Saat saya masih kelas satu SD, saya menderita suatu penyakit yang susah disembuhkan. Bapak memberobatkan saya ke mana-mana. Bahkan sampai ke luar kota. Bapak tak pernah mengeluh, tak pernah mengganggap saya sebagai anak yang hanya menjadi beban. Tapi, Bapak sabar menjalani semuanya. Sembari terus berusaha menyembuhkan saya, Bapak juga memasrahkan semuanya pada Tuhan. Mungkin cobaan hidup lewat saya selama beberapa waktu lalu itu yang menjadikan Bapak semakin bijak dalam memandang hidup.
Di sela-sela nonton TV bersama, Bapak selalu menasihati saya. Tentang apa pun. Kadang, tiba-tiba nyeletuk “kalau nyari suami nomer satu agamanya.” Padahal kita tidak sedang membicarakan pasangan hidup atau nonton drama. Kita sedang nonton bola bersama. Selepas lulus kuliah, Bapak bilang “kalau nyari kerja, yang penting kamu seneng. nggak usah mikirin setor gaji buat orang tua. dan yang paling penting tempat kerjanya longgar buat ibadah.” Kadang saat saya usai mengeluh, nasihat itu datang. Misal saat saya mengeluhkan seorang teman yang suka mengusik dan menggunjingkan saya. Bapak bilang “kita itu harus berbuat baik sama semua orang. Jangankan sama orang, sama semut pun kita disuruh untuk berbuat baik.” Dan masih banyak lagi nasihat lainnya.
Mungkin apa-apa yang Bapak lakukan pada saya dari dulu sampai sekaranglah yang membentuk pola pikir saya tentang hidup. Saya tak terlalu mementingkan materi, saya memandang seseorang bukan dari derajatnya atau gelarnya, tapi dari kebaikannya. Saya menjalani hidup dengan prinsip dasar bahwa hidup itu untuk berbuat kebaikan. Dan, kalau bisa saling bermanfaat untuk sesama.
Saya baru sadar dengan prinsip yang saya pegang sekarang, saya memang belum bisa membuatkan rumah yang lebih bagus untuk orang tua saya, atau membelikan mereka mobil, atau memberangkatkan mereka umroh. Entah Bapak menyesal atau tidak dengan semua ajarannya, hingga anaknya ini belum bisa melakukan apa-apa untuk beliau. Hihihi. Yang jelas, atas apa yang Bapak ajarkan, saya selalu menyempatkan untuk beli koran yang dijual seorang anak di jalan hanya karena tak tega. Semoga Bapak bangga dengan yang kulakukan! Hahaha~~~
Duh, jadi kangen kan sama rumah. Kangen sama suara ceramah radio yang tiap pagi Bapak dengarkan. Kangen sama celetukan nasihat-nasihat Bapak di sela nonton TV. Kangen sama obrolan-obrolan bermutu dengan Bapak (Eits jangan salah, Bapak pernah membahas ketidaksetujuannya dengan lirik lagu Indonesia Raya yang versi panjang. Hehehe).
Setiap apa yang Bapak punya dan lakukan untukku, rasanya semuanya puitik sekali. Semoga Bapak selalu sehat. Dan, suatu saat nanti bisa ngobrol sama calonnya anakmu ini. Penasaran deh, calonku seperti apa dan bagaimana kalau ngobrol sama Bapak. Hihihi.

sumber gambar: google

Jogja, 12 Nov 18’.
Putri


Sabtu, 22 September 2018

My favorite fictional character





Saya sedang ingin menulis (lagi). Setelah sekian lama tak menulis, berlindung di balik kata lelah dan tak ada waktu. Saya mulai rindu duduk di dekat jendela, bersama sepotong kaktus kecil di pot warna ungu, lalu menuliskan sebuah kisah. Saya mulai rindu tiba-tiba terbangun dari tidur atau segera keluar dari kamar mandi hanya untuk menulis ide yang terlintas. Saya mulai rindu menjalin ikatan batin dengan tokoh-tokoh fiksi yang saya ciptakan. Saya rindu menulis. :’))
Blog yang mulai dihinggapi sarang laba-laba ini harus diisi lagi. Maka, seperti biasa, saat ingin menulis hal-hal random di blog, saya mengambil tema dari Writing Challenge. Dan kali ini saya memilih tema: “Write a story about your favorite fictional character”.
Landon Carter. Nama pertama yang terlintas di kepala saat membaca tema itu. Landon adalah karakter fiksi di novel dan film ‘A Walk to Remember’. Sebuah kisah lawas yang sebenarnya cengeng, tapi kok ya saya tetap suka dengan jalan ceritanya. Hehehe. Kan, nyebelin ya. *tetiba kezel sama diri sendiri. Tapi, Landon memang pantas mendapatkan banyak fans. Saya sangat berterima kasih pada penulis yang sudah menciptakan karakternya.
Di awal cerita, Landon terlihat nakal. Bersama gengnya, dia mengerjai seseorang untuk lompat ke sebuah bendungan sebagai syarat masuk geng. Ketika orang tersebut tenggelam, Landon menolongnya. Sementara semua temannya kabur. Landon sebagai satu-satunya ‘tersangka’ mendapatkan hukuman. Hukuman-hukuman itu yang justru membuat karakternya yang penuh kasih sayang dan manly banget mulai terlihat. Hukuman itu pula yang akhirnya membuatnya dekat dengan seorang perempuan.
Perempuan itu telah dicap aneh oleh semua orang. Tapi, Landon justru menemukan sesuatu yang lain di dalam diri perempuan itu. Landon tak mempedulikan penampilan si perempuan yang kuno dan sering menjadi bahan olok-olokan di kampus. Landon tak peduli dengan kata’aneh’ yang semua orang labelkan pada perempuan itu. Karena di dalam diri perempuan itu, dia menemukan sesuatu yang berbeda. Landon menemukan kepercayaan pada keajaiban dan kebaikan hidup, yang selama ini tak pernah terlintas di kepalanya. Karena di benaknya hanya ada tentang bersenang-senang.
Kebaikan-kebaikan di dalam diri perempuan itu justru membuat karakter baik Landon semakin terlihat. Landon berusaha keras mewujudkan impian perempuan itu. Landon menerima perempuan itu apa adanya. Landon berbaikan dengan ayahnya. Dan, Landon berdamai dengan dirinya sendiri.
Sebuah karakter yang tak mungkin kulupakan dan akan selalu kusukai.

Udah ah, itu aja. Ngantuk. Heuheu.

Jogja, 22 September 2018.

*aaahhhh lega rasanya dah nulis satu halaman. Ngalahin panasnya badan, capeknya badan, dan ngantuknya mata. lampaui dirimu sendiri, put! :)


Jumat, 07 September 2018

Memaafkan Diri Sendiri




“Setiap keputusan yang diambil orang lain bukan tanggung jawabmu.”

Saya mengucapkan nasihat itu pada diri sendiri berkali-kali untuk mengurangi rasa sakit di hati. Beberapa waktu lalu, saya mendengar bahwa seseorang sangat terganggu dengan keberadaan saya. Kehadiran saya membuatnya sangat taak nyaman hingga tak kuat. Lalu, hati saya merasa sangat sakit. Saya membenci diri sendiri.

Sebelumnya saya tak pernah menjadi pengganggu bagi orang lain. Jutru sebaliknya, selama dua puluh tahun lebih menjalani hidup, sayalah yang menjadi objek untuk diganggu. Mulai dari digunjingkan kekurangan fisik, dibicarakan sesuka mereka karena saya dulu sangat pendiam dan takut marah saat mendengar desas-desus tentang diri ini. Sekarang, ketika saya menerima kabar bahwa saya adalah pengganggu, saya merasa sangat hancur.

Saya menyalahkan diri sendiri selama beberapa hari. Setiap teringat, hati saya sangat sakit, dada saya sesak, hingga air mata keluar. Pikiran saya terus dihantui rasa bersalah. Pertanyaan kenapa. kenapa dan kenapa sering muncul di kepala. Kadang ada rasa marah dalam diri, tetapi kadang juga ada rasa benci. Saya diambang kebingungan yang menyakitkan.

Farrah membantu saya melewati hari. Obrolan kita kemarin malam sedikit mengurangi rasa bersalah yang muncul. Tapi, keesokan harinya saya mulai merasa seperti itu lagi. Rasa bersalah muncul, membenci diri sendiri atas apa yang terjadi. Hari ini, air mata menetes lagi mengurai dada yang terasa sangat menyesakkan.

Hari ini, saya ingin mengakhiri semuanya. Saya tak suka berlarut-larut merasa bersalah dan membenci diri sendiri. Saya harus keluar dari semua belenggu itu, agar hidup kembali normal. Agar saya bisa merasa bahagia lagi, hanya dengan hal-hal receh dan sederhana. Agar saya bisa tertawa lepas seperti biasanya. Maka, saya ingin mengatakan pada diri sendiri bahwa berbuat kesalahan bukanlah hal yang abnormal. Semua orang pasti pernah membuat kesalahan, entah hanya sebesar biji kacang atau sebesar buah semangka. Apa pun itu, maafkanlah diri sendiri atas semua kesalahan yang dilakukan. Agar bisa berjalan maju untuk hidup yang lebih luas.

“Maafkanlah dirimu sendiri. Lepaskanlah semua beban dan luka yang pernah ada, agar kau bisa membahagikan dirimu seperti biasanya.”

*merasa lega setelah menulis. emang bener, buat aku, menulis itu menyembuhkan.


Selasa, 04 September 2018

Kepercayaan Diri Untuk Jatuh Cinta




Lama-lama saya minder untuk jatuh cinta. Saya nggak cantik, badan saya nggak proporsional, penampilan saya nilainya minus, saya nggak kaya, barang-barang yang saya miliki bukan kualitas terbaik.

Rasa tak percaya diri itu datang dan makin kuat saat dipertemukan dengan seorang teman, Mbak Rani. Setiap pagi, dia bertanya: apakah dia cantik? Lebih cantik dia atau si A? Lebih cantik dia atau si B? Saya yang jauh dari kata cantik hanya bisa menjawab bahwa dia cantik.
Dari obrolan-obrolan kamar yang muncul pun, Mbak Rani selalu bilang bahwa faktor utama dari jatuh cinta adalah kecantikan wajah. Dia pernah bercerita tentang si A dan si B yang katanya menyukainya. Lalu, dia berkata “apa aku secantik itu sampai keduanya menyukaiku?”.

Saya yang mungkin saja terlalu polos, berpandangan bahwa jatuh cinta tak melulu soal kecantikan wajah. Saya memberi tahu Mbak Rani bahwa jatuh cinta bisa terjadi karena kepribadian, bukan hanya karena rupa. Kedua laki-laki itu menyukai Mbak Rani bisa jadi karena kepribadiannya, tak hanya melihat wajah.

Tapi, obrolan-obroan kamar yang terjadi selalu bermuara pada satu hal yang dipercaya Mbak Rani bahwa seorang laki-laki akan jatuh cinta pada kita karena kita berwajah cantik. Dan, saya tak tahu mengapa prinsip itu lama-lama membuat saya minder jatuh cinta. Alasannya karena saya tak punya wajah yang cantik.

Dulu, bagi saya jatuh cinta adalah kecocokan batin. Tak hanya soal wajah yang cantik atau ganteng, tak hanya soal materi. Jatuh cinta adalah tentang; seseorang yang bisa menenangkan saat dada dan kepala terasa bagai neraka, dua cangkir kopi di pagi hari sambil berbagi pandangan hidup, dan pengertian yang dalam terhadap hidup masing-masing. Tapi, sekarang saya sulit memercayai itu lagi, karena apa yang dikatakan Mbak Rani ada benarnya. Jatuh cinta adalah perkara kecantikan wajah.

Untuk orang-orang yang tak cantik seperti saya, dibutuhkan keberanian untuk jatuh cinta, dibutuhkan kepercayaan diri untuk jatuh cinta. Dan, sekarang kepercayaan diri maupun keberanian saya sedang hilang.

Yogyakarta, 4 September 2018.

sumber gambar: google

Jumat, 27 Juli 2018

Dan Kesepian





Dan, jujur saja, hidup sendirian membuatku semakin sinting—bicara pada diri sendiri , membaca buku keras-keras di dalam kamar mandi, dan memutar film tanpa menontonnya hanya agar ruangan nggak terasa  sunyi. (Ziggy, Jakarta Sebelum Pagi).

Saya sedang kesepian dan sepertinya akan berteman dengan kesepian untuk beberapa waktu ke depan. Sama seperti apa yang ditulis Ziggy, saya mulai merasa sinting. Bicara pada diri sendiri, ingin tertawa sekeras mungkin saat sendirian, dan memutar film tanpa menontonnya. Saya memang tak membaca buku keras-keras di kamar mandi seperti Ziggy, karena saya tinggal di mess bersama orang lain. Jika tak ada orang, mungkin saya juga akan melakukannya! Hahaha!

Hari ini, tak seperti biasanya. Menjelang jam delapan, biasanya saya menunggu Mbak Rani pulang. Mbak Rani itu teman sekamar saya di mess. Kita baru semingguan kenal, tapi sudah cocok. Saat Mbak Rani pulang, kita selalu ngobrol panjang-lebar. Kadang saya yang lebih banyak bercerita sambil menemani Mbak Rani makan. Lalu, kita ngobrol apa pun, sampai larut malam. Saat Mbak Rani pulang ke Magelang seperti sekarang, saya merasa hampa. Tak punya teman bicara, dunia saya seolah berhenti berputar.

Saya berpikir bahwa mungkin saya belum bisa beradaptasi dengan “kesepian”. Biasanya saya di rumah, nonton TV dengan bapak, ngobrol dengan emak atau main dengan Syifa—anak empat tahun yang lagi lucu-lucunya. Saya terbiasa dengan kehangatan rumah, dengan kebersamaan dan komunikasi. Saya terbiasa dengan suara-suara, canda-tawa dan interaksi. Lalu, sekarang saya dihadapkan dengan sepi. Mungkin, saya hanya kaget.




Tapi, ini bukan kali pertama saya merantau. Waktu kuliah, saya merantau ke Semarang. Satu tahun tinggal di asrama khusus untuk penerima beasiswa, tiga tahun tinggal di kost. Saya merasa baik-baik saja, sama sekali tak kesepian. Suasana di Semarang dulu, jauh berbeda dengan sekarang. Di asrama khusus beasiswa, satu kamar ditempati empat orang. Kita saling menemani, membuat jadwal pulang kampung secara bergantian. Hubungan dengan tetangga kamar dalam satu deret pun sangat hangat. Rasa sepi tak pernah muncul di pikiran saya saat itu.

Saat pindah ke kost, saya juga merasakan hal sama. Kost saya adalah sebuah rumah dengan beberapa kamar di dalamnya. Ada sebuah ruang TV yang menjadi “penyatu” kita. Makan bersama, nonton TV, atau sekadar ngemil dan ngobrol. Dua belas orang yang tinggal di rumah itu saling menemani satu sama lain. Saya pun tak pernah terpikir dengan kata kesepian.

Sekarang rasanya berbeda. Saya telah pindah ke kota yang lebih besar, di mana rasa individualisme sangat kental. Saya merasa kesepian di sini. Lalu, saya mulai memikirkan bahwa mungkin saya memang harus membiasakan diri dengan rasa sepi. Toh, inilah kehidupan yang sesungguhnya. Saya tak bisa menuntut orang-orang mengelilingi diri saya dengan kehangatan. Saya tak bisa menuntut keluarga akan selalu menemani saya ke mana pun pergi. Karena terkadang, untuk urusan sebuah impian dan kepentingan lain, saya perlu pergi jauh dari keluarga.

Saya belajar banyak tentang kesepian di sini. Belajar menerima rasa sepi yang memang akan selalu ada dalam hidup. Tapi, kalau saya disuruh memilih, saya lebih memilih untuk berada di tempat yang "hangat". Di tempat yang orang-orangnya berkumpul hanya untuk saling bercanda. Orang-orang yang saling menemani satu sama lain. Saya juga belajar untuk menciptakan kehangatan dalam keluarga saya nantinya. Tak akan membiarkan keluarga saya merasa kesepian. Karena saya sudah pernah merasakannya. Dan, kesepian rasanya sangat menyesakkan dada. :')


Putri
Jogja, 27 Juli 2018 

*catatan: di tengah agak ke bawah feelnya agak berubah. nggak sekuat di atas. soalnya pas lagi ngalir banget malah ada yang ngajak ngomong. heuheu.

Rabu, 25 Juli 2018

Pengalaman Baru: Satu 'Atap' dengan Lelaki




Hidup, memang nggak ada yang tahu!
Akhir-akhir ini saya sedang memercayai ungkapan itu. Berawal dari keputusan saya untuk resign dari kerjaan lama. Lalu, beberapa waktu kemudian, dalam jangka waktu yang singkat, saya pindah ke Jogja. Saya nggak pernah memikirkan dua hal itu akan terjadi. Tapi, ternyata hidup membawa saya untuk melaluinya. Tiba-tiba saja ada sesuatu yang mendorong saya untuk resign. Dan juga, tiba-tiba saja saya diterima kerja di Jogja. Lalu, secara tiba-tiba lagi orang tua saya merestui rencana pindah ke Jogja. Padahal sebelumnya orang tua saya sangat 'overprotective' jika mendengar gagasan saya akan merantau. Tapi ya, seperti yang saya bilang diawal: hidup memang nggak ada yang tahu. Saya tak pernah tahu jika ternyata malam ini, saya sedang menulis blog di kantor Prosus Inten Yogjakarta. Heuheu.
Saya juga tak pernah menyangka akan hidup satu atap bersama laki-laki. Sejak kuliah, melihat tulisan 'kost campur' saja saya enggan. Karena yang terlintas di pikiran saya saat itu hanyalah hal-hal negative. Takut terjadi ini-itulah atau apalah. Jadi, saya benar-benar menyingkirkan 'kost campur' dalam pikiran. Sama sekali tak mau dekat-dekat dengan kata itu.
Tapi, hidup memang tak ada yang tahu. Karena sekarang saya justru terjebak dalam lingkungan yang demikian. Saya hidup satu atap dengan para lelaki. Awalnya, batin saya menolak karena saya merasa ini bukan diri saya. Saya merasa ingin berlari. Tapi, saya tak tahu harus lari ke mana, dan keadaan menempatkan saya di sini. Perlahan, saya mulai menerima apa yang keadaan tempatkan untuk diri saya. Dan, saya menemukan beberapa hal yang dulunya tak pernah terlintas di pikiran.
Ternyata, semuanya tak seburuk apa yang pernah saya pikirkan. Saya tak bilang ini hal baik, tapi tak sepenuhnya buruk.
Pertama, tentang menjaga diri sendiri. Kenapa kita terlalu takut dengan terjadinya sesuatu yang negative, jika kita bisa menjaga diri sendiri dengan baik? Hal pertama memang berawal dari diri sendiri. 
Kedua, tentang menghormati privasi orang lain. Ada beberapa hal milik orang lain yang kita tak perlu tahu dan tak usah tahu. Menghormati privasi orang lain dengan sebaik-baiknya adalah kunci untuk hidup bersama tanpa melakukan pelanggaran.
Ketiga, tentang mengetahui hidup lawan jenis. Ini bisa jadi pengetahuan bagi kaum awam, tentang hidup lawan jenis yang sesungguhnya. Tentang bagaimana 'kotor dan berantakannya' hidup para laki-laki. Hahahah!
Sekali lagi, ini bukan berarti saya setuju dengan gagasan tinggal seatap para lawan jenis. Hanya memberi sudut pandang lain, agar semuanya tak melulu negative yang masuk ke pikiran kita.



Putri. Yogjakarta, 25 Juli 2018.

*sumber gambar: google

Selasa, 22 Mei 2018

Keputusan Besar



Dulu, saya selalu kagum dengan seseorang yang berani resign dari pekerjaannya karena merasa tak cocok, tak nyaman, atau merasa pekerjaan itu bukan ‘dia banget’ dan belum mendapat pekerjaan baru. Artinya, dia berani memutuskan untuk menganggur, di antara berjuta umat manusia yang tak ingin menjadi pengangguran. Saya menjadi bagian dari berjuta umat manusia itu. Takut menjadi pengangguran, tak ada penghasilan setiap bulan, dan yang paling membebani diri adalah tak bisa ikut menyokong kebutuhan keluarga. Ketakutan itu mengalahkan rasa tak nyaman selama hampir tiga tahun. Saya bertahan di tempat itu dengan segala ketidaknyamanan yang saya alami. Tapi, bulan kemarin saya membuat satu keputusan besar. Saya akhirnya memutuskan resign, menjemput status pengangguran.
Saya sudah terlalu lelah berada di sana, atas semua yang saya alami. Tahun pertama saya bekerja di sana, sama sekali tidak ada keinginan untuk resign. Tempat kerja saya dekat dengan rumah, saya yang tak ada motor bisa jalan kaki ke sana, gajinya lumayan, dan saya belum terlalu mengenal orang-orang yang ada di sana. Pertemanan saya dengan orang-orang yang berada di sana hanya sebatas lempar senyum dan sapa saat bertemu di mushalla atau jalan. Mereka tak menjenguk saat saya sakit lumayan lama, walau rumah saya dekat. (Sekarang saya baru menyadari jika hubungan sebatas itu ternyata yang terbaik.)
Tahun kedua, saya mulai menyesap sedikit “racun”. Perlakuan atasan saya kurang menyenangkan. Dia mengorek kehidupan pribadi saya melalui orang lain. Tentang keluarga, tentang perekonomian keluarga yang kurang, tentang kehidupan pribadi saya di rumah. Dari seorang tetangga yang hanya melihat saya dari luar saja, tanpa tahu tentang kehidupan saya yang sebenarnya. Apa yang atasan saya tahu, dibeberkan di hadapan rekan kerja serta siswa (ingat, saya kerja di bimbingan belajar), tanpa konfirmasi terlebih dahulu kepada saya tentang kebenarannya. Masalah perekonomian keluarga saya yang sebenarnya tak layak dibicarakan di depan umum, atau tentang suatu kabar tak benar. Dua-duanya diungkapkan dengan percaya diri olehnya di depan siswa. Ketika saya membela diri, menyangkal kabar yang memang tidak benar itu, justru atasan saya memberikan tanggapan tak percaya. Dia tak mempercayai pembelaan saya dan tetap membahasnya sesuai kebenaran versinya. Saat itu saya pulang dan menangis di rumah. Perasaan tidak dihargai mulai muncul dan setelahnya semakin membesar seiring dengan perlakuannya kepada saya. Kata resign selalu muncul dipikiran, tetapi orang tua saya bilang untuk bertahan sampai saya dapat kerjaan baru. Saya memutuskan bertahan saat itu.
Di lingkungan sosial pun sama. Pada awalnya saya merasa sosialisasi dengan teman-teman berjalan baik. Saya membantu mereka dan berbaur dengan mereka. Tapi, saya pun mulai merasakan “racun” di hubungan itu. Ada seseorang yang mengganggu sekali. Dia selalu mengomentari apa yang ada di hidup saya, bahkan selera saya, dan menghakimi bahwa itu salah. Saya hanya memakai baju yang lengannya sampai pergelangan tangan, dia bilang saya rewel, selera saya susah. Saya bilang ingin membeli sepatu boots wanita—yang bootsnya pendek—dan dia menertawakan saya. Katanya orang yang memakai jilbab lumayan panjang seperti saya tak akan pantas. Saya coba membela diri dengan memberi contoh bahwa teman saya juga memakai jilbab lebih panjang, tapi pantas memakainya. Dia bilang kalau saya yang pakai tak akan pantas, dan dia akan menertawakan saya jika jadi membelinya. Saya suka membaca dan beli buku. Dia bilang, untuk apa beli buku, itu tidak penting, lebih baik beli baju. Kalau buku sekali baca langsung selesai sementara baju akan terus digunakan. Saya sering sakit, dia menghakimi saya di depan siswa kalau badan saya lemah. Saya ini tidak bisa diajak travelling ke mana-mana, karena badannya rewel sekali. Kemudian pamer, dia sering olahraga dan mengkritik badan saya. Saya buktikan dengan travelling ke Malang dan kembali dengan sehat, tapi dia sama sekali tak meralat ucapannya. Saya memang hanya bekerja sebagai tutor les, di sore hari. Dia berkomentar, apa saya tak bosan kalau pagi hanya di rumah, tidak bekerja dan menganggur. Tanpa tahu apa yang saya lakukan saat di rumah, dia mengkritik kehidupan saya dan menganggap dia yang paling benar. Di sela-sela mengajar, saya pernah belajar toefl. Belajar melalui program gratis yang diadakan oleh orang baik. Saya memperkenalkan program itu, siapa tahu bermanfaat. Tapi, dia malah berkomentar bahwa dia tidak sempat belajar. Orang pengangguran macam saya-lah yang waktunya terlalu berlebih, yang cocok untuk program seperti itu. Tanpa mendengarkan penjelasan saya bahwa PNS/dosen/orang-orang sibuk banyak yang ikut program itu. Masih banyak lagi hal yang dia lakukan kepada saya. Dia selalu memberikan energi negative ke saya.
Dari semua perlakukan itu, perlakuannya yang terakhirlah yang membuat saya paling “sakit”. Sekaligus yang mendorong saya untuk resign. Sebelumnya, memang ada sesuatu yang rumit terjadi. Tapi, saya tak menganggapnya serius, tak menganggapnya sebagai masalah. Ternyata atasan saya menganggapnya sebagai suatu masalah. Atasan saya membeberkannya (seperti biasa) kepada rekan kerja, termasuk dia. Menurut sudut pandang atasan, saya salah dan sudah tak dipedulikan lagi. Tapi, itu tak pernah disampaikan ke saya, hanya disampaikan ke rekan kerja. Dia (rekan kerja tadi) membeberkannya kepada siswa saya dengan sudut pandangnya juga, yang menganggap saya sudah tak berharga di sana. Saya tahu dari siswa yang konfirmasi kebenaran masalah itu ke saya. Saya tak habis pikir dengan apa yang terjadi.
Saya berteman dengan dia hampir tiga tahun. Atas semua perlakuan negativenya, saya hanya diam, tak pernah melawan. Tapi, ketika ada hal seperti itu terjadi, dia malah bersikap yang sangat tak profesional. Dia menceritakan masalah itu kepada siswa saya, bukan mengkonfirmasi ke saya terlebih dahulu. Dan dia menceritakannya dengan ketus, seolah saya bukanlah orang yang pernah dikenalnya. Seharusnya jika memang masih menganggap sebagai teman, saat tahu ada masalah yang menjerat saya, perilaku yang benar adalah memberi tahu saya. Bukan malah mengumbar semuanya di belakang saya kepada banyak orang. Atasan saya juga tak seharusnya melakukan hal itu. Jika merasa saya ada salah, harusnya diingatkan. Bukan digunjingkan dengan rekan sesama kerja. Itu tidak menghargai saya. Malam itu, saya kembali menangis dan berkata pada orang tua bahwa saya sudah tak kuat di sana. Saya minta ijin ke mereka untuk resign. Restu mereka adalah yang utama. Mereka mengerti dan mengijinkannya.
Tak hanya sampai di situ, semua berlanjut ketika saya mengatakan resign ke atasan. Saya bilang sudah tak nyaman di sana dan ingin pindah ke tempat lain. Atasan saya memaksa untuk menceritakan semuanya dengan jujur. Saya mengatakan semuanya. Saya bilang jika mendengar banyak suara tentang atasan yang menganggap kerumitan kemarin sebagai masalah dan tak mempedulikan saya lagi. Dia menyangkalnya, tapi dia juga keceplosan, katanya “kalau tahu kamu akan membicarakan ini, orangnya tak suruh datang sekalian”. Penyangkalan demi penyangkalan dia ucapkan, tapi justru dari sudut pandang saya, itu penyangkalan yang lemah. Dia bilang sangat menghargai perasaan saya, sehingga tidak mengatakan apa pun yang akan menyakiti. Tidak pernah menegur saya, karena menghargai. Dia bilang, saya tidak kirimi nama anak-anak yang lolos SNMPTN karena yang lolos tak ada murid saya. Dia menghargai perasaan saya. Faktanya, sebagian siswa yang pernah saya ajar, lolos SNMPTN. Saya hanya diam.
Selanjutnya dia mengungkapkan banyak kalimat yang tujuannya agar saya bertahan. Tapi, lagi-lagi apa yang dia ucapkan justru melemahkan. Dia bilang, rumah saya yang paling jelek di antara semuanya, orang tua saya yang paling tidak mampu di antara semuanya, jadi gaji saya dari dia sangat diharapkan keluarga. Sebaiknya saya tidak resign karena keluarga kurang mampu. Dia bilang, saya akan dimasukkan untuk ngajar di sekolahnya jika dia punya kekuasaan. Atau jika saya melamar kerja di sekolahnya, dia akan memberi saya nilai lebih baik daripada teman-teman (yang juga bekerja di tempatnya). Semester depan saya akan diberi kelas paling banyak, gaji saya naik, dan jika dibanding dengan bimbel-bimbel lain, gaji di situ lebih banyak. Dia memuji saya terus-menerus. Katanya, saya bisa mengajar semua kalangan. Termasuk siswa dari sekolah favorit. Faktanya, dulu pernah ada sekelompok anak dari sekolah favorit yang tak cocok dengan saya dan minta ganti guru. Pada guru yang menggantikan itu, dia bilang bahwa saya jangan sampai mengajar sekolah favorit lagi. Lalu, tiba-tiba dia bilang tetangganya mulai menanyakan saya. Tetangganya ada yang ingin menjodohkan anaknya dengan salah satu pekerja di sana, dan saya masuk kandidat. Secara tidak langsung, dia mau bilang kalau saya tetap di sana, maka semua perkara (termasuk jodoh) akan dia jamin.
Dalam hati, saya geleng-geleng. Dia benar-benar tak mengenal saya. Saya bukan orang yang materialistis. Untuk saya, bekerja dapat gaji tak terlalu banyak bukan masalah asal saya nyaman dan bahagia di tempat kerja. Tentang jodoh, dia memandang saya salah kaprah. Saya memang orang yang pendiam, tapi bukan berarti bisa diartikan sebabagi ‘cewek polos’ yang akan manggut-manggut saja jika dijodohkan. Dia tak tahu jika saya punya banyak teman dan punya idealisme sendiri tentang jodoh. Saya membaca banyak buku, saya melihat dunia lebih luas, pemikiran saya tentang jodoh tak sesempit itu.
Dan yang terakhir, yang paling menyakitkan dari semuanya, dia menuduh saya akan menghancurkan usahanya jika saya keluar. Saya dituduh akan menyebar cerita ini kepada semua pekerja di sana yang menyebabkan mereka ingin keluar. Saya dinilai akan menghancurkan bimbel itu. Lalu, dia mengancam saya. Dia bilang, jika saya keluar dengan cara seperti itu, selamanya dia akan memberikan cap kepada saya sebagai orang terburuk yang pernah bekerja padanya. Setelah saya bilang bahwa saya tak akan buka mulut pada rekan-rekan pekerja, dia sedikit lega. Lagian, saya bukan orang rendahan semacam itu! Saya bukan orang yang suka membeberkan sana-sini. Ucapannya yang tak tertata pun berujung pada membeberkan aib semua rekan pekerja di sana, menjelekkan-jelekkan mereka dan mengunggulkan saya (mungkin di depan yang lain, akan terjadi sebaliknya, kan?).
Saya lelah hidup di lingkungan yang terlalu negative. Saya lelah menyesap terlalu banyak racun. Energi positif saya banyak terbuang. Saya ingin maju, mengerjakan ini dan itu, mencapai ini dan itu, tapi yang berkeliaran di telinga saya setiap hari adalah hal negative. Kepala saya dipenuhi oleh cerita-cerita negative mereka. Walau kelihatannya sepele, tapi itu benar-benar menguras energi positif. Saya ingin berada di lingkungan yang orang-orangnya saling menghargai, punya pandangan hidup yang tak sempit. Saya ingin dihargai dengan apa adanya saya, bukan diolok-olok karena selera/gaya hidup saya berbeda. Lingkungan seperti itu, akan membuat saya nyaman. Dan saya berpendapat bahwa lingkungan baik hanya dihuni oleh orang-orang baik, orang-orang berpandangan hidup luas, dan orang-orang yang dewasa dalam bersikap.

sumber gambar: google

Minggu, 18 Februari 2018

Hidup Positif dan Bahagia

Selalu ada yang bisa disyukuri.
Selalu ada yang membahagiakan.
Selalu ada bunga yang mekar, walau kemarau panjang.
Otak saya mulai memproduksi kalimat-kalimat di atas, saat berulang tahun minggu lalu. Tepat di hari ulang tahun, saya mendapat ucapan selamat dari beberapa teman. Paling spesial, dari Frida. Dua bulan sebelum ulang tahun, saya mengingatkan Frida untuk membuatkan Doodle—karena waktu itu dia lagi getol mainan doodle. Sambil bercanda saya meminta dibuatkan Doodle saat berulang tahun. Frida mengabulkannya, bahkan membuatkan video saat dia menggambar doodle tersebut. Saya terharu. Terima kasih, Frida.
Saat itu, saya belum memaknai usia baru dengan hal yang spesial. Saya hanya berpikir bahwa usia bertambah, maka saya harus hidup dengan lebih baik dari sebelumnya. Kemalasan, pesimis, kehilangan arah, menunda, dan semua hal negatif yang saya alami sebelumnya harus dimusnahkan. ‘Coba saja semuanya!’ itu yang ingin saya lakukan di usia baru.
Hari berlalu, moment ulang tahun saya kira sudah selesai. Tapi, saya mendapatkan sesuatu di luar dugaan. Murid-murid les memberi kejutan secara bergantian, selama beberapa hari. Saya sungguh berterima kasih pada mereka. Saya sangat terharu dengan apa yang mereka lakukan. Saya sangat mensyukuri kebersamaan dengan mereka. Dan, mereka menunjukkan kasih sayangnya di saat yang tepat.
Ketika saya mulai merasa karir ini tidak berjalan ke arah mana pun. Bahkan tak berjalan ke arah yang saya inginkan. Saya sering merasa lelah dan ingin berlari ke tempat lain agar menemukan hal lain, yang mungkin saja membuat saya lebih maju. Tapi, kalau dipikir lagi, jika dahulu saya benar-benar lari, maka ikatan dengan mereka mungkin tak akan sekuat ini. Tak akan ada cerita-cerita dunia remaja menggemaskan dari mereka. Tak akan motivasi dan doa yang saling kita lontarkan (saya beroda untuk mereka, mereka beroda untuk saya).
Saya pun kembali memikirkan apa yang terjadi belakangan. Kemudian, rasa syukur muncul menggetarkan hati. Betapa saya telah menjalani hari-hari yang mengesankan bersama mereka selama hampir tiga tahun. Karir saya memang tak berjalan sempurna (tak seperti yang saya inginkan), tapi saya mendapatkan sesuatu yang lain—yang sama berharganya.
Semua ini seolah mengatakan pada saya bahwa selalu ada hal baik diantara hal-hal yang dipandang kurang memuaskan. Dan, yang saya butuhkan dalam setiap hal yang saya alami adalah berpikir positif dan bahagia. Karena dengan berpikir positif dan selalu bahagia, saya bisa melihat hal-hal baik dalam hidup. Saya bisa terus melakukan hal positif dan bermanfaat untuk orang lain. Saya bisa selalu bahagia, dengan apa pun yang terjadi.
Dua hal ini, akan saya jaga untuk hari-hari selanjutnya. Terima kasih, semuanya.


Minggu, 14 Januari 2018

Random Writing Challenge: Something I always wanted to do but...



What’s something you’ve always wanted to do but haven’t? Why not?

Sore tadi, saya memutuskan untuk menulis review drama korea ‘While you were sleeping’ di blog, sekaligus untuk disetorkan ke #1minggu1cerita. Drama tahun 2017 yang sangat hits dan sudah saya tuntaskan lama, tapi belum menulis reviewnya. Tapi, saya malah tertidur di depan televisi karena badan sedang tidak fit. Menjelang malam, saya bersiap menulis reviewnya. Di depan laptop saya mengambil ancang-ancang dan mengurungkan niat. Karena ada beberapa hal yang ingin saya bahas di review itu. Waktu tak cukup untuk mendapatkan data yang saya inginkan kemudian mengolahnya menjadi tulisan. Sejenak, saya memutuskan untuk bolos menulis di blog saja minggu ini. Saya tak tahu harus menulis apa. Pencarian saya pun tertuju pada tema writing challenge—tahun lalu saya rajin ikut writing challenge seperti yang saya ceritakan di postingan sebelumnya dan saya tahu jika tema yang ditawarkan menarik. Saya membaca tema-tema itu, kemudian memutuskan untuk membuat “Random Writing Challenge” di blog, yaitu postingan yang temanya diambil dari Writing Challenge secara acak. Kemunculannya di blog ini pun secara acak, karena saya tak bisa menjanjikan menulis tema itu dalam jangka waktu tertentu.
Tema ini sangat mencerminkan diri saya. Why? Karena saya tipe orang yang kepercayaan dirinya rendah dan suka pesimis di awal, bahkan sebelum semuanya dimulai. Hahaha! *tertawa sedih. Ada banyak hal yang selalu ingin saya lakukan; menulis buku sains untuk anak-anak, membuat blog khusus pendidikan, mengungkapkan ketidaksukaan saya pada sikap seseorang secara gamblang, dan lain-lain. Kali ini, saya akan membahas tiga hal saja. Tiga hal krusial yang begitu ingin saya lakukan selama setahun belakangan.
Saya ingin belajar memasak dan membuka bisnis kuliner. Berkali-kali saya menabung untuk membeli mixer, oven dan alat masak lainnya, tetatpi tabungan itu pada akhirnya selalu saya gunakan untuk hal lain. Alasannya sederhana, karena saya tak merasa yakin bisa menghasilkan masakan yang enak untuk dijual. Saya mulai memikirkan, bagaimana jika uangnya digunakan untuk keperluan lain yang lebih berguna. Pikiran ini yang membuat saya selalu urung membeli perlatan masak lengkap, belajar memasak lebih dalam dan membuka usaha.
Selanjutnya saya ingin rutin yoga. Ah, entah kenapa yang ini sangat susah sekali. Saya sudah mengumpulkan video yoga dan menontonnya. Seminggu berjalan dengan baik, tetapi setelahnya saya selalu absen. Huhuhu *menangis
Terakhir, saya ingin pindah ke luar kota. Saya merasa tidak bisa berkembang di sini. Dan, saya juga tak akan dapat gebetan kalau terus di sini. Hihihi. Tapi, pikiran tentang orang tua saya membuat ingin tetap tinggal. Saya ingin menemani mereka dan melayani mereka. Lama-lama perasaan semacam itu membuat saya sakit, karena terus bertahan pada sesuatu yang sebenarnya “mencekik” leher sendiri.

Why not?
Saya merasa mendapat kekuatan dari kata itu. Why not? why not? Iya ya, why not? *membisikkan berulang-ulang pada hati terdalam.


*ditulis untuk #1minggu1cerita


Minggu, 07 Januari 2018

Awal 2018: Sisi Baru


Hari ini, tepat seminggu di tahun yang baru. Sebelumnya, saya telah menulis tentang penyesalan begitu dalam di postingan akhir tahun 2017. Terlalu banyak waktu terbuang sia-sia hanya untuk berpikir, bersantai dan terpuruk di dua tahun terakhir. Akhir tahun kemarin, saya sadar seharusnya saya tak seperti itu. Seharusnya, saya beranjak. Ke mana pun. Entah ke tempat salah atau benar. Saya benar-benar menyesal.
Sekarang saya ingin menuliskan beberapa sisi baru dalam diri maupun hidup saya. Barangkali ini bisa menjadi pengingat, ketika di sepertiga jalan saya mulai lelah. Karena saya sering kehabisan tenaga, bahkan sebelum sampai di tengah perjalanan. Inilah beberapa sisi baru yang perlu saya beri tahukan pada diri sendiri.

Pertama. Saya berlari secara “sprint” dalam menjalani apa pun di tahun kemarin. Bulan Januari tahun lalu, saya bisa menulis 41 tulisan di blog. Saya mengikuti berapa program Writing Challenge di blog maupun di instagram. Ketika melihat pencapaian saya yang hebat seperti itu, saya merasa bahagia luar biasa. Karena di tahun 2016 saya tak pernah mencapai angka sepuluh untuk frekuensi tulisan di blog per bulan. Tapi, yang terjadi setelahnya adalah saya kelelahan. Di Bulan Februari, saya tak sampai menulis lima tulisan di blog. Ini menyedihkan. Maka, kali ini saya memberi tahu diri bahwa sebaiknya kita berlari marathon saja. Tak usah melesak dengan tenaga penuh di awal, tetapi kemudian kelelahan sebelum sampai tengah perjalanan. Lebih penting menjaga stamina selama perjalanan agar bisa sampai di akhir tujuan. Semoga di akhir tahun, saya akan mendapatkan hasil yang berbeda jika mencoba cara ini.

Kedua. Sungguh, waktu sangat berharga! Saya sudah sering mengatakan ini pada diri sendiri. Tapi apalah daya, hasrat leyeh-leyeh sering sekali muncul. Apa lagi ketika sama sedang dalam mode PMS. Saya hanya mau tiduran, stalking idola, nonton drakor, nonton running man, dan menatap olshop selama berjam-jam. Padahal saat itu ada beberapa kerjaan yang harus saya selesaikan. Entah koreksian, tulisan atau yang lain. Saya biasanya lebih senang memenangkan hasrat leyeh-leyeh itu. Tapi, akhir tahun kemarin saya mengalami penyesalan luar biasa. Maka, tahun ini saya bisikkan pada diri ini, agar lebih kuat dalam melawan diri sendiri. Ada yang pernah bilang bahwa perang yang paing susah adalah perang melawan diri sendiri. Ini seribu persen benar. Tahun ini, saya harus bisa melawan diri sendiri lebih keras lagi. Saya harus mempergunakan waktu dengan sebaik mungkin, tanpa melupakan memberi waktu istirahat atau bersenang-senang. Karena waktu tak akan pernah kembali.

Ketiga. Hilang arah atau tujuan hidup sudah saya alami selama dua tahun belakangan. Sayangnya, yang saya lakukan hanyalah merenung, berpikir dan diam. Ketika saya menyadari bahwa bertindak jauh lebih penting, penyesalan itu dangat bertubi-tubi. Saya ingin menerapkan sesuatu yang berbeda tahun ini. Karena saya telah menemukan/menyadari beberapa hal setelah waktu yang banyak sia-sia kemarin. Saya ingin menekuni apa yang sudah saya putuskan untuk menjadi fokus. Mungkin apa yang saya putuskan untuk menjadi fokus tahun ini berbeda dengan tahun kemarin, Tapi, saya ingin melakukannya dengan baik tahun ini. Saya percaya, asal dilakukan dengan tekun dan konsisten, saya pasti bisa mencapai sesuatu tahun ini.

Keempat. Jaga semangat! Lihat dan ingat ibu, agar semangat! Raih sesuatu tahun ini!

Pada akhirnya, saya perlu menyadari bahwa setahun bukan waktu yang pendek, bukan jalan yang pendek untuk arena lari marathon. Stamina harus benar-benar dijaga dan di-refresh. Tapi, setahun juga bukan waktu yang panjang. Jika ingin meraih sesuatu tahun ini, maka harus benar-benar start dari awal tahun. Tak boleh menunda start atau terlalu banyak berhenti. Dan, sadarilah bahwa tahun kemarin terlalu banyak penyesalan. Kalau akhir tahun ini tak mau sama, maka jangan jalani hari di tahun ini dengan hal yang sama dengan tahun sebelumnya.

Putri
*ditulis untuk #1m1c

*sumber gambar: google