
Satu
tahun lalu, sekitar bulan Juli tahun 2015, saya dinyatakan lulus kuliah.
Mendapatkan Surat Keterangan Lulus (disingkat SKL) yang kemudian saya fotokopi
sekitar 25 lembar untuk dimintakan legalisir. Kata salah seorang teman, SKL
bisa digunakan untuk melamar kerja di sekolah sebagai guru; sesuai dengan
bidang ilmu saya. Maka, saya sangat semangat untuk legalisir itu SKL
sebanyak-banyaknya. Kemudian, saya mencari daftar nama sekolah yang ada di
Kudus (tempat tinggal saya) beserta alamatnya. Saya tulis pada sebuah buku
nama-nama sekolah itu—entah yang saya tahu atau yang masih asing. Saya mulai
membuat surat lamaran kerja. Memasukkannya ke sekolah-sekolah tersebut.
Menerima jawaban dari pihak sekolah yang kadang membuat saya sedikit tersenyum,
tapi lebih banyak yang membuat saya mengernyitkan dahi atau kecewa. Menyoret
nama-nama sekolah yang sudah saya datangi. Dan tak lupa merubah volume nada dering
ponsel pada level tinggi alias yang paling keras. Biar apa? Biar saya mendengar
setiap pesan atau telpon masuk. Barangkali salah satunya dari sekolah-sekolah
itu. Walaupun di antara sekolah yang saya datangi itu, jelas menjawab bahwa
waktu tunggu jawaban lamaran sekitar enam bulan sampai satu tahun. Ada juga
yang menolak secara halus namun mantap. Tetapi, saya tetap menjaga diri untuk
tidak jauh dari handphone. Sembari
memasang wajah antusias anak kecil yang menunggu ibunya pulang belanja dengan
membawakan sebungkus kue manis jajanan pasar.
Beberapa
bulan menunggu, ternyata yang masuk hanyalah pesan-pesan dari operator (mbaknya
jomblo sih. Heh!). Hingga saya mulai melupakan surat lamaran-lamaran itu. Menyibukkan
diri di sore hari dengan menjadi guru les pada salah satu lembaga bimbingan
belajar milik guru SMA dulu. Tanpa saya sadari, saya mulai mengubur keinginan
untuk menjadi guru di sekolah. Melupakan keinginan saya untuk; mengamalkan apa
yang pernah saya dapatkan di univertas pada jalur pendidikan formal, menganalisis
kemampuan dan kepribadian siswa, menulis sesuatu tentang pembelajaran atau
kelas atau karakter siswa atau masalah di kelas, dan mengikuti lomba karya
tulis yang diperuntukkan khusus guru. Saya mulai melupakan semua itu. Dan
menjalani hari hanya sebagai pegawai part
time di atas.
Pagi
yang longgar saya isi dengan membaca buku, novel, dan chatting. Secara tidak sengaja saya membaca kisah seseorang sukses (sayangnya
saya lupa namanya) yang pernah bekerja apa saja di luar bidangnya. Saya pun
mulai memikirkan ini. Saya bawa obrolan ini ke beberapa orang yang saya
percayai. Muncullah sebuah pandangan, bahwa saya sangat boleh mencoba bekerja
di luar background pendidikan. Yang
terjadi kemudian adalah setiap pagi saya mencari lowongan kerja di internet,
website perusahaan, website penyedia lowongan kerja dan koran. Dalam seminggu,
saya bisa membeli tiga sampai empat koran. Lagi, saya mencatat
lowongan-lowongan yang memungkinkan untuk kualifikasi diri sendiri. Membuat
surat lamaran kerja, mengirimnya, dan duduk dekat handphone (lagi). Entah sudah berapa lamaran yang saya kirim, jelasnya
lebih dari lima belas. Lagi lagi, tak ada satu pun yang menghubungi saya! Hebat
sekali! Akhirnya, saya kembali menerima diri yang hanya pegawai part time di sebuah bimbingan belajar.
Beberapa
bulan kemudian, secara tidak sengaja, saya kembali dekat dengan teman lama. Namanya
Nurul. Teman SMA yang dulu pernah satu kelas di kelas 10. Dia baru lulus dan
ternyata juga mengalami hal sama dengan saya. Bahkan, lamaran yang dia kirim
banyaknya mencapai dua atau tiga kali lipat dari yang saya kirim. Hebatnya
juga, tak satupun menghubunginya. Tetapi, setiap hari, dia masih saja mencari
lowongan kerja di mana-mana, mengirim lamaran kerja lagi dan lagi, secara terus
menerus. Tidak seperti saya yang kemudian menerima “takdir” sebagai guru les.
Kadang,
saat ngobrol dengan Nurul, ada kalimat-kalimatnya yang asal ceplos, atau
cerita-cerita pengalamannya selama mencari kerja, yang membuat saya tergugah. Dia yang tahu saya
masih nganggur pun, sering memberikan info-info lowongan kerja. Hingga pada
suatu saat, saya merasa apa yang telah saya lakukan tidak ada apa-apanya
dibanding Nurul. Semangat yang Nurul bawa jauh lebih besar dari semangat yang
ada pada diri saya. Saya merasa tidak pantas untuk menyerah. Maka, saya dan
Nurul beberapa minggu belakangan, mulai mencari pekerjaan bersama-sama.
Kebersamaanku
dengan Nurul membuat kita saling tukar cerita. Ternyata, di balik semangat
Nurul yang sangat baja itu, dia juga pernah mengalami apa yang saya alami. Pernah merasa tidak ingin mencoba sesuatu
yang sudah dicoba dan menghasilkan kegagalan. Pernah merasa “menerima keadaan
diri” yang hanya menganggur saja. Kemudian, saya bilang ke Nurul, kalau
kita harus tetap bersama selama kita menganggur. Maksudnya, menjaga diri kita
tetap berada di lingkaran orang-orang yang bernasib sama. Karena yang namanya semangat itu fluktuatif. Naik-turun, ketika
menemukan hal-hal tertentu yang berefek pada kondisi diri. Jika kita
bersama orang lain, paling tidak, ada yang mengingatkan untuk menaikkan
semangat lagi ketika bertemu situasi melemahkan.

Saya
pun akhirnya sangat menyadari bahwa semangat,
sama seperti baterai yang pelu diisi ulang pada saatnya tiba. Saat saya sudah
merasa “pasrah” dengan apa yang saya hadapi. Saat saya sudah tidak ingin
berusaha lagi untuk sesuatu yang saya inginkan. Saat saya merasa stagnan di
keadaan sekarang dan mengganggap itu sebagai nasib. Dan saat saya mengerjakan
semua hal hanya sebagai rutinitas, tanpa gairah, monoton. Saat tanda-tanda
itu sudah muncul, saya mulai menyadari bahwa semangat dalam diri saya perlu di top up. Saya pun mulai mengingat apa
saja yang secara tidak sengaja saya lakukan agar semangat kembali terpacu. Ternyata,
saya biasanya melakukan hal-hal yang sederhana, seperti: mengulik perjalanan
mimpi seseorang yang berhasil; mengingat berulang-ulang apa yang saya inginkan,
apa yang saya impikan, dan apa yang sudah pernah saya lakukan untuk meraihnya
(biasanya saya mencatat impian-impian saya, mencatat apa-apa yang sudah pernah
saya lakukan untuk meraihnya, jadi kalau mau mengingat tinggal dibuka saja buku
catatannya. Hhee); mendengarkan lagu-lagu dengan lirik semangat; menonton film
dengan tema tertentu; jalan kaki kemudian melihat apa yang ada disekitar,
melihat nenek-nenek yang menjajakkan keripik pisang di jalan, melihat anak-anak
kecil yang tertawa bersama saat lampu hijau menyala dan bersamaan mengetuk
pintu mobil sembari bernyanyi saat lampu merah menyala; melihat kesuksesan role model atau tokoh-tokoh favorit; dan
bertukar pikiran dengan orang lain. Pokoknya, sampai saya merasa ingin berjuang
kembali.
Mungkin
ini akan berbeda pada masing-masing orang. Cara-cara yang orang lain lakukan
untuk kembali menemukan rasa semangatnya mungkin berbeda dengan caraku. Itu
boleh-boleh saja, tidak masalah. Setiap orang bebas melakukan apa saja yang
bisa membuatnya semangat lagi (asal positif, ya!). Karena yang ingin saya garis
bawahi di sini bukanlah adaptasi cara saya mengumpulkan semangat kembali.
Tetapi, mengingatkan (kepada diri saya sendiri utamanya) bahwa yang namanya
semangat itu bisa naik-turun. Maka, saat sedang turun, semangat perlu diisi
lagi dan lagi. Bukan berpasrah pada satu keadaan.
Putri
Lestari