Selasa, 27 Desember 2016

#Renungan23: Skala Prioritas Belanja



Naluri perempuan kerap membuat saya gelap mata saat belanja! Niatnya menyambangi diskon untu beli satu item sepatu, eh yang dibawa pulang lebih dari satu barang. Pergi ke minimarket niatnya mau beli sabun, yang dibawa ke kasir ada sabun, keripik kentang, puding dingin, kacang atom, keju, es krim dan lain-lain. .
            Akhirnya, yang saya dapatkan hanyalah semakin bertambahnya barang, namun semakin tipisnya tabungan. Target tabungan yang direncanakan pun sering meleset dari target. Memang barang-barang yang saya punya memang semakin banyak. Tetapi, saya tidak bisa menjamin bahwa barang tersebut benar-benar berguna. Misalnya saja, buku catatan kecil bergambar Menara Eiffel yang pernah saya beli di salah satu toko. Saat itu, niatnya hanya beli alat tulis. Sayangnya buku catatan itu terlihat menarik dan ikut terbeli. Sudah satu tahun lebih buku catatan itu hanya tersimpan di rak buku bagian belakang. Bersama buku catatan lain yang juga masih kosong. Di sudut-sudut kamar, juga ada barang-barang yang terbeli namun tidak pernah terpakai. Dibeli hanya karena unyuk, lucu tanpa pertimbangan lain.


            Saya mulai menyadari bahwa ketika saya belanja, yang menang adalah nafsu. Bukan logika. Maka, mulai sekarang saya membuat skala prioritas belanja sebelum membeli barang.

Skala prioritas nomor satu: Belilah sebuah barang karena kamu butuh.
Skala prioritas nomor dua: Sesuaikan harga barang dengan isi dompet.
Skala prioritas nomor tiga: Barulah pilih yang menurutmu paling unyuk (dengan harga segitu ya)
           
Jadi, walau dapat bonus atau gajian lebih, tetap tidak boleh membeli barang yang tidak dibutuhkan, ya. Meskipun ada yang warna ungu, lucu dan menarik, tetap tidak boleh dibeli kalau harganya melebihi kapasitas uang di dompet. Dan kalau yang sesuai kantong tidak ada yang lucu sekali, maka pilihlah yang lumayan menarik dari yang tidak lucu itu (Apa bisa? Hahaha!).
Semoga aku selalu ingat sama skala prioritas ini, ya!

Putri Lestari

*Notes: tulisan ini lama sekali terbengkalai. Notes ini dibuat biar aku agak menyesal telah menelantarkan tulisan terlalu lama.





Senin, 31 Oktober 2016

Somewhere Called Home


by: Dhamala Shobita

Sebuah bangunan tempat bernaung belum tentu bisa disebut rumah. Perjalanan Ben, Dila dan Lila dalam menemukan “rumah” mungkin akan membuatmu bertemu makna rumah yang lain.
Lila mencari Dila. Ben mencari Dila. Dila mencari “kebahagiaan”.
Dila dan Lila bersaudara. Mereka terpisah sejak kecil karena perceraian. Dila memilih hidup bersama ayahnya, sementara Lila menemani ibunya. Bertahun-tahun mereka hidup pada dunia masing-masing. Dunia yang berbeda. Dan Lila punya keinginan kuat untuk bertemu kakaknya lagi. Sayangnya, karena sesuatu hal, Lila tidak bisa mencari kakaknya sendiri. Dia meminta Ben—seorang laki-laki yang belum lama dikenalnya dan disukainya—untuk mencari Dila.
Ben mewujudkan keinginan Lila. Dia akan berangkat mencari Dila. Satu-satunya pentunjuk yang dia punya hanyalah catatan (dalam novel ini disebut jurnal) milik Lila. Berisi perjalanan yang Lila lakukan untuk mencari Dila dan beberapa cerita tentang Dila. Ben mengunjungi tempat-tempat yang Lila ceritakan dalam jurnal tersebut.
Perjalanan itu membuat Ben bertemu seorang perempuan bernama Ris secara tidak sengaja. Mereka sering bertemu di tempat yang Ben kunjungi. Sesekali bertemu dan mengobrol, kemudian saling berpisah. Tetapi, takdir mempertemukan mereka kembali saat Ben pergi ke Bukit Doa. Di sana, Ben mendapat telepon dari rumah. Mengabarkan bahwa ayahnya—lebih tepatnya ayah bilogis yang selalu dibencinya—sudah melewati masa kritisnya. Ben segera pergi dan meninggalkan jurnal itu bersama Ris. Misteri pun terpecahkan.
Itulah sedikit ringkasan ceritanya. Disamping cerita utama pencarian Dila, ada juga kisah tentang keluarga Ben yang menarik untuk disimak. Hubungan seorang anak laki-laki dengan ayahnya menjadi sorotan utama. Jika beralih pada kisah falshback keluarga Dila dan Lila, maka sisi rumah yang gelap akan terlihat. Saya menikmati setiap bagian dari novel yang bercerita tentang keluarga.
Dari keseluruhan isi buku, saya cukup menikmatinya. Merasa terhibur, tercerahkan tanpa merasa digurui dan merasa senang setelah membacanya. Karena saya bisa memaknai kata rumah lebih luas lagi. Lebih menghargai kata rumah. Tetapi, ada beberapa bagian yang “cacat” di mata saya, dan bagian yang kurang saya sukai.
Di halaman sepuluh, paragraf terakhir, sebuah kalimat menyebutkan bahwa Ben bermata kebiruan.
Matanya kebiruan, tulang pipinya menonjol.
Lila. Halaman 10.
Tetapi, di bagian lain, disebutkan bahwa Ben mempunyai pupil mata berwarna cokelat.
Ben menggelengkan kepalanya tidak percaya. Sepanjang kedua matanya yang berpupil cokelat itu...
Halaman 54.
Memang hal ini sepele. Tetapi, ketika saya menyadarinya, saya merasa terganggu. Surat Lila yang terkahir juga membuat saya agak mengernyitkan dahi. Di akhir suratnya, Lila menyatakan sebuah kejujuran bahwa selama ini dia membohongi Ben. Selama ini dia mengaku sebagai Dila—gadis yang sewaktu kecil dikagumi oleh Ben karena “air”. Saya rasa, di halaman awal hanya disebutkan sebuah percakapan antara Lila dan Ben ketika mengenang sebuah kenangan seumur jagung. Lila mengaku bahwa gadis kecil yang diselamatkan Ben waktu tenggelam di laut adalah dia. Sebelumnya, Ben dengan jelas menyatakan bahwa dia mengagumi seorang gadis kecil yang menari bersama ombak dengan baju renang kuning bunga matahari. Ben juga mengamati saat gadis pecinta air itu mendekati ibu dan saudara perempuannya. Jika wajah mereka tidak sama persis dan pakaian renang yang mereka gunakan tidak sama, saya rasa Ben ingatan Ben tentang gadis itu tidak akan tertukar. Saya rasa, Ben tahu siapa yang tenggelam dan siapa yang mencintai air. Ini bagian paling membuat saya pusing. Saya harus mengulang baca beberapa halaman depan, menyusuri dengan cepat bagian mana yang menyatakan bahwa Lila menipu Ben. Kemudian kembali lagi ke surat terakhir Lila, sembari mencocokannya. Sayangnya, saya tidak menemukan apa pun untuk menjawab kebingungan itu. Yah, semoga saja saya yang melewatkan bagian itu. Karena novel ini terlalu indah untuk dicoreng dengan “cacat” tersebut.
Selanjutnya, ada bagian yang kurang saya suka. Ehem, ini hanya soal selera saja. Ending novel ini menurut saya terlalu drama. Terlalu telenovela. Hahaha! Membayangkan Ben berlari ke sana- ke sini mencari seseorang dan diikuti dengan maju-mundurnya surat terakhir Lila, rasanya saya ingin tertawa. Padahal harusnya perasaan yang rasakan bukanlah itu. Tetapi, saya justru teringat ending beberapa film serupa dan membuat saya kurang menyukainya. Terakhir, bagian yang kurang saya sukai adalah cara mengakhiri misteri ini. Lagi-lagi ini selera.
Makna sebuah rumah
Ini bagian terpenting dari semua yang kutuliskan. Segenggam makna yang kudapatkan dari buku ini.
Dila, Lila dan Ben telah memberiku banyak pelajaran berharga tentang makna sebuah rumah. Lewat kisah gelap-terang mereka, sebuah rumah dan ikatan keluarga tidak lagi sama di mata saya sekarang. Semuanya berubah lebih spesial. Kadang, definisi rumah yang sempurna menurut benak kita tidak sepenuhnya terjadi di dunia nyata. Tetapi, sebuah rumah yang kita tempati tetaplah sempurna disebut sebagai rumah yang utuh. Rumah tempat orang-orang yang menyayangi kita dengan cara apa pun. Dengan kelemahan, keterbatas dan kesalahpahaman.




Minggu, 24 Juli 2016

Kurikulum untuk Mengolah Sumber Daya Alam



Berbicara tentang sistem pendidikan indonesia, bolehlah kita menyebutnya “cacat” untuk saat ini. Nyatanya Indonesia hanya bisa stagnan di tempat tanpa mengalami kemajuan langkah yang berarti. Usaha yang dilakukan pemerintah untuk kemajuan pendidikan, justru menjadi sisi buruk di kemudian hari. Pergantian kurikulum belakangan ini adalah contoh nyata. Optimisme pemerintah begitu tinggi akan keberhasilan Kurikulum 2013. Tapi, lihat saja bagaimana pemerintah dengan mudahnya menarik Kurikulum 2013 dalam sekejap. Pun meneruskan memberlakuannya pada sekolah yang sudah menerapkan selama 3 semester. Tanpa memikirkan efeknya berupa dualisme landasan pelaksanaan pendidikan. Kebijakan ini semakin meyakinkan bahwa sistem pendidikan Indonesia tidak dalam keadaan prima.
Tidak hanya soal Kurikulum 2013 yang ditarik dari peredaran. Sebenarnya Indonesia sudah terjerembab dalam kubangan perubahan kurikulum sejak dahulu. Ganti kabinet berarti ganti kurikulum. Karakteristik kurikulum yang diciptakan pun berubah-ubah. Semakin tidak jelas apa yang diinginkan Indonesia untuk generasi mudanya. Padahal ini hanya persoalan sederhana. Yakni perwujudan keinginan undang-undang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Idealisme “cerdas” disini yang selalu berganti setiap periode, mengikuti pergantian pemimpin. Seharusnya, kalau mau disederhanakan, masyarakat yang cerdas cukuplah yang tahu cara mengelola sumber daya alam untuk kesejahteraan.
Peran kurikulum tentu sangat penting untuk mengatur proses pembelajaran. Termasuk hal-hal yang harus dicapai pada pembelajaran tersebut. Tapi entah apa yang Indonesia coba lakukan pada kurikulumnya selama ini. Alih-alih menggodog sumber daya manusia agar mampu mengolah potensi alam Indonesia, yang terjadi justru sebaliknya. Angka impor beras dan kebutuhan pokok lain terus menanjak tajam setiap tahunnya. Ironinya, itu terjadi di Negara agraris dengan segudang kekayaan alam.
Mari kita lihat kurikulum-kurikulum yang pernah diterapkan oleh Indonesia. Sejak tahun 1968 (masa orde baru) sampai 2013, Indonesia sudah berganti kurikulum sebanyak 7 kali. Pergantian kurikulum ini dinilai sebagai usaha untuk meningkatkan mutu pendidikan; dapat diartikan pula meningkatkan mutu sumber daya manusia. Kurikulum 2004 mencoba mewujudkannya dengan menciptakan sentralis pendidikan. Tim pusat yang menyusun kurikulum ini. Titik pentingnya ada pada pencapaian kompetensi yang ditentukan oleh pusat. Tapi umur kurikulum ini tak bertahan lama. Dua tahun kemudian, pemerintah mengubah sistem pendidikan pada Kurikulum 2006 dengan karakteristik yang jauh berbeda. Kurikulum 2006 bersifat desentralisme, yang tidak sepenuhnya terikat pada pusat. Sekolah dapat mengembangkan dasar-dasar pembelajaran yang telah ditentukan oleh pusat. Seharusnya, ini adalah kesempatan emas untuk mengembangkan lokalitas budaya daerah dan mengembangkan potensi lokal.


Sebagai contoh, potensi sumber daya alam di Papua yang perlu dikembangkan. Pada tahun 2010 telah diluncurkan proyek pengolahan sumber daya alam di Merauke yang dinamai MIFEE (Merauke Integrated Food and Energy Estate). Proyek ini bermaksud mengelola sumber daya pangan dan energi yang ada di Papua. Lahan-lahan di Papua akan difungsikan sebagai lahan pertanian untuk pangan dan sumber daya energi. Para pekerja didatangkan dari luar untuk mengelola proyek ini. Proyek ini juga melibatkan investor asing untuk ikut campur. Pemerintah tentu bermaksud baik dalam menggagas proyek ini, yaitu memaksimalkan pengolahan sumber daya alam di Papua. Namun melupakan kebutuhan rakyat Papua dalam pemenuhan kebutuhan dan pengelolaan lahan. Kekhawatiran masyarakat Papua akan sumber daya alam mereka yang bisa saja dieksploitasi sesuka hati pekerja asing dan menggoyahkan tatatan adat di tanah mereka terjadi pada kurun waktu 3 tahun. Di tahun 2013, terjadi kelaparan yang mengakibatkan 5 anak meninggal dalam kawasan proyek tersebut. Sumber daya alam yang harusnya diolah untuk kesejahteraan malah menjadi boomerang.
Proyek ini menyiratkan bahwa sumber daya alam di Papua sangat melimpah dan belum terolah. Kendala yang dihadapi yakni sumber daya manusia di Papua belum mampu mengolahnya secara maksimal. Pendidikan sebagai alat untuk mencerdaskan bangsa harusnya berperan juga dalam mencerdaskan rakyat Papua untuk mengolah sumber daya alamnya. Kekhawatiran rakyat Papua terhadap masuknya orang asing untuk mengelola sumber dayanya yang bisa saja menganggu adat-istiadat tidak akan terjadi. Jika rakyat Papua sudah mumpuni untuk mengolah sumber daya alamnya, maka sumber daya alam di sana akan terolah tanpa harus merusak tatanan adat mereka. Kesejahteraaan mereka dan masyarakat Indonesia akan terangkat.
Pendidikan sebagai alat untuk mencerdaskan bangsa harusnya mengambil peran. Mencerdaskan sumber daya manusia di Papua agar bisa mengolah potensinya. Metode pengajaran atau proses pembelajaran yang diterapkan di Papua pun tak bisa disamakan dengan siswa di Jakarta. Potensi alam dan keadaan lingkungan yang mereka miliki jauh berbeda. Kurikulum yang mengatur proses pendidikan di Indonesia harusnya tidak disamakan persis.
Coba kita tengok negara dengan sistem pendidikan terbaik saat ini, Finlandia. Reformasi pendidikan di Finlandia berlangsung tidak sebentar. Sejak pertama kali gagasan tentang sistem pendidikan itu muncul pada tahun 1950-an, Finlandia baru diakui sebagai Negara dengan sistem pendidikan terbaik pada tahun 2000-an. Setidaknya, Finlandia konsisten dalam mengembangkan sistem pendidikannya tanpa mengedepankan ego pemimpin-pemimpin yang silih berganti.
Sistem pendidikan di Finlandia, membebaskan sekolah untuk mengembangkan kurikulum secara mandiri berdasarkan potensi daerah. Hingga menempatkan Negara ini sebagai Negara dengan kesejahteraan masyarakat yang tinggi. bisa dilihat dari produk teknologi finlandia, yaitu nokia dengan berbagai inovasi. Pemerintah finlandia tahu betul bagaimana cara mengembangkan sumber daya manusianya. Anggaran untuk riset teknologi yang diberikan pemerintah lebih tinggi dari anggaran lainnya.
Seharusnya pemerintah Indonesia tahu betul potensi alam yang dimiliki oleh setiap daerah. Sehingga mampu mengembangkan sumber daya manusia setempat agar menjadi manusia cerdas yang mampu mengolah sumber daya alamnya.  Daerah dengan sektor pertanian yang mumpuni, perlu diberikan pembelajaran seputar pertanian. Jika pusat memasrahkan daerah untuk mengembangkan kurikulum sendiri, maka daerah dengan potensi pertanian yang memadai bisa mengimplementasikan dunia pertanian pada proses pembelajaran. Stretegi pembelajaran disusun untuk menumbuhkan rasa senang bercocok tanam dan mengolah lahan pada mulanya. Materi tentang teknologi juga dikembangkan pada arah pertanian. Buku-buku pelajaran didekati dengan sumber daya alam yang ada di sekitarnya. Hal ini juga berlaku pada daerah dengan potensi alam yang berbeda. Pengembangan kurikulum diserahkan pada daerah dan tetap berpegang pada kurikulum landasan dasar yang ditetapkan oleh pusat. Tentu saja harapannya agar sumber daya alam yang melimpah dapat terolah, potensi-potensi lokal berkembang dan kesejahteraan rakyat meningkat.


Putri Lestari
*sedikit cerita, essai pertamaku ini sebenarnya dibuat untuk kepentingan lomba. Tetapi, tidak jadi dikirim karena saya salah membaca temanya. Lebih tepatnya, ada sub-tema yang ditentukan dan saya tidak tahu. Hihihi. (Memalukan, kan?!). Akhirnya saya putuskan untuk pasang di blog saja.

*sumber gambar: [1] , [2]





Sabtu, 23 Juli 2016

#Renungan23: Membuang yang Tidak Perlu




Suatu ketika, seorang teman bertanya kepada saya kapan kita pernah makan es krim bersama di depan indomaret. Kejadian makan es krim tanpa sengaja ini sudah berlalu beberapa bulan. Saya coba mengingatnya, tetapi gagal menemukan tanggal atau hari tepatnya. Lalu, saya mengambil sebuah kotak di meja kamar. Kotak itu berisi semua nota pembelian yang saya lakukan tahun ini. Saya mencari nota yang memuat nama dua es krim itu dan sebotol air mineral di antara banyak nota lainnya. Teman saya tidak membantu, tetapi malah melongo. Dia menepuk pundak saya keras dan bilang kalau saya gila. Bisa-bisanya saya mengumpulkan semua nota itu. Mengumpulkan sesuatu yang teman saya sebut sampah.

Mungkin tidak hanya teman saya yang menganggap nota-nota sampah. Sebagian besar orang juga pasti berpikir begitu. Buktinya, banyak nota yang ada di tempat sampah minimarket. Buat saya, nota pembelian ini mempunyai arti lebih dari sekedar sampah. Biasanya, setelah melakukan transaksi saya memang langsung memasukkan nota ke dompet. Begitu sampai di kost (saat masih jadi mahasiswa dulu) atau rumah, saya akan mengeceknya. Mengecek nota tersebut dan mencocokannya dengan barang-barang yang saya beli. Jika semua sudah saya anggap beres, saya letakkan nota itu ke sebuah kotak tadi. Saya selalu melakukan ini untuk pembelian barang-barang besar—misalnya buku, tas, sendal, sepatu, baju, barang elektronik, perabot, belanja bulanan dan lainnya—maupun barang kecil seperti air mineral atau makanan ringan. Saya juga menyimpan nota ketika makan di luar (di tempat makan gitu loh, kan agak mahal biasanya).

Saya melakukannya karena berpikir bahwa mungkin saja suatu saat nanti saya masih membutuhkan nota-nota iu. Mungkin ketika teman saya bertanya tentang harga sepatu. Selain itu, saya memang berniat khusus mengumpulkan nota untuk refleksi. Ada kalanya saya membuka lagi nota-nota itu. Kemudian melihat betapa borosnya diri saya minggu lalu, bulan lalu atau tahun lalu. Sehingga saya perlu merubah kebiasaan belanja yang terlalu boros itu. Tetapi, ada kalanya nota-nota itu hanya menjadi “sampah” di atas meja yang tak pernah saya sentuh karena sibuk atau malas. Rasanya apa yang dikatakan teman saya itu benar. Saya hanya mengumpulkan sampah!

Ternyata, ada banyak “sampah” yang saya timbun. Tidak hanya nota-nota itu. Pulpen-pulpen yang isinya sudah habis (dengan niat ingin menjadikan tempat pulpen yang warna-warni itu sebagai hiasan. Tapi ya, nggak pernah kejadian), bros-bros yang penitinya sudah copot (awalnya mau dilem lagi), simcard kuota yang hanya sekali pakai, kertas-kertas setelah skripsi (ini sampai dua kardus, niatnya juga mau dibuat kerajinan tangan tapi belum juga kesampaian), dan barang-barang lainnya. Memang niat saya menyimpan barang-barang ini awalnya baik. Tetapi, toh ujungnya saya tidak pernah melakukan rencanan-rencana indah dengan barang-barang itu. Akhirnya barang-barang itu hanya memenuhi kamar atau ruangan-ruangan di rumah. Tidak sempat jadi “sesuatu”. Hanya menumpuk begitu saja namun masih ada rasa sayang untuk membuangnya.

Hingga saya merasa kamar atau ruangan-ruangan di rumah dipenuhi barang-barang “sampah”. Sesak, enggak enak dilihat dan enggak enak ditempati. Saya mulai tidak nyaman dengan keadaan ini. Maka, saya mulai membuang beberapa barang yang saya simpan itu. Awalnya memang masih ada rasanya sayang. Ada rasa semacam “gimana kalau suatu saat nanti aku masih butuh ini?”. Tapi rasa semacam itu harus dilawan. Beberapa waktu setelah membuang barang-barang itu, rasa merasa baik-baik saja. Saya tidak merasa membutuhkan barang-barang itu lagi. Keputusan saya membuang barang-barang itu sudah tepat. Saya pun mulai menyortir barang lainnya. Melakukannya lagi dan lagi. Kamar saya menjadi lebih baik, ruangan-ruangan di rumah juga lebih lega dan yang paling penting perasaan saya baik-baik saja. Maksudnya, saya tidak merasa menyesal telah membuangnya dan tidak merasa masih membutuhkannya. Kalaupun ada beberapa barang yang dikemudian hari ternyata masih saya butuhkan, toh saya lebih memilih beli yang baru. Karena tentu saja yang saya buang itu sudah usang.

Dari membuang barang-barang “sampah” itu, saya juga merasa ada hal dalam hidup yang perlu diperlakukan sama. Hal yang selama ini masih saya simpan (mungkin juga kamu), entah di hati atau pikiran atau bahkan hidup, yang sejatinya itu tidak berguna. Kenangan-kenangan yang hanya menyesakkan dada ketika diingat, mungkin saya masih menyimpannya di hati karena melalui kenangan itu bersama orang yang pernah spesial; sifat negativ yang merugikan, seperti sifat manja yang pernah dipunya ketika kecil tetapi menjadi tidak berguna saat bertambah usia; prasangka-prasangka buruk pada diri sendiri maupun orang lain; hingga kebiasaan-kebiasaan kecil yang tidak berguna (misalnya saja: kebiasaan begadang yang dulu sering saya lakukan saat masih kuliah, kebiasaan membuang waktu dengan ngerumpi, sering menunda pekerjaan, terlalu sering malas-malasan, dan lain-lain).





Sesekali kita perlu melihat ulang, apakah yang kita simpan di hati dan pikiran, yang kita jalani dalam hidup, benar-benar berguna atau tidak? Jangan-jangan kita melakukannya hanya karena terbiasa melakukannya, sampai jadi rutinitas, rasanya ada yang kurang jika tidak dilakukan. Tetapi ternyata semua itu tidak ada gunanya.



Rajinlah membuang yang tidak perlu dalam hidup, agar hidup terasa lebih ringan.Rajinlah membuang yang tidak perlu dalam hati dan pikiran, agar jiwa terasa lebih tenteram.


Putri Lestari



*sumber gambar: [1] , [2] , [3]






Minggu, 17 Juli 2016

#Renungan23: Perlunya Mengisi Semangat (Lagi)



Satu tahun lalu, sekitar bulan Juli tahun 2015, saya dinyatakan lulus kuliah. Mendapatkan Surat Keterangan Lulus (disingkat SKL) yang kemudian saya fotokopi sekitar 25 lembar untuk dimintakan legalisir. Kata salah seorang teman, SKL bisa digunakan untuk melamar kerja di sekolah sebagai guru; sesuai dengan bidang ilmu saya. Maka, saya sangat semangat untuk legalisir itu SKL sebanyak-banyaknya. Kemudian, saya mencari daftar nama sekolah yang ada di Kudus (tempat tinggal saya) beserta alamatnya. Saya tulis pada sebuah buku nama-nama sekolah itu—entah yang saya tahu atau yang masih asing. Saya mulai membuat surat lamaran kerja. Memasukkannya ke sekolah-sekolah tersebut. Menerima jawaban dari pihak sekolah yang kadang membuat saya sedikit tersenyum, tapi lebih banyak yang membuat saya mengernyitkan dahi atau kecewa. Menyoret nama-nama sekolah yang sudah saya datangi. Dan tak lupa merubah volume nada dering ponsel pada level tinggi alias yang paling keras. Biar apa? Biar saya mendengar setiap pesan atau telpon masuk. Barangkali salah satunya dari sekolah-sekolah itu. Walaupun di antara sekolah yang saya datangi itu, jelas menjawab bahwa waktu tunggu jawaban lamaran sekitar enam bulan sampai satu tahun. Ada juga yang menolak secara halus namun mantap. Tetapi, saya tetap menjaga diri untuk tidak jauh dari handphone. Sembari memasang wajah antusias anak kecil yang menunggu ibunya pulang belanja dengan membawakan sebungkus kue manis jajanan pasar.

Beberapa bulan menunggu, ternyata yang masuk hanyalah pesan-pesan dari operator (mbaknya jomblo sih. Heh!). Hingga saya mulai melupakan surat lamaran-lamaran itu. Menyibukkan diri di sore hari dengan menjadi guru les pada salah satu lembaga bimbingan belajar milik guru SMA dulu. Tanpa saya sadari, saya mulai mengubur keinginan untuk menjadi guru di sekolah. Melupakan keinginan saya untuk; mengamalkan apa yang pernah saya dapatkan di univertas pada jalur pendidikan formal, menganalisis kemampuan dan kepribadian siswa, menulis sesuatu tentang pembelajaran atau kelas atau karakter siswa atau masalah di kelas, dan mengikuti lomba karya tulis yang diperuntukkan khusus guru. Saya mulai melupakan semua itu. Dan menjalani hari hanya sebagai pegawai part time di atas.

Pagi yang longgar saya isi dengan membaca buku, novel, dan chatting. Secara tidak sengaja saya membaca kisah seseorang sukses (sayangnya saya lupa namanya) yang pernah bekerja apa saja di luar bidangnya. Saya pun mulai memikirkan ini. Saya bawa obrolan ini ke beberapa orang yang saya percayai. Muncullah sebuah pandangan, bahwa saya sangat boleh mencoba bekerja di luar background pendidikan. Yang terjadi kemudian adalah setiap pagi saya mencari lowongan kerja di internet, website perusahaan, website penyedia lowongan kerja dan koran. Dalam seminggu, saya bisa membeli tiga sampai empat koran. Lagi, saya mencatat lowongan-lowongan yang memungkinkan untuk kualifikasi diri sendiri. Membuat surat lamaran kerja, mengirimnya, dan duduk dekat handphone (lagi). Entah sudah berapa lamaran yang saya kirim, jelasnya lebih dari lima belas. Lagi lagi, tak ada satu pun yang menghubungi saya! Hebat sekali! Akhirnya, saya kembali menerima diri yang hanya pegawai part time di sebuah bimbingan belajar.

Beberapa bulan kemudian, secara tidak sengaja, saya kembali dekat dengan teman lama. Namanya Nurul. Teman SMA yang dulu pernah satu kelas di kelas 10. Dia baru lulus dan ternyata juga mengalami hal sama dengan saya. Bahkan, lamaran yang dia kirim banyaknya mencapai dua atau tiga kali lipat dari yang saya kirim. Hebatnya juga, tak satupun menghubunginya. Tetapi, setiap hari, dia masih saja mencari lowongan kerja di mana-mana, mengirim lamaran kerja lagi dan lagi, secara terus menerus. Tidak seperti saya yang kemudian menerima “takdir” sebagai guru les.

Kadang, saat ngobrol dengan Nurul, ada kalimat-kalimatnya yang asal ceplos, atau cerita-cerita pengalamannya selama mencari kerja, yang  membuat saya tergugah. Dia yang tahu saya masih nganggur pun, sering memberikan info-info lowongan kerja. Hingga pada suatu saat, saya merasa apa yang telah saya lakukan tidak ada apa-apanya dibanding Nurul. Semangat yang Nurul bawa jauh lebih besar dari semangat yang ada pada diri saya. Saya merasa tidak pantas untuk menyerah. Maka, saya dan Nurul beberapa minggu belakangan, mulai mencari pekerjaan bersama-sama.

Kebersamaanku dengan Nurul membuat kita saling tukar cerita. Ternyata, di balik semangat Nurul yang sangat baja itu, dia juga pernah mengalami apa yang saya alami. Pernah merasa tidak ingin mencoba sesuatu yang sudah dicoba dan menghasilkan kegagalan. Pernah merasa “menerima keadaan diri” yang hanya menganggur saja. Kemudian, saya bilang ke Nurul, kalau kita harus tetap bersama selama kita menganggur. Maksudnya, menjaga diri kita tetap berada di lingkaran orang-orang yang bernasib sama. Karena yang namanya semangat itu fluktuatif. Naik-turun, ketika menemukan hal-hal tertentu yang berefek pada kondisi diri. Jika kita bersama orang lain, paling tidak, ada yang mengingatkan untuk menaikkan semangat lagi ketika bertemu situasi melemahkan.



Saya pun akhirnya sangat menyadari bahwa semangat, sama seperti baterai yang pelu diisi ulang pada saatnya tiba. Saat saya sudah merasa “pasrah” dengan apa yang saya hadapi. Saat saya sudah tidak ingin berusaha lagi untuk sesuatu yang saya inginkan. Saat saya merasa stagnan di keadaan sekarang dan mengganggap itu sebagai nasib. Dan saat saya mengerjakan semua hal hanya sebagai rutinitas, tanpa gairah, monoton. Saat tanda-tanda itu sudah muncul, saya mulai menyadari bahwa semangat dalam diri saya perlu di top up. Saya pun mulai mengingat apa saja yang secara tidak sengaja saya lakukan agar semangat kembali terpacu. Ternyata, saya biasanya melakukan hal-hal yang sederhana, seperti: mengulik perjalanan mimpi seseorang yang berhasil; mengingat berulang-ulang apa yang saya inginkan, apa yang saya impikan, dan apa yang sudah pernah saya lakukan untuk meraihnya (biasanya saya mencatat impian-impian saya, mencatat apa-apa yang sudah pernah saya lakukan untuk meraihnya, jadi kalau mau mengingat tinggal dibuka saja buku catatannya. Hhee); mendengarkan lagu-lagu dengan lirik semangat; menonton film dengan tema tertentu; jalan kaki kemudian melihat apa yang ada disekitar, melihat nenek-nenek yang menjajakkan keripik pisang di jalan, melihat anak-anak kecil yang tertawa bersama saat lampu hijau menyala dan bersamaan mengetuk pintu mobil sembari bernyanyi saat lampu merah menyala; melihat kesuksesan role model atau tokoh-tokoh favorit; dan bertukar pikiran dengan orang lain. Pokoknya, sampai saya merasa ingin berjuang kembali.

Mungkin ini akan berbeda pada masing-masing orang. Cara-cara yang orang lain lakukan untuk kembali menemukan rasa semangatnya mungkin berbeda dengan caraku. Itu boleh-boleh saja, tidak masalah. Setiap orang bebas melakukan apa saja yang bisa membuatnya semangat lagi (asal positif, ya!). Karena yang ingin saya garis bawahi di sini bukanlah adaptasi cara saya mengumpulkan semangat kembali. Tetapi, mengingatkan (kepada diri saya sendiri utamanya) bahwa yang namanya semangat itu bisa naik-turun. Maka, saat sedang turun, semangat perlu diisi lagi dan lagi. Bukan berpasrah pada satu keadaan.

Putri Lestari

Jumat, 15 Juli 2016

#Renungan23 Tak Perlu Tunggu Hebat untuk...

gambar diambil dari sini

              Beberapa hari yang lalu, saya menemukan sebuah blog secara tidak sengaja. Blog sederhana itu berbagi tentang pengalaman dan pemikirin hidup penulisnya. Saya terbawa dengan setiap pengalaman dan pemikiran yang penulis tuturkan. Tanpa disadari, saya turut mengamini apa yang penulis ungkapkan. Boleh dibilang, saya bisa mengambil hikmah dari tulisan itu. Mendapat pencerahan, pikiran-pikiran baru yang patut direnungkan agar hidup lebih positif. Saya pun sangat bersyukur telah menemukan blog itu.
            Postingan blog tersebut, telah mengubah pikiran saya tentang beberapa hal tertentu. Salah satunya tentang berbagi kisah, berbagi pemikiran lewat tulisan. Dulu, saya berpikir bahwa menuliskan sebuah kisah tidaklah mudah. Ada banyak teori yang perlu dipelajari. Ada banyak tahapan yang perlu dilalui hingga kisah itu pantas atau layak dibaca. Tetapi, sekarang pikiran saya mulai berubah.
            Saya membaca blog tersebut, kemudian menyadari bahwa saya—secara tidak langsung—sedang membaca pikiran si penulis. Sebagai seorang manusia, saya juga punya pemikiran dan perenungan dalam hidup. Sayangnya saya tidak pernah berani menuangkannya dalam bentuk tulisan. Karena mindset saya tentang tulisan yang saya ungkapkan tadi. Atau sebut saja saya terlalu perfeksionis. Tidak berani menuliskan kisah hidup yang membuat saya belajar, menuliskan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam kepala saya, dan menuliskan pikiran tentang sebuah hal. Saya merasa belum layak, belum hebat. Hingga yang saya dapatkan hanyalah kisah-kisah yang terlupakan, pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab, dan pikiran-pikiran yang hilang karena tertumpuk oleh pikiran lain—bahkan saya lupa pernah berpikir seperti itu. Padahal, menuangkan semua itu dalam sebuah tulisan bukan hanya tentang bagus tidaknya tulisan atau indah tidaknya tulisan. Tetapi, tentang mengabadikan kisah dan pikiran. Mengingatkan diri sendiri bahwa saya pernah punya kisah dan pikiran semacam itu pada suatu waktu. Pikiran manusia kan tidak stagnan, selalu berubah, jika ia menyerap banyak informasi. Pun tentang berbagi apa yang dipikirkan kepada orang lain. Barangkali, ada seseorang yang membacanya kemudian mengambil sesuatu yang baik dari tulisan itu; seperti yang saya lakukan pada blog tadi.
            Maka, saya mulai berpikir untuk mengisi blog ini, tidak hanya ketika merasa punya tulisan yang layak baca. Merasa sudah cukup hebat dalam menulis hingga baru mau menulis di sini. Kutitipkan kisah, pertanyaan dan pikiran dalam #Renungan23. Maksudnya, apa-apa yang saya alami, saya tanyakan dan saya pikirkan di usia 23 sekarang ini. Walaupun pergantian usia ke 23 saya sudah berlalu beberapa bulan di belakang. Itu tidak masalah. Karena terlambat masih lebih baik daripada tidak sama sekali. Jika saya ditanya apakah saya menyesal baru memulai sekarang? Jawabannya sama sekali tidak. Penyesalan hanya akan mengganggu kemauan untuk maju. Saya coba membalik pertanyaan “kenapa saya tidak mulai dari dulu?” menjadi pernyataan “saya bersyukur disadarkan sekarang untuk memulai ini daripada nanti.”
          Saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah kutipan lagu “Terhebat” dari CJR. Bagaimanapun juga, lagu itu ikut menyumbang kekuatan. Bahwa tidak harus menunggu jadi hebat untuk melakukan apa pun yang diinginkan. Karena ekspektasi hebat hanya akan menjebakmu dalam ketidakberanian dan ketidakpercayaan diri untuk memulai.

Tak perlu tunggu hebat...Untuk berani memulai apa yang kau impikanHanya perlu memulai...Untuk menjadi hebat raih yang kau impikan

Putri Lestari 

Kamis, 07 Juli 2016

[Review PPT] Aku Ingin Berada di Jalan Tuhan



Program Ramadhan “Para Pencari Tuhan” selalu hadir dengan kisah yang penuh makna. Nilai-nilai kehidupan dan agama dikemas apik dalam kisah sederhana yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Banyak sekali pesan moral yang bisa diambil dari sinetron ini. Apalagi, pesan disampaikan secara halus, tidak ada kesan menggurui. Sehingga, kita para penonton bisa langsung manggut-manggut dan mengiyakan pesan yang disampaikan.
Menonton sinetron “Para Pencari Tuhan” bagaikan menonton miniatur dunia ini. Tokoh-tokoh di dalamnya merupakan interpretasi karakter-karakter manusia yang ada. Ada si kaya yang diwakili oleh Pak Jalal, dan ada si miskin yang diperlihatkan melalui tokoh Asrul. Masih ada tokoh lainnya yang juga turut serta meramaikan kisah pencarian Tuhan ini, antara lain; Bang Jack, Chelsea, Barong, Juki, Aya, Azaam, Kalila, Ustadz Feri, Haifa (istri Ustadz Feri) dan Udin. Beberapa tokoh baru juga dimunculkan pada jilid tertentu untuk. Misalnya saja Baha, yang muncul pada jilid 2 dan 3 dengan karakternya yang unik dan mengejutkan. Konflik yang diangkat sinetron ini sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Segenggam Makna dari Para Pencari Tuhan
            Kisah yang disajikan oleh sinetron ini memang banyak menyimpan makna yang bisa diambil dalam hidup. Pertama, kisah pertaubatan Chelsea, Barong dan Juki yang merupakan seorang mantan narapidana. Kemauan keras mereka untuk “mencari Tuhan” sangat menginspirasi setiap orang, termasuk saya. Bayangkan saja, dari pribadi yang dulunya buat agama, menjadi pribadi yang selalu memperbaiki diri dan belajar agama. Kerja keras mereka dan bimbingan Bang Jack, sangat patut dijadikan contoh. Bahkan, mereka sudah pernah naik haji bersama Bang Jack. Betapa menakjubakannya jalan yang diperoleh manusia ketika dia benar-benar mencari Tuhannya.
            Kedua, lika-liku kisah percintaan Aya dan Azam. Kisah cinta yang disajikan sangat elegan dan berbeda dari lainnya. Membuat penonton tidak bosan, bahkan gemas dengan tingkah keduanya dalam mengekspresikan cinta. Diceritakan Azam yang mengejar Aya, cinta masa kecilnya. Pendekatan yang dilakukan Azam kepada Aya pun terkesan terhormat dengan bahasan-bahasan agama, bukan gombalan-gombalan tiada makna. Kata-kata romantis yang terlontar dari Azam maupun Aya juga tidak sembarangan. Semua berlandaskan pada kisah-kisah agama yang pantas dijadikan tauladan. Rumah tangga mereka juga dibangun berdasarkan landasan agama. Sehingga, seering terjadi debat-debat agama yang menginspirasi di antara mereka. Ini patut dijadikan contoh bagi pasangan muda yang ingin berumah tangga.
            Ketiga, pelajaran cinta dari Kalila. Kalila muncul sebagai orang ketiga dalam hubungan percintaan Aya dan Azam yang belum jelas arahnya. Kalila yang mengikhlaskan Azam menikahi Aya sangatlah bijak dalam menjalani hidup. Ketika Pak Jalal mengusulkan poligami pun, Kalila tidak serta merta menerimanya. Padahal, jelas-jelas dia pernah menyukai Azam. Tetapi, dia yang tahu bahwa poligami bukan perkara mudah. Jadi dia menekan perasaannya untuk kebahagiaan dan ketenangan mereka semua. Termasuk ketenangan Aya dan Azam. Pelajaran cinta dair Kalila yang bisa diambil yaitu dia tidak menjadikan perasaan cinta kepada Azam adalah segalanya. Dia tetap menyandarkan diri pada Tuhan untuk urusan cintanya. Sikap tegar dan tetap ceria yang dia perlihatkan sangat pantas dicontoh. Apalagi bagi para remaja yang sering merasa galau karena putus cinta.
            Keempat, cara memaknai materi dari Asrul dan Pak Jalal. Kehidupan mereka seakan mengingatkan kita pada roda kehidupan yang terus berputar. Asrul yang dulunya sangat miskin suatu ketika pernah sukses atas usaha soto bataknya. Sementara Pak Jalal yang kaya raya di kampung sempat bangkrut karena ulah salah satu bawahannya yang curang. Ini mengajarkan bahwa materi tidaklah abadi. Materi bisa datang dan pergi kapan saja. Tidak ada yang perlu dibanggakan dari materi berlimpah yang kita punya. Apalagi, ketika Asrul sudah sukses, tetapi merasa bahwa ibadahnya sekarang tidak lebih baik dibanding ketika dia miskin. Kemudian dia meminta kepada Tuhan agar mengembalikan kehidupannya yang dulu. Pak Jalal pun, ketika sudah sukses kembali, masih memilih tinggal di gubuk sederhana. Sebenarnya, ini adalah sentilan halus sekaligus mengena yang perlu di pegang baik-baik. Cara Asrul dan Pak Jalal memaknai materi dalam kehidupan sangatlah menyentuh.
            Masih banyak makna dan nilai kehidupan yang bisa kita ambil dari sinetron “Para Pencari Tuhan”. Baha, seorang pemabuk yang menyumbangkan semua uangnya untuk baitul mal dan pembangunan kampung. Bang Jack yang merelakan tabungan hajinya untuk membantu keluarga Asrul. Musibah yang menghampiri kampung mereka saat warga kampung kecanduan jejaring sosial facebook. Ketabahan hari Aya dan Azam, ketika Aya mengalami keguguran dan saat anak mereka meninggal. Permainan poltitik yang dilakukan oleh Trio RW ketika pemilihan ketua RW baru akan dilakukan. Dan masih banyak nilai yang bisa diambil pada setiap episodenya.
Aku Ingin Berada di Jalan Tuhan
Aku ingin berada di Jalan Tuhan adalah pesan tersirat yang saya ambil dari sinetron PPT jilid 1 sampai 9. Apa yang dilakukan oleh Chelsea, Barong dan Juki untuk bertobat, karena mereka ingin berada di jalan Tuhan. Begitu juga apa yang dilakukan semua tokohnya dalam menjalani kehidupan ini. Bang Jack yang mengumpulkan uang demi bisa berangkat haji, tetapi kemudian merelakan uangnya untuk membantu Asrul. Bang Jack ingin membantu sesama manusia sesuai perrintah Tuhan. Walaupun Tuhan juga memerintahkan untuk pergi haji, tetapi akhirnya Bang Jack memutuskan untuk membantu Asrul.
Rumah tangga Aya dan Azam yang selalu dipenuhi dengan perdebatan (termasuk perdebatan tentang poligami), juga merupakan salah satu jalan agar mereka menjalani rumah tangga sesuai ajaran agama. Apa yang diminta Asrul kepada Tuhan, ketika dia merasa ibadahnya kurang saat berubah sukses, juga salah satu contoh bahwa dia ingin berada di jalan Tuhan. Setiap tokoh yang ada di sinetron tersebut, mengisyaratkan bahwa mereka selalu ingin berada di jalan Tuhan. Sehingga, apa yang mereka lakukan untuk menghadapi masalah, selalu dilandaskan pada ajaran agama.

Senin, 15 Februari 2016

Perjanjian 9-23

Hari ini, semua "kesedihan" yang bertumpuk membuatku belajar banyak hal.
Lahirlah sebuah perjanjian dengan diriku sendiri yang kusebut sebagai "Perjanjian 9-3".