Langit
di depan kamar pukul tiga pagi
Mengingatkan
pada asa yg pernah pudar
Lalu
pucat tanpa merona lagi
Ronanya
hilang
Ronanya hilang
Tuntas
Terlahir
sebuah tanya "apa yang harus kulakukan
saat
sudah tidak bahagia?"
Sebelah
diri berbisik, "bukankah hidup memang
untuk
tidak bahagia juga?"
Langit
di depan kamar pukul empat pagi
Diam-diam
menikmati sisa gelapnya
Semalam,
setelah minum obat, saya rebahan di kasur. Menghadap pintu, lalu ingat bahwa
saya punya sebuah
janji yang belum tuntas. Janji untuk duduk di pinggiran pintu, menatap langit
pukul tiga pagi di hari ulang tahun. Saya memang menatap langit itu setiap malam.
Sepulang kerja, saat menggosok gigi sambil menatap langit. Ada berbagai rasa yang
tiba-tiba muncul. Pernah, saat saya benar-benar lelah, ingin menggenggam pisau
seerat mungkin. Di ’waktu gosok
gigi’ itu, saya langsung merasa betapa
langit sangat luas dan indah. Dan, nggak semua orang diberi kesempatan oleh Tuhan
untuk gosok gigi sambil menatap langit. Beberapa orang justru gosok gigi
terburu-buru, makan terburu-buru, minum terburu-buru, tanpa sempat berpikir
tentang apa-apa yang Tuhan sampaikan lewat alam.
Saya
ingin menatap langit pukul tiga pagi di depan kamar, karena ingin tahu. Rasa
apa lagi yang akan muncul di hati. Apa saya akan merasakan hal yang sama, atau
justru banyak sekali lompatan pikiran-perasaan yang tiba-tiba menyergap.
Sayangnya, di hari ulang tahun saya yang lalu, saya sangat sibuk. Sepulang
kerja lalu lelah, lalu ambruk di kasur. Paginya, moment itu terasa hilang. Padam.
Dan, saya merasa nggak
ada yang perlu dispesialkan lagi. Tapi, semalam saya menyadari telah kehilangan waktu merenung yang berharga itu. Lalu,
saat saya hilang arah seperti akhir-akhir ini, rasanya
semuanya memuakkan. Saya sadar memang butuh merenung.
Melepas luka, menghela napas, memikirkan kembali.
Semalam, sayangnya tubuh nggak
bisa diajak kompromi. Maunya rebahan, sambil menikmati rasa nyeri. Dan seperti biasa,
setiap sakit, pikiran saya mendadak suka pergi ke mana pun. Bahkan pada hal
yang nggak pernah saya pikirkan sekali pun. Lalu, di antara kelana pikiran yang
jauh dan nggak tahu kapan selesainya, air mata jatuh menimpa bantal. Semuanya
bercampur jadi satu, lalu luluh pada isakan yang sedikit gemetar.
Melepas Racun
Banyak hal berseliweran di
kepala semalam yang membuat tangis pecah. Saya menyadarinya sebagai sebuah
racun dalam diri yang perlu dikeluarkan. Bagi saya, menulis itu menyembuhkan.
Saya memutuskan untuk membuang semua racun itu di sini, lalu mengendapkan
pikiran, berpikir ulang dan kembali dalam keadaan yang lebih baik. Saya harap,
benang yang kusutnya minta ampun di dalam kepala, bisa terurai.
Pertama, saya sedang berada di
titik terendah dalam karir. Saya merasa bodoh, nggak bisa ngerjain soal
ini-itu, nggak bisa membuat pembahasan yang enak untuk siswa, pengetahuan saya
dangkal, dan lain-lain, dan lain-lain. Pokoknya semua yang membuat saya merasa
minder dengan kemampuan diri sendiri. Saya nggak tahu kenapa pikiran itu
tiba-tiba datang. Entah karena ada orang baru yang memang sangat pintar, lalu
membuat siswa enggan bertanya pada saya lagi. Tapi, orang yang dulu juga sangat
pintar. Diri saya tetap baik-baik saja. Saya nggak pernah merasa seperti ini,
dan saya tetap merasa nyaman di sana. Mungkin karena orang yang dulu selain
pintar juga peka, jadinya beliau nggak mau terlalu mengekspos kemampuannya yang
cemerlang itu di depan saya. Sementara yang baru melakukannya. Saya jadi malas
ke kantor, saya malas melihat kejadian-kejadian yang membuat diri semakin tak
mampu. Saya lebih senang berada di tempat lain. Dan, saya lebih senang
menghilang dari sana. Tak terlihat dan tak melihat yang membuat saya jatuh.
Saya pernah membicarakan ini
pada teman satu bidang studi. Saya nggak tahu, dia ini tipe orang yang seperti
apa. Dia ini selalu berpikir positif dan entah dia punya pikiran-pikiran
seperti saya atau nggak. Dia bilang ke saya “nggak ada orang yang bodoh”. Saat
itu saya sedikit bersemangat, lalu belajar lagi. Tapi rasa minder itu nggak
kunjung hilang dan membuat saya nggak nyaman lagi. Kemarin tiba-tiba seorang
rekan kerja yang cemerlang tapi perasa di atas berbicara kepada saya. Katanya,
selama saya hilang-hilangan, saya dicari siswa. Hati saya sedikit terenyuh.
Bukan karena saya merasa dibutuhkan, tetapi karena rekan kerja saya itu peduli
dengan saya di sana. Mungkin dia sudah merasa saya kok mulai sering hilang.
Kedua, ini tentang luka yang
saya yakin nggak pernah selesai sebelum saya pindah. Tentang seorang teman yang
saya sayangi, tapi kok dia justru seperti itu. Dia sering membohongi saya,
sekedar urusan pergi ke mana dan dengan siapa. Oke, saya terima. Beberapa hari
setelahnya hubungan kembali cair, padahal sebelumnya saya sudah memutuskan
untuk nggak peduli lagi sama dia. Tapi kok kemarin saya merasa seperti itu
lagi. Kemarin, dia beli sarapan sendirian, demi membelikan sarapan seorang
cowok. Biasanya, dia nggak mau beli sarapan sendirian. Kalau beli, kita berdua.
Atau justru saya sendirian yang beli, untuk dia juga. Bahkan, dulu waktu saya
sakit, dia nggak mau membelikan saya sarapan. Dia menyuruh saya go food saja.
Karena dia sedang malas beli dan akan mengurus sarapannya sendiri nanti. Dia
bahkan nggak peduli saya makan atau nggak saat sedang sakit. Sementara dia mau-maunya
beli sarapan untuk cowok itu. Saya jadi semakin ‘sakit’ dan merasa beberapa hal
yang membuat hubungan kita cair kemarin nggak ada apa-apanya. Hilang begitu
saja, lenyap, nggak menyisakan makna apa pun.
Ketiga, saya mulai memikirkan orang
tua yang jauh di Kudus. Saya ingin merawat mereka di hari tua, tapi saya nggak
bisa kembali ke Kudus dalam waktu dekat tanpa rencana apa pun. Tahun depan,
saya masih ingin bekerja di luar kota. Tetapi, saya juga ingin menemani orang
tua saya. Saya juga mulai memikirkan menikah. Orang tua saya nggak pernah minta
saya cepat menikah. Justru mereka menyabarkan kalau jodoh belum datang. Tapi,
saya yakin orang tua saya ingin melihat pernikahan anak bungsunya ini. Ya,
tapinya saya jomblo. Saya nggak tahu harus bagaimana. Hidup saya di Jogja pun mulai jauh dari kata tujuan.
Saya hidup begini-begini saja. Saya kerja, mengerjakan soal, belajar,
istirahat, sudah. Karir menulis saya belum berkembang lagi. Saya lebih sering
malas karena terlalu lelah secara psikis maupun fisik bekerja di sini. Saya
jadi bingung, apa yang sebenarnya ingin saya raih di Jogja.
Memikirkan
Kembali
Pertama, saya ingin mengobati
perasaan sendiri. Saya ingin menghargai kemampuan diri sendiri, sambil terus
berkembang. Seperti apa yang Pak Nur bilang, belajar dan terus berkembang.
Walau beliau sering membully saya, tapi diam-diam selalu memotivasi. Beliau
pernah bilang, modal saya masuk pertama ke sana jauh lebih baik daripada dia.
Entah dia bohong atau nggak. Tapi saya tahu, tujuannya memotivasi saya agar
lebih berkembang. Lalu saya tanya, kenapa dia bisa jadi secemerlang itu.
Katanya, tergantung kita mau berkembang sejauh apa. Jadi, saya memutuskan untuk
berkembang terus-menerus. Tanpa memikirkan apa-apa yang terjadi pada orang
lain. Dan, menghindari apa yang bisa membuat perasaan saya menjadi kecut.
Kedua, saya sudah memutuskan
untuk nggak menyayangi teman itu lagi. Masih banyak teman yang menyayangi saya,
dan perlu diperlakukan baik. Untuk apa mengurusi teman yang bahkan nggak mau
ngucapin ulang tahun padahal dia tahu saya sedang berulang tahun dan dulu saya
rayakan kecil-kecilan? Masih banyak teman baik yang perlu dibalas kebaikannya.
Ketiga, saya nggak tahu
masa depan. Saya nggak tahu tahun depan akan di mana dan ke mana. Tujuan saya
ke Jogja jelas untuk berkembang. Dari segi apa pun. Maka, saya harus terus
mengingat tujuan saya pindah Jogja. Biar hidup saya di sini mulai berkembang,
nggak begini-begini saja. Dan, untuk orang tua saya, saya hanya bisa berdoa
pada Allah. Agar apa yang mereka inginkan tentang saya terwujud. Saya
menyayangi mereka. Saya ingin mereka bahagia, seperti mereka ingin melihat saya
bahagia. Tuhan, kabulkanlah pinta mereka.
