Minggu, 24 Februari 2019

Memikirkan Kembali


Langit di depan kamar pukul tiga pagi
Mengingatkan pada asa yg pernah pudar
Lalu pucat tanpa merona lagi
Ronanya hilang
Ronanya hilang       
Tuntas
Terlahir sebuah tanya "apa yang harus kulakukan
saat sudah tidak bahagia?"
Sebelah diri berbisik, "bukankah hidup memang
untuk tidak bahagia juga?"
Langit di depan kamar pukul empat pagi
Diam-diam menikmati sisa gelapnya

Semalam, setelah minum obat, saya rebahan di kasur. Menghadap pintu, lalu ingat bahwa saya punya sebuah janji yang belum tuntas. Janji untuk duduk di pinggiran pintu, menatap langit pukul tiga pagi di hari ulang tahun. Saya memang menatap langit itu setiap malam. Sepulang kerja, saat menggosok gigi sambil menatap langit. Ada berbagai rasa yang tiba-tiba muncul. Pernah, saat saya benar-benar lelah, ingin menggenggam pisau seerat mungkin. Di ’waktu gosok gigi itu, saya langsung merasa betapa langit sangat luas dan indah. Dan, nggak semua orang diberi kesempatan oleh Tuhan untuk gosok gigi sambil menatap langit. Beberapa orang justru gosok gigi terburu-buru, makan terburu-buru, minum terburu-buru, tanpa sempat berpikir tentang apa-apa yang Tuhan sampaikan lewat alam.
Saya ingin menatap langit pukul tiga pagi di depan kamar, karena ingin tahu. Rasa apa lagi yang akan muncul di hati. Apa saya akan merasakan hal yang sama, atau justru banyak sekali lompatan pikiran-perasaan yang tiba-tiba menyergap. Sayangnya, di hari ulang tahun saya yang lalu, saya sangat sibuk. Sepulang kerja lalu lelah, lalu ambruk di kasur. Paginya, moment itu terasa hilang. Padam. Dan, saya merasa nggak ada yang perlu dispesialkan lagi. Tapi, semalam saya menyadari telah kehilangan waktu merenung yang berharga itu. Lalu, saat saya hilang arah seperti akhir-akhir ini, rasanya semuanya memuakkan. Saya sadar memang butuh merenung. Melepas luka, menghela napas, memikirkan kembali.
Semalam, sayangnya tubuh nggak bisa diajak kompromi. Maunya rebahan, sambil menikmati rasa nyeri. Dan seperti biasa, setiap sakit, pikiran saya mendadak suka pergi ke mana pun. Bahkan pada hal yang nggak pernah saya pikirkan sekali pun. Lalu, di antara kelana pikiran yang jauh dan nggak tahu kapan selesainya, air mata jatuh menimpa bantal. Semuanya bercampur jadi satu, lalu luluh pada isakan yang sedikit gemetar.
Melepas Racun
Banyak hal berseliweran di kepala semalam yang membuat tangis pecah. Saya menyadarinya sebagai sebuah racun dalam diri yang perlu dikeluarkan. Bagi saya, menulis itu menyembuhkan. Saya memutuskan untuk membuang semua racun itu di sini, lalu mengendapkan pikiran, berpikir ulang dan kembali dalam keadaan yang lebih baik. Saya harap, benang yang kusutnya minta ampun di dalam kepala, bisa terurai.

Pertama, saya sedang berada di titik terendah dalam karir. Saya merasa bodoh, nggak bisa ngerjain soal ini-itu, nggak bisa membuat pembahasan yang enak untuk siswa, pengetahuan saya dangkal, dan lain-lain, dan lain-lain. Pokoknya semua yang membuat saya merasa minder dengan kemampuan diri sendiri. Saya nggak tahu kenapa pikiran itu tiba-tiba datang. Entah karena ada orang baru yang memang sangat pintar, lalu membuat siswa enggan bertanya pada saya lagi. Tapi, orang yang dulu juga sangat pintar. Diri saya tetap baik-baik saja. Saya nggak pernah merasa seperti ini, dan saya tetap merasa nyaman di sana. Mungkin karena orang yang dulu selain pintar juga peka, jadinya beliau nggak mau terlalu mengekspos kemampuannya yang cemerlang itu di depan saya. Sementara yang baru melakukannya. Saya jadi malas ke kantor, saya malas melihat kejadian-kejadian yang membuat diri semakin tak mampu. Saya lebih senang berada di tempat lain. Dan, saya lebih senang menghilang dari sana. Tak terlihat dan tak melihat yang membuat saya jatuh.

Saya pernah membicarakan ini pada teman satu bidang studi. Saya nggak tahu, dia ini tipe orang yang seperti apa. Dia ini selalu berpikir positif dan entah dia punya pikiran-pikiran seperti saya atau nggak. Dia bilang ke saya “nggak ada orang yang bodoh”. Saat itu saya sedikit bersemangat, lalu belajar lagi. Tapi rasa minder itu nggak kunjung hilang dan membuat saya nggak nyaman lagi. Kemarin tiba-tiba seorang rekan kerja yang cemerlang tapi perasa di atas berbicara kepada saya. Katanya, selama saya hilang-hilangan, saya dicari siswa. Hati saya sedikit terenyuh. Bukan karena saya merasa dibutuhkan, tetapi karena rekan kerja saya itu peduli dengan saya di sana. Mungkin dia sudah merasa saya kok mulai sering hilang.
Kedua, ini tentang luka yang saya yakin nggak pernah selesai sebelum saya pindah. Tentang seorang teman yang saya sayangi, tapi kok dia justru seperti itu. Dia sering membohongi saya, sekedar urusan pergi ke mana dan dengan siapa. Oke, saya terima. Beberapa hari setelahnya hubungan kembali cair, padahal sebelumnya saya sudah memutuskan untuk nggak peduli lagi sama dia. Tapi kok kemarin saya merasa seperti itu lagi. Kemarin, dia beli sarapan sendirian, demi membelikan sarapan seorang cowok. Biasanya, dia nggak mau beli sarapan sendirian. Kalau beli, kita berdua. Atau justru saya sendirian yang beli, untuk dia juga. Bahkan, dulu waktu saya sakit, dia nggak mau membelikan saya sarapan. Dia menyuruh saya go food saja. Karena dia sedang malas beli dan akan mengurus sarapannya sendiri nanti. Dia bahkan nggak peduli saya makan atau nggak saat sedang sakit. Sementara dia mau-maunya beli sarapan untuk cowok itu. Saya jadi semakin ‘sakit’ dan merasa beberapa hal yang membuat hubungan kita cair kemarin nggak ada apa-apanya. Hilang begitu saja, lenyap, nggak menyisakan makna apa pun.

Ketiga, saya mulai memikirkan orang tua yang jauh di Kudus. Saya ingin merawat mereka di hari tua, tapi saya nggak bisa kembali ke Kudus dalam waktu dekat tanpa rencana apa pun. Tahun depan, saya masih ingin bekerja di luar kota. Tetapi, saya juga ingin menemani orang tua saya. Saya juga mulai memikirkan menikah. Orang tua saya nggak pernah minta saya cepat menikah. Justru mereka menyabarkan kalau jodoh belum datang. Tapi, saya yakin orang tua saya ingin melihat pernikahan anak bungsunya ini. Ya, tapinya saya jomblo. Saya nggak tahu harus bagaimana. Hidup saya di Jogja pun mulai jauh dari kata tujuan. Saya hidup begini-begini saja. Saya kerja, mengerjakan soal, belajar, istirahat, sudah. Karir menulis saya belum berkembang lagi. Saya lebih sering malas karena terlalu lelah secara psikis maupun fisik bekerja di sini. Saya jadi bingung, apa yang sebenarnya ingin saya raih di Jogja.

Memikirkan Kembali

Pertama, saya ingin mengobati perasaan sendiri. Saya ingin menghargai kemampuan diri sendiri, sambil terus berkembang. Seperti apa yang Pak Nur bilang, belajar dan terus berkembang. Walau beliau sering membully saya, tapi diam-diam selalu memotivasi. Beliau pernah bilang, modal saya masuk pertama ke sana jauh lebih baik daripada dia. Entah dia bohong atau nggak. Tapi saya tahu, tujuannya memotivasi saya agar lebih berkembang. Lalu saya tanya, kenapa dia bisa jadi secemerlang itu. Katanya, tergantung kita mau berkembang sejauh apa. Jadi, saya memutuskan untuk berkembang terus-menerus. Tanpa memikirkan apa-apa yang terjadi pada orang lain. Dan, menghindari apa yang bisa membuat perasaan saya menjadi kecut.

Kedua, saya sudah memutuskan untuk nggak menyayangi teman itu lagi. Masih banyak teman yang menyayangi saya, dan perlu diperlakukan baik. Untuk apa mengurusi teman yang bahkan nggak mau ngucapin ulang tahun padahal dia tahu saya sedang berulang tahun dan dulu saya rayakan kecil-kecilan? Masih banyak teman baik yang perlu dibalas kebaikannya.

Ketiga, saya nggak tahu masa depan. Saya nggak tahu tahun depan akan di mana dan ke mana. Tujuan saya ke Jogja jelas untuk berkembang. Dari segi apa pun. Maka, saya harus terus mengingat tujuan saya pindah Jogja. Biar hidup saya di sini mulai berkembang, nggak begini-begini saja. Dan, untuk orang tua saya, saya hanya bisa berdoa pada Allah. Agar apa yang mereka inginkan tentang saya terwujud. Saya menyayangi mereka. Saya ingin mereka bahagia, seperti mereka ingin melihat saya bahagia. Tuhan, kabulkanlah pinta mereka.