Tema
hari ini sebenarnya adalah “Put Your Music On Shuffle And Post The First Ten
Songs”. Tapi, lagu yang saya masukkan di HP mungkin tidak ada sepuluh.
Sedangkan yang ada di laptop ada ratusan dan itu bukan milik saya semuanya. Sewaktu
masih ngekost, beberapa teman sering mengisi laptop saya dengan lagu-lagu
favorit mereka. Jadi, saya ikut-ikutan Duo Tante (Tante Siska dan Tante Anggi) yang
terkadang mengganti tema. Dan, tema kali ini inspirasinya dari postingan Tante
Siska.
Tubuh
saya bukanlah tubuh Angelina Joulie. Tapi, inilah tubuh yang melindungi hati
saya. Tubuh yang memerangkap banyak lemak (Ha!). Dan, tubuh yang punya banyak
kekurangan di bagian mulut.
Dari
cerita ibu, saya tahu bahawa saat masih kecil, saya pernah terjatuh dari
sepeda. Kakak laki-laki saya yang memboncengkan. Saya jatuh telungkup, bagian
mulut terbentur. Entah peristiwa itu atau tidak yang membuat pertumbuhan gigi
bawah saya lebih maju daripada gigi atas. Semua teman-teman punya gigi atas
yang lebih menonol, tetapi saya tidak.
Tak
sampai disitu saja. Saat kelas dua SD, saya punya benjolan kecil di area dalam
mulut dan menempel pada gusi. Mereka menamainya semacam tumor. Saat dilakukan
operasi, mereka harus mencabut dua gigi depan bagian atas. Dan, sampai sekarang
hanya satu yang tumbuh. Itu membuat dereran gigi depan terdapat renggangan.
Tentu
saja saya malu dan tidak nyaman. Kedua telapak tangan saya selalu menutupi
mulut ketika tertawa. Saya juga tidak berani tertawa sampai terbahak lebar. Untuk
foto, saya tidak pernah memperlihatkan gigi saat tersenyum pada kamera.
Masalah
mulut dan gigi mungkin saja bisa dengan mudah diselesaikan jika pergi ke dokter
gigi. Tapi, kedua orang tua saya bukanlah orang yang mampu untuk melakukan itu.
Jadi, saya harus menerima ini semua. Tak jarang, teman-teman menyinggung tentang
gigi—saat kesal pada saya.
Kalau
diingat, hanya sedikit yang menyinggung perkara gigi di depan saya. Saya
berpikir bahwa mungkin saja mereka yang tidak membicarakan tentang gigi, tidak
ingin membuat saya sakit hati. Karena saya tidak pernah melukai hati mereka.
Buat apa melukai hati saya hanya dengan “mengejek” kekurangan fisik. Pikiran
itu mengantarkan saya pada pemahaman bahwa orang lain lebih menghargai hati
saya daripada fisik. Jadi, saya tidak minder untuk berteman dengan mereka.
Sedangkan
tentang memperlihatkan gigi saya saat tersenyum pada kamera, saya belum bisa.
Rasanya tidak percaya diri.


0 komentar:
Posting Komentar