Tema
challenge hari ini, mirip dengan tema
challenge lain yang saya ikuti. Saya
sudah pernah menulis dengan tema serupa di sini. Jadi, saya berinisiatif untuk membahas
hal lain, yang masih ada hubungannya dengan film.
Judul-judul
film yang saya sebutkan pada tulisan sebelumnya, bukan termasuk jenis film “menegangkan”.
Saya memang kurang menyukai film-film tragis dan genre horor. Walau saya suka serial detektif. Saya juga bukan
termasuk orang yang suka dikejutkan oleh film. Justru lebih senang dengar orang
spoiler atau baca review terlebih
dahulu. Hahaha!
Mungkin,
semua itu berhubungan dengan salah satu kelemahan saya yang tidak tahan pressure. Atau ada hubungannya dengan jantung
saya yang pernah bermasalah waktu kecil. Jantung saya tidak suka debaran yang
terlalu berlebihan.
Maka,
saya memang menghindari film-film “ngeri”. Karena merasa tidak kuat. Ini juga
berlaku untuk buku yang saya baca. Beberapa kali pernah mencoba nonton film
semacam Vertikal Limit. Hasilnya, saya berhenti di tengah, tidak kuat. Dan saya
tidak penasaran sama sekali dengan kelanjutan ceritanya. Padahal, biasaya termasuk
orang yang sering penasaran dengan akhir sebuah kisah.
Untuk
film horor, saya benar-benar tidak menontonnya. Karena film horor sering menampilkan
adegan yang terlalu tiba-tiba dan mengejutkan. Saya tahu, memang itu ciri khas
film horor agar mengejutkan penonton. Ditambah sound efek yang semakin memberi efek kejut pada penonton. Nah,
kalau untuk sound efek film horor,
saya benar-benar membencinya. Bahkan suara lebih bisa membuat jantung saya
tidak nyaman.
Dulu,
saat The Conjuring sedang hits, saya lebih memilih dibilang cupu daripada
memaksakan diri nonton. Mendengar suaranya saja saya tidak kuat. Suatu kali,
teman kost saya menontonnya bersama lewat laptop, di malam hari. Hanya saya
yang tidak ikut dan berdiam di kamar. Saya memberi alasan banyak tugas. Karena
biasanya, mereka yang saya beri tahu tentang problem jantung ini, tidak mengerti
benar dengan keadaan. Mengatakan saya hanya beralasan untuk menutupi kecupuan dalam
menonton film horor atau untuk menutupi rasa takut. Nyatanya, saya lebih berani
ke kamar mandi—yang letaknya di luar, terpisah dengan rumah—seorang diri di
tengah malam.
Waktu
itu, malam sudah hening dan volume dipilih yang tinggi. Terpaksa telinga saya
mendengar suara dari film itu. Baru sebentar, saya sudah tidak kuat, berdebar,
dan rasanya ingin mencengkeram dada kuat-kuat. Maka, yang bisa saya lakukan
hanyalah memasang headset, mendengar
lagu, kemudian menenggelamkan kepala di bawah bantal.
Saya
tidak tahu, apakah kelemahan ini bisa dilawan atau tidak. Tapi, saya semakin
rela dibilang cupu atau lemah mental karena tidak berani nonton film horor—walau
sedang hits. Karena saya lebih senang membuat diri ini nyaman daripada dibilang
keren atau pemberani dengan satu sudut pandang saja.


0 komentar:
Posting Komentar