Tanggal
lima belas itu hari Minggu. Aku memang baru sempat menuliskannya setelah hari
Minggu. Pun baru bisa mempostingnya di hari lain. Tapi, yang kutuliskan kali
ini kegiatan yang kulakukan di hari Minggu kemarin.
Selepas
subuh, aku mengunduh tutorial scrapbook.
Hanya sebentar, karena waktu itu, keponakanku yang masih TK, datang dari
Temanggung. Jadi, aku menemaninya makan roti bakar sisa semalam, saat dia baru
bangun. Sebenarnya, Mbakku, suaminya dan keponakanku sering datang di hari
Minggu ke rumah. Kadang seminggu sekali, kadang dua minggu sekali. Tergantung
seberapa laris dagangan (pakaian) yang dijual Mbakku. Kalau sudah habis, dia
akan ke Kudus untuk menyetok barang dagangnnya. Dan, saat ponakanku datang, tidak
banyak yang bisa kulakukan. Beberapa kerjaanku pasti tertunda. Karena dia akan
bermain dan berulah ke seisi rumah. Tidak ada tempat yang “aman” untuk membuka
laptop sekali pun. Tidak ada kenyamanan membaca—karena aku biasa membaca tanpa
keributan. Tapi, kalau tidak ada dia ya, rumah sepi.
Minggu
kemarin, aku lebih banyak main sama dia. Makan es krim bareng, makan kojek
(aduh, namanya apa ya. Semacam bakso kecil-kecil, lebih banyak tepungnya
daripada dagingnya. Haha) bareng, dan nyanyi bareng lagu-lagu yang diajarkan
oleh gurunya di TK.
Agaknya
kemarin aku sedikit beruntung. Karena setelah itu, dia lebih banyak bermain
bola di luar rumah. Bukan nyanyi satu album Bintang Kejora, Bintang Kecil, dan
lain-lain, denganku. Jadi, aku bisa membaca novel Happily Ever After by Winna
Efendi, mengerjakan beberapa soal fisika di buku latihan, mengerjakan Handbook week 6 Sekolah Inggris, dan melunasi hutang menulis. Sebelumnya, aku
hutang dua tulisan pada Challenge Menulis @30haribercerita di Instagram. Sungguh,
Minggu kemarin aku bahagia karena bisa menulis di waktu-waktu sempit seperti
itu.
Ah
iya, aku juga mencuci baju, seperti biasanya. Kemudian menengok tetangga yang
baru saja melahirkan anak ketiganya. Dia melahirkan seorang anak perempuan,
diberi nama Zidni. Keluarganya sangat bersyukur, karena proses ini tidak mudah.
Beberapa bidan dan dokter menyarankan untuk operasi. Karena sudah lewat
beberapa hari dari perkiraan waktu lahir. Tapi, akhirnya proses lahirannya
normal.
Malamnya,
saat ponakanku sudah kembali ke Temanggung, aku mengikuti temu online Sekolah Inggris, menonton video
tutorial scrapbook yang tadi kuunduh, menonton beberapa video masak, dan
menonton TV. Ada satu acara dan satu segmen dari acara itu yang rasanya tidak
ingin kulewatkan. Di Net, ada acara Waktu
Indonesia Bercanda yang dibawakan oleh Cak Lontong. Dan segmen TTS (Teka-Teki Sulit) tidak ingin
kulewatkan. Karena itu membuat diriku ikut memikirkan jawabannya. Jawaban yang
melenceng dan keluar dari batas normal berpikir. Itu, asyik. Hahaha.
Ini
salah satu contohnya, kuambil dari sini:
3 (mendatar) tidak boleh masuk kelas –
jawaban = lalat
5 (mendatar) sayur yang enak sekali –
jawaban = lodeh
4 (mendatar) kadang panas kadang dingin
– jawaban –Depok
2 (menurun) Jembatan yang menghubungkan
Surabaya dan Madura – jawaban = Sudahada
5 (menurun) Binatang yang hinggap di
makanan – jawaban = lapar
6 (menurun) Tak ada … yang tak retak –
jawaban = beling
8 (menurun) Tidak ditemukan – jawaban =
dicari
Lihat
nomor 3, kalau orang normal pasti berpikir jawabannya telat. Nomor 8 juga,
orang-orang akan berpikir kalau jawabannya Suramadu. Tapi, ternyata apa yang
dipikirkan orang-orang salah. Hanya sedikit saja yang bisa memecahkan teka-teki
ini. Namanya juga teka-teki sulit. Aku merasa ini seru dan lucu.



0 komentar:
Posting Komentar