Senin, 12 November 2018

Tentang Bapak: Pandangan Hidup dan Bagaimana Hidup Seharusnya




Di twitter banyak bertebaran tagar #HariAyahNasional. Saya jadi teringat Bapak dan apa-apa yang pernah kita lalui bersama. Pun teringat dengan semua nasihat dan apa pun yang Bapak ajarkan tentang hidup, yang ternyata membentuk pola pikir saya sekarang tentang hidup.
Waktu kecil, sebelum tidur, terutama saat tak bisa tidur, Bapak mendongeng untukku. Bukan tentang seorang putri yang membuat istana dari es. Bapak mendongeng tanpa buku. Cerita keluar begitu saja dari mulutnya. Tentang kancil yang cerdik, ande-ande lumut, jaka tarub, asal-usul daerah, sunan-sunan dan tentang nabi-nabi. Suasana kamar temaram, Bapak mulai bercerita, hingga suaranya lirih karena mulai mengantuk. Tapi, Bapak akan terus bercerita hingga saya tertidur nyenyak.
Saat ada bulusan (tradisi kupatan di Kudus), atau acara tradisi lainnya, Bapak selalu menyempatkan untuk mengajakku. Dibonceng sepeda onthel, kakiku diikat, kita pergi ke sana. Bapak milih waktu yang bukan puncak, biasanya di awal, agar tak terlalu ramai (eh, mungkin ini salah satu sebab saya nggak terlalu suka keramaian. hehe). Pulangnya, kita beli martabak telur. Di rumah, martabak dimakan bersama. Saya, mas dan mbak masing-masing dapat dua potong biasanya. Saya jarang sekali membeli mainan seperti anak-anak lain. Pernah suatu kali Bapak membelikan saya mainan dari keramik yang sedang hits pada masanya. Di depan rumah, saya terjatuh saat turun dan keramik-keramik itu pecah. Saya sedih sekali, sementara Bapak tak punya uang untuk beli lagi. Akhirnya, malam itu juga, Bapak mengelem keramik-keramik itu. Hari berikutnya, saya bermain ke rumah seorang teman. Dia punya keramik-keramik mainan itu lebih banyak dari saya dan dipajang indah di tempatnya. Saat pulang, Bapak tahu saya juga ingin keramik milik sendiri dipajang. Jadi bapak membuatkan sendiri tempat keramiknya. Memang tak seindah dengan yang dijual, tapi buat saya itu bagus sekali.
Saat terima rapot, nilai yang dilihat pertama oleh Bapak adalah nilai pelajaran Agama. Nilai lainnya tak pernah dilihat. Bapak akan marah jika nilai matematika saya tinggi sekali, tetapi nilai agama rendah. Sampai dewasa, Bapak tak pernah menuntut apa-apa. Tak pernah menuntut saya untuk PNS, jadi orang kaya, atau bahkan menikahi orang kaya (Hahaha!). Hanya meminta saya jangan lupa shalat, ngaji dan puasa. Jika saya merantau ke luar kota, saya pasti dikasih bekal tasbih dan al quran. Dan pesan, shalat dhuhanya jangan sampai lupa, baca al waqiah setelah shalat ashar/subuh dan tasbih sebelum tidur.
Cara Bapak memandang hidup dan menjalani hidup juga saya jadikan pelajaran. Saat saya masih kelas satu SD, saya menderita suatu penyakit yang susah disembuhkan. Bapak memberobatkan saya ke mana-mana. Bahkan sampai ke luar kota. Bapak tak pernah mengeluh, tak pernah mengganggap saya sebagai anak yang hanya menjadi beban. Tapi, Bapak sabar menjalani semuanya. Sembari terus berusaha menyembuhkan saya, Bapak juga memasrahkan semuanya pada Tuhan. Mungkin cobaan hidup lewat saya selama beberapa waktu lalu itu yang menjadikan Bapak semakin bijak dalam memandang hidup.
Di sela-sela nonton TV bersama, Bapak selalu menasihati saya. Tentang apa pun. Kadang, tiba-tiba nyeletuk “kalau nyari suami nomer satu agamanya.” Padahal kita tidak sedang membicarakan pasangan hidup atau nonton drama. Kita sedang nonton bola bersama. Selepas lulus kuliah, Bapak bilang “kalau nyari kerja, yang penting kamu seneng. nggak usah mikirin setor gaji buat orang tua. dan yang paling penting tempat kerjanya longgar buat ibadah.” Kadang saat saya usai mengeluh, nasihat itu datang. Misal saat saya mengeluhkan seorang teman yang suka mengusik dan menggunjingkan saya. Bapak bilang “kita itu harus berbuat baik sama semua orang. Jangankan sama orang, sama semut pun kita disuruh untuk berbuat baik.” Dan masih banyak lagi nasihat lainnya.
Mungkin apa-apa yang Bapak lakukan pada saya dari dulu sampai sekaranglah yang membentuk pola pikir saya tentang hidup. Saya tak terlalu mementingkan materi, saya memandang seseorang bukan dari derajatnya atau gelarnya, tapi dari kebaikannya. Saya menjalani hidup dengan prinsip dasar bahwa hidup itu untuk berbuat kebaikan. Dan, kalau bisa saling bermanfaat untuk sesama.
Saya baru sadar dengan prinsip yang saya pegang sekarang, saya memang belum bisa membuatkan rumah yang lebih bagus untuk orang tua saya, atau membelikan mereka mobil, atau memberangkatkan mereka umroh. Entah Bapak menyesal atau tidak dengan semua ajarannya, hingga anaknya ini belum bisa melakukan apa-apa untuk beliau. Hihihi. Yang jelas, atas apa yang Bapak ajarkan, saya selalu menyempatkan untuk beli koran yang dijual seorang anak di jalan hanya karena tak tega. Semoga Bapak bangga dengan yang kulakukan! Hahaha~~~
Duh, jadi kangen kan sama rumah. Kangen sama suara ceramah radio yang tiap pagi Bapak dengarkan. Kangen sama celetukan nasihat-nasihat Bapak di sela nonton TV. Kangen sama obrolan-obrolan bermutu dengan Bapak (Eits jangan salah, Bapak pernah membahas ketidaksetujuannya dengan lirik lagu Indonesia Raya yang versi panjang. Hehehe).
Setiap apa yang Bapak punya dan lakukan untukku, rasanya semuanya puitik sekali. Semoga Bapak selalu sehat. Dan, suatu saat nanti bisa ngobrol sama calonnya anakmu ini. Penasaran deh, calonku seperti apa dan bagaimana kalau ngobrol sama Bapak. Hihihi.

sumber gambar: google

Jogja, 12 Nov 18’.
Putri