Minggu, 20 Agustus 2017

#Renungan24: Tentang Berhenti

sumber gambar: google


Beberapa waktu lalu, aku membaca tulisan seorang teman. Tentang dia yang belum “beranjak”, sementara orang-orang di sekitarnya sudah berjalan ke ini-itu (baca: menikah, punya anak, peningkatan karir, dan lain-lain). Darinya, aku tahu bahwa selama ini yang kulakukan adalah berhenti.
Setelah lulus, aku bekerja freelance di sebuah bimbingan belajar. Sambil berharap ada perusahaan atau sekolah yang menghubungiku. Tahun pertama, aku masih memasukkan lamaran kerja ke mana-mana. Tapi tak ada yang nyangkut. Akhirnya, aku berhenti dan menerima diriku sebagai pekerja freelance.
Di awal kelulusan, aku juga punya sebuah mimpi untuk melanjutkan study. Berusaha mengejarnya, tetapi kadang aku mengesampingkannya. Karena ada prioritas hidup lain yang perlu kuurus. Hingga aku tiba pada sebuah simpulan bahwa suatu saat nanti aku akan mengejar impian itu lagi. Sekarang aku akan berhenti sejenak karena ada hal lain yang perlu kupikirkan.
Keputusan yang kubuat untuk berhenti ternyata menyakiti diriku sendiri. Saat melihat teman-teman yang menjelajah dunia luar, betapa aku merasa seperti katak yang memutuskan untuk tetap di dalam tempurung. Enggan keluar, memutuskan berhenti di dalam sana karena merasa nyaman. Padahal, ada banyak hal yang terlewatkan. Ada banyak hal yang kuimpikan dan seharusnya bisa kuraih asal aku tidak berhenti. Ada banyak hal yang mungkin saja bisa kuraih jika aku tetap bergerak.
Dua tahun lebih aku berhenti. Bertahan sebagai pekerja freelance, menikmati ketidakjelasan yang sama sepanjang tahun, menikmati kegelisahan yang sama setiap hari. Dua tahun lebih aku tidak berani mengambil keputusan. Sudah tahu ingin bergerak ke arah yang lebih baik, tapi yang kulakukan justru berhenti. Ternyata ini menyakitkan. Ya, berhenti adalah salah satu hal yang paling menyakitkan.
Dari rasa sakit itu, aku memutuskan untuk beranjak. Mungkin ada yang bilang sudah terlalu terlambat. Sesuatu yang sudah dijalani selama dua tahun lebih biasanya akan menjeratmu seperti sumur yang terlanjur diceburi. Kita akan susah beranjak. Tapi aku sudah tahu bagaimana sakitnya berhenti selama itu. Bagiku, lebih baik beranjak dengan kesusahan setengah mati daripada tetap berhenti. Maka, di akhir tahun ini, aku akan mengambil keputusan yang sudah kutunda selama dua tahun lebih. Karena aku sudah tidak punya waktu lagi untuk berhenti. Aku tidak punya pilihan lain selain terus bergerak dan beranjak.

*ditulis untuk #1minggu1cerita

Minggu, 13 Agustus 2017

Menikah Bagiku...

*dari kacamata seorang perempuan jomblo idealis

Suatu kali, saat seorang teman menikah, aku ikut berbahagia dan mengucapkan selamat padanya. Dia pun berterima kasih dan melanjutkan dengan kalimat, “yang sabar ya, Put. Jodohmu pasti akan segera datang dan kamu akan bahagia.” #hmmm
Di kesempatan lain, saat seorang teman sedang bahagia atas lahirnya seorang anak, aku pun mengucapkan selamat. Dan, jawaban yang kudapatkan, “seneng loh, punya anak. Seru juga. Makanya, kamu jangan kelamaan. Cepetlah nikah dan punya anak, biar bahagia.” #hmmm2
Dua keadaan itu, membuatku ingin lempar sendal. Hahahaha.
Di mata kedua temanku, mungkin menikah dan punya anak adalah satu-satunya tujuan hidup. Pencapaian tertinggi atas hidup yang sudah dilaluinya. Prioritas hidup yang harus segera dilaksanakan. Atau mungkin satu-satunya jalan untuk meraih kebahagiaan yang hakiki. Aku sama sekali tidak keberatan dengan pilihan hidup mereka. Maka, aku selalu mengucap selamat dan ikut berbahagia atas mereka yang merasa sedang berada di puncak kebahagiaan hidup.
Tapi dua jawaban yang mereka berikan kadang membuatku geram. Jawaban mereka seolah menyudutkanku pada tempat “orang-orang yang menderita karena belum menikah”. Ini kan cukup mengesalkan. Dulu, saat kesal, pernah terbersit pernyataan-pernyataan semacam: emang aku seneng punya pernikahan yang terlalu lebay (sering umbar kemesraan di media sosial) macam kalian? no, emang aku seneng punya suami pengetahuan cupet, yang seenaknya sendiri, tanpa dasar apa pun ngelarang-ngelarang istrinya bepergian walau itu untuk kebaikan/kebahagiaan? no, emang aku menginginkan rumah tangga cupet (dalam artian makna kehidupan) macam kalian? no.
Mereka menyamaratakan hidup orang lain dengan hidupnya. Dengan sempitnya, menerapkan tolak ukur kebahagiaan seseorang di usia matang adalah menikah, pada semua orang. Padahal kan, tidak semua orang berpikir seperti itu. Aku bahagia dengan apa yang kujalani sekarang. Bisa menulis tentang apa pun tanpa takut persepsi atau reaksi pembaca, bisa makan apa pun tanpa takut gendut, bisa tidur nyenyak tanpa memikirkan persoalan yang terlalu pelik, bisa membelikan emakku sebungkus nasi rawut depan Perumahan Megawon yang enak, bisa mengajari ponakanku nulis cerita, bisa berbagai sesuatu pada orang lain, dan bisa-bisa lainnya yang masih banyak lagi. Intinya, aku bahagia dengan melakukan apa pun yang kuinginkan.
Prioritas utama hidup seseorang dengan orang lain juga berbeda. Maka, aku menghormati mereka yang memprioritaskan menikah dalam hidupnya. Menginjak usia 20-an lebih dikit, kemudian menikah. Silakan, aku sama sekali tidak terganggu dengan itu semua. Tapi aku tidak berminat mengikuti jejak kalian (yaiyalah mbak, enggak punya calon juga. hahaha). Setidaknya, prioritas utamaku yang sekarang bukanlah menikah. Masih banyak catatan impian yang kuangankan untuk tercapai.
Pencapaian tertinggi di benak sejuta umat manusia juga beda-beda. Kalau bagi orang lain pencapaian tertinggi adalah menikah-punya anak-punya anak lagi-punya rumah-dan seterusnya, ya tidak ada salahnya. Aku sama sekali tidak menyalahkan atau keberatan. Jadi ya jangan menyalahkan kalau di benakku pencapaian tertinggi berbeda dengan kalian. Karena aku—ehm, mungkin ini terlalu naif—ingin bermanfaat untuk orang lain, walau sedikit saja.
Di kepalaku, menikah bukanlah pencapaian tertinggi atau prioritas utama hidup, melainkan satu fase kehidupan yang suatu saat akan dijalani. Sama seperti bersekolah, beranjak dewasa, dan menjadi tua. Bedanya, menikah lebih serius daripada mulai masuk sekolah. Dan, sesuatu yang lebih serius harus dipikirkan-dipersiapkan dengan serius pula. #apasih
Tentang diri sendiri yang sudah siap menikah secara lahir dan batin. Tentang karakter ‘si partner’ yang benar-benar akan bersamamu seumur hidup. Dan, tentang keberlangsungan rumah tangga nantinya. Itu perlu dipersiapkan. Coba saja, kalau mental belum siap. Jangan-jangan setelah menikah, kerjaannya cuma update status di media sosial tentang kemesraan dengan suami yang sebenarnya tak perlu diketahui publik. Perkara mengurus rumah, menghadapi konflik-konflik rumah tangga, ternyata belum terampil. Bagiku, ini butuh persiapan lebih. Kalau kalian tidak berpendapat sepertiku, ya tidak apa-apa.
Orang lain memang tidak perlu tahu tentang semua idealismeku dan pemikiranku tentang menikah. Aku juga tidak perlu tahu itu semua di mata orang lain. Kita hanya perlu saling menghormati. Kalau nyatanya tidak bisa, aku yakin orang-orang yang “menghakimiku” sebenarnya bukanlah orang dekat, bukanlah orang yang punya rasa sayang.
Karena yang dekat denganku, biasanya tahu apa tujuan hidupku, apa makna pernikahan bagiku. Dan, orang yang sayang padaku, akan menghargai apa pun yang ada di kepalaku, sekalipun itu berseberangan dengannya.


Minggu, 06 Agustus 2017

Masalah Disiplin

Aku punya masalah dengan si disiplin. Dari dulu, masalah ini tidak bisa kupecahkan walau sudah mencoba berbagai cara.
Orang-orang bilang, dengan membuat jadwal harian, maka masalah disiplin bisa tertasi. Aku pun menuruti mereka. Setiap malam, sebelum tidur, aku membuat jadwal harian tentang apa saja yang harus kulakukan besok. Kutullis runut dari pagi sampai malam, beserta dengan jamnya. Sehari, dua hari, semua berjalan mulus. Tapi, belum sampai seminggu, semua kembali seperti semula. Aku gagal disiplin.
Merenungi kegagalan itu, sebuah web menjawabnya bahwa terlalu rinci menulis jadwal kegiatan juga tidak terlalu bagus. Maka, aku mencoba lagi. Mengganti jadwal harian dengan “list to do” setiap hari. Tiap malam atau pagi, aku menuliskannya. Belum ada seminggu, aku sudah gagal lagi.
Pengingat atau memo atau semacamnya juga pernah kulakukan. Kutulis di kertas kemudian kutempel di tembok. Ditambah lagi menuliskannya di ponsel. Tujuannya, suapaya aku selalu ingat dan terngiang-ngiang dengan niat (baik) berdisiplin. Hasilnya, sampai bulan kemarin, di wallpaper depan ponselku terdapat sebuah memo yang harusnya kulakukan bulan lalu. Hahaha! Aku gagal lagi.
Beberapa cara lain sudah pernah kucoba, yang bahkan aku sudah lupa cara seperti apa itu. Hahaha. Ketiga cara di atas adalah yang kuingat dan kuterapkan dalam waktu dekat ini. Saat disodori tema ini, aku berpikir bahwa kemageranku ini sudah terlalu akut. Tidak bisa ditangani dengan cara mana pun. Lalu, aku berpikir lebih lanjut, bahwa mungkin saja di dalam diri setiap manusia terdapat “rasa ingin melanggar” aturan. Hingga aku melanggar aturan—semua kegiatan yang ingin dilakukan—yang kubuat sendiri. Di pikiranku juga terbersit bahwa mungkin saja aku ditakdirkan untuk tidak disiplin. *teori apaan ini?
Tapi, jika aku kembali ke bulan januari, aku melihat sesuatu yang berbeda. Di bulan januari, aku ikut 30DaysWritingChallenges, 10HariTantatanMenulisKF, dan 30HariBercerita di Instagram. Di blogku, ada tiga puluh lebih tulisan yang terbit pada bulan itu. Artinya, aku juga bisa disiplin walau dalam keadaan jadwal di bimbel sedang padat. Jika diingat, aku menulis di ponsel sepulang dari bimbel, saat badan benar-benar lelah. Sambil tiduran dengan maksud istirahat, aku menulis semua itu. Paginya, saat badan sudah fresh, aku edit tulisan semalam kemudian posting di blog. Kadang sehari satu tulisan bisa dituliskan. Tak jarang juga aku absen menulis sehari dua hari, karena terlalu lelah atau ada hal-hal yang mendadak menyita waktu. Kalau itu terjadi, yang kulakukan adalah menggantinya di hari lain. Semua tulisan harus selesai di 31 Januari. Dan, aku benar-benar menyelesaikannya! Prok prok prok~
Sekarang, ada beberapa tulisan yang kuanggap sebagai hutang, tapi tak kunjung kucicil pelunasannya. Hihihi. Aku mulai berpikir bahwa mager atau malas adalah satu-satunya penyebab ketidakdisiplinan diri. Dan, mindset adalah satu-satunya obat untuk itu. Semua berpangkal pada pikiran. Jadi, mulai sekarang, aku akan memperbaiki pikiranku untuk tetap lurus berdisiplin.
Semoga bisa, yes?

*ditulis untuk satu minggu satu cerita