sumber gambar: google
Beberapa
waktu lalu, aku membaca tulisan seorang teman. Tentang dia yang belum “beranjak”,
sementara orang-orang di sekitarnya sudah berjalan ke ini-itu (baca: menikah,
punya anak, peningkatan karir, dan lain-lain). Darinya, aku tahu bahwa selama
ini yang kulakukan adalah berhenti.
Setelah
lulus, aku bekerja freelance di sebuah bimbingan belajar. Sambil berharap ada
perusahaan atau sekolah yang menghubungiku. Tahun pertama, aku masih memasukkan
lamaran kerja ke mana-mana. Tapi tak ada yang nyangkut. Akhirnya, aku berhenti
dan menerima diriku sebagai pekerja freelance.
Di
awal kelulusan, aku juga punya sebuah mimpi untuk melanjutkan study. Berusaha
mengejarnya, tetapi kadang aku mengesampingkannya. Karena ada prioritas hidup
lain yang perlu kuurus. Hingga aku tiba pada sebuah simpulan bahwa suatu saat
nanti aku akan mengejar impian itu lagi. Sekarang aku akan berhenti sejenak
karena ada hal lain yang perlu kupikirkan.
Keputusan
yang kubuat untuk berhenti ternyata menyakiti diriku sendiri. Saat melihat
teman-teman yang menjelajah dunia luar, betapa aku merasa seperti katak yang
memutuskan untuk tetap di dalam tempurung. Enggan keluar, memutuskan berhenti
di dalam sana karena merasa nyaman. Padahal, ada banyak hal yang terlewatkan. Ada
banyak hal yang kuimpikan dan seharusnya bisa kuraih asal aku tidak berhenti. Ada
banyak hal yang mungkin saja bisa kuraih jika aku tetap bergerak.
Dua
tahun lebih aku berhenti. Bertahan sebagai pekerja freelance, menikmati
ketidakjelasan yang sama sepanjang tahun, menikmati kegelisahan yang sama setiap
hari. Dua tahun lebih aku tidak berani mengambil keputusan. Sudah tahu ingin
bergerak ke arah yang lebih baik, tapi yang kulakukan justru berhenti. Ternyata
ini menyakitkan. Ya, berhenti adalah salah satu hal yang paling menyakitkan.
Dari
rasa sakit itu, aku memutuskan untuk beranjak. Mungkin ada yang bilang sudah
terlalu terlambat. Sesuatu yang sudah dijalani selama dua tahun lebih biasanya
akan menjeratmu seperti sumur yang terlanjur diceburi. Kita akan susah
beranjak. Tapi aku sudah tahu bagaimana sakitnya berhenti selama itu. Bagiku,
lebih baik beranjak dengan kesusahan setengah mati daripada tetap berhenti.
Maka, di akhir tahun ini, aku akan mengambil keputusan yang sudah kutunda
selama dua tahun lebih. Karena aku sudah tidak punya waktu lagi untuk berhenti.
Aku tidak punya pilihan lain selain terus bergerak dan beranjak.
*ditulis
untuk #1minggu1cerita

