Sebenarnya,
ada beberapa hal yang menyita “perhatian berlebih”-ku. Paling besar, ada di dunia
pendidikan. Mungkin karena dunia ini dekat denganku. Yah, walau aku hanya
seorang guru les di sebuah bimbingan belajar. Tapi, rasanya aku makin sayang
dengan pendidikan. Makin sayang dengan siswa yang harus dimuliakan seperti
seorang anak—yang dilahirkan sendiri. Anak yang dipaksa menjalankan sistem berubah-ubah
oleh pemerintah.
Aku
tahu, pemerintah mengganti sistem A ke sistem B atau bahkan ke sistem F dalam
kurun waktu tertentu, dengan niat menjadikan pendidikan lebih maju. Berusaha
menjadikan kita bisa berdiri di tangga yang sama dengan negara lain. Tapi,
apakah itu yang dibutuhkan oleh seorang siswa? Aku menyaksikan sendiri, betapa
frustasinya anak kelas tiga SMA sekarang. Sistem UN yang diganti dalam sekejap
dan Full Day School yang akan mulai
diterapkan di kotaku bulan depan. Betapa semua ini membuat mereka tertekan.
Dan, apakah ini benar-benar yang dibutuhkan siswa?
Dari
lima puluh lebih siswa kelas dua SMA yang kuajar, tak satu pun dari mereka tahu
apa yang disukainya. Tak satu pun dari mereka tahu, apa yang diinginkannya
nanti, setelah lulus. Mereka hanya tahu bahwa tugas mereka sangat banyak dan menumpuk.
Semuanya harus selesai. Tak peduli bahwa yang mengerjakan PR adalah guru
lesnya. Tak peduli bahwa mereka tidak merasa belajar ketika menjalankan itu
semua. Mereka melakukannya karena itu harus dilakukan. Akhirnya, mereka hanya
melalui materi pelajaran begitu saja tanpa mengambil “pengetahuan” darinya.
Mereka
juga tidak diberi waktu untuk menemukan dirinya sendiri. Menemukan apa yang
dicintainya. Menemukan apa yang diinginkannya. Dari SD-SMA, kurang lebih 12
tahun, mereka hanya tahu bahwa mereka sedang dijejali dengan banyak hal. Bukan bersenang-senang
dengan apa yang sedang mereka pelajari. Bukan mengambil pengetahuan itu sebagai
sesuatu berharga yang mereka punya. Setelah terima rapot, maka mereka akan
merasa bebas. Pengetahuan yang didapat selama satu semester, akan dilupakannya
begitu saja. Karena mereka merasa kewajiban di semester itu sudah selesai.
Entahlah,
aku tidak mengerti apakah yang kupikirkan itu benar atau sebaliknya. Aku hanya coba
sedikit membantu mereka menggali diri.
Itu
baru satu hal dari dunia pendidikan. Masih ada pendidikan karakter, pendidikan
berbasis alam dan lingkungan, kekerasan-kekerasan di dunia pendidikan (yang
dilakukan guru pada siswa atau sebaliknya), minat baca dan literasi siswa, dan
pendidikan di pedalaman.
Tentang
pendidikan di pedalaman, aku merasa bahwa masalah kita di dunia pendidikan
terpisah jadi dua. Satu, masalah sistem pendidikan untuk daerah yang memang
sudah terjamah dengan sistem berubah-ubah (yang tadi itu). Dua, masalah
pemerataan pendidikan di daerah yang ditinggalkan oleh kemajuan. Di satu sisi
ada yang sedang meributkan tentang UNBK (Ujian Nasional Berbasis Komputer), di
sisi lain ada yang sedang meributkan gedung sekolah yang atapnya bocor dan tiangnya
sudah condong.
Aku
suka sekali mikir tentang semua ini sampai pusing. Sampai membuka sesi
konseling ringan dengan murid-murid les, agar mereka segera menemukan dirinya.
Sampai meminjamkan buku yang menurutku sesuai dengan karakter mereka dan
memaksa mereka membacanya. Sampai punya impian keliling ke sekolah-sekolah di
pedalaman Indonesia (Amin). Padahal kan, sudah ada menterinya sendiri yang
mikir ini semua. Hahaha!
Selain
dunia pendidikan, aku juga tertarik dengan psikologi anak, kesehatan mental, parenting, menu makanan sehat,
transportasi umum, hak-hak pejalan kaki dan pengendara sepeda, dan lain-lain.
Cukuplah, itu saja.


0 komentar:
Posting Komentar