Sebelumnya,
aku kurang antusias dengan tema challenge
hari ini. Aku berpikir dan mencari, tapi ternyata tidak menemukan siapa-siapa.
Tidak ada yang bisa kuceritakan. Hingga aku bertanya pada teman-teman di grup. Mereka
mengusulkan nama mantan. Awalnya aku berpikir tidak. Karena tidak ada yang
spesial dari pertemuan di tempat fotokopi, kemudian jadian, kemudian
diselingkuhi dan diwarnai drama, kemudian putus. Tapi, sekarang aku berpikir
lain. Tidak hanya itu yang bisa kuambil dari pertemuan kita. Pertemuanku dengan
dia adalah salah satu “trigger” perubahan
diriku.
Semuanya
bermula dari tempat fotokopi. Jam setengah sebelas malam, aku dan temanku harus
pergi ke fotokopi untuk menjilid tugas. Karena besok sebelum jam tujuh, tugas
bersama itu dikumpulkan. Kita sudah pergi ke beberapa tempat fotokopi yang
masih buka. Tapi, mereka kehabisan warna cover yang kita inginkan. Sekitar tiga
tempat fotokopi, semuanya kehabisan warna biru muda. Akhirnya, kita pergi ke
fotokopi agak jauh, di depan rumah makan.
Beberapa
menit kemudian, datang segerombolan laki-laki. Salah satunya, dia. Dia terus
melihatku—ini bukan GR, karena sewaktu kita pacaran, dia bercerita kalau masih
ingat baju yang kupakai saat itu. Aku juga tidak tahu kenapa. Saat itu, aku
masih polos, jadi hanya bisa menunduk. Coba kalau sekarang, sudah kukasih
tatapan asmara mungkin. Hhaha!
Pertemuan
kedua, masih di fotokopi lagi. Ini tempat fotokopi yang berbeda dari sebelumnya.
Aku sedang tergesa mencari kertas folio. Dari ujung kanan, kumasuki tempat
fotokopi. Hingga empat tempat, mereka semua kehabisan. Dan di tempat terakhir,
aku berpapasan dengan dia. Saling hadap-hadapan. Lagi-lagi, dia melihatku lama.
Selanjutnya,
kita mulai ngobrol lewat pesan di facebook. Mudah sekali menemukan akun
facebookku, karena kita satu lingkaran (satu jurusan, dan banyak temannya yang
sudah berteman denganku). Beberapa waktu berjalan, kita mulai ngobrol lewat
telpon hingga dia mulai berkunjung ke kostku. Standar saja sampai kita jadian.
Kemudian aku diselingkuhi dan kita putus.
Sebenarnya
aku tidak menyangka dia selingkuh. Dia orang yang baik dan lucu. Dia selalu
membuatku tertawa lepas. Tapi, dia—yang merupakan pacar pertamaku itu—malah memberikan
pengalaman hubungan cinta yang sangat drama dan menyakitkan. Sebelumnya aku memang
tidak pacaran. Hanya sering HTS saja. Haha! Pernah HTS selama dua tahun dan
cukup drama juga. Aku juga pernah gonta-ganti “teman dekat”. Semuanya tidak
berujung pada kata pacaran. Hanya dengan dia saja aku berpacaran. Dan itu
memberikan pelajaran sangat berharga. Mengubah diriku dan pandangan hidupku.
Aku
akan bercerita tentang rasa sakit yang sebenarnya sudah kulupakan. Ini agak
drama dan rumit. Sewaktu kita pacaran, ada satu nama perempuan yang muncul.
Perempuan itu pernah beberapa kali mengirim pesan dan menelepon pacarku—saat kita
sedang bersama. Aku tidak curiga, karena dia bilang hanya teman. Kemudian,
perempuan itu tiba-tiba mengirimi permintaan pertemanan di facebook. Dia juga
mengirim pesan. Menanyakan hubunganku dengan pacarku. Kubilang, kita pacaran.
Tapi, perempuan itu bilang, pacarku mendekati dia dan mengaku jomblo.
Beberapa
hari kemudian, aku kenal dengan mantannya pacarku. Aku lupa awalnya bagaimana,
tapi aku mendapatkan banyak cerita darinya—aku memanggilnya Mbak. Perempuan
yang mengirimiku pesan juga pernah menjadi penghancur hubungan mereka, dulu. Mbak
juga memberi tahuku bahwa pacarku memang sudah sering selingkuh. Sudah
penyakit. Ada beberapa nama yang dibeberkan. Setelah ku-croscek, ternyata
benar. Beberapa perempuan itu memang mesra dengan pacarku.
Saat
aku meminta penjelasan, hubungan kita jadi makin ruwet. Dan, pertengkaran
sering terjadi. Jujur saja, aku tidak suka pertengkaran atau kalimat yang
terlalu kasar. Tapi, dia mengatakannya padaku hingga kita putus. Saat itu, aku
merasa sangat sakit. Hanya rasa sakit yang berminggu-minggu bersamaku.
Aku
banyak berpikir dan merenung. Aku sadar, aku tak seburuk apa yang dia katakan. Sejak
itu, aku terbuka dengan banyak hal. Mencoba berbagai macam hal yang kusukai
atau sekedar ingin tahu. Aku mencari diriku di mana-mana. Kalau diingat, bahkan
ada beberapa hal yang kucoba dan saling berlawanan.
Pandanganku
tentang sebuah hubungan juga mulai berubah. Dulu, aku cepat sekali mendapatkan “teman
dekat” baru jika yang lama sudah jauh. Tapi, sejak saat itu, aku memang
memutuskan untuk berhenti dulu—eh, malah keterusan sampai 4 tahun, haha. Aku
ingin memberi jeda untuk diriku sendiri.
Ini
satu-satunya tulisan yang kudedikasikan untuk masa lalu pahitku itu. Sekalian
aku mau berterima kasih atas apa yang kulalui dan bagaimana caraku melaluinya,
dulu. Aku berterima kasih telah dipertemukan dengan dia dan diberi pengalaman
menyakitkan. Aku berterima kasih pada diriku sendiri yang mau berpikir,
merenung, berhenti sejenak dan mencari diriku yang lain. Kalau tidak, mungkin
saja aku tidak akan bertemu dengan diriku yang sekarang. Padahal, aku sangat
menyukai diriku yang sekarang. Pertemuanku
dengan dia adalah pertemuanku dengan diriku yang kusukai.
*eh
kok agak melenceng dari tema ya. Hihihi
*gambar
dipilih karena si cowok tinggi, mirip dia. Hihihi


Wah introspektif sekali wkwk si dia kira-kira bakal baca ini nggak, Put?
BalasHapus