sumber gambar: google
Yang
terbaik, yang pernah kulakukan
Mundur
beberapa tahun silam, saat aku masih duduk di bangku sekolah—SD, SMP dan SMA, hariku habis
untuk belajar. Sore, malam hari, selepas subuh, aku mengisi waktu dengan
belajar. Aku menyelesaikan Pekerjaan Rumah (PR), membaca dan mengerjakan
latihan berikutnya. Waktu belajar pun kutambah saat ulangan tengah semester dan
kenaikan kelas. Waktuku benar-benar kucurahkan untuk belajar.
Saat
kelas tiga SMP dan SMA, aku tidak pernah mendapat kesempatan les di bimbingan
belajar. Karena biayanya terlalu mahal. Sebagian besar teman-temanku masuk
bimbingan belajar. Katanya, untuk hasil ujian yang lebih baik, begitu kurang
lebih kalimat promosi bimbel. Saat itu, aku melihat teman-temanku punya
kesempatan belajar lebih banyak. Mereka diberi buku-buku panduan dari bimbel,
diberi cara-cara praktis. Aku ingin punya kesempatan seperti mereka. Maka, aku
meminjam buku panduan dan catatan teman dekatku. Seminggu sekali, tiap akhir
pekan, saat bimbel libur aku belajar buku temanku itu. Buatku, keterbatasan
bukanlah hambatan, melainkan tantangan.
Di
semester akhir kelas satu SMA, energi kuhabiskan untuk berjuang. Semester itu
adalah penentuan jurusan. Semua orang memandang bahwa IPA jurusan yang elegan,
dihuni oleh orang-orang dengan rangking terbaik. Buktinya, untuk masuk IPA, ada
standart nilai yang perlu dipenuhi. Jika tidak, maka akan dilempar ke jurusan
IPS atau Bahasa. Masyarakat juga memandang jurusan IPA spesial. Seorang anak
yang masuk jurusan IPA, akan mengangkat derajat orang tuanya di mata tetangga.
Begitulah sekiranya pandangan semua orang, yang pada saat itu juga mempengaruhi
pandanganku dan teman-teman. Kita semua berjuang untuk masuk IPA. Jadwal
belajar kutambah, hingga kadang lupa makan. Di akhir tahun ajaran, aku mendapatkan
apa yang kuinginkan. Tapi, aku juga mendapatkan penyakit maag yang lumayan
parah. Tiga minggu masa liburan hanya kugunakan untuk istirahat di rumah. Saat
itu, aku juga telah mengeluarkan usaha terbaikku.
Yang
terbaik, yang pernah kudapatkan
Enam
tahun belajar di SD, aku tak pernah melewatkan posisi pertama. Pernah suatu
kali aku tak berada di peringkat pertama. Tapi, mungkin ini karena sentimen
pribadi seorang pendidik. Lain kali, akan kubahas sendiri. Lulus ujian dengan
nilai yang baik. Bisa masuk SMP dan SMA yang bagus, sesuai harapanku.
Di
SMA, aku masuk jurusan IPA dan selalu peringkat dua di kelas. Itu pula yang mengantarkanku
masuk ke perguruan tinggi lewat jalur tanpa tes.
Saat
kuliah yang berkesan di benakku adalah memperjuangkan skripsi. Setiap hari
menunggu di depan ruangan dosen pembimbing. Dari pagi sampai menjelang malam.
Malamnya lembur revisi, sampai pagi. Tidur hanya tiga-empat jam saja. Hasilnya,
lulus sesuai waktu yang didambakan.
Apa
itu terbaik?
Setelah
lulus, aku mulai kehilangan definisi terbaik. Dulu, rangking satu dianggap yang
terbaik. IPK tertinggi juga yang terbaik. Lalu, apa pekerjaan dengan pangkat
tinggi itu terbaik? Aku mulai bingung ingin meraih apa. Ingin berusaha
seterbaik apa hingga aku bisa sampai di titik yang dulu kuanggap terbaik. Aku
tidak tahu, bingung, hingga semua itu mengantarkanku pada keadaan stagnan luar
biasa.
Sekarang,
aku hanya bisa mengerjakan apa pun seterbaik diriku. Walau itu hanya dalam
mencuci baju.
*untuk 1minggu1cerita
sebenarnya ini tema minggu
lalu. Nulisnya juga minggu lalu. Tapi, aku lupa upload dan setor karena berada
di luar kota.

