Hari
ini...
Cermin yang menggantikan dinding di depanku
memperlihatkan wajah berpeluh sepuluh orang di ruangan ini—termasuk aku. Satu
orang memimpin kita yang membuat formasi dua lapis. Empat orang di baris
pertama dan sisanya berselang-seling di baris kedua. Aku berada di baris
terakhir. Tentu saja pemimpin itu terlihat jelas dari tempatku berdiri. Formasi
ini sudah diatur sedekian rupa agar kita semua bisa mengikuti gerakannya.
Sayang, sore ini aku tak berniat mengoyak timbunan-timbunan lemak dalam tubuh.
Semangatku sedang tumbang.
Sekenanya saja aku mengikuti gerakan lima belas
menit pertama. Warming-up ini gagal
membuat ototku memanas. Dentuman musik semakin meningkat temponya. Lebih cepat
dan lebih cepat. Gerakan semua orang di depanku seragam. Posisi kedua kaki
membuka, seperti orang duduk pada kursi transparan. Otot paha dan perut ditekan
naik-turun. Mereka ikuti sesuai beat
musiknya. Mereka semakin cepat.
Aku tertinggal. Gerakanku melambat, tapi denyut
jantung semakin cepat. Keringat dingin mengucur. Dan... gelap.
***
Hening. Aku mengerjapkan mata dan mendapati rasa
pegal di punggung tangan sebelah kiri. Sebuah selang kecil ternyata
menghubungkanku pada infus yang tergantung di samping. Mataku kembali
mengerjap. Seolah mengira ini hanya terjadi di alam bawah sadar.
Beberapa kali membelalakkan mata semakin jelas saja
kantung infus itu. Otakku menyerah dengan perkiraan ini hanya mimpi. Karena aku
benar-benar sedang rebahan lemah di rumah sakit.
“Hei,”
Bara. Suara tenornya yang khas menyapa pelan.
Senyumku menjawabnya. Tipis saja.
“Nggak perlu kujelasin kan, kenapa kamu di sini?”
tanyanya dengan wajah sombong.
Senyumku mengembang lebih sempurna. Bak kue bolu
yang minggu lalu kita buat bersama. Bisa dibilang dia backing powder untuk senyumku.
“Minggu depan, mau bikin kue apalagi?” suaraku lemah
bertanya padanya yang berdiri di dekat jendela.
“Mungkin kita bisa coba donat kentang,” katanya
sambil melangkah ke dekatku, “minggu depannya lagi kita buat martabak cokelat.”
Matanya berbinar menyusun rencana masak mingguan
kita. Ah, kuralat. Dia yang memasak, aku hanya sedikit membantu. Pun membantu
menghabiskan kue yang sudah jadi.
Bara duduk di kursi, dekat dengan ranjangku.
“Apa kita bisa memasak bersama setiap hari? Tidak
hanya setiap minggu?” tanyanya dengan padangan mata mengikat mataku.
“Memasak setiap hari, di rumah kita...,” dia
melanjutkan perkataan dan memegang tanganku.
Aku menelan ludah. Akankah ini menjadi awal “kita” setelah sekian lama bersama?
***
Sebulan
yang lalu...
Dia menjemputku. Di depan tempat senam Zumba ini,
dia duduk di atas motor. Makan roti isi coklat ukuran jumbo sembari memperhatikan
perempuan-perempuan yang keluar dari pintu kaca. Matanya mengikuti jejak
perempuan yang dirasa cantik. Terkadang bibirnya tak sungkan bersiul. Menarik
perhatian perempuan, sepele saja baginya. Kalau dihitung, mantan pacarnya hampir
selusin.
Langkahku terpaku di depan pintu. Sepatu cats-ku seperti tertempel lem dengan
lantai. Tak bisa digerakkan. Mataku lekat menatap tingkahnya. Bertahun-tahun lamanya, kau tetap sama.
“Hei, ayooo...,” tangannya melambai mengomande
diriku untuk segera beranjak.
Cepat aku memakai helm dan duduk di belakangnya.
“Aku bakal rutin senam Zumba. Lima kali dalam
seminggu, setiap sore. Kamu harus jemput aku.”
Perintahku dengan nada sedikit becanda.
“Itu kayak aturan pemerintah aja, lima hari kerja.
Nggak bisa dikurangi tuh?”
Cubitan kecil kudaratkan ke pingganggnya. Biar tak
ada ocehan sepanjang jalan yang melelahkan ini.
“Aku nggak pernah setuju kamu ikutan senam Zam-zam
itu.”
“Zumba...,” kataku membenarkan sambil bersandar di
punggunggnya. Terus terang, aku memang sangat lelah.
Dan entah apa yang dia katakan lagi. Angin seolah
menelan perkataannya yang belum sampai ke telingaku.
***
Enam
bulan lalu...
Ini hari pertama aku mengikuti komunitas fotografi. Sebenarnya
aku tak berniat ikut, tapi salah satu temanku memaksa. Dia sedang butuh model perempuan berwajah sendu. Wajahku akan pas
jika dipadukan dengan senja yang muram, katanya. Karena aku bukan orang yang
pandai menolak—apalagi jika sudah ada yang memohon—maka kuputuskan untuk
membantu. Sekalipun aku sangat minim pengetahuan tentang fotografi dan
permodelan.
Di sanalah, aku bertemu dengan dia. Seorang
laki-laki bermata tajam yang menatapku agak sinis.
“Nggak. Nggak. Dia nggak cocok jadi model. Tubuhnya
nggak proporsional. Nggak bagus.”
Elaknya kemudian berlalu mencari objek lain di
pantai ini. Sepertinya dia lebih suka dengan panorama daripada manusia.
Beberapa kali aku mencuri pandang dan memerhatikan tingkahnya.
“Udah biarin aja, dia emang gitu orangnya. Suka ngejleb kalau ngomong,” temanku mencoba
menghibur.
Sementara aku melihat sesuatu yang lain dari
dirinya. Bagiku, dia menarik.
Setiap sabtu, aku selalu mengikuti komunitas
fotografi itu. Secara resmi aku tak mendaftar jadi member. Hanya mengikuti temanku saja. Alih-alih jadi model dadakan,
aku justru asyik memerhatikan laki-laki bermata tajam itu.
Banyak kudengar tentang dirinya. Statusnya yang
masih jomblo dan cerita tentang gadis idamannya. Kebanyakan tubuhnya langsing
dan proposional. Bahkan mantan terkahirnya rajin mengikuti senam Zumba.
***
Hari
ini, sebelum berangkat senam...
Laki-laki bermata tajam itu berada di café dekat
tempat senamku. Bisa dibilang aku sudah mengenalnya. Lima bulan berada dalam
satu komunitas membuatku mengenalnya lebih jauh. Benar saja firasatku pertama
dulu. Dia menarik. Selain pandai memotret dia juga pandai menggambar dan
melukis. Beberapa instrument seperti gitar dan piano pun dia kuasai. Dan... dia bukan laki-laki
yang mudah jatuh cinta. Pun tak mudah menggoda perempuan. Aku suka itu.
Kulihat dia duduk sendirian di sana. Wajahku berseri
saat menyapanya. Sesaat kemudian, seseorang yang dia tunggu datang. Seorang
perempuan dengan kaki jenjang dan tubuh langsing.
“Ini gebetan baruku,” katanya membanggakan dengan
senyum lebar.
Aku meninggalkan mereka dalam canda tawa yang tak
terbatas. Dan aku menyadari satu hal bahwa dia adalah laki-laki yang bisa
kulihat tapi tak akan pernah bisa kusentuh.
***
Bara
Hari
ini, di rumah sakit...
Dia tertidur begitu lelap, seperti beruang yang
hibernasi. Sayangnya dia tampak lebih kurus dari dirinya yang dulu. Aku
menatapnya lekat dan mengumpatkan kata bodoh untuknya. Sudah jelas dia mengidap
jantung bocor, masih aja maksa ikut senam Zumba.
Parahnya, cewek yang sekarang lagi tidur manis ini,
ikut senam Zam-zam cuma buat narik perhatian cowok idamannya. Cowok yang baru
dikenal enam bulan lalu lewat komunitas fotografi. Sial! Aku malah nyaman sama
cewek bodoh ini. Sudah bertahun-tahun aku bersamanya. Makan, jalan-jalan,
memasak, kita lakukan itu bersama. Aku tak pandai menghitung dan otakku suka
tetiba mogok kalau soal angka. Tahun-tahun yang kulewati dengannya entah sudah
sampai di angka berapa. Rasanya aku ingin melewati tahun-tahun berikutnya
bersama dia.
Matanya membuka sedikit demi sedikit.
“Hei,”
sapaku seperti biasa, “nggak perlu kujelasin kan, kenapa kamu di sini?”
Dia memaksa tersenyum tipis. Memang cuma dia
perempuan dengan sejuta perasaan nggak enak terhadap orang lain. Pernah suatu
kali dia terpaksa memakan habis kue lapis buatanku hingga tak kuat berjalan.
Hanya karena rasa nggak enak aku sudah memasak untuknya.
Aku menatap ke luar jendela. Sepertinya ini moment
yang tepat, pikirku.
“Minggu depan, mau bikin kue apalagi?” suaranya
lemah namun aku jelas mendengarnya.
“Mungkin kita bisa coba donat kentang,” kataku
sambil mendekat, “minggu depannya lagi kita buat martabak cokelat.”
Aku semakin dekat dan memutuskan duduk di dekatnya.
“Apa kita bisa memasak bersama setiap hari? Tidak
hanya setiap minggu?”
Mataku menatapnya lekat. Aku semakin mantap ini
waktunya.
“Memasak setiap hari, di rumah kita...,” kataku
sambil memegang tangannya.
Sesaat kita saling menatap. Sepi sejenak.
“Yaaa... rumahku kan rumahmu juga,” lanjutku
kemudian tertawa.
Dia ikut tertawa renyah. Ah, mungkin ini bukan
waktunya. Laki-laki yang matanya setajam silet itu, mungkin saja masih kau
sukai.
*ditulis untuk 1minggu1cerita



