Semakin
banyak mengenal orang lain, maka semakin banyak pula pandangan hidup yang saya
dapatkan dari mereka. Perbedaan pandangan hidup yang berbeda terlalu jauh,
kadang membuat saya mengernyitkan dahi dan merenunginya. Tak sampai ‘memusuhi’
pandangan hidupnya yang menurut saya kurang tepat. Tapi, kadang saya
mendapatkan perlakuan yang kurang mengenakkan dari orang lain ketika dia
memandang prinsip hidup saya keliru.
Teman
saya pernah bilang, kalau belanja di departemen store yang mahal sekali itu,
sebaiknya mengajak pacar. Biar baju yang harga satuannya hampir setengah juta
bisa terbeli tanpa menguras tabungan sendiri. Ingat, statusnya harus pacar
karena pacar akan memberikanmu apa pun. Kalau sudah jadi suami, itu takkan
terjadi. Saya hanya tersenyum mendengarnya. Sejujurnya, ini berlawanan dengan
diri saya. Sedari dulu, saya berpandangan bahwa pacar bukanlah orang yang harus
kita korek dompetnya, atau orang yang harus kita manfaatkan. Karena perkara
hati tidak bisa disandingkan dengan benda-benda. Saya lebih senang berada di
sebuah taman dengan pacar untuk membicarakan buku, tumbuhan, bumi dan kehidupan
daripada menggandenganya ke mall. Dan tentang belanja atau benda-benda yang
perlu dibeli, saya lebih nyaman jika membelinya dengan hasil keringat sendiri.
Saat
bersama dengan orang-orang yang tak berpikiran sama, kadang saya menerima
perlakuan kurang enak. Mulai dari mereka menggap saya polos, terlalu naif, lugu
atau tidak mengerti dengan yang namanya memperlakukan pacar. Padahal saya tidak
pernah menganggap mereka ‘cetek’.

Wkwkwkwk.... "Kalau sudah jadi suami, itu takkan terjadi...." :")
BalasHapus