Minggu, 01 Oktober 2017

#Renungan24: Perihal Memandang Hidup dan Menyikapi Perbedaan

Semakin banyak mengenal orang lain, maka semakin banyak pula pandangan hidup yang saya dapatkan dari mereka. Perbedaan pandangan hidup yang berbeda terlalu jauh, kadang membuat saya mengernyitkan dahi dan merenunginya. Tak sampai ‘memusuhi’ pandangan hidupnya yang menurut saya kurang tepat. Tapi, kadang saya mendapatkan perlakuan yang kurang mengenakkan dari orang lain ketika dia memandang prinsip hidup saya keliru.
Teman saya pernah bilang, kalau belanja di departemen store yang mahal sekali itu, sebaiknya mengajak pacar. Biar baju yang harga satuannya hampir setengah juta bisa terbeli tanpa menguras tabungan sendiri. Ingat, statusnya harus pacar karena pacar akan memberikanmu apa pun. Kalau sudah jadi suami, itu takkan terjadi. Saya hanya tersenyum mendengarnya. Sejujurnya, ini berlawanan dengan diri saya. Sedari dulu, saya berpandangan bahwa pacar bukanlah orang yang harus kita korek dompetnya, atau orang yang harus kita manfaatkan. Karena perkara hati tidak bisa disandingkan dengan benda-benda. Saya lebih senang berada di sebuah taman dengan pacar untuk membicarakan buku, tumbuhan, bumi dan kehidupan daripada menggandenganya ke mall. Dan tentang belanja atau benda-benda yang perlu dibeli, saya lebih nyaman jika membelinya dengan hasil keringat sendiri.
Saat bersama dengan orang-orang yang tak berpikiran sama, kadang saya menerima perlakuan kurang enak. Mulai dari mereka menggap saya polos, terlalu naif, lugu atau tidak mengerti dengan yang namanya memperlakukan pacar. Padahal saya tidak pernah menganggap mereka ‘cetek’.



1 komentar:

  1. Wkwkwkwk.... "Kalau sudah jadi suami, itu takkan terjadi...." :")

    BalasHapus